Aku adalah gadis minang, tapi tak banyak yang ku ketahui tentang ranah minang dan adat istiadatnya. Aku di lahirkan di perantauan dan menghabiskan waktu berpindah pindah daerah pulau sumatra.
Aku adalah asisten pengacara, tentu sudah banyak kasus yang aku selesaikan bersama sang pengacara yang tak lain adalah teman ku saat kami kuliah di salah universitas swasta di Jakarta.
Saat ini usia ku sudah 27 tahun, keluarga besar semua khawatir aku menjadi perawan tua. Aku sih enjoy aja toh yang penting aku kerja dan jalan jalan ke daerah mana saja yang objek kasus yang harus di tangani oleh tim pengacara tempat aku kerja.
Sampai suatu ketika aku kaget mendengar keputusan paman dari adik sepupu ibu ku di Padang. Beliau menjodohkan ku dengan seorang duda yang memiliki usaha perniagaan yang cukup berkembang pesat dengan pundi pundi yang fantastis.
aku tak menerima perjodohan itu dan menolaknya, paman marah besar dan berkata dengan sangat kasar pada ayah ku, aku yg tak terima dengan keputusan paman berasumsi apa hak nya paman dengan sampai marah besar karena aku menolak keinginannya?????. Pasti ada maksud terselubung, ayah ku hanya diam saja beliau tidak mau komentar apapun. Tapi aku melihat air mata ayah mengalir perlahan.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengajak nikah seorang pria yang baru aku kenal, pemuda itu seorang guru SMU di Serang Banten.
Apakah keputusan ku ini menikahi nya yang terbaik????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rais Caniago, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 27 Modal Usaha
Depok.
Sofyan menemui Syamsul...mereka berdua janjian di salah satu warung makan Padang.
"Asslamualaikum uda Syamsul", sapa Sofyan saat ia melihat syamsul sedang duduk di barisan kursi dan meja yang berjejer rapi.
"Waalaikumsalam....", jawabnya.
Sekilas memperhatikan penampilan Sofyan...baju kemeja warna putih yang bermerk brand termahal...celana jins hitam yang juga brandit...sepatu sports yang tak kalah dengan merk terkenal dunia...dan kaca mata hitam...serta tas kulit dengan harga pantastis melirik jam tangan dengan brand terkenal dan mahal...sungguh penampilan yang berbanding terbalik dengan Ridho.
Ridho lebih suka drngan tampilan sederhana di lingkungan tempat ia tinggal dan di lingkungan sekolah...tapi akan menjadi lain serta highclass di lingkungan keluarganya, termasuk Nada...yang sudah biasa berpakain dengan baju merk brand mahal.
Nada dan Ridho memiliki persamaan hanya pada saat tertentu ia merubah gaya fashion dan stile nya. Nada lebih nyaman dengan baju kaos oblong...celana ala ala pantai...tas selempang berbahan kain...dan sendal jepit swalow...bodoh amat orang mau ngomong apa yang penting enjoy.
"Apa kabar uda?", tanya Sofyan.
"Baik", sedikit canggung...karena malu setelah tau kenyataan Ridho adalah anaka seorang pengusaha peternakan yang cukup sukses...dan sangat kharismatik dan baik tuk seluruh karyawannya. Tak ada kecurang dalam hal menajemen keuangan...karena Sofyan memberikan gaji yang lumayan tinggi, fasilitas kesehatan, pendidikan, fan hiburan...prinsipnya jika karyawan kenyang...tidur dengan pulas...kerja semangat...dan yang pasti jujur karena kehidupan ekonomi yang terjamin.
"To the point aja saja", menyerahkan sebuah amlop yang berisi uang, "Ini sejumlah uang tuk modal...saya juga sudah membeli sebuah ruko di jalan xxxxx di kawasan sekitar area kampus...ini kuncinya...dan uda bisa memulai usaha baru", menatap tajam ke arah Syamsul dengan intimidasi dan menyiratkan ancaman.
"Maksudnya apa ini?"....kamu kira saya serendah itu mau menerima uang dan ruko yang di berikan...cih...lebih dari ini saya punya...", tak terima karena sepertinya Sofyan memandang remeh padanya.
"Saya tau kamu sering memantau Uda Andi apaknya si Nada....kamu membayar orangkan...apa kamu lupa kalau Nada itu memantau apaknya dari jarak jauh...cctv terpasang di seluruh ruko kecuali kamar mandi...dan kamar...dan berniat tuk menghancurkan uda An...benarkan ???"...
Syamsul hanya diam membisu dan terpaku...ia benar benar tidak menyangka Nada begitu menjaga keselatan ayahnya...karena ia pun mendapatkan dari orang suruhannya ada beberapa anggota polisi yang berpakaian biasa...ini pasti kekuasaan uang yang berbicara.
"Uda...janganlah iri dengan rezeki orang lain...semua rezeki makhluk Allah sudah di jamin takkan berkurang sepersen pun, kita hanya ikhtiar dan tawakal...semua sudah menjadi ketetapan Allah yang tertulis jauh sebelum kita lahir ke dunia...bersyukur dan Qona'ah...", Sambil berdiri dan menjulurkan tangan kanannya tuk bersalaman berniat pamit.
"Baiklah...saya mohon undur diri...karena hari ini saya mengunjungi Ridho dan Nada di Serang...ingat...saya tidak segan tuk menjerat uda di ranah hukum...karena semua bukti sudah ada di tangan Nada...termasuk bukti pemerasan terhadap beberapa orang...tak perlu di sebut namanya...hentikan memeras anakku...atau aku tak segan bertindak supaya uda mendekam di penjara...ingat uda...kalian itu bersaudara...sekampung...saudara se iman...mulailah hidup yang baru dengan hati yang bersih tanpa dendam...iri...dan dengki...". berjalan meninggalkan Syamsul yang hanya diam tak berkutik...terperangah...sarasa mendapatkan tamparan yang sangat keras.
Syamsul menatap kosong...dan pikiran melayang...semua terbayang...terlintas membayang masa saat ia sukses...masa di saat usahanya bangkrut...hanya berdiam diri...tanpa usaha...warisan istri dari orang tuanya yang menjadi penopang ekonomi rumah tangga...menjodohkan beberapa orang ponakannya yang sukses dengan niat terselubungnya...marah besar karena penolakan Nada yang akan di jodohkan sengan seorang duda...karena ini semua akan mendapatkan keuntungan yang besar bagi Syamsul....dan rencana jahat tuk menghancurkan usaha suami dari sepupunya sendiri...
"Aku memang jahat...tak pernah bersyukur...suami yang tak bertanggung jawab pada istri dan ayah yang buruk....aku lupa selama ini begitu banyak uni Yalinar membantu....uda Andi yang selalu memberikan uang jajan Alfa dan Fany dengan jumlah tertentu...aku ingin berdamai...aku ingin meminta maaf...aku memulai hidup baru....Ya....Allah...aku hampir melakukan suatu kesalahan fatal...aku hampir berniat tuk hal yang sangat jahat...yang pasti nanti aku akan menyesal...karena keluarga akan menghujat...anak dan istri akan membenci...dan yang pasti Nada akan pasti bertindak di jalur hukum dan aku akan terperdaya di hotel prodeo",...tanpa terasa air mata penyesalan mengalir di ujung mata.
Tak ada yang tau apa yang akan terjadi esok hari...tapi kita harus memastikan tuk selalu menyongsong hari esok dengan perasaan damai...bahagia...karena kebahagian bukan hanya sekedar harta dan tahta...hati yang bersih tanpa dendam...iri...syirik...dan dengki...memaafkan dan saling memaafkan dengan keikhlasan.
Keluarga adalah tempat yang ternyaman...kehangatan penuh cinta...kasih sayang...tak perlu kekerasan...tak perlu pertengkaran hebat...tak perlu senjata...saling tolong menolong...salung mendukung...saling memberi dan menerima.
"Yaa Allah...ampunin hamba...",...dalam sujudnya Syamsul memohon dengan rasa penyesalan...Hanya Allah SWT...tempat berserah diri memohon...meminta...berharap.