“Gunduli kepala mereka, jika mereka tetap tidak mau mengakui kesalahan mereka! Bisa-bisanya mereka berzin.a di lingkungan kita!” ucap warga menggebu-gebu penuh amarah.
Entah ibli.s apa yang merasuki warga. Hingga mereka menghakimi Hasan dan gadis amnesia yang bersamanya, dengan sangat keji. Hanya karena warga memergoki Hasan dan gadis tersebut tengah berpelukan di dalam mobil bersuasana gelap. Kedua sejoli itu dituduh akan melakukan zina. Ditambah lagi, keduanya tidak bisa menyerahkan kartu identitas.
Bukan hanya mobil Hasan yang remuk setelah diamuk warga. Karena Hasan juga terluka parah. Si gadis amnesia yang dituduh menjadi pasangan zina Hasan, juga nyaris dibotaki. Padahal alasan kedua sejoli itu bersama karena kecelakaan lalulintas yang sebelumnya keduanya alami. Hasan tak sengaja menabrak si gadis dan membuat si gadis menjadi amnesia total. Keduanya yang tidak saling kenal, tengah saling menguatkan satu sama lain melalui pelukan.
Namun, demi menyelamatkan nyawa satu sama lain, kedua sejoli itu menerima untuk dinikahkan paksa. Lantas, pernikahan seperti apa yang akan keduanya miliki jika alasan mereka menikah saja karena fitnah yang begitu keji?
[Merupakan bagian dari novel : Kembar Genius Kesayangan Bos Mafia Kejam & Rujuk Bersyarat Turun Ranjang ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 : Diberi Kesempatan (Revisi)
“Kamu saya izinkan keluar dari pekerjaan yang ada di sini. Namun saya akan mengirim kamu ke cabang rumah makan yang lebih besar,” ucap ibu Chole sungguh-sungguh.
Setelah sampai mengajaknya duduk bersama di sofa panjang yang ada di ruang kerja ibu Chole, apa yang wanita bercadar itu lakukan malah membuat Cinta terkejut. Padahal, alasan Cinta mengundurkan diri dari tempat kerja, murni agar Cinta tak memiliki urusan dengan Hasan lagi. Karena Cinta yakin, jika dirinya tetap bekerja ke ibu Chole, yang ada Cinta akan kesulitan lepas dari Hasan. Mengingat ibu Chole merupakan kerabat orang tua Hasan.
“B—Bu, ... mohon maaf, bukan bermaksud tidak sopan. Namun saya ingin punya pengalaman baru. Saya ingin pindah keluar kota—” Cinta mencari-cari alasan yang kiranya tepat, agar penolakan yang ia lakukan tak melukai ibu Chole.
Namun, meski tahu Cinta belum selesai dengan penjelasannya, ibu Chole sengaja berkata, “Saya berjanji, saya tidak akan mengabarkan ini kepada Hasan maupun keluarganya!”
“Hah ...? Ibu Chole tahu kalau sebenarnya aku sengaja mengundurkan diri, untuk menghindari kak Hasan?” batin Cinta benar-benar kaget. “Saya sudah tidak memiliki hubungan dengan kak Hasan, Bu. Saya sudah menyanggupi permintaannya untuk berpisah. Kami sepakat untuk bercerai!” ucap Cinta sambil menunduk santun.
“Saya pernah ada di posisi yang hampir mirip kamu, meski saya tidak sampai mengalami amnesia,” ucap ibu Chole yang kali ini sampai meraih kemudian menggenggam sebelah tangan Cinta.
Sampai detik ini, Cinta belum berani menatap ibu Chole, secara terang-terangan. Ia tetap menunduk dan cenderung menatap tangan kirinya yang digandeng ibu Chole.
“Alasan suami saya begitu mencintai saya, bahkan awalnya sekadar ditinggal sebentar saja suami saya langsung tantrum, ... murni karena saya sengaja membuat suami saya mencintai bahkan tergila-gila kepada saya,” ucap ibu Chole. “Saya tahu, semuanya selalu punya proses berbeda. Itu sebabnya, saya tidak menyalahkan kamu kenapa kisah kamu dan Hasan, dan kalian baru kemarin kembali bertemu, sudah berakhir.”
“Saya percaya kalau jodoh enggak akan ke mana, Bu. Bukannya tidak mau berjuang, masalahnya yang diperjuangkan memang tidak ada. Kak Hasan tidak mau saya perjuangkan. Lagi pula, dari kasta saja kami berbeda. Andai kak Hasan memang sopir seperti pengakuan awalnya, mungkin saya masih punya alasan buat bertahan. Selain itu ... kak Hasan juga jadi sakit jika saya ada apalagi jika terus dipaksa bersama saya,” ucap Cinta sambil terus menunduk. “Hidup hanya sekali. Saya juga tidak tahu akhirnya akan seperti apa. Saya tidak mau membuat kak Hasan menjalani hubungan dengan pasangan yang tidak beliau inginkan. Karena itu sama saja membuatnya menderita bahkan menyesal seumur hidup.”
“Mengenai Hasan yang malah mengaku sebagai sopir bahkan orang miskin, anak-anak saya juga begitu,” ucap ibu Chole. Ia berusaha meyakinkan lawan bicaranya. “Saya percaya, mereka tidak pernah bermaksud membohongi apalagi meremehkan orang lain atas keputusan mereka merahasiakan jati dirinya. Termasuk apa yang Hasan lakukan, saya yakin dia tidak bermaksud buruk ke kamu.”
“Karena setelah saya cermati, mengaku miskin akan jauh lebih membuat kita menemukan yang benar-benar tulus ke kita. Ya, ... meski resikonya, kita bakalan dipandang rendah.” Setelah berkata seperti itu, ibu Chole sengaja berkata, “Contohnya, alasan kalian dinikahkan paksa oleh warga. Coba saat itu Hasan menghubungi orang tuanya. Andai orang tuanya tidak bisa langsung turun tangan, para keluarga yang ada di Jakarta juga pasti langsung sigap!”
“Itu ...,” lirih Cinta sambil menunduk lemas.
“Gini ... gini, saya juga selalu sukses jadi makcomblang loh, Ta!” ucap ibu Chole jadi ceria, dan tak serius seperti sebelumnya.
“Hah ...?” refleks Cinta sambil menatap ibu Chole. Ia langsung jadi deg-degan karena yang langsung ia pikirkan, Hasan. Bukan bermaksud kepedean, tapi Cinta curiga, ibu Chole akan membantunya kembali dekat dengan Hasan.
“Saya percaya, semua laki-laki dalam keluarga saya, orang baik. Bisa jadi, caramu pergi akan membuat Hasan merasa kehilangan. Insya Allah, setelah ini Hasan akan jadi lebih menghargai kamu,” lembut ibu Chole yang jadi agak serius. Tangan kirinya yang belum menggenggam tangan kanan Cinta, berangsur melakukannya. Hingga kini, kedua tangannya menggenggam kedua tangan Cinta.
“Saya akan tetap pergi, Bu. Saya akan menata hidup bahkan hati saya. Saya akan menjalani lembaran baru, melanjutkan hidup, tanpa berharap pada siapa pun. Karena semakin saya berharap, kecewalah yang saya dapat,” ucap Cinta.
Ibu Chole mengangguk-angguk. “Nanti kamu sekalian bikin identitas baru, ya. Biar kalau ada apa-apa, kamu enggak sampai kena razia. Bikin KTP, bikin KK.”
Cinta mengangguk-angguk.
“Nanti bikin yang domisili rumah makan pusat saja. Di sana lebih gede, ya. Restoran. Nanti, sekitar sepuluh menit lagi, kamu diantar sopir rumah makan saja. Biar enggak ada kecendrungan iri sesama karyawan lagi,” lembut ibu Chole.
Cinta terbengong-bengong menatap ibu Chole tak percaya. “Ibu, ... saya tidak perlu ditaruh di cabang atau rumah makan yang lebih besar. Saya murni ingin mengundurkan diri!” mohonnya benar-benar santun.
“Tidak apa-apa. Saya janji, saya tidak akan mengabarkannya kepada Hasan. Lagi pula, kamu juga ingin memiliki kesetaraan kasta dengan Hasan, kan? Insya Allah, jika kamu memberikan perfoma kerja bagus, saya akan memberikan jabatan yang menjanjikan.” Sadar, apa yang ia katakan malah membuat Cinta gelisah, ibu Chole berkata, “Sudah jalani saja. Ini kesempatan emas buat kamu. Karena saya memang selalu mengawasi setiap kerja karyawan saya.”
“Kalau begitu alhamdullilah banget, Bu!” Cinta benar-benar bersyukur.
“Iya, ... apa pun itu harus kita syukuri. Oh iya ... sebenarnya, Hasan itu nyaris seumuran sama anak saya yang kembar. Hanya terpaut sekitar empat apa lima bulan. Anak saya dulu yang lahir. Bedanya, anak saya kembar laki-laki. Hasan kembar sepasang. Itu yang namanya Hasna. Hasna itu kakaknya.”
“Ke saya, awalnya kak Hasan ngakunya, Hasna itu anak majikannya,” ucap Cinta, tapi ibu Chole malah menertawakannya.
“Bedanya, wajah Hasan agak boros. Kelihatan usia mau tiga puluhan, kan? Padahal baru dua puluh dua. Sama kamu, tuaan siapa?” lanjut ibu Chole.
“Sekadar usia saja, saya juga enggak tahu Bu. Namun saya curiga, ... jangan-jangan tuaan saya. Mengingat wajah kak Hasan yang ternyata boros. Jujur, awal kenal pun saya mikirnya, dia sudah dewasa. Apalagi setelah menikah meski pernikahan kami merupakan pernikahan paksa, kak Hasan sweet banget!” balas Cinta lagi-lagi baper karena membahas Hasan.
Berbeda dengan ibu Cinta. Lagi-lagi ibu Chole jadi tertawa. “Padahal dari seluruh anak-anak di keluarga kami. Hasan ini masuk ke klan yang agak lain. Nyeleneh anaknya. Apalagi kalau harus minum obat, pura-pura pingsan bahkan mati, dia!”
Menyimak itu, Cinta langsung tersipu. “Bener, Bu. Disuruh makan sayur saja, kayak orang lagi sakratul maut!” lembutnya dan makin membuat ibu Chole kesulitan menghentikan tawanya.
“Memang agak lain tuh anak!” ucap ibu Chole di sela tawanya.
Diam-diam, Cinta jadi ragu. Begitu banyak hal bahagia bahkan menyedihkan yang ia ukir bersama Hasan. Cinta bahkan terbilang hafal dengan kebiasaan Hasan dan bagi ibu Chole agak lain.
“Masalahnya, hafal kebiasaan bahkan hafal hal-hal yang tidak seseorang suka, tidak menjamin orang itu akan simpati apalagi sampai mencintai kita. Sekarang, fokus saja dengan lembaran baru kamu. Manfaatkan kesempatan yang ibu Chole berikan, sebaik-baiknya!” batin Cinta menyemangati sekaligus menasihati, dirinya sendiri.
Jadi, dengan kata lain, waktu novel ini mundur dari novel : Kisah Kita Belum Usai (Tuan Muda yang Dianggap Miskin), ya ❤️❤️❤️