Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Gala Amal Bagian 2, Deklarasi Dua Ratus Miliar
Lampu ballroom meredup.
Panggung lelang di tengah ruangan menyala dengan cahaya putih. Para tamu kembali ke meja masing-masing, tetapi udara tidak lagi sama setelah nama Evelina Lim muncul di layar. Bisik-bisik berjalan seperti arus bawah, lembut tapi kuat.
Eve duduk di samping Edric, masih menatap layar.
"Kenapa ada namaku?"
Edric mengangkat gelas air. "Sebentar lagi tahu."
"Jawaban itu membuatku lebih khawatir."
"Saya ada di sini."
"Justru itu sumber beberapa kekhawatiran."
Edric tersenyum kecil.
Lelang dimulai dengan lukisan pemandangan Bali, jam antik Swiss, dan koleksi anggur tua. Eve mencoba bersikap seperti tamu normal, tetapi setiap kali matanya berhenti sedikit lebih lama pada sesuatu, Edric mengangkat nomor peserta.
"Nomor delapan puluh delapan, dua puluh miliar rupiah."
Eve hampir tersedak. "Ric."
"Kamu suka lukisan itu."
"Aku melihatnya dua detik."
"Dua detik yang cukup jelas."
"Harga awalnya lima miliar!"
"Sekarang lebih aman."
"Aman dari apa?"
"Dari orang lain yang membelinya."
Beberapa tamu di meja sebelah menahan tawa. Seseorang berbisik, "Suami boros."
Eve mencubit lengan Edric di bawah meja.
Edric tidak bergerak, tetapi sudut bibirnya naik.
Calista melihat semua itu dari meja Valen. Setiap tawa kecil Eve, setiap tatapan Edric, setiap bisik kagum di ruangan itu terasa seperti garam di luka yang belum kering. Ia menunggu momen yang sudah ia siapkan.
"Item berikutnya," kata pelelang, "Lukisan Puncak Awan karya Maestro Budiman, disumbangkan oleh Ibu Calista Sia."
Lampu menyorot lukisan besar bernuansa biru dan emas. Calista berdiri dengan senyum anggun. Beberapa tamu bertepuk tangan. Nama Maestro Budiman memang cukup besar untuk membuat kolektor bergerak.
"Harga pembukaan, sepuluh miliar rupiah."
Penawaran naik cepat.
Dua puluh. Lima puluh. Seratus. Dua ratus.
Calista berdiri semakin tegak. Pada empat ratus miliar, palu jatuh.
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Calista menoleh ke arah Eve. Sorot matanya jelas: lihat, inilah kelas yang tidak bisa kamu beli.
Eve tidak membalas tatapan itu. Ia justru bertepuk tangan sopan, tulus secukupnya, dan itu membuat Calista lebih kesal.
Lalu pelelang membuka item terakhir.
Seluruh lampu ballroom padam kecuali satu sorot biru di tengah panggung.
Sebuah kotak kaca naik perlahan dari balik meja. Di dalamnya, kalung safir biru menyala seperti potongan laut malam. Batu utama berbentuk hati, dikelilingi berlian kecil, tergantung pada rantai platinum yang begitu halus hingga hampir tidak terlihat.
Suara ruangan menghilang.
"Kalung Heart of the Ocean," kata pelelang. "Koleksi pribadi lama yang berasal dari arsip keluarga Eropa. Malam ini disumbangkan atas nama Nyonya Evelina Lim."
Eve membeku.
"Apa?"
Di meja keluarga, Oma Liana menyeruput teh dengan wajah sangat polos.
Feli menutup mulut menahan senyum.
Eve menoleh pada Edric. "Kamu tahu?"
"Sebagian."
"Sebagian?"
"Oma yang memutuskan namamu dipakai."
"Kenapa?"
Edric menatapnya. "Karena kamu keluarga."
Kata itu membuat semua protes Eve berhenti.
Di meja keluarga, Oma Liana meletakkan cangkirnya. Ia tidak perlu naik panggung untuk menyampaikan restu. Nama Eve di layar sudah cukup. Dalam lingkaran keluarga tua seperti Kho, perhiasan warisan tidak diberikan kepada orang luar, apalagi dipakai sebagai wajah donasi amal. Semua orang yang mengerti kode sosial itu langsung memahami pesan Oma: Evelina Lim bukan tamu baru. Ia sudah berada di dalam garis keluarga.
Yuliana menatap Eve dari kejauhan dengan senyum lembut. Hendra tetap diam, tetapi tepuk tangannya paling awal terdengar setelah pengumuman selesai.
Di ballroom, keterkejutan berubah menjadi kekaguman. Jika lukisan Calista menunjukkan kekuatan Sia, kalung ini adalah pernyataan lain sama sekali. Bukan sekadar harga. Ini warisan, sejarah, dan pengakuan keluarga Kho terhadap perempuan yang namanya baru diumumkan malam itu.
"Harga pembukaan, lima puluh miliar rupiah."
Nomor peserta langsung terangkat.
Delapan puluh.
Seratus.
Lima ratus.
Delapan ratus.
Eve duduk kaku. Ia tidak pernah membayangkan angka bisa terdengar begitu tidak manusiawi. Setiap kenaikan membuat jantungnya ikut naik.
Seorang taipan perkebunan mengangkat nomor sampai sembilan ratus miliar. Seorang kolektor dari Surabaya menambahkan seratus miliar lagi. Nama-nama yang biasanya hanya muncul di berita ekonomi kini saling menguji senyum, masing-masing ingin membawa pulang bukan hanya safir, tetapi kesempatan menyentuh simbol keluarga Kho. Pelelang mulai berkeringat, tetapi suaranya semakin bersemangat.
"Seribu dua ratus miliar."
"Seribu tiga ratus."
Eve menekan tangan Edric di bawah meja. "Tolong jangan ikut."
"Kenapa?"
"Karena aku masih ingin bisa tidur malam ini."
"Saya bisa menyediakan teh."
"Edric."
"Baik. Saya tunggu."
"Itu bukan maksudku."
Pada seribu lima ratus miliar, ruangan mulai hening. Beberapa kolektor besar saling menatap. Tidak ada yang ingin mundur, tetapi tidak ada yang cukup nyaman untuk melangkah lebih jauh.
Pelelang mengangkat palu.
"Seribu lima ratus miliar pertama..."
Edric mengangkat nomor.
Tidak tinggi. Tidak dramatis. Hanya gerakan tenang yang membuat semua orang langsung menoleh.
"Dua ratus miliar."
Eve berhenti bernapas.
Ballroom mati sunyi.
Lalu suara terkejut meledak dari segala arah. Pelelang sendiri butuh satu detik untuk kembali bicara.
"Dua ratus miliar rupiah dari nomor delapan puluh delapan."
Tidak ada yang menawar lagi.
Palu jatuh.
Edric berdiri.
"Ric," bisik Eve, "itu gila."
"Tidak. Itu jelas."
Ia naik ke panggung. Kotak kaca dibuka oleh staf dengan sarung tangan putih. Edric mengambil kalung Heart of the Ocean, lalu memberi isyarat agar Eve naik.
Kaki Eve terasa seperti bukan miliknya. Namun ketika Edric mengulurkan tangan, ia menerimanya.
Di bawah ratusan tatapan, Edric berdiri di belakang Eve dan mengalungkan safir biru itu ke lehernya. Jari-jarinya menyentuh kulit Eve sedikit. Hanya Eve yang merasakan getar kecil di tangan Edric.
Pria itu juga gugup.
Fakta itu hampir membuatnya menangis.
Edric mengambil mikrofon.
"Malam ini banyak orang mengucapkan selamat kepada saya," katanya. "Mereka bilang istri saya beruntung menikah dengan saya."
Eve menunduk, bibirnya bergetar.
"Saya ingin meluruskan." Edric menatap seluruh ruangan. "Menikahi dia, saya juga sangat bahagia."
Tepuk tangan pertama datang dari Feli.
Lalu Dan.
Lalu seluruh ballroom berdiri.
Para tamu yang beberapa menit sebelumnya masih mengukur asal-usul Eve kini berdiri karena tidak berdiri akan terlihat seperti perlawanan. Di dunia mereka, tepuk tangan juga bahasa politik. Malam itu, bahasa itu berbunyi sangat jelas: Nyonya Kho telah diterima, setidaknya di depan umum. Setelah dua ratus miliar dan pengakuan langsung Edric, tidak ada orang waras yang akan meremehkannya secara terbuka.
Eve menggigit bibir agar tidak menangis di atas panggung. Safir di lehernya terasa berat, tetapi tangan Edric di punggungnya terasa lebih nyata daripada semua kilau itu.
Ia pernah takut orang akan berkata ia menikahi Edric demi uang. Malam ini, ketakutan itu belum hilang, tetapi ada sesuatu yang lebih besar berdiri di sampingnya: pilihan Edric sendiri. Ia tidak menyembunyikan Eve. Ia membawanya ke tempat paling terang dan berkata bahagia. Itu cukup untuk malam ini, benar-benar cukup.
Henri Beaumont mengangkat gelas dari meja depan, memberi salam kecil pada Eve. Dan berdiri di belakang Feli sambil bertepuk tangan lebih keras daripada perlu. Brandon bersiul sekali sebelum Yuliana menatapnya, lalu ia langsung pura-pura batuk.
Calista duduk membeku. Lukisan empat ratus miliar yang tadi menjadi senjatanya kini tampak seperti kertas kecil di samping deklarasi dua ratus miliar Edric. Ia tidak kalah dalam angka saja. Ia kalah dalam makna.
Valen menyesap minumannya. "Kakakku memang suka membakar uang."
"Dia membakar panggung," kata Calista pelan.
Di luar ballroom, drama lain pecah.
Jess mencoba meninggalkan ruangan bersama Santoso Prawiro lewat pintu samping. Nyonya Prawiro sudah menunggu.
Tamparan pertama membuat Jess tersandung.
Tamparan kedua membuat lipstiknya berantakan.
"Pelakor murahan," desis Nyonya Prawiro.
"Saya tidak..."
Nyonya Prawiro menarik rambutnya. Jess menjerit. Gaun merahnya robek di bagian bahu. Santoso sudah masuk ke mobil, pura-pura menelepon, tidak sekali pun keluar membantu.
"Kamu pikir aku tidak tahu?" Nyonya Prawiro suaranya rendah, lebih memalukan daripada teriakan. "Kamu pikir perempuan seperti kamu bisa masuk mobil suamiku dan keluar dengan martabat?"
Jess menatap mobil Santoso. Kaca gelap itu tidak turun. Di dalam, pria yang tadi membelikannya gelang hanya menjadi bayangan pengecut.
Untuk pertama kalinya malam itu, Jess mengerti bahwa dirinya bukan kekasih, bukan pilihan, bukan wanita yang diselamatkan. Ia hanya hiburan yang terlalu mudah dibuang.
Jess jatuh ke lantai marmer, memegang pipi yang panas. Kamera tamu tidak berani mengangkat terlalu jelas, tetapi mata semua orang melihat. Perempuan yang tadi masuk dengan percaya diri kini merangkak menahan malu.
Di ujung koridor, Valen dan Calista berdiri menyaksikan.
Valen mengangkat gelas. "Pamer kemesraan, mati cepat."
Calista tidak tertawa.
Ia menatap Jess yang hancur, lalu menatap pintu ballroom tempat tepuk tangan untuk Eve masih terdengar.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak berpikir tentang cara merebut sorotan.
Ia berpikir tentang cara memadamkan lampu.
Jauh dari hotel, di rumah Lim yang gelap, Gunawan menonton berita gala di televisi tua.
Tulisan di layar menyebut angka dua ratus miliar.
Mata Gunawan menyala.
"Itu uang kita," bisiknya.
Melani yang berdiri di belakang sofa tidak membantah.
Keserakahan menemukan bahasa yang sama dengan dendam.