NovelToon NovelToon
Nur Halimah (Harga Sebuah Ketulusan)

Nur Halimah (Harga Sebuah Ketulusan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.

Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.

Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.

Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.

Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.

Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.

Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakek sudah pergi...

Pukul 4:55 subuh.

Halimah terbangun dengan masih dalam pelukan Daffa. Dengan perlahan, Halimah melepaskan diri berharap tidak mengganggu tidur Daffa.

Saat Halimah di kamar mandi, ponsel Daffa berdering. Panggilan masuk dari Om Ahmad. Daffa masih tidur nyenyak, Tidak mendengarkan dering ponselnya sama sekali.

Saat Halimah keluar dari kamar mandi, ponsel itu sudah tidak berdering. Lalu, Halimah sholat dan di raka'at terakhir sholatnya, ponsel itu berdering lagi.

Dering ponsel kali ini membuat Halimah mempercepat sholatnya, namun saat Halimah sudah salam ke kiri, Daffa terbangun. Dengan mata yang masih tertutup, ia meraih ponselnya, menekan tombol hijau, lalu membawa ponsel itu ke telinganya.

"Eem...halo."

Daffa menjawab dengan suara serak karena tenggorokannya kering. Sebentar ia juga mengucek matanya yang masih sangat berat untuk dibuka.

"Daffa, ke sini sekarang! Kakek...." suara Ahmad terdengar parau dan gemetar di ujung sana.

Mata Daffa langsung terbuka lebar. Ia bahkan langsung bangkit dari tempat tidur.

"Ada apa, Daffa?" tanya Halimah panik melihat Daffa buru-buru bangkit dari tempat tidur.

Daffa menoleh, menatap sekilas wajah Halimah, lalu pergi begitu saja setelah meraih kunci mobil dan ponselnya.

"Daffa...." panggilan Halimah diabaikan.

Daffa berjalan terburu-buru. Bahkan tangannya berkali-kali menekan tombol lift agar bergerak lebih cepat mengantarnya ke lantai bawah.

Ia pergi tanpa mencuci muka atau berkumur, bahkan ia masih memakai piyamanya.

Mobilnya melaju kencang menuju rumah sakit.

"Kakek.... Tunggu aku, sebentar lagi," lirihnya diiringi tetesan air mata.

Bagi Daffa, Abimanyu adalah sosok Kakek yang lebih seperti Ayah baginya. Sejak lahir, Daffa bahkan tidak pernah melihat langsung wajah Ayah kandungnya. Justru baginya Kakek bukan hanya sekedar Kakek, tapi juga sebagai sosok Ayah dan Ibu sekaligus untuknya.

Sementara itu di apartemen, Halimah langsung menemui Mbok Ayu dan pak Jamal untuk menanyakan perihal yang membuat Daffa pergi terburu-buru.

Untungnya pak Jamal sudah diberi tahu oleh Pak Hanif, tentang kondisi terakhir Kakek sebelum azan subuh berkumandang tadi.

"Pak, antar saya ke rumah sakit."

"Baik, Nyonya. Tuan Muda juga sudah memberitahu Saya untuk membawa Nyonya ke rumah sakit."

"Aku ikut, mas," ucap Mbok Ayu.

"Ayo. Kita berangkat sekarang!" kata Pak Jamal buru-buru memasang jaketnya.

Mobil pak Jamal melaju kencang. Halimah dan Mbok Ayu saling berpegangan erat di kursi belakang.

Ada banyak hal yang memenuhi kepala Halimah, sehingga ia bahkan tidak menyadari jalan mobil yang cukup kencang itu.

"Semoga semuanya baik-baik saja. Ya Allah, sembuhkan Kakek..." bisik Halimah dalam hatinya.

Sementara itu, mobil Daffa sudah tiba di parkiran area rumah sakit. Daffa langsung turun dari mobil, berlari menuju ruangan ICU

Sesampainya di depan ruang ICu, Daffa melihat Amanda menangis histeris dalam pelukan Wulan. Sementara Ahmad masih berbicara dengan Dokter.

"Om, bagaimana keadaan Kakek?" tanya Daffa berlari menghampiri mereka.

Namun, begitu ia hampir sampai di dekat Ahmad. Bukannya jawaban yang ia dapatkan malah satu tamparan kuat mendarat diwajahnya.

PLAK!

Amanda mengayunkan tangannya sangat kuat tepat di wajah Daffa.

"Anak sialan! Kamu benar-benar kutukan dalam keluarga ini!" pekiknya memaki Daffa sekeras mungkin.

Tangannya meraih kerah piyama tipis Daffa, menarik kuat bagian itu hingga tubuh Daffa sedikit membungkuk. "Ini semua gara-gara kamu anak sialan...."

Daffa hanya diam, air matanya masih terus menetes. Seluruh tubuhnya lemas. Bukan karena bentakan atau tamparan dari Amanda, melainkan karena ia mendengar pembicaraan dokter dan Ahmad yang menyatakan Kakeknya telah tiada.

Bug!

Bug!

"Ini semua gara-gara kamu! Anak sialan...."

Amanda memukul berulang kali dada Daffa sekuat tenaganya, sebelum akhirnya ia luruh ke lantai, "Gara-gara kamu...."

"Mbak Manda!" Wulan menopang punggung Amanda.

"Anak sialan.... Dia membunuh Papa..."

Tangis Daffa semakin deras, tangannya menyentuh kepalanya, mengusap wajahnya, lalu terhuyung duduk di kursi tunggu.

Ahmad hanya diam melihat apa yang terjadi. Sepertinya ia sendiri sudah tidak punya tenaga untuk melerai pertengkaran Ibu dan Anak itu.

"Yang sabar, mas Ahmad. Bapak sekarang sudah tenang, Bapak sudah tidak sakit lagi. Kalian harus ikhlas, agar tidak memberatkan kepergian Bapak," ucap Dokter ikut menguatkan Ahmad.

"Terimakasih, Dokter. Terimakasih sudah berusaha membantu Papa."

Dokter memegang kedua belah bahu Ahmad, "Ambulan akan segera siap. Saya akan ikut mengantar ke rumah duka."

Ahmad mengangguk lemah, lalu ia juga terduduk di kursi tunggu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Halimah, mematung. Ia sudah sampai di sana sejak Amanda menyalahkan Daffa atas kepergian Kakek Abimanyu. Mbok Ayu merangkul erat pinggang Halimah, untuk menguatkannya. Sementara Pak Jamal, sibuk memberi kabar pada pelayan di rumah untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya.

Dengan langkah perlahan, Halimah melepaskan diri dari rangkulan Mbok Ayu. Langkahnya pelan tapi pasti menuju suaminya yang tampak rapuh.

Halimah duduk di kursi kosong sebelah Daffa, menyentuh pundaknya pelan, "Daffa..." panggil Halimah dengan suara gemetar menahan tangis.

Pelan, Daffa menoleh ke samping, menatap Halimah sebentar, lalu membenamkan wajahnya di pundak Halimah. "Kakek sudah pergi...." tangisnya pecah.

Halimah memeluk tubuh rapuh itu, ikut menangis bersamanya.

Amanda sendiri pun masih terus berteriak-teriak menyalahkan Daffa atas kepergian Papanya.

Bersambung....

1
sunaryati jarum
Jangan sampai Daffa terpengaruh rayuan Tasya.Hatinya teguh untuk Halimah.Segera beri karma Ny Amanda dan Robert, kecelakaan itu pasti olah Amanda .
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
aduh bahaya. hati-hati Halimah
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Betul sekali itu mbok
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
harus nya datang
Alia Chans
Ternyata gitu " Daffa masih punya pri kemanusiaan ya/Slight//Slight/
sunaryati jarum
Umpan kamu tidak akan kepancing Daffa , karena Daffa dan Halimah sudah berkomitmen bekerja sama.Lagian Daffa sedikit nyaman dengan ketulusan Halimah .Jangan kira Rangga dan Santi Halimah sekarang,Nyonya.
My_Lucia
astaghfirullah... apa kamu ga sakit hati ...
My_Lucia
uang yang berbicara ini sihhh 🤭
My_Lucia
eeehh ... gmna konsepnya ... bukannya kamu istrinya...
My_Lucia
keknya salah paham deh
My_Lucia
Iiiiiiuuu... ternyata dia udah separooo dari dulu
My_Lucia
jatuh harga dirinya 😂
My_Lucia
Amanda ini .. Emak macam apa ya,.. dia ibu kandung Daffa kan..
sunaryati jarum
Rencana kalian gagal ,karena Daffa dan Halimah saat ini baru hubungan saling menguntungkan.Mereka saling kerjasama ,Daffa memperoleh haknya sedangkan Halimah membalaskan sakit hatinya pada mantan suami dan keluarganya
RahmaYesi: mantap. senang deh, KK bisa menangkap apa yang ingin Author sampaikan melalui bab ini. 🤗
sehat selalu ya kak 🫰
total 1 replies
Lia Aulia
Thor 😡😡😭😭
Lia Aulia
eh Daffa gak ngasih uang kah??
Lia Aulia
jangan sampe ada drama empati ya Thor. gak suka banget aku, sumpah
Lia Aulia
jangan sampai cinta lama bersemi kembali Thor. aku ngambek kalau gitu
Lia Aulia
ya tergantung perlakuan si Daffa lah mbok. kalua daffanya jahat, kabur aja lagi
Lia Aulia
oh jadi Daffa benaran mirip bapaknya suka main wanita??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!