NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA

ANAK RAHASIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Single Mom / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: WikiPix

Rahasia kelam membayangi hidup Kamala dan Reyna. Tanpa mereka sadari, masa lalu yang penuh konspirasi telah menuntun mereka pada kehidupan yang tak seharusnya mereka jalanin.

Saat kepingan kebenaran mulai terungkap, Kamala dan Reyna harus menghadapi kenyataan pahit yang melibatkan keluarga, kebencian, dan dendam masa lalu. Akankah mereka menemukan kembali tempat yang seharusnya? Atau justru terseret lebih dalam dalam pusaran takdir yang mengikat mereka?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, dendam, dan pencarian jati diri yang akan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WikiPix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NARASI Episode 27

Mobil Indira berhenti dengan kasar di tepi jalan. Pintu terbuka, dan ia melangkah keluar dengan wajah penuh amarah. Langkahnya cepat dan penuh ketegasan saat mendekati Faris yang masih terikat di tiang lampu jalan.

Mata Indira menatap tajam putranya. "Di mana Amanda?" suaranya dingin, nyaris berbisik, tapi penuh tekanan.

Faris menoleh, menatap ibunya dengan tatapan penuh kebencian. "Aku tidak tahu," jawabnya datar.

Indira mengerutkan dahi, lalu mendekat. "Jangan berbohong padaku, Faris! Aku tahu kau melindunginya!" suaranya meninggi, amarahnya semakin jelas.

Faris tetap diam, rahangnya mengeras. Ia tahu jika ia mengatakan yang sebenarnya, Amanda akan dalam bahaya. Sejak awal, ibunya tidak pernah benar-benar menyukainya. Indira pasti menginginkan sesuatu darinya, atau lebih buruk lagi, ingin menyingkirkannya.

Indira menarik napas tajam, berusaha mengendalikan emosinya. "Aku tidak punya waktu untuk ini, Faris. Kau tahu apa yang dia lakukan? Dia mencuri dokumen penting perusahaan! Jika kau masih berpihak padanya, maka kau sama saja menjadi pengkhianat!"

Faris terkekeh sinis. "Pengkhianat? Justru kaulah yang selama ini selalu menyembunyikan kebenaran, Ibu!"

Indira menatap putranya dengan tajam. "Apa maksudmu?"

"Aku tahu kau tidak pernah benar-benar menyukai Amanda. Aku tahu kau hanya ingin menjatuhkannya! Kau ingin menghancurkannya, kan?" suara Faris bergetar penuh emosi.

Indira menggelengkan kepalanya, matanya memancarkan kekecewaan. "Faris, kau salah. Aku ingin melindungimu. Amanda hanya memanfaatkanmu!"

Faris tertawa miris. "Jangan berbohong! Aku tahu kau ingin memisahkan kami!"

Indira menghela napas, menahan emosi yang semakin mendidih. "Kau benar-benar buta, Faris. Buta karena cinta, Amanda itu bukan wanita baik-baik. Ia hanya memperalatmu untuk mendapatkan dokumen itu. Dia bekerja untuk seseorang yang menginginkan kehancuran keluargamu!"

Faris menggeleng keras. "Tidak mungkin! Amanda tidak seperti itu!"

Indira mendekat lebih lagi, suaranya lebih lembut namun tajam. "Lalu di mana dia sekarang? Kalau dia memang tidak bersalah, kenapa dia melarikan diri?"

Faris terdiam. Ia tidak bisa menjawab.

Benar… Amanda menghilang. Ia tidak bisa menghubunginya sejak tadi pagi. Tapi… tidak mungkin Amanda memanfaatkannya. Mereka sudah lama bersama. Amanda menyayanginya… bukan?

Indira melihat keraguan di mata Faris dan langsung memanfaatkannya. "Kau tahu aku tidak pernah berbohong, Faris. Jika kau masih percaya padanya, maka aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi ingat, ketika kau sadar bahwa dia hanya mempermainkanmu, jangan pernah datang padaku untuk meminta bantuan."

Faris mengepalkan tangan, pikirannya kalut. Semua yang dikatakan Indira terdengar masuk akal, tapi ia tidak ingin percaya. Tidak mungkin Amanda melakukan ini padanya…

"Mulai sekarang, aku sudah tidak lagi menganggapmu sebagai anakku," ujar Indira tegas, tatapannya penuh kekecewaan.

"Sejak awal, aku selalu memiliki keraguan. Aku sudah melakukan tes DNA dua kali, dan hasilnya menyatakan kau memang anakku. Tapi sekarang, aku tidak bisa lagi mempercayai begitu saja. Aku akan melakukan tes DNA untuk ketiga kalinya, dan kali ini aku akan memastikan hasilnya tidak bisa dimanipulasi. Aku ingin kepastian yang mutlak, tanpa celah untuk kesalahan."

Faris menegang. Kata-kata Indira terasa seperti tamparan keras yang menghantam kesadarannya. Ia menatap ibunya dengan mata penuh keterkejutan, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Apa maksudmu?" suaranya serak, nyaris berbisik.

Indira menatapnya tanpa belas kasihan. "Aku selalu merasa ada yang berbeda sejak kau lahir. Aku mencoba menepis keraguan itu, mencoba menerima kenyataan. Tapi semakin lama, semakin banyak hal yang membuatku berpikir ulang."

Faris mengepalkan tangannya semakin erat. "Kau sudah dua kali melakukan tes DNA, dan hasilnya selalu sama! Aku anak kandungmu!"

Indira tersenyum sinis. "Dua kali hasilnya memang positif, tapi aku tidak bisa sepenuhnya percaya. Mungkin ada yang memanipulasi, mungkin ada kesalahan yang luput dari pemeriksaan. Kali ini, aku akan memastikan sendiri, dengan metode yang lebih teliti dan tidak bisa dimanipulasi oleh siapa pun."

Dada Faris terasa sesak. Ia tidak tahu harus merasa marah, sedih, atau kecewa. "Jadi kau benar-benar meragukan keberadaanku di keluarga itu?"

Indira menatapnya tajam. "Aku hanya ingin kebenaran, Faris. Jika kau memang anakku, hasilnya tidak akan berubah. Tapi jika tidak… aku tidak akan mengakui keberadaanmu lagi."

Faris tertawa pahit, menatap ibunya dengan mata penuh luka. "Kau bahkan tidak peduli bagaimana perasaanku. Yang kau pedulikan hanya kebenaran yang entah darimana munculnya."

Indira tidak menjawab. Ia hanya menatap putranya dengan ekspresi dingin, seolah apa yang baru saja diucapkannya adalah hal yang wajar.

"Baik," suara Faris rendah, penuh emosi yang terpendam. "Lakukan sesukamu. Tapi jika hasilnya tetap sama, aku ingin melihat apakah kau masih bisa memandangku dengan mata penuh keraguan itu."

Indira tidak menjawab, hanya menatapnya sejenak, lalu menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Faris.

Faris mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah akibat tali cengkraman anak buah Indira. Matanya menatap tajam ke arah wanita yang selama ini ia panggil ibu.

"Aku akan menunggu hasilnya," katanya, suaranya penuh kepastian. "Dan saat itu tiba, aku ingin kau menatap mataku dan mengakui siapa aku sebenarnya."

Indira tetap diam, ekspresinya dingin dan sulit ditebak. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur, lalu berbalik menuju mobilnya.

"Kita akan lihat," ucapnya sebelum masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan satu hentakan.

Faris berdiri di tempatnya, melihat mobil itu melaju menjauh. Pikirannya penuh dengan kekecewaan dan kebingungan.

Selama ini, ia sudah berusaha membuktikan dirinya. Dua kali tes DNA menyatakan bahwa ia memang anak Indira, tapi tetap saja wanita itu masih meragukannya.

Apa lagi yang harus ia lakukan?

Ia menghela napas panjang, lalu merogoh ponselnya dan menghubungi Amanda. Namun, panggilannya langsung masuk ke voicemail.

Faris mengumpat pelan. "Sial… Amanda, kau di mana?"

Ia mulai merasa ada yang tidak beres. Indira mengatakan bahwa Amanda telah mencuri dokumen penting dari perusahaan. Apakah itu benar? Atau hanya fitnah untuk menjatuhkannya?

Tapi yang lebih membuatnya gelisah adalah… kenapa Amanda menghilang saat ia membutuhkannya?

Ponselnya kembali ia cek, masih tidak ada balasan dari Amanda. Tangannya semakin erat menggenggam benda itu, berusaha menahan emosinya.

"Tidak… Amanda tidak mungkin melakukan ini padaku," gumamnya pelan, hampir seperti meyakinkan dirinya sendiri.

Tapi, semakin ia mencoba menyangkal, semakin besar keraguan dalam hatinya.

Sebuah suara dari belakang membuatnya terhenti. "Kau terlihat gelisah, Faris."

Faris menoleh dengan cepat. Seorang pria berdiri di bawah cahaya lampu jalan, wajahnya sebagian tertutup bayangan. Senyum kecil terukir di bibirnya.

"Siapa kau?" tanya Faris waspada.

Pria itu melangkah mendekat, dan saat wajahnya semakin jelas, Faris dapat mengenalinya.

"Kau… bekerja untuk Indira?"

Pria itu mengangguk santai. "Nyonya Indira memerintahkanku untuk mengikuti Amanda sebelum dia menghilang. Dan aku punya sesuatu yang mungkin ingin kau lihat."

Faris menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"

Pria itu mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah rekaman video. Saat layar mulai menyala, Faris melihat sosok Amanda.

Ia berdiri di sebuah ruangan yang tidak dikenalnya, berbicara dengan seseorang. Suara Amanda terdengar jelas di rekaman itu.

"Tenang saja, aku sudah mendapatkan dokumen yang mereka minta. Faris benar-benar bodoh, dia percaya padaku sepenuhnya."

Jantung Faris seperti berhenti berdetak.

"Tidak… ini pasti manipulasi… ini tidak mungkin…" bisiknya, tapi matanya tetap terpaku pada layar.

Rekaman berlanjut, memperlihatkan Amanda menyerahkan sebuah amplop tebal kepada seorang wanita yang wajahnya tidak terlihat jelas.

"Setelah ini, aku tidak butuh Faris lagi. Aku hanya perlu memastikan dia tidak mencurigai apapun," lanjut Amanda dalam video itu.

Faris merasa tubuhnya melemas. Tangannya gemetar saat video itu berakhir.

Pria di depannya menyimpan kembali ponselnya dan menatapnya dengan tatapan penuh arti. "Masih berpikir Amanda tidak mengkhianatimu?"

Faris tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, merasa napasnya tercekat. Tubuhnya gemetar bukan hanya karena rekaman itu, tetapi juga karena kenyataan yang menghantamnya dengan brutal.

Aku telah melakukan kesalahan besar…

Pikirannya kembali ke masa lalu, ke satu momen kelam yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Malam di mana ia, tanpa sadar, telah membunuh darah dagingnya sendiri.

Seorang anak yang bahkan tidak sempat membuka matanya ke dunia.

Faris menutup wajahnya dengan kedua tangan, rasa bersalah yang telah lama ia tekan mulai merayap kembali, menyiksa batinnya.

"Aku…" suaranya bergetar, hampir tak terdengar.

Pria di hadapannya mengangkat alis, melihat perubahan ekspresi Faris dengan penuh minat. "Kau tampak terpukul. Ada sesuatu yang ingin kau akui, Faris?"

Faris mundur selangkah, merasa seolah dadanya dihantam palu godam. Bayangan wanita itu muncul di benaknya—wanita cantik yang bekerja di perusahaan ayahnya, wanita yang sempat mengisi hari-harinya, tapi juga wanita yang hancur karena dirinya.

Malam itu, ia tak berpikir jernih. Malam itu, ia bertindak gegabah.

Dan malam itu… seorang anak yang seharusnya lahir ke dunia justru harus pergi tanpa pernah merasakan kehidupan.

"Tidak…" bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri.

Namun, pria itu tersenyum kecil, seolah menangkap sesuatu. "Kau menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pengkhianatan Amanda, bukan?"

Faris menatapnya tajam, tapi matanya penuh ketakutan. "Diam."

Pria itu hanya terkekeh. "Aku tidak perlu kau beri tahu, Faris. Wajahmu sudah mengatakan semuanya."

Faris mengepalkan tangannya, amarah dan kepanikan bercampur menjadi satu. Ia harus pergi. Ia tidak bisa berada di sini lebih lama.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan pria itu yang masih berdiri di tempatnya dengan senyum penuh misteri.

Namun, di dalam hatinya, Faris tahu.

Bayangan dosa itu tidak akan pernah meninggalkannya.

Sedangkan pria itu menyeringai kecil, menatap punggung Faris yang menjauh.

"Lucu sekali, ya?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Kau bahkan tidak tahu betapa kusutnya sejarah keluargamu sendiri."

Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, matanya memandang ke kejauhan seakan menikmati permainan yang sedang berlangsung.

Indira, Ratna, dan Bram…

Tiga orang yang terikat dalam takdir yang rumit. Dua saudara yang mencintai pria yang sama, dan seorang pria yang terjebak dalam perasaan yang tak bisa ia kendalikan.

Indira adalah istri sah Bram. Namun, Ratna, adik kandungnya sendiri, mencintai pria itu dengan kegilaan yang tak terbendung.

Bram sendiri? Tidak bisa dikatakan pria setia. Ia mencintai Indira, tapi juga terjerat dalam pesona Ratna.

Dari hubungan terlarang itu, lahirlah seorang anak. Seorang anak yang seharusnya tidak pernah ada dalam perhitungan siapa pun.

Ratna, dalam amarah dan iri yang membakar, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Bram tetap memilih Indira. Maka, ia melakukan sesuatu yang lebih gila. Sesuatu yang mengubah jalan hidup mereka selamanya.

Ia menukar bayi mereka.

Kamala.

Anak yang seharusnya menjadi darah daging Indira, tumbuh di luar jangkauan ibunya sendiri. Sementara Faris, anak Ratna, hidup dalam rumah tangga Indira tanpa pernah tahu kebenaran yang sesungguhnya.

Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, semua itu kembali ke permukaan.

Pria itu tertawa kecil, senyum puas tersungging di bibirnya.

"Ah… drama keluarga memang tak pernah membosankan."

Ia mengambil ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menyeringai lebih lebar.

Permainan baru saja dimulai.

1
Sarul Parjo
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!