Rumah boneka yang selalu dimainkan oleh gadis kecil bernama Mariana merupakan malapetaka bagi sang sepupu, Lucas Nova dan sang adik, Keane Nova.
Kejadian itu dimulai saat keduanya diminta oleh paman dan bibi mereka untuk menginap selama liburan sekolah dan menemani sang gadis kecil bermain.
Liburan untuk menemani Mariana berubah menjadi bencana karena teror dari rumah boneka kecil dan makhluk halus yang mencoba membunuh mereka.
Apakah liburan itu akan menjadi hari kematian ketiganya yang harus terjebak dengan teror dan kutukan dari rumah boneka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Keluar
Edwin berlari sambil menggendong Mariana yang memegangi rumah bonekanya.
“Tidak ada tempat yang aman di sini! Kenapa rumah yang terlihat tenang bisa berubah menjadi seperti ini!!” gerutu pria tua itu.
Mariana masih memeluk erat Edwin. Di dalam rumah boneka mainan yang dipegangnya, sosok boneka dari gadis kecil sebelumnya menghilang secara tiba-tiba. Sungguh aneh memang, namun bekas darahnya masih terlihat di bagian ruangan tempatnya berada sebelum ini.
Mariana yang masih menangis bertanya pada pria tua yang menggendongnya.
“Hiks…paman, Mariana mau bertemu Lucas. Hiks…Mariana mau memeluk Keane…”
“Kebetulan sekali, gadis kecil. Aku sendiri mau merebahkan tubuhku di bangsal rumah sakit setelah keluar dari sini hidup-hidup.” ucapnya.
Edwin sempat melirik rumah boneka milik Mariana dan berkata dalam hati, “Aku sekarang yakin bahwa rumah boneka ini memang sangat berbahaya. Tapi berkat itu, aku bisa mengetahui bahwa satu-satunya jalan menuju pintu keluar adalah dengan pergi mengikuti posisi boneka yang ada di dalamnya.”
“Anak yang ada bersamaku juga tidak diketahui datang dari mana. Ini sulit tapi aku harus keluar dan mencari bantuan lebih dulu!!”
Edwin mencoba berpikir layaknya orang tua bijak dan bertanya pada gadis kecil yang terus menangis, “Mariana, coba lihat rumah boneka milikmu. Kita akan mencari bantuan jadi kau harus mau berusaha sedikit lagi.”
“Hiks…Mariana takut…”
“Akan lebih menakutkan jika kedua orang tuamu tidak melihat kalian bertiga lagi karena kejadian horror yang konyol ini. Kau harus tenang dan lihat rumah bonekanya…”
Mariana terpaksa mendengarkan Edwin dan menghapus air matanya. Dia berusaha melihat rumah boneka kesayangan yang selalu diajaknya bermain.
“Bonekanya…jadi sangat banyak…”
“Hiiiii!! Ada boneka setan!!!”
Mariana langsung reflek membuang boneka mengerikan yang terlihat sedikit bergerak di belakang boneka yang mirip dengan mereka.
Mariana tidak tanggung-tanggung saat melemparnya. Dia melemparnya ke arah dinding yang terus mengeluarkan tulisan aneh dengan darah sampai terdengar suara karena sangat keras saat dilempar olehnya.
-Buuuk
“Mariana tidak suka boneka setan yang mengerikan seperti hantu tadi!!” teriaknya.
Saat bonekanya membentur dinding, terdengar suara dari belakang mereka.
-Brruuuuuk
Suara itu sangat keras dan membuat Edwin berhenti sejenak. Dia menengok ke belakang dan merasakan sesuatu. Sambil melirik boneka yang baru saja dibuang oleh Mariana, dia menyadari hal yang seharusnya dia sadari sejak awal melihat rumah boneka itu.
“Kenapa aku tidak menyadarinya…” gumamnya pelan.
Edwin menurunkan kedua gadis kecil yang digendongnya untuk mengambil boneka mengerikan yang baru saja dilempar oleh Mariana.
Mariana jelas menangis kembali, “Jangan diambil setannya! Hiks…dia jelek dan mengerikan. Mariana tidak mau main dengan boneka itu!!”
“Bukan untuk dimainkan, gadis kecil. Kita harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan sejak awal agar bisa keluar dari sini!”
Edwin menggunakan kedua tangannya dan langsung mematahkan bagian kepala dari boneka itu.
“Boneka plastik memang tidak menyenangkan untuk dipatahkan!!”
-Kreeeek
Kepala boneka setan yang persis seperti makhluk horror yang mengejar mereka berhasil dipatahkan namun hal mengejutkan di sini adalah boneka itu mengeluarkan darah sungguhan saat dipatahkan.
Seperti boneka yang hidup, Edwin dan Mariana menjadi takut melihatnya.
“Hiks…huwaaaa, Mariana benci darah!!”
“Lucas!! Keane!!”
Mariana menangis keras dan Edwin sendiri sedikit gemetar.
“Boneka ini…sungguhan?”
“Persetan! Yang jelas, ini harus dihancurkan!”
Edwin tidak memedulikan semua pikirannya dan langsung mematahkan seluruh anggota tubuh boneka itu. Darah benar-benar keluar sangat banyak tapi bukan masalah. Setelah berhasil merusak fisik boneka itu, Edwin langsung melemparkannya sampai menyebar ke seluruh lantai.
Ajaib memang, semua potongan bagian tubuh boneka itu langsung hilang tanpa sisa seperti memberikan tanda bahwa makhluk itu bisa saja ikut menghilang.
Edwin menarik napasnya dan menghembuskannya. Dia berusaha tenang meskipun tangannya penuh darah.
Dengan cepat dia mengelap seluruh darah di tangannya ke pakaiannya, tidak peduli sebanyak apa, hal terpenting tangannya harus bersih saat akan menggendong kedua gadis kecil di dekatnya kembali.
Edwin memastikan apakah ada hal aneh lain yang mengikuti atau tidak dan berlari kembali menuju tangga turun.
“Mariana, dengarkan aku…” ucap Edwin.
“Paman…Mariana ingin bertemu Lucas dan Keane lagi…”
“Aku akan membawamu pada mereka, tapi tolong berjanjilah satu hal padaku.”
“Paman?”
Edwin berkata dengan nada serius, “Aku akan berusaha membawa kalian berdua keluar lebih dulu, saat sudah di luar, apapun caranya, panggillah banyak orang untuk membantumu! Tidak peduli siapa, kau harus membawa banyak orang.”
“Ini bukan hal yang bisa ditangani sendiri oleh orang tua sepertiku. Jika kau pergi ke gereja, bawa pendeta dan semua orang untuk menemanimu juga! Kita membutuhkan bantuan doa agar kalian semua selamat dari kegilaan ini.”
“Rumah boneka milikmu adalah sumber kekacauan, tapi di saat yang sama, rumah boneka itu juga sumber penyelamat kita semua.”
Edwin berkata dengan nada serius itu sambil akhirnya berhasil menuruni tangga turun.
Sungguh aneh, mereka bertiga berhasil menuju ke arah pintu keluar dengan tenang tanpa adanya gangguan sama sekali.
Sesekali, Edwin melirik dan tidak ada makhluk mengerikan yang muncul di sana. Namun darah segar masih mengalir sedikit dan itu benar-benar darah yang mengotori pakaian Mariana.
“Rumah boneka itu seperti rumah keluargamu.” ucapnya, “Ini seperti hidup namun penuh dengan teror.”
“Aku akan memastikan kau dan gadis kecil asing ini keluar dari sini. Setelah itu, doakan aku bisa menemukan kedua kakak sepupumu dalam keadaan hidup.”
Mariana menangis dan memeluk rumah bonekanya sambil melihat boneka yang mirip dengan Lucas dan Keane bersama di tempat lain.
“Mariana ingin bertemu Lucas dan Keane. Hiks…Lucas, Keane…”
“Kalian akan bertemu lagi. Lihat, itu pintunya. Setelah keluar dari sini, cari bantuan apapun yang terjadi!!”
Edwin merasa bahwa usahanya kali ini tidak mengalami suatu hal yang parah. Aneh memang, tapi dia berhasil tiba di pintu keluar tanpa masalah sejak membawa rumah boneka itu bersamanya.
Dengan menurunkan Mariana, dia membuka pintu dan sungguh tidak terduga, pintu kembali terbuka.
Sebelumnya pintu seakan terkunci sendiri namun kali ini mereka berhasil keluar. Tidak perlu membuang waktu karena mereka langsung keluar begitu pintu terbuka.
Edwin seperti melihat langit untuk sekian lama. Mereka seperti baru mengalami hal paling mengerikan dan mungkin saja itu mimpi.
Namun melihat darah dan gadis kecil asing yang pingsan membuat Edwin sadar bahwa semua hal yang sulit dijelaskan oleh akal sehat itu adalah sungguhan.
“Siapa yang menyangka bahwa keluar dari sini seperti baru tersesat di sebuah labirin.” pikirnya.
Bahkan setelah berhasil keluar dari dalam rumah yang terlihat normal, Edwin masih harus masuk lagi ke dalam.
“Aku rasa aku akan cepat mati…”
**
Lucas dan Keane yang masih ada di dalam rumah sedikit demi sedikit berhasil bergerak dari tempatnya.
“Aku baik-baik saja, Lucas…” ucap Keane lemas.
“Kamu lemas seperti itu dan masih berkata kalau semua baik-baik saja? Aku tidak mau mendengarnya lagi.”
Keane terlihat seperti akan pingsan, namun dia menahan diri agar Lucas tidak cerewet.
“Aku…mengkhawatirkan Edwin. Aku harap dia baik-baik saja…”
Lucas hanya diam dan tidak menjawab. Bohong jika dia tidak khawatir, tapi dia ingat bahwa tidak ada yang bisa dipercaya saat ini.
“Aku akan memastikan kita semua akan keluar. Yang harus lebih dikhawatirkan adalah Mariana kecil tidak ada dimanapun dan kita kehilangan rumah boneka yang merupakan sumber dari semuanya.”
“Ini…liburan yang sangat tidak menyenangkan. Jika ayah dan ibu bertanya, katakan kalau kita baru saja masuk ke rumah hantu ya…” ucap Keane sedikit bercanda.
Hari kedua liburan penuh teror itu belum berakhir.