Cinta Anarya kepada Daneesa menciptakan masalah berkepanjangan hingga berujung pada menderitanya buah hati mereka. Kehamilan Daneesa menjadi boomerang bagi keluarga besar Bramantyo. Pasalnya, mereka tak setuju dengan hubungan Anarya dengan Daneesa.
Kematian Daneesa menjadi awal penderitaan batin yang harus ditanggung oleh Anarya dari masa ke masa. Setumpuk penyesalan tak mampu mengubah apapun dan tak mampu mengembalikan apa yang telah sirna.
Nesa Putri Anarya, itulah nama buah hati mereka yang juga harus merasakan getirnya perlakuan keluarga Bramantyo yang merasa telah tercoreng dengan kehadiran Nesa kecil.
Pernikahan Anarya dengan Lasmi justru menjadikan kehidupan gadis kecil itu semakin dalam kehinaan. Seorang anak yang tak pernah tahu apa kesalahannya, namun dianggap pantas untuk menerima buah dosa dari kedua orang tuanya.
Kisah yang penuh liku-liku kehidupan sehingga memiliki ending cerita yang tak tertebak seperti rahasia kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 Antara Cinta dan Sakit Hati
Anarya yang mulai tersadar dari pengaruh obat penenang merasakan seluruh badannya seolah remuk redam. Rasa sakit menjalar di seluruh sendi. Perlahan ia buka netra dan mengedarkan pandangan ke sudut ruangan.
Sejenak pandangannya terhenti pada dua sosok yang dulu saling berseteru, namun kini mereka duduk bersanding tertidur dengan saling menyandarkan kepala. Tangan Bu Bram juga berada di atas lengan Daneela, tangan itu menggenggam jemari milik Daneela.
Anarya hampir tak percaya, beberapa kali ia usap netranya untuk memastikan. Pemandangan itu tetap saja sama. Untuk lebih yakin, Anarya mencubit lengannya sendiri.
"Sakit. Iya, ini nyata. Aku tidak sedang bermimpi. Sejak kapan mereka akur, ya?" gumam Anarya dengan tiga garis kerutan di dahi menandakan rasa herannya.
"Aaw ... kenapa badanku jadi sakit begini?" keluh Anarya ketika hendak mencoba bangkit ingin duduk.
"Anarya, sudah bangun?" tanya Daneela yang kaget dengan suara rintihan Anarya, ia bangun kemudian mendekati Anarya.
Bu Bram yang tertidur dengan Daneela pun ikut terbangun dan bergegas menghampiri putranya.
"Mau minum, Nak?"
"Iya, Ma. Haus sekali."
"Ini minumlah." Bu Bram menyodorkan sebotol air mineral yang segera disambut oleh Anarya.
Tak butuh waktu lama, air mineral 600ml hanya tinggal beberapa tegukan saja. Dahaga yang melanda sirna seperti memunculkan harapan baru baginya.
"Sejak kapan kalian akur?" tanya Anarya tak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang kian membuncah.
Bu Bram dan Daneela saling berpandangan, saling melempar senyum. Dengan lembut Bu Bram merengkuh bahu putranya.
"Maafkan, Mama Anarya. Selama ini Mama sudah tega merenggut kebahagiaanmu, tapi tidak untuk sekarang." Lembut suara itu menenangkan hati Anarya.
"Syukurlah kalau Mama akhirnya menyadari itu. Selama ini Narya tersiksa, Ma. Setiap detik hidup Anarya dipenuhi rasa bersalah terhadap almarhumah Daneesa."
"Sekarang tebuslah rasa bersalahmu dengan membuka hati untuk Daneela," bisik Bu Bram.
Anarya menatap Bu Bram dengan pandangan tak mengerti. Ada tanda tanya besar dalam pikirannya. Seolah tahu apa yang dipikirkan putranya, Bu Bram pun tersenyum.
"Narya ... Mama yakin kamu bisa menemukan bahagiamu dengan Daneela. Demi Nesa Putri Anarya, bidadari kecilmu."
"Tapi, Ma."
"Sttt ... kenapa kamu tidak tanyakan langsung pada Daneela, bersediakah ia menjadi Nyonya Anarya?" goda Bu Bram yang membuat Anarya tersipu malu.
"Da-Daneela ... emm ... ma-ma-maukah kau ...." lidah Anarya menjadi kelu, kegugupan yang dulu ia alami saat mengungkapkan rasa ke Daneesa kini ia rasakan kembali.
Daneela yang menunggu Anarya melanjutkan kalimatnya tampak tertunduk malu. Jantungnya berdebar, berdetak tak wajar melebihi frekuensi biasanya. Ini adalah kali pertama ia membuka hati untuk pria.
"Daneela," panggil Anarya sembari menyentuh tangan Daneela yang sedang sibuk memilin ujung baju.
"Ya."
"Apa kau juga mencintaiku?"
Daneela terperanjat dengan pertanyaan Anarya. Kenapa ia tak menembak saya dengan ucapan 'aku cinta kamu' saja? Kenapa harus memintaku mengungkap rasa?
"Jawablah, Daneela. Aku ingin mendengarnya langsung. A-aku ... aku takut jika ada penolakan."
Daneela mencoba menatap netra pria di hadapannya, mencoba menyelami netra bening yang menyorotkan banyak kesedihan di sana. Banyak luka yang tertoreh hingga membuatnya merasa takut.
"Aku Daneela, mungkin saja sosok Daneesa kau lihat dalam diriku. Namun aku ingin kau mencintaiku sebagai Daneela, bukan Daneesa." Kalimat itu meluncur dengan ringan dari bibir Daneela, sebuah permintaan yang sekaligus harapannya.
"Aku menyadari itu, kamu memang saudara kembarnya, namun tak sedikit pun aku menemukan sosok Daneesa ada pada dirimu. Daneesa hidup dalam diri putri kecilku, itu sebabnya aku sangat mencintai Nesa."
Sejenak hening. Suara detak jam dan desah napas halus yang terdengar.
"Jika aku mencintaimu, semua terlepas dari masa laluku. Aku ingin memulai dari awal bersamamu tanpa kamu ungkit masa laluku."
"Dan itu pun jika kamu menerima kondisiku yang sekarang." Wajah Anarya tertunduk, ada kesedihan yang teramat dalam ia rasa, terlebih karena kondisi kakinya sekarang.
"Anarya ... pinanglah aku." Daneela meraih punggung tangan lelaki yang kini sedang mengalami krisis kepercayaan diri itu.
Netra Anarya membulat tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Tuh, Narya ... Daneela minta dilamar." goda Bu Bram dengan senyum bahagia.
"Kamu yakin?" Dengan tatapan penuh harapan Anarya meminta kepastian.
"Yakin 100% seperti aku meyakini bahwa kamu laki-laki setia yang akan berusaha membahagiakan aku hingga kelak." Senyum Daneela tersungging indah di bibirnya.
Kelegaan dalam setiap hati begitu nyata tercipta. Senyuman bertabur asa dan cinta tercipta di bibir-bibir yang terus melantunkan doa pengharapan.
Cinta telah menemukan jalannya.
***
Sudah delapan hari Anarya dirawat di rumah sakit. Kondisinya semakin membaik meski belum bisa berdiri. Kehadiran Daneela dan putri kecilnya menjadi oase bagi jiwanya yang hampir mati.
Hari ini dokter sudah mengijinkan ia untuk pulang. Diiringi oleh langkah orang-orang yang menyayanginya menjadikan Anarya menebar senyum sepanjang jalan.
"Kok, Ayah senyum-senyum sendiri?" tanya Nesa sembari bergelayut manja di bahu Anarya.
"Ayah bahagia karena bidadari Ayah ada di dekat Ayah." Jemari Anarya mencubit gemas dagu Nesa.
"Nesa juga bahagia, Yah. Tapi lebih bahagia lagi kalau bisa tinggal dengan Ayah dan Mama."
Daneela yang mendengar menjadi salah tingkah. Sedangkan Bu Bram malah tersenyum, ada bahagia yang menyelimuti hatinya ketika melihat putra kesayangannya kembali tersenyum.
"Eyang Kung, boleh nggak mampir beli es krim? Nesa pengen beli es krim yang sekotak gede, biar nanti bisa dimakan bareng-bareng dengan Dek Resti," pinta Nesa ke Pak Bram yang masih fokus mengendalikan laju mobil.
Sejenak suasana menjadi hening. Ada kebingungan yang menyelimuti pikiran mereka.
"Nesa, kita pulangnya ke rumah Eyang," tutur Anarya sembari menyibakkan anak rambut Nesa ke belakang telinga.
"Lho, kenapa, Yah? Nesa sudah kangen dengan Dek Resti. Sudah lama juga Nesa nggak bawain jajan buat dia."
"Kita ketemu Dek Resti nanti, ya? Nunggu Ayah sembuh," bujuk Daneela.
"Senyum donk ... kalau cemberut nanti cantiknya hilang, lho." Daneela mencubit gemas kedua pipi Nesa.
"Cucu Eyang yang cantik, coba lihat depan. Itu ada toko yang jual es krim paling enak. Jadi beli?" tanya Pak Bram sembari menepikan mobil.
"Iya donk, Eyang." Binar netra Nesa seketika berseri.
"Ayo, Ma. Eyang Putri ikut juga?" sambung Nesa.
"Iya, Eyang nanti yang traktir," jawab Bu Bram dengan semangat turun dari mobil.
Bidadari beda masa itu pun berjalan berjajar. Jemari kecil Nesa menggandeng keduanya. Dengan langkah riang gadis kecil itu terus bernyanyi dan mengayunkan tangan.
Aroma es krim menguar menggoda selera ketika pintu kaca toko terbuka. Nampak beberapa pengunjung yang sengaja menikmati sajian lezat es krim yang dipadu padan dengan aneka topping.
"Wow ... Ma, ini istana es krim, ya?" Netra Nesa penuh kekaguman melihat aneka gambar es krim yang menghias dinding.
"Ma, boleh makan disini, nggak?"
"Nggak bisa, Sayang. Kasihan Eyang Kung dan Ayah nungguin di mobil."
"Tapi Nesa pengen, Ma."
"Tadi katanya mau dimakan bareng-bareng?"
"Oh iya, nding. Nesa lupa, Ma." Gadis kecil itu menepok jidat dan nyengir lucu.
Satu kotak es krim dengan tiga varian rasa durian, strawberry, dan coklat, serta beberapa topping yang dipisah telah ditenteng oleh tangan kecil Nesa. Bayangan menikmati es krim kesukaannya membuat ia tak sabar kembali ke mobil.
Baru saja membalik badan hendak menuju pintu keluar, Nesa berteriak memanggil nama Resti. Sontak membuat perhatian Daneela dan Bu Bram teralihkan.
Benar saja. Dari pintu masuk nampak Lasmi menggandeng Resti. Tatapan mereka beradu. Ada yang menghentak rasa dalam hati Daneela. Sakit hati yang teramat dalam ketika tahu apa yang telah wanita itu lakukan pada saudara kembarnya.
"Apa kabar, Mama mertua?" sapa Lasmi dengan nada mencibir.
"Tak perlu basa-basi lagi," ketus Bu Bram.
"Kenapa, Ma? O iya, Daneela sudah tahu lho, penyebab kematian Daneesa. Semua adalah idenya Mama." Lasmi setengah berbisik di dekat telinga Bu Bram, kemudian tersenyum jahat ketika melihat ekspresi Bu Bram yang berubah pias.
"Kenapa kaget, Ma?" Lasmi merasa di atas awan karena mampu membuat perempuan yang selama ini membelanya menjadi kehilangan muka di hadapan Daneela.
Daneela yang mendengar semua pembicaraan menjadi kembali tersadar bahwa wanita yang akan menjadi calon mertuanya juga punya andil atas kematian saudara kembarnya.
"Ayo, Nesa. Es krimnya nanti keburu mencair." Daneela meraih lengan Nesa yang sedang asyik melepas rindu dengan Resti.
Bu Bram yang melihat Daneela melangkah keluar meninggalkan dirinya tanpa kata semakin merasa tak enak. Ia tak ingin kebahagiaan putranya yang baru saja ingin direguk hilang kembali gegara kesalahan di masa lalunya.
"Awas kamu, Lasmi. Dasar mulut ular, menyesal aku pernah percaya dengan ucapanmu." Bu Bram begitu kesal dengan sikap Lasmi.
Dengan langkah seribu ia susul Daneela yang sudah terlanjur masuk ke dalam mobil. Ah, entah apa yang akan terjadi setelah ini. Sungguh Bu Bram tak punya nyali jika nantinya Daneela mengintrograsinya.