"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambang Kehancuran {2}
Suara dentuman palu yang menghantam pelat baja dan derit sekop yang menggali saluran sanitasi darurat memenuhi lorong Sektor B. Cahaya lampu neon di bagian ini masih berkedip-kedip, belum stabil seperti di area inti, menciptakan bayangan panjang yang bergerak gelisah di dinding beton. Takeshi menyeka keringat yang bercampur debu di dahinya. Telapak tangannya sudah mulai melepuh karena tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar seberat ini selama berjam-jam tanpa henti.
Di sampingnya, tiga siswa lain tampak terduduk lemas di atas tumpukan material. Mereka menatap kosong ke arah pintu baja yang dijaga oleh Akari dengan ekspresi dingin.
"Ini gila," gumam Takeshi, suaranya parau. "Kita baru saja lolos dari maut di supermarket, dan sekarang Shiro memperlakukan kita seperti budak konstruksi? Dia bahkan tidak memberi kita waktu untuk bernapas."
"Takeshi-kun benar," sahut seorang siswa bertubuh kurus. "Lihat makanan yang dia berikan. Hanya biskuit protein dan air mineral terbatas. Dia sendiri makan enak di dalam sana bersama para gadis itu."
Kekesalan yang menumpuk selama berhari-hari dalam ketakutan kini mulai menemukan sasarannya: Yuuichi. Di mata mereka, Yuuichi bukan lagi teman sekelas yang pendiam, melainkan seorang tiran yang memanfaatkan kekuatan anehnya untuk berkuasa.
Tiba-tiba, langkah kaki yang tenang namun berwibawa terdengar mendekat. Sosok Yuuichi muncul dari kegelapan lorong, diikuti oleh Sakura yang tetap waspada. Yuuichi berhenti tepat di depan Takeshi yang sedang duduk.
"Kenapa berhenti?" tanya Yuuichi. Suaranya datar, tanpa emosi, namun tekanan udara di sekitar mereka seolah menurun drastis.
Takeshi berdiri, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebagai mantan kapten sepak bola. "Shiro, kami manusia, bukan mesin! Teman-teman sudah kelelahan. Kami butuh istirahat setidaknya empat jam dan jatah makanan yang layak. Kau tidak bisa memperlakukan kami seperti ini!"
Yuuichi menatap Takeshi dengan mata merahnya yang berkilat. Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia berjalan menuju lubang ventilasi yang baru saja digali dan menunjuk ke arah luar—ke arah kegelapan yang menuju permukaan.
"Di luar sana, ribuan mayat hidup tidak butuh istirahat. Chimera tidak butuh makan. Dan mereka sedang mencarimu," Yuuichi melangkah mendekati Takeshi hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Bunker ini hidup karena energi yang terbatas. Jika barak ini tidak selesai, sistem ventilasi tidak akan bisa memutar udara bersih ke Sektor B. Pilihannya sederhana: selesaikan pekerjaan ini dan tidurlah di tempat hangat, atau berhenti sekarang dan habiskan sisa malammu menghirup gas beracun di terowongan luar."
Takeshi terdiam, rahangnya mengeras, namun ia tidak bisa membalas tatapan Yuuichi yang begitu dingin hingga terasa menusuk tulang.
"Kembali bekerja," perintah Yuuichi.
Sementara drama kekuasaan terjadi di Sektor B, di sudut lain bunker—di dalam Lab 2 yang sunyi—Miho Nishimura sedang duduk di depan terminal komputer yang diberikan oleh Elisa. Jemarinya bergerak dengan ritme yang konstan, hampir mekanis. Di layar monitornya, ribuan baris kode dan fragmen data yang terenkripsi mengalir dengan cepat.
"Peringatan: Upaya peretasan terdeteksi pada folder 'Arsip Historis - Subjek 007'. Kakak, gadis berkacamata ini telah melewati tiga lapisan firewall sistem dalam waktu kurang dari lima belas menit."
"Biarkan dia melihatnya, Miu. Aku ingin tahu seberapa kuat mentalnya setelah mengetahui kebenaran," jawab Yuuichi dalam hati saat ia berjalan kembali menuju ruang kendali.
Di dalam lab, mata Miho membesar di balik kacamatanya. Ia baru saja berhasil membuka sebuah file video bertanggal lima tahun yang lalu. Gambar itu buram, menunjukkan sebuah laboratorium putih dengan tabung-tabung kaca besar. Di tengah ruangan, seorang anak laki-laki berusia sekitar dua belas tahun sedang dirantai di sebuah kursi medis. Anak itu memiliki rambut hitam yang sama dengan Yuuichi.
Video itu menunjukkan proses implantasi chip ke dasar tengkorak anak tersebut tanpa bius. Teriakan tanpa suara dari anak itu di dalam video membuat Elisa, yang sedang mengamati dari kejauhan, memalingkan wajahnya. Namun Miho tetap menatap layar, tidak berkedip.
Ia kemudian membuka file log medis yang menyertainya:
> Subjek 007 - Kode Nama: NAGA ES. Tingkat Sinkronisasi Seluler: 99,8%. Catatan: Subjek menunjukkan kemampuan untuk memanipulasi suhu lingkungan melalui emosi negatif. Rekomendasi: Penghapusan ingatan setiap 30 hari untuk menjaga stabilitas mental.
>
"Begitu rupanya..." bisik Miho. Jemarinya berhenti bergerak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit laboratorium yang kini mulai dilapisi baja komposit hasil renovasi sistem.
"Dia bukan pahlawan, dan dia bukan tiran," gumam Miho pada dirinya sendiri. "Dia adalah sebuah senjata yang sedang mencoba membangun sarangnya sendiri. Dan data ini... datanya tidak cocok. Jika dia seharusnya dihapus ingatannya setiap bulan, bagaimana dia bisa memiliki pengetahuan taktis yang begitu luas seolah-olah dia sudah hidup selama puluhan tahun?"
Miho menutup bukunya dengan bunyi plak yang mantap. Ia menyadari satu hal: Yuuichi Shiro bukan sekadar hasil eksperimen. Dia adalah seseorang yang telah melintasi waktu, atau setidaknya, seseorang yang memiliki semua ingatan dari masa depan yang hancur.
Tiba-tiba, pintu lab terbuka. Yuuichi berdiri di sana, menatap Miho dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Sudah selesai membaca dongengnya?" tanya Yuuichi.
Miho berdiri dan membungkuk sedikit, sebuah tanda hormat yang tulus namun tetap bernada analitis. "Aku sudah melihat cukup banyak untuk menyimpulkan bahwa mengikuti perintahmu adalah satu-satunya tindakan yang logis secara statistik. Data masa lalumu adalah tragedi, tapi masa depan yang kau bangun di sini... itu adalah probabilitas terbaik untuk kemenangan."
Yuuichi berjalan mendekat, mengambil buku catatan Miho dari meja. "Jika kau membocorkan informasi ini kepada para siswa yang sedang mengeluh di luar sana, aku akan memastikan kau adalah orang pertama yang membeku di bunker ini."
"Aku tidak tertarik pada pemberontakan yang tidak efisien, Yuuichi-san," balas Miho dengan tenang. "Aku lebih tertarik untuk membantu 'Senjata' ini agar tidak berkarat."
"Pemberitahuan: Sinkronisasi dengan Miho Nishimura meningkat secara drastis. Keterampilan Pasif: 'Strategi Terpadu' aktif. Efisiensi manajemen Base meningkat 20%."
Yuuichi mengembalikan buku catatan itu. "Bagus. Mulai besok, kau adalah asisten logistik utama. Pastikan Takeshi dan yang lainnya tetap bekerja, meskipun mereka harus membenciku untuk itu."
Malam itu, bunker Level 2 akhirnya tenang. Barak di Sektor B selesai dibangun tepat pada waktunya, dan para siswa tertidur karena kelelahan yang luar biasa. Yuuichi berdiri di balkon ruang kendali, menatap monitor yang menunjukkan salju abu-abu yang terus turun di permukaan. Ia telah mengamankan orang-orang baru, tapi ia juga telah menciptakan ketegangan internal.
Namun, yang tidak ia sadari adalah, di tengah tumpukan logistik yang ia bawa dari markas Iron Order, sebuah pemancar sinyal kecil yang tersembunyi di dalam salah satu peti obat-obatan baru saja mengirimkan koordinat bunker tersebut ke satelit militer yang masih aktif.
Di Sektor 1 yang jauh, Jenderal Kagawa tersenyum melihat titik merah yang berkedip di layarnya. "Ketemu kau, 007."