NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

          Hening seketika. Saling memandang dan bibir terkatup rapat. Mereka berusaha tetap tenang.

Mama tersenyum ramah ketika melihat Tian, anak dari temannya[mama Tian]. Tian segera menguasai keterkejutannya.

"Assalamu'alaikum tante," salamnya tersenyum ramah.

"Wa'alaikumsalam Tian, lama nggak main kerumah?!" mama menjawab hangat. "siapa yang sakit Tian?" tanya Mama penasaran kenapa Tian kerumah sakit.

"teman Mama tan, ini udah mau pulang,"jawabnya jujur.

 "Ehm, Mama kamu mana?"

"Mama masih didalam tan, masih lama. Saya bosen dan memilih pulang duluan," akunya tersenyum tipis. Mama terkekeh menggelengkan kepalanya.

"Ya sudah tante pulang dulu ya," beranjak meraih tangan Hawa "ayo nak, kamu harus istirahat!" jalan duluan menuju mobil Hasby. Hasby mengangguk singkat kepada Tian dan hendak menyusul Hawa dan Mamanya.

"Tunggu By,," sela Tian dengan nada menuntut penjelasan dengan apa yang dilihatnya itu dan sore disamping sekolahnya juga butuh penjelasan panjang dari Hasby. Tian memasukkan kedua tangannya disaku celana, matanya menyorot datar pada Hasby.

"Apa?" ucap Hasby malas.menghela napasnya. Mau tidak mau harus menjelaskannya.

"Siapa dia? Bukankah dia adik kelas yang bernama Hawa? Yang belum lama ini ibunya meninggal? Ada hubungan apa kamu dengannya?" tuntut Tian dengan tidak sabarnya.

"Akan aku jelaskan singkat saja, tapi tolong rahasiakan, ini menyangkut masa depan kami," Hasby mengambil napas dan menghembuskannya perlahan. Ia memandang keluar jendela disampingnya, melihat langit kehilangan sinarnya, lampu mulai menyala indah . Menghiasi senja ini. " aku dan hawa sudah menikah. Dia tanggung jawabku, dan sekali lagi aku minta tolong rahasiakan ini dari semuanya. Kami masih ingin sekolah dan menggapai mimpi-mimpi kami." ungkap Hasby tenang dan datar. Tian mendengarkan tanpa menyela. Mencoba mengerti penjelasan temannya itu.

"ok. Tapi kenapa bisa?"

"Suatu saat pasti akan aku ceritakan, tapi tidak sekarang. aku harus pulang, Mama dan Hawa sudah menunggu dimobil. Maaf Tian dan terimakasih untuk merahasiakan ini. Aku percaya kamu." Hasby beranjak melangkahkan kakinya menuju mobil. Karena Mama sudah mengirim pesan singkat. Tian menganggukkan kepalanya pelan, sebenarnya masih banyak pertanyaan yang mau diajukan pada Hasby tapi mengingat keadaannya seperti ini. Tidak mungkin dia menahan temannya lebih lama lagi.

"Kenapa lama By? Kamu tahu Hawa butuh istirahat cepat."sungut Mama. Hasby melihat Hawa memastikan gadis itu baik-baik saja. Mulai melajukan kendaraannya pulang kerumah.

"Maaf Mah. Ngobrol bentar sama Tian,"

"ya sudah, nanti mampir beli bubur ayam ditempat biasa!" seru mama sambil memijat pelan bahu Hawa, merasakan nyaman pijatan Mama dan rasa sakit diperutnya mulai mereda membuatnya sedikit mengantuk.

"Iya Mah,,, Hawa jangan tidur, sebentar lagi maghrib." celetuk Hasby.

"I,,iya kak, maaf," tersentak pelan membuat Hawa tidak jadi mengantuk.

"Nanti kalau sudah makan dan minum obat ya nak, baru tidur. Ingat! besok-besok jangan diulangi lagi. Gak boleh makan yang terlalu pedas!" Mama menasehati Hawa dengan lembut dan sabar. Membuat Hawa merasakan kasih sayang seorang ibu. Tiba-tiba Hawa memeluk Mama erat, bahunya bergetar pelan. Mama tersenyum membalas pelukan Hawa. Beliau tahu kalau saat ini Hawa sangat merindukan almarhumah ibunya ditengah-tengah rasa sakitnya. Pasti Hawa ingin dimanja oleh ibunya. Tapi tidak akan bisa. Jadi Mama yang akan memanjakannya.

"sudah tidak apa-apa nak, Mama tidak marah, mama hanya tidak mau kamu sakit. Kamu merindukan ibumu?? Besok biar diantar sama Hasby," Mama melihat Hasby melalui spion. Mendapat anggukan kepala dari anaknya membuatnya lega.

Mobil berhenti ditempat jualan Bubur ayam dipinggir jalan. Hasby dengan sigap keluar dan memesan Bubur ayam. Setelah selesai mendapatkan pesanannya, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah.

      Sesampainya dirumah mereka langsung masuk kerumah dan Hawa ditemani Hasby naik kekamar atas. "Mandi terus sholat dulu!"

"iya kak"

"atau mau makam bubur ayam tadi?"

"nggak kak, enek akunya,"

"ya sudah."

Hasby berjalan memasuki kamarnya sendiri.

Hawa melangkah pelan memandang ruangan yang dia tempati selama dirumah ini. Mengambil baju gamis coklat susu rumahan yang nyaman dan lengkap dengan kerudung bergo putih tulang. Ia tidak mandi terlalu lama, segera ia mengambil wudhu. Hawa melangkah keluar kamar mandi dan segera menggelar sajadahnya, mukena sudah ia kenakan. Hawa sholat dengan Khusuknya. Dilanjutkan berdo'a dan dzikir. Tak lupa melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Suaranya yang lirih memenuhi keheningan ruang tidurnya itu. Suara ketukan menginterupsinya. Segera ia mengakhirinya dan berjalan kearah pintu. Masih mengenakan mukenanya. Ia membuka pintu pelan.

Terpampang dengan jelas Bibik berdiri didepan pintu kamar Hawa.

"Neng, sudah ditunggu diruang makan sekarang, ayo bibik bantu," wanita paruh baya itu tersenyum hangat. Bibik takut kalau Hawa masih lemas.

"Iya bi, tunggu aku lepas mukena dulu," Hawa bergegas masuk melipat sajadah dan mukenanya dan disimpan digantungan pojok kamarnya dekat meja belajar. Bik Im setia menunggu didepan pintu. Setelah Hawa siap mereka turun bersama. Sesampainya dimeja makan. Ternyata Hasby, Mama dan Papa sudah duduk menunggu dirinya. Tersenyum kikuk menghampiri keluarga barunya. Duduk disamping Hasby, tempat yang selama ini menjadi tempat yang tidak tertulis sebagai tempatnya. Tempat bagi istri seorang Hasby.

"Ayo kita mulai makan malamnya. Oiya Hawa jaga kesehatan, tadi Mama bilang kamu sakit," seloroh Papa menatap anak menantunya tenang tapi penuh perhatian dan hangat.

"I,,iya Pah. Terimakasih dan maaf merepotkan,"

"Tidak merepotkan nak, jangan berbicara seperti itu. Kami keluargamu. kamu harus tahu kami sangat khawatir. Kalau ada apa-apa langsung kasih tahu suamimu atau kami. Oke nak?" kata Papa lembut.

"Kami menyayangimu Hawa, jangan berpikir kalau kami abai dan tidak menyayangimu nak," ucap Mama lembut menenangkan hati Hawa.

Mata Hawa berembun mendengar ucapan mertuanya itu. Ia menunduk dan mengusap matanya pelan.

"Iya Mah,Pah. Terimakasih banyak. "

"Ehem, sama Kak Hasby nggak bilang makasih nih?" celetuk Mama menggoda Hawa. Papa terkekeh mendengarnya. Hawa sudah memerah wajahnya. Menoleh pelan kesampingnya.

"makasih ya kak," berbisik pelan. Hasby mengangguk pelan.

Hal itu mengundang tawa pelan sang Mama, melihat kedua anaknya salting. Mereka segera memulai makan malam. Sesekali Mama menaruh lauk dipiring Hawa. Kata mama biar cepet sehat, makan yang banyak. Hawa berusaha menghabiskan makanan diatas piringnya dengan susah payah. Selain sudah kenyang, perutnya belum benar-benar sembuh. Mama inisiatif mengikuti suaminya beranjak dari ruang makan. Meninggalkan dua insan anak manusia yang perlu mengenal untuk bisa saling peduli dan cinta diwaktu yang akan datang. Hawa mengerling sejenak kearah Hasby.

"em,,, kak, dimana obatku?"

"Aku simpan. Tunggu sebentar," hasby segera berdiri dan melangkah kelantai atas. Tak lama dia membawa bungkusan plastik. Menyerahkannya pada Hawa.

"Nih, minum sesuai petunjuk!"

"makasih, maaf kak aku sudah menyusahkan kakak. Oiya kak, gimana dong, tadi Kak Tian lihat aku bareng Mama dan kakak. Aduuh kak, gimana dong, nanti jadi gosip. Rahasia kita bagaimana??? " paniknya Hawa sampai bikin Hasby tercengang.

"Tenang aja, Tian bisa jaga rahasia," ungkapnya " aku sudah cerita garis besarnya saja. Jadi aku minta ke kamu disekolah tetap seperti biasa saja. Oke Hawa Maheswari?" hasby menatap Hawa tenang.

"Tapi kak,,, jujur aku takut, gimana sekolahku? kalau aku dikeluarkan dari sekolah bagaimana?" panik membuat suaranya bergetar. Matanya berembun memandang suaminya itu.

Hasby melihat netra berembun itu dengan tenang

"Nggak akan, kita akan tetap merahasiakannya. Sekarang kamu minum obat dan istirahat. Tidak usah memikirkan hal tersebut." paparnya tegas namun lembut, dia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Hawa.

"Iya kak, aku akan berusaha jaga rahasia dan besok akan bersikap biasa saja disekolah." bergumam pelan. Hawa segera membaca petunjuk obatnya dan meminum sesuai anjuran dokter.

Hawa membantu Bik Im membersihkan bekas makan malam, sebenarnya Hasby sudah melarang tapi Hawa bersikeras ingin membantu. Jadi didapur ini ia berada. Hasby entah pergi kemana setelah gawainya berdering.

     Hasby berdiam diri dibalkon kamarnya. Memandang halaman belakang yang luas itu. lampu-lampu taman menyala dengan indahnya. Gawai menempel ditelinganya. Hasby mendengarkan dengan saksama.

"Iya, tolong lakukan seperti yang tertera pada surat perjanjian kita,"

 "Baik tuan,"

   Hasby memejamkan mata sejenak. Menenangkan diri dan mengutak-atik gawainya. Setelah urusannya selesai, ia kembali masuk kedalam kamar dan mengunci pintu balkon.

[Keruang kerja papa sekarang!]

[iya pah, sebentar]

Hasby bergegas keluar kamar, melirik kamar Hawa yang tertutup rapat sekilas. melanjutkan langkahnya menuruni tangga menuju ruang kerja Papa di lorong samping kanan.

Tok ... Tok ... Tok

"Masuk!" terdengar suara berat dari dalam ruangan.

"Assalamu'alaikum Pah," hasby mendorong pelan pintu itu, terlihat Papa duduk dibangku balik meja kerjanya dengan setumpuk kertas.

"Wa'alaikumsalam, kunci pintunya!" titah Papa tanpa mengalihkan pandangan dari kertas yang dibacanya. Hasby menurut dan mengunci pintu, dia mengambil tempat duduk didepan meja kerja Papa nya, berhadap-hadapan.

"Hasby, benar kamu yang menyetujui kerja sama dengan PT Abadi? " todong Papa tegas menatap netra putranya itu. Memang sudah sejak lama Hasby diajari mengelola perusahaan milik Papanya.

"Iya Pah,, apa ada masalah?" ucapnya tenang dan serius. Karena ini menyangkut kerjaannya.

"kamu sudah membaca berkas-berkasnya?? Kamu sudah mengerti dan paham?" desak Papa terus.

"sudah pah, tadi siang Hasby mendapat email yang dikirim om Adi. Hasby paham dan mengerti pah, apa ada masalah?" jawabnya tegas tapi tetap sopan. Walaupun sebenarnya dia sudah penasaran, tapi Papa adalah orang tuanya, dan harus dihormati.

"good job boy," Papa tersenyum hangat mengacungkan jempol tangan kanannya. "pertahankan kerja bagusmu, kalau bisa lebih baik lagi, Papa mama mendukung mu nak. Apalagi sekarang kamu bertanggung jawab penuh atas Hawa. Jangan lupakan itu!"

"iya Pah, Hasby tahu. Papa membuat Hasby terkejut tadi. Aku pikir ada masalah serius. " kekehnya lega menanggapi Papanya tersebut.

"Papa ingin melihat, sejauh mana kamu memahami kerjasama ini. Sejauh apa kamu memikirkan dampaknya bagi perusahaan. Maaf nak kadang Papa masih meragukan kemampuanmu," papar Papah. "terus belajar, berkembang menjadi yang terbaik, raih cita-citamu dan langgeng bersama Hawa istrimu!" nasihat papa terdengar lembut namun tegas di indra pendengarannya.

"iya Pa, terimakasih terus mengajarkanku segalanya. Makasih sudah memberi yang terbaik dan mendukungku."

" sama-sama. Oiya bagaimana keadaan Hawa sekarang? Tadi masih terlihat pucat." tanya Papa khawatir dengan menantu kecilnya itu.

" sudah membaik Pah, tadi sudah minum obat juga. Nanti akan aku cek lagi."

"ya sudah, kerjaan selanjutnya biar dikabari om Adi. Fokus By!"

Hasby keluar dari ruang kerja Papa sekitar puku 22.15. Segera ia menaiki tangga menuju kamar Hawa. mengetuk pelan tapi tidak ada jawaban. Mencoba memutar gagang pintu mendorongnya pelan, ternyata tidak dikunci. "ceroboh" gumamnya memasukkan kepalanya melihat ruangan yang lampunya redup, agak gelap, karena sudah diganti lampu tidur. Diatas ranjang besar tertidur meringkuk seorang gadis yang masih memakai hijab bergonya. Hasby tercengang, "kenapa dia tidak melepas hijabnya? Apa dia takut aku melihatnya tanpa sengaja? Apa kah nyaman tidur dengan pakaian dan masih memakai hijabnya?" cerocos Hasby dalam hati.

Meihat Hawa meringkuk seperti kedinginan, segera Hasby menarik pelan selimut dan memakaikannya sebatas dada. Tapi siapa sangka Hawa malah membuka mata, terkejut melihat seseorang dikamarnya.

"Aaarhhhg ,,,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!