NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 033

Tiga hari setelah Keira masuk ke Rumah Liem, seluruh Jakarta menerima satu undangan yang membuat lingkaran sosial kelas atas gempar.

Keluarga Liem akan mengadakan acara pengakuan keluarga.

Tidak ada nama panjang di undangan digital itu. Hanya satu kalimat yang membuat orang-orang membacanya berkali-kali.

Keira Liem pulang.

Pagi hari acara, Rumah Liem berubah menjadi pusat perhatian Jakarta. Mobil-mobil mewah berhenti bergantian di halaman Menteng yang luas. Para tamu datang dengan batik sutra, gaun modern, dan jas gelap. Wartawan tidak diizinkan masuk ke ruang utama, tetapi kamera mereka menunggu di luar pagar seperti gelombang yang tidak sabar pecah.

Di lantai dua, Keira berdiri di depan cermin besar.

Gaun yang dipakainya bukan gaun pesta biasa. Jason mendatangkan desainer langganan Liem Group untuk membuat qipao modern dari satin putih gading, dipadukan bordir bunga anggrek keperakan di sisi pinggang. Potongannya sopan, elegan, tidak berlebihan, tetapi setiap garisnya membuat Keira tampak seperti seseorang yang sejak lahir memang pantas berdiri di tengah keluarga besar.

Liontin Chang Ming berada di lehernya. Di bawahnya, Liontin Giok Yan menyentuh kulit, dua benda yang sebelumnya terasa seperti rahasia kini menjadi pengakuan.

Bi Mei merapikan ujung lengan Keira sambil berkali-kali mengusap mata.

"Bi," Keira berkata lembut, "kalau Bi terus menangis, nanti riasanku ikut rusak."

"Saya tidak bisa menahan," jawab Bi Mei. "Nona kecil akhirnya pulang. Tuan sudah menunggu lebih dari dua puluh tahun."

Keira melihat bayangannya sendiri di cermin. Tiga hari terakhir dipenuhi terlalu banyak informasi. Engkong Liem menjelaskan sebagian tentang Rosalind: malam hilangnya, jejak organisasi gelap, nama-nama yang masih belum lengkap. Jason meminta waktu untuk membuka arsip lama satu per satu agar Keira tidak dipaksa menelan semuanya sekaligus.

Namun hari ini bukan hari untuk seluruh luka lama.

Hari ini adalah hari untuk mengatakan kepada dunia bahwa Keira bukan perempuan yang bisa dibuang Mulyono lalu diinjak Salim.

Hari ini ia pulang dengan nama yang tidak bisa mereka rampas.

Pintu diketuk. Jason masuk, mengenakan jas hitam dengan pin giok kecil di kerah.

Ia berhenti beberapa detik saat melihat Keira.

"Kenapa?" tanya Keira.

Jason tersenyum, matanya lembut. "Kamu mirip Mama."

Keira menunduk sebentar. Dulu, kata Mama hanya lubang. Sekarang, kata itu menjadi wajah yang belum pernah ia peluk, tetapi mulai ia rindukan.

"Engkong sudah siap?"

"Sejak subuh." Jason mengulurkan tangan. "Tapi sebelum turun, aku harus bilang satu hal."

"Apa?"

"Hari ini, kalau kamu gugup, lihat Koko."

Keira terdiam. Kilasan taman dari ingatan kecil kembali datang, lebih hangat kali ini.

Ia meletakkan tangannya di tangan Jason. "Baik, Koko."

Di ruang utama, acara dimulai dengan doa keluarga yang dipimpin seorang pendeta tua yang mengenal Liem Tjie Seng sejak muda. Doanya singkat, penuh syukur atas keluarga yang dipulangkan, tanpa menyentuh rahasia gelap yang belum siap dibuka. Setelah itu, keluarga menyalakan lilin kecil di meja memorial, lalu melakukan tradisi penghormatan keluarga: teh disiapkan, buku silsilah dibuka, dan stempel keluarga diletakkan di atas baki beludru merah.

Keira turun bersama Jason.

Bisik-bisik tamu langsung berhenti.

Semua mata tertuju padanya.

Beberapa tamu pernah melihat Keira sebagai mantan tunangan Ryan Salim yang dipermalukan. Beberapa melihatnya sebagai wanita yang dekat dengan Kevin Hartono. Sebagian lain hanya mengenalnya dari rumor bahwa ia pemilik SH Corporation yang misterius. Namun tidak satu pun siap melihatnya berdiri di tangga Rumah Liem dengan wajah tenang, liontin keluarga di leher, dan Jason Liem memegang tangannya seperti seorang kakak yang siap melawan dunia.

Di barisan depan, Kevin berdiri bersama tiga anak.

Darren berada di sisi Kevin, mengenakan jas kecil hitam, wajahnya serius seperti versi mini ayahnya. Ethan berdiri di sebelahnya, matanya sibuk menghitung kamera tersembunyi para tamu. Tiffany memakai gaun putih kecil dan melambai diam-diam ke Keira sampai Kevin menahan tangannya agar tidak berlari.

Keira melihat mereka. Napasnya yang sempat tertahan menjadi lebih stabil.

Kevin menatapnya dari seberang ruangan. Tidak ada klaim, tidak ada paksaan. Hanya satu tatapan yang berkata ia ada di sana.

Engkong Liem berdiri di tengah ruang utama dengan tongkat di tangan. Hari ini ia memakai setelan gelap dan pin keluarga Liem. Usianya tampak jelas, tetapi suaranya saat berbicara memenuhi seluruh ruangan.

"Terima kasih sudah datang ke Rumah Liem," katanya. "Hari ini bukan pesta bisnis. Hari ini bukan pengumuman kerja sama. Hari ini adalah hari keluarga."

Ruang itu semakin hening.

"Lebih dari dua puluh tahun lalu, Keluarga Liem kehilangan seorang anak perempuan. Kami mencarinya, gagal menemukannya, dan hidup dengan penyesalan yang tidak pernah selesai." Engkong Liem menoleh ke Keira. Matanya basah, tetapi suaranya tetap tegak. "Hari ini, Tuhan mengizinkan cucu saya pulang."

Jason membawa Keira maju.

Engkong Liem mengangkat tangan dan menunjuk ke arah Keira.

"Mulai hari ini, Keira bukan lagi anak angkat Keluarga Mulyono yang bisa mereka perlakukan sesuka hati. Dia adalah Keira Liem, cucu kandung saya, darah Liem Tjie Seng, putri Rosalind Liem."

Suara napas tertahan terdengar di mana-mana.

Beberapa tamu saling menatap. Nama Rosalind sudah lama menjadi bisik-bisik lama di kalangan keluarga besar Tionghoa Jakarta. Hilangnya perempuan itu pernah menjadi cerita yang terlalu sensitif untuk disebut di meja makan. Sekarang, putrinya berdiri di depan mereka.

Keira berlutut di depan Engkong Liem untuk prosesi teh.

Tangannya tidak sekuat yang ia inginkan. Cangkir teh hangat bergetar sedikit di antara jari-jarinya. Ia menatap air teh yang memantulkan cahaya lampu, lalu mengangkatnya dengan dua tangan.

"Engkong," katanya pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar barisan depan. "Terima kasih sudah menunggu aku pulang."

Engkong Liem menerima cangkir itu.

Air mata yang ia tahan sejak pagi akhirnya jatuh.

"Cucuku," katanya, "mulai hari ini, rumah ini rumahmu."

Ia meminum teh itu, lalu mengambil sebuah jimat giok kecil dari kotak beludru. Warnanya hijau tua, halus, dengan ukiran daun maple di satu sisi.

"Ini bukan pengganti tahun-tahun yang hilang," kata Engkong Liem. "Tapi ini tanda bahwa selama Engkong masih hidup, tidak ada seorang pun boleh menyentuhmu tanpa melewati Keluarga Liem."

Ia meletakkan Jimat Giok itu di telapak tangan Keira.

Keira menggenggamnya. Dingin batu giok meresap ke kulitnya, tetapi yang terasa di dada justru panas.

"Terima kasih, Engkong."

Jason berdiri di sampingnya. Ketika Keira bangkit, Jason mengambil mikrofon dari Pak Gunawan.

Wajahnya kembali menjadi dingin, bukan kepada Keira, melainkan kepada seluruh ruangan.

"Saya tahu beberapa dari kalian datang karena penasaran," katanya. "Beberapa mungkin datang karena ingin menghitung keuntungan politik dari kembalinya adik saya. Beberapa mungkin masih membawa nama Mulyono atau Salim di kepala kalian."

Ruang itu semakin tegang.

Jason melirik Keira, lalu kembali menatap para tamu.

"Dengarkan baik-baik. Mulai hari ini, siapa pun yang menyentuh Keira, menyebarkan fitnah tentang Keira, atau mencoba memakai masa lalunya untuk menekan dia, berarti berhadapan dengan seluruh Keluarga Liem."

Senyap.

"Dan saya pribadi tidak akan memberi peringatan kedua."

Tiffany yang berdiri di depan menutup mulut kecilnya, berbisik pada Ethan, "Ko Jas keren sekali."

Ethan mengangguk serius. "Level ancamannya profesional."

Darren menatap Jason, lalu menatap Kevin. "Daddy, kamu harus lebih keren."

Kevin hampir tersedak.

Keira mendengar bisikan itu dan hampir gagal menjaga ekspresi tenang. Jason juga mendengarnya. Sudut bibirnya naik tipis.

Setelah prosesi silsilah selesai, Pak Gunawan membawa buku besar keluarga. Nama Keira Liem ditulis dengan tinta hitam di bawah nama Rosalind Liem, berdampingan dengan Jason Liem. Stempel keluarga ditekan di sampingnya.

Suara cap yang menyentuh kertas terdengar pendek.

Namun bagi Keira, suara itu seperti pintu yang selama ini terkunci akhirnya terbuka.

Setelah acara inti, tamu mulai memberi selamat. Mereka yang dulu mungkin mengabaikan Keira kini menunduk sopan. Beberapa istri konglomerat memanggilnya "Nona Keira" dengan senyum yang terlalu manis. Keira menjawab secukupnya. Ia tidak mabuk oleh penghormatan baru. Ia tahu betapa cepat orang berubah ketika nama belakang seseorang berubah.

Kevin menunggu sampai kerumunan menipis sebelum mendekat bersama anak-anak.

Tiffany tidak tahan lagi. Ia berlari ke Keira dan memeluk pinggangnya.

"Mommy cantik sekali!"

Keira mengusap rambutnya. "Terima kasih, Tiffi."

Darren berdiri di depan Keira, menatap liontin di lehernya. "Mommy pulang?"

Pertanyaan pendek itu membuat Keira berlutut di depannya.

"Iya," jawabnya. "Mommy pulang."

Darren mengangguk, lalu memegang ujung lengan Keira. Tidak banyak kata, tetapi sentuhan kecil itu cukup.

Kevin berdiri di belakang anak-anak. Ia menatap Keira dengan bangga yang tidak ia sembunyikan.

"Selamat," katanya.

"Terima kasih."

Jason muncul di samping Keira seperti dinding hidup. "Kevin."

Kevin menoleh. Untuk pertama kalinya, ia tidak memakai nada bersaing. "Ko Jas."

Jason menaikkan alis.

Keira menatap Kevin, hampir tidak percaya ia mendengar itu.

Kevin tampak sangat tenang. "Aku rasa aku harus mulai dengan sopan."

Ethan berbisik, "Strategi bertahan hidup."

Engkong Liem yang baru mendekat mendengar semuanya. Ia menatap Kevin dari ujung kepala sampai kaki, seperti menilai barang mahal yang belum tentu layak dibeli.

"Jadi kamu pria muda yang sedang mengejar cucuku?"

Ruang kecil di sekitar mereka tiba-tiba sunyi. Beberapa tamu memperlambat langkah, jelas ingin mendengar.

Kevin menegakkan tubuh. "Iya, Engkong."

Keira langsung menatapnya tajam. "Kevin."

Kevin tidak mundur. "Aku mengejar dengan izin, bukan memaksa."

Engkong Liem menahan senyum. "Jawabanmu lumayan."

Jason dingin. "Lumayan bukan berarti lulus."

"Memang belum," kata Engkong Liem. Ia mengetuk tongkat pelan. "Kevin Hartono, kamu cukup baik untuk berdiri di depan pintu. Tapi untuk masuk rumah cucuku, kamu masih perlu berusaha."

Kevin menunduk sedikit. "Saya akan berusaha."

"Jangan hanya bicara. Keluarga Liem tidak kekurangan pria yang pandai bicara."

"Saya akan buktikan."

Keira menatap Kevin, lalu Engkong Liem, lalu Jason yang wajahnya jelas puas. Ia seharusnya kesal karena menjadi pusat pembicaraan. Namun anehnya, untuk pertama kalinya, ia merasa dilindungi bukan seperti barang rapuh, melainkan seperti seseorang yang sangat berharga.

Di luar pagar Rumah Liem, berita sudah pecah.

Foto Keira turun tangga dalam qipao modern tersebar dalam hitungan menit. Video Engkong Liem mengumumkan nama Keira Liem dipotong dan diunggah ulang oleh akun berita sosialita. Tagar naik cepat, melewati gosip artis dan drama politik hari itu.

#KeiraLiem.

#LiemFamily.

#CucuLiemPulang.

Dalam satu jam, seluruh Jakarta tahu bahwa perempuan yang dulu dibuang Mulyono kini berdiri sebagai darah sah Keluarga Liem.

Di sebuah kantor gelap Salim Corporation, Ryan Salim menatap layar ponselnya dengan wajah pucat.

Komentar netizen bergulir tanpa ampun.

Ryan pernah membuang Keira Liem?

Salim pasti menyesal seumur hidup.

Dari Mulyono ke Liem, ini bukan comeback, ini pembantaian sosial.

Ryan menggenggam ponselnya sampai buku jarinya memutih. Di layar, Keira tersenyum tenang di samping Jason dan Engkong Liem. Di belakangnya, Kevin Hartono berdiri tidak jauh, seperti pria yang siap menunggu selama apa pun.

Ryan menutup mata, tetapi wajah Keira tetap ada.

Ketika ia membuka mata lagi, sesuatu yang putus asa dan bodoh mulai menyala di sana.

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!