NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7. PANGGILAN DARURAT

..."Dalam ketenangan sebelum badai, seorang penyembuh belajar bahwa pengetahuan saja tidak cukup ketika nyawa sedang tergantung di ujung waktu."...

...---•---...

Doni tidak tidur nyenyak malam itu.

Setiap kali matanya tertutup, wajah-wajah itu muncul. Perempuan paruh baya, tangan penuh kapalan. Lelaki tua, suara serak seperti amplas. Anak-anak yang batuk tak henti. Puluhan wajah yang menatapnya seperti ia adalah mukjizat terakhir mereka.

Aku bukan dewa. Bukan penyihir. Hanya dokter yang bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa ada di sini.

Tapi Mbok Wulan sudah menyiapkan tikar untuknya, selimut tipis yang usang tapi bersih, berbau sabun sederhana. "Istirahat yang cukup," bisiknya. "Besok akan panjang."

Panjang. Kata itu bergema. Puluhan orang sakit. Tanpa alat diagnostik. Tanpa obat modern.

Tuhan, apa yang sudah kusanggupi?

Lantai tanah keras di bawah tubuhnya, jauh dari kasur spring bed apartemen dulu. Tapi anehnya, dadanya terasa lebih ringan. Mungkin kelelahan. Atau mungkin... untuk pertama kali sejak terbangun di dunia ini, ia punya tujuan.

Suara kampung dari luar seperti simfoni kehidupan sederhana: ayam berkokok, tawa anak-anak yang melengking, bisik-bisik orang dewasa. Riuh. Hangat. Sangat berbeda dari hiruk-pikuk kota yang biasa menelannya.

Matanya perlahan tertutup.

Besok... aku harus siap...

Dalam tidurnya, dua dunia menyatu. Lampu neon dan pencakar langit mencair bersama gubuk bambu dan hamparan sawah. Batasnya kabur, seperti dirinya sendiri.

...---•---...

Matahari sudah tinggi ketika ia terbangun. Cahaya menerobos celah atap, menerbangkan debu-debu emas di udara. Tubuhnya masih pegal, tapi otot-ototnya tak lagi berteriak. Ia bangkit, keluar dari gubuk.

Cahaya menyilaukan sesaat.

Karyo duduk di luar, menganyam bambu dengan jari lincah. Melihat Doni, ia menyeringai. "Sudah siang. Kau tidur nyenyak sekali."

"Benarkah?"

"Mendengkur seperti harimau."

Aku mendengkur? Doni hampir tertawa. Tubuh baru, kebiasaan baru.

"Ibu sudah siapkan makan siang." Karyo menunjuk ke tungku, tempat Mbok Wulan mengaduk sesuatu dalam wajan.

Mbok Wulan menoleh, wajahnya cerah. "Kau bangun! Bagus. Sayur asem dan ikan asin. Tidak banyak, tapi cukup mengisi perut."

Mereka makan bersama di halaman, duduk melingkar dengan piring tanah liat di atas tikar anyaman. Tari ikut makan, sendok kecil bergerak lambat ke mulut. Tapi dia duduk. Dia makan.

Dia hidup.

Sesuatu mengembang di dada Doni, hangat seperti matahari pertama setelah hujan panjang.

Aku menyelamatkannya. Tanpa mesin. Tanpa monitor. Hanya tanganku.

Setelah makan, Pak Karso bangkit, mengusap mulut dengan punggung tangan. "Ayo. Aku tunjukkan tanaman yang berguna."

Mereka berjalan melewati sawah yang sedang ditanami padi. Air gemericik di parit kecil, suara yang menenangkan. Petani membungkuk, tangan cekatan menanam bibit, gerakan yang sudah jadi otomatis. Beberapa melirik Doni, berbisik satu sama lain.

"Itu dia, yang menyelamatkan Tari," kata seorang petani, cukup keras.

Tabib. Gelar itu menempel sekarang, seperti kulit kedua. Aku bukan tabib. Aku dokter. Atau... dulu dokter. Sekarang... entahlah.

Di tepi hutan, udara berbau tanah basah dan daun membusuk. Burung berkicau di atas, suara yang jarang ia dengar di kota modern. Pak Karso mulai menunjukkan tanaman, jari kasarnya menyentuh daun dengan lembut.

"Ini daun sambiloto. Pahit sekali. Untuk demam." Ia memetik satu, meremasnya. Bau pahit menyengat.

Andrographis paniculata. Doni mengingat-ingat pelajaran farmakologi. Tanaman ini bisa menurunkan demam secara alami, sekaligus membantu memperkuat daya tahan tubuh.

"Ini kunyit, yang kemarin kau pakai. Ini lengkuas. Jahe merah, lebih kuat dari jahe biasa."

Curcuma longa. Zingiber officinale. Nama latin ia hafal, tapi melihat mereka tumbuh liar seperti ini... berbeda. Nyata.

"Ini daun sirih untuk luka."

Piper betle. Antiseptik.

Doni mendengarkan dengan seksama, otaknya merekam seperti kamera: bentuk, tekstur, warna. Aku harus ingat semua ini. Besok aku butuh ini.

"Yang ini berduri," Pak Karso menunjuk semak dengan daun tajam seperti jarum. "Tapi akarnya untuk sakit perut. Direbus lama sampai airnya hitam."

Catatan: akar berduri untuk pencernaan. Rebus lama. Mungkin tanin atau alkaloid.

Mereka berjalan lebih dalam. Cahaya tersaring lewat dedaunan, menciptakan pola bergoyang di tanah. Seorang perempuan tua sedang mengumpulkan kayu bakar, punggung bungkuk seperti busur. Rambut memutih seperti kapas, tapi pandangannya masih tajam.

Ia menatap Doni, penuh selidik.

"Kau anak muda yang katanya bisa menyembuhkan?" Suara serak tapi tegas. Tanpa basa-basi.

"Aku cuma bantu sebisanya, Mbah."

Perempuan itu mendengus. "Coba saja." Bibirnya menipis. "Tapi ingat, jangan sombong. Kesombongan bawa kehancuran. Aku sudah hidup tujuh puluh tahun, sudah lihat banyak orang sok bisa, akhirnya hilang entah kemana."

"Aku akan ingat, Mbah."

Ia menatap lebih lama, seperti membaca buku dalam cahaya redup. Lalu mengangguk pelan. "Setidaknya masih tahu sopan santun. Besok aku datang ke balai. Kakiku sakit kalau jalan. Kau lihat."

Setelah perempuan itu pergi, Pak Karso berbisik, "Itu Mbah Darmi. Nenek tertua di kampung. Kalau dia dukung kau, yang lain ikut percaya."

Politik kampung. Doni hampir tersenyum. Sama saja dengan rumah sakit. Selalu ada hierarki. Selalu ada orang kunci.

Mereka mengumpulkan tanaman, membungkusnya dengan daun pisang basah embun. Bau tanah dan dedaunan segar memenuhi hidung Doni. Asing tapi menenangkan.

Setidaknya aku punya bahan. Setidaknya tidak mulai dari nol.

Ketika kembali ke gubuk, matahari condong ke barat, bayangan memanjang seperti jari yang meraih.

Karyo menyambut mereka, napas terengah-engah. "Doni! Ada yang cari kau! Bilang ada orang sakit parah!"

Sudah mulai.

Bahkan sebelum besok.

Di depan gubuk, seorang pemuda berdiri berkeringat, napas terengah seperti habis berlari maraton. Kain basah. Kaki berdebu sampai lutut. Wajah pucat, panik tercetak jelas di setiap garis wajahnya.

"Tolong!" Pemuda itu bersimpuh, lutut menghantam tanah. Air mata membasahi pipi. "Ibu... di hutan... kayu jatuh... kakinya..." Suaranya pecah. "Banyak darah. Kami tidak... tidak tahu..."

Patah tulang. Doni melihat adegan dalam kepalanya. Fraktur terbuka. Tulang menembus kulit. Perdarahan masif.

Jantungnya berderap.

Infeksi. Syok. Kematian.

Dia bisa mati.

Adrenalin memompa ke seluruh tubuhnya, menghapus lelah seperti angin menerbangkan debu. Instingnya mengambil alih. Tubuh bergerak sebelum pikiran sempat memproses.

"Tunjukkan jalannya. Sekarang!"

Ia menoleh pada Pak Karso. "Daun sirih, banyak! Kain bersih!"

Pada Karyo: "Air matang!"

Mereka bergerak seperti pasukan terlatih. Doni meraih tas anyaman, memasukkan tanaman obat. Aku tidak tahu apa yang akan kutemui. Tapi aku harus siap untuk yang terburuk.

Pemuda itu sudah berdiri, tubuh bergetar. "Cepat... ibu... kehilangan banyak darah..."

Mereka berlari mengikutinya, meninggalkan kampung, menuju hutan di timur. Kaki Doni terasa ringan, instingnya menguasai. Karyo berpacu di sampingnya, napas berat tapi tidak tertinggal. Pak Karso, meski tua, berlari dengan tekad sama.

Biarkan aku sampai tepat waktu. Biarkan aku bisa menyelamatkannya.

Mereka melewati sawah. Melompati parit. Menembus semak. Cabang menyapu wajah Doni, tapi ia tidak peduli.

Setiap detik berharga.

Setiap detik bisa jadi perbedaan antara hidup dan mati.

Berapa banyak darah yang hilang? Berapa lama sejak kejadian? Apakah dia sudah syok?

Pertanyaan-pertanyaan berputar seperti badai. Tapi ia terus berlari. Karena ia tahu satu hal.

Patah tulang terbuka dengan perdarahan hebat, tanpa penanganan tepat, bisa berakibat fatal dalam hitungan jam.

Waktu adalah musuhnya sekarang.

Dan musuh itu sedang berlari lebih cepat.

...---•---...

...Bersambung...

1
CACASTAR
kalau kataku ya, Doni itu ketitipan roh, jadi kuat saat menangani ratusan pasien...
Tulisan_nic
Betul, saat tubuh demam memang banyak sekali cairan yang hilang. Di sarankan untuk memperbanyak minum air putih. Namun harus perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit.
Tulisan_nic
Tari ini ada kemungkinan dehidrasi juga, sebaiknya minum secara perlahan-lahan. Karna kalau sekaligus bisa berefek mual, muntah.
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
Jing_Jing22
Ki Darmo ini bener-bener ya, pinter banget memutarbalikkan fakta pakai alasan jimat! Kayaknya dia bakal jadi penghalang besar buat Doni nih.
PrettyDuck
duhh gimana ya? kalo doni nolak pun mereka bisa tersinggung gak sih? 🥲
PrettyDuck
sedihnya 😭
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲
PrettyDuck
kalo diduitin doni bisa jadi orang kaya sih ini 🙈
DANA SUPRIYA
luar biasa kemenangan ini
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
lagi-lagi jin yang disalahkan /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ki darmo hanya bisa mengandalkan mantra dan sesajian
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia udah biasa melakukannya. tapi, dengan alat lebih lengkap 🤭
putri bungsu
perjuangan km nggk sia sia Don, lihat udah ada kemajuan
Mentariz
Kamu harus pecaya dengan kemampuanmu sendiri don, jangan pernah ragu, lakukan aja secara maksimal, hasilnya pasti akan baik-baik saja
Mentariz
Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu, don
Mentariz
Alamak~~ bakal syulit nih ngadepin aki-aki 😅
Greta Ela🦋🌺
Entah pun mungkin sampai puluhan nyawa yang kau selamatkan Don
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!