💞😍Family Putra❤😘
Second Story, Istri Istri Tuan Bryant
🥰Couple Beda Usia🥰
🍃Subscribe, Like, Comment🍃
⚔️NO BOOM LIKE! TAK SUKA, SKIP⚔️
Bagaimana rasanya mencintai pria berumur yang berstatus om sendiri?
Mencintaimu adalah do'a terbaik dalam hidupku. Bagi dunia, kamu hanyalah pria dewasa nan dingin tanpa ekspresi. Namun, bagiku, kaulah duniaku. ~Bunga Angela
Menikah? Satu ikatan yang slalu kuhindari, tapi keras kepalamu menjadi akhir cerita masa lajangku.~Alkan Putra.
Hubungan hati dengan problematika keluarga dan perbedaan usia mengubah dunia dalam keluarga Putra. Kisah pasangan yang memiliki cinta sederhana berselimut badai kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27#Kebebasan, Rayuan
Perbedaan antara orang baik dan naif hanyalah setipis tisu terbagi menjadi tujuh. Sama seperti kesabaran yang kata orang memiliki batasan, tapi pada kenyataannya setiap rasa akan gugur bilamana sudah mencapai puncaknya. Sadar atau tidak, fakta tak perlu dibuktikan.
Setelah mendapat keinginannya Hazel pergi meninggalkan kantor Bryant. Wanita itu langsung ke bandara sebab sudah ditunggu oleh orang-orang agency. Pekerjaan profesional sebagai model sebenarnya sudah cukup untuk membiayai hidup secara berkecukupan tetapi ia ingin kemewahan tanpa perlu berhitung seberapa banyak yang sudah dihabiskan.
Lambaian tangan seorang pria bergaya kemayu menyambut kedatangannya, "Siang, cintaku," keduanya terlibat pelukan manja seraya mengecup pipi kanan, lalu kiri sebagai tanda kebersamaan.
"Noel, mana yang lain?" Hazel mengedarkan pandangan melihat belakang sang asisten yang memang jarang berangkat bersama dengannya di setiap kesempatan. "Mereka jadi ikut party kita di Bali 'kan? Awas saja kalau sampai batalin pertemuan. Aku sudah siapin semuanya, loh!"
Ketidaksabaran Hazel, membuat Noel mencolek dagu wanita itu. Ia gemas karena model kesayangannya suka sekali mengambil kesimpulan cepat. Belum juga ia memberikan jawaban, bahkan menjelaskan akan situasi yang ada. Sang model sudah berasumsi tanpa ingin melihat sekitarnya.
"Jangan marah-marah, Cintaku! Nanti itu muka kau tak fresh lagi, macam mana? Bule tak nak tengok kau, aku pula yang kena amok. Coba see dibelakang you!" Noel mengerlingkan mata memberikan isyarat pada Hazel agar berbalik.
Hazel berbalik mengikuti permintaan Noel. Dimana tatapan mata terpatri pada dua wanita cantik yang selalu memakai pakaian couple seperti anak kembar berjalan ke arahnya. Wulan dan Wilona. Si kembar yang terlahir dari ibu berbeda tetapi memiliki ayah sama.
Keempat insan itu bergegas melakukan boarding pass begitu pengumuman penumpang terdengar bergema. Liburan ke Bali akan menjadi momen menakjubkan dengan agenda yang luar biasa. Kehidupan Hazel masihlah bebas, padahal memiliki suami yang menjadi tanggung jawabnya.
Makna kebebasan untuk setiap orang tentulah berbeda. Akan tetapi tidak dengan mereka yang hanya memerlukan keyakinan diri bahwa di dunia ini segala sesuatunya sebagai bentuk timbal balik. Sama seperti ketika ingin dihormati, maka harus belajar menghormati orang lain terlebih dahulu.
"Cewek, boleh duduk di sebelahmu?" tanyanya begitu tenang, lalu meletakkan mangkok bakso ke atas meja.
Kedatangan seorang pemuda yang terlihat santai menggeser kursi seberang meja di depan gadis dingin dari jurusan hukum, membuat banyak mata menunduk tak ingin ikut campur. Pemuda itu sadar bahwa gadis yang ia datangi adalah juniornya. Jujur saja, sejak ia masuk ke kantin hanya gadis di depannya itu yang berhasil menarik perhatiannya.
Ia pikir dengan duduk sekedar mencari celah untuk berkenalan, maka akan mendapatkan sambutan manis. Nyatanya tidak, gadis itu justru sibuk menikmati sepiring nasi goreng dengan topping berlimpah yang terlihat begitu menggugah selera. Wajahnya masih sedap dipandang meski tanpa senyuman.
Pemuda itu hanya sibuk menatap gadis yang duduk di depannya. Tangan menangkup wajah hingga ia melupakan bakso pesanannya, sedangkan yang ditatap mulai merasa risih. Meski begitu tak berniat pindah tempat karena merasa dirinya sudah duduk di tempat tersebut lebih dulu.
Niat hati ingin mengajukan keluhan, tapi tiba-tiba terdengar dering ponsel yang langsung mengalihkan perhatian. Tangan menyambar benda pipih yang tergeletak di atas meja bersambut binar mata kerinduan begitu melihat nama yang tertera di layar ponsel. Emosi hatinya seketika runtuh tanpa meninggalkan jejak kekesalan.
"Assalamu'alaikum, Sayang. Tumben telpon? Kangen sama aku, ya?" godanya tanpa memperdulikan reaksi orang yang ada di seberang telepon. Ia sengaja menunjukkan sisi manjanya pada orang yang tepat agar pemuda di depannya berhenti menatap seperti orang kesambet.
[Waalaikumsalam, Bunga. Apa kamu baik-baik saja? Atau harus ku jemput sekarang!]~suara dari seberang terdengar khawatir. Heran saja dengan sambutan manja dari seorang Bunga.
Bunga melanjutkan rayuannya menerjang tembok China yang menjadi benteng pertahanan sang paman tercinta. "Romantisnya kesayanganku. Mau donk dijemput, tapi tunggu jam kuliah selesai, ya!"
Bunga sadar benar akan tindakannya, tapi ia tak peduli. Obrolan penuh godaan yang menghadirkan rasa sungkan dari si pemuda hingga memilih melipir, bahkan pemuda itu meninggalkan semangkuk bakso di atas meja.
"Sorry, om Al. Bunga cuma mau ngusir buaya kalem. See you, my uncle," pamitnya begitu melihat si pemuda sudah jauh dari meja tempatnya makan. Lalu mengakhiri panggilan tanpa ingin meneruskan percakapan.
Tangan memegang dada yang terasa berdebar begitu cepat. Sejenak tersentak karena ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak pernah dirinya bayangkan. Bersikap manja seperti seorang kekasih pada pria dewasa yang menganggapnya sebagai anak. Aneh, tapi nyata.
"Semoga om Al tidak marah karena yang barusan. Aamiin," gadis itu kembali duduk di tempatnya semula. Kemudian melanjutkan menikmati nasi goreng yang tinggal separuh.
Rasa lapar yang mendera nyatanya semakin dirasa ketika mengingat apa yang baru saja dilakukannya. Bukan takut, tapi was-was saja karena tadi pagi sudah ada perdebatan yang cukup merusak mood. Hati berharap akan ada keajaiban agar bisa menemukan titik terang demi melanjutkan hubungan tanpa halangan.
Kegelisahan bercampur rasa takut milik Bunga, justru berbanding terbalik dengan perasaan Al. Dimana pria itu malah tersenyum mengingat setiap godaan sang keponakan yang terdengar begitu lugu. Meski ia sendiri tak tahu alasan Bunga melakukan hal tak biasa.
Satu hal pasti yang bisa disimpulkan adalah si gadis pemilik mata hazelnut melakukan hal itu untuk mengamankan diri dari para pemuda. Wajar saja ketika di kampus banyak pemuda yang tertarik pada Bunga karena keponakannya memiliki wajah cantik nan menggemaskan dengan netra langka berpadu senyum manis meski tipis.
"Bunga, bunga. Sebaiknya aku jemput anak itu lebih awal dan melihat situasi kampus dari dekat. Bima juga aneh, sudah tahu punya putri yang beranjak dewasa. Main suka kabur dengan alasan bisnis. Untung saja keluarga, astaghfirullah Al. Sadar!"
Sadar, bukannya sabar. Kesadaran untuk membantu keluarga tanpa pamrih membawa langkah Al pergi meninggalkan ruangan kerjanya. Padahal beberapa file masih menumpuk, tapi pria itu memilih menunaikan kewajiban seorang paman. Bukan karena takut dengan Bima, melainkan ia sudah menganggap Bunga sebagai putrinya sendiri.
Singkat cerita, pria itu menyetir kendaraannya sendiri seperti biasa dan perjalanan selama tiga puluh menit berlalu begitu cepat tanpa ada kendala selain sedikit macet di daerah dekat pusat perbelanjaan. Mobil akhirnya memasuki area parkir kampus, lalu ia memarkir di tempat yang terlihat lenggang.
Niat hati ingin turun, tapi suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Ternyata klien yang menelpon. Sehingga mau, tak mau, ia menerima panggilan dan menetap di dalam mobil. Keseriusan di wajah tampak begitu jelas, tapi tatapan mata tenang menatap ke depan. Dimana di luar saja ada taman yang juga disediakan beberapa bangku panjang.
Al yang masih membicarakan tentang proposal bisnis tender terbaru tanpa keluar dari mobil, tiba-tiba teralihkan ketika pandangannya tak sengaja terpatri pada siluet tubuh yang berdiri di bawah pohon mangga, "Bukankah itu Bunga?"
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu