ini adalah kisah cinta adik & kakak dengan pasanganan mereka masing-masing, Zayn merupakan seorang Kapten Pilot yang sedang dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan anak sahabatnya padahal saat itu Zayn tau jika salah satu dari anak sahabat kedua orangtuanya tersebut sedang menyukai adiknya, tetapi karena ayah Zayn sedang sakit parah ia terpaksa menerima perjodohan tersebut, ia tak menduga jika ayahnya sebenarnya hanya bersandiwara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viole, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Masih berada di bandara Zayn duduk menuggu Faiz yang sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya, penerbangannya hari ini sudah selesai setelah dua kali ia menerbangkan pesawatnya ke rute yang berbeda, dilihatnya jam telah menunjukkan pukul 05.00 sore, sudah hampir semingguan jadwal penerbangannya berjalan dengan lancar, bahkan selama hampir satu Minggu ia telah mencapai Maksimal jam terbang sebagai seorang pilot.
Selama beberapa tahun belakangan ini karirnya sebagai seorang pilot lumayan meningkat meskipun sebagai seorang pilot tentunya memiliki resiko yang besar. Resiko yang harus ditanggung Zayn sebagai seorang pilot adalah harus meninggalkan keluarga dalam jangka waktu yang lama, jadwal kerja yang padat dan tidak menentu membuat Zayn harus siap jauh dari orang yang dicintainya.
Memang bekerja sebagai pilot mempunyai kebanggaan dan nilai yang istimewa, itulah mengapa sampai saat ini ia menjadi idola para kaum wanita, meskipun setiap pekerjaan pada dasarnya memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. Sebagai seorang pilot yang sangat digandrungi oleh para wanita Zayn tetap layak dijadikan menjadi seorang suami untuk tempat bersandar & mengarungi bahtera rumah tangga, bukan hanya soal tampilan Zayn yang memukau siapapun di sekitarnya namun karena kualitas personal yang sejatinya telah melampaui proses pendidikan yang tak sembarangan yang membuatnya sebagai seorang pilot juga layak mempunyai keluarga sendiri.
Sama seperti pria dewasa lainnya dirinya juga mempunyai impian untuk memiliki keluarga & hidup bahagia, ia berharap suatu saat pasangan hidupnya kelak adalah wanita yang penyabar & penyayang selain itu juga ia haruslah wanita yang siap mendengar apapun berita buruk yang akan menimpa Zayn sebagai seorang pilot, karena terkadang sebagai seorang pilot pastinya juga kerap ada berita miring tentangnya. Pemikiran para khalayak tentang profesi yang digelutinya terkadang membuatnya tak nyaman, orang lain berfikir jika semua pilot memiliki gaya hidup yang penuh hura-hura, suka selingkuh dengan pramugari, bahkan sampai konsumsi obat-obat terlarang, padahal di balik itu semua, pilot (dan calon pilot) punya kelebihan mutlak sebagai seorang pasangan.
Masih di tempat yang sama Zayn masih setia menunggu Faiz, sudah sepersekian jam ia menunggu Faiz yang tak kunjung tiba, mungkin saat ini Faiz sedang terjebak macet di jam-jam seperti ini memang jalanan padat penuh para pekerja yang akan pulang kerumahnya masing-masing. Terlihat di kejauhan Faiz berjalan sambil tersenyum, Zayn pun segera bangkit dari duduknya & berjalan menuju arah Faiz.
" sorry bro, lama ya?, macet tadi " (kata Faiz)
" lumayan sih, gue kira Lo kelayapan lagi " (kata Zayn)
" ya gak lah, oke let's go " (kata Faiz)
Zayn hanya mengangguk & berjalan bersama dengan Faiz sambil sesekali mengobrol, Zayn menyuruh Faiz untuk mengemudikan mobilnya menuju hotelnya karena ia ingin segera beristirahat sejenak. Jalanan sore ini memang lumayan padat benar saja Faiz terjebak macet di jam pulang kerja seperti ini. Setelah beberapa menit akhirnya mereka berdua sampai juga di hotel tempat Zayn & Faiz menginap, setelah menaiki lift Zayn & Faiz akhirnya berada didepan pintu kamarnya, tanpa menunggu lama Zayn lalu masuk & merebahkan dirinya diatas ranjang kamar tersebut.
" bro gue mau tidur Bentaran, lo kalo mau nelpon jauh-jauh ya " (kata Zayn)
" sip " (kata Faiz)
" tar bangunin gue ya pas adzan magrib " (kata Zayn)
" oke " (kata Faiz)
Setelah meminta Faiz untuk membangunkan nya saat magrib Zayn pun terlelap dalam tidurnya saat ini.
# Rindu Mentari
Rindu baru saja sampai dikamar kosnya karena baru pulang dari kampusnya, akhir-akhir ini dia disibukkan dengan beberapa tugas kuliahnya sehingga ia harus pergi ke perpustakaan untuk mencari buku untuk dijadikan bahan materi untuk membuat makalah. Saat ini Rindu sedang mempelajari pariwisata dari sisi ekonomi melalui pemasaran pariwisata (tourism marketing) maupun ekonomi pariwisata. Mengingat sebentar lagi ia akan mengikuti KKN sebagai seorang mahasiswa semester ganjil ia harus banyak mempersiapkan segala sesuatunya sebelum terjun langsung kelapangan. Beberapa bulan belakangan Rindu juga telah mengikuti kursus berbagai macam bahasa seperti bahasa Mandarin, Spanyol & Korea, sejauh ini Rindu sudah cukup lancar berbahasa Inggris sehingga ia tak mengikuti kursus bahasa Inggris.
Diletakkannya tas miliknya diatas meja belajarnya, ia lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya untuk meluruskan tulang punggungnya, Rindu sangat menyukai jurusan mata kuliahnya karena Rindu sangat mencintai berbagai macam seni budaya, Rindu selalu berharap bisa keliling dunia untuk memperkenalkan negara Indonesia yang kaya akan kebudayaan daerah, baik seni & lain sebagainya.
*tok...tok...tok
Suara ketukan pintu kamar terdengar, dengan malas ia berdiri berjalan menuju arah pintu kamarnya, Jiya nyelonong masuk kedalam kamarnya setelah pintunya terbuka, Rindu pun menutup kembali kamarnya.
" numpang ya? " (kata Jiya)
" Hem, ada masalah lagi kamu? " (kata Rindu)
" biasa lah, udah ah gak usah dibahas, oh iya gue numpang mandi ya " (kata Jiya)
" buruan deh, gue juga belum mandi soalnya " (kata Rindu)
Dilihatnya teman dekatnya itu tersenyum lalu masuk kedalam kamar mandi, Rindu menggelengkan kepalanya, Jiya memang kerap seperti ini jika ia mempunyai masalah bahkan biasa juga Jiya akan numpang tidur dengannya meskipun mereka berada di tempat kost yang sama hanya saja kamar Jiya ada dilantai dasar.
" Beib tar malam jalan yuks " (kata Jiya dari arah kamar mandi)
Ketika sedang dihadapkan dengan masalah Jiya selalu mengajak Rindu untuk mencari hiburan diluar, sebenarnya Rindu sedang tidak ingin pergi kemana-mana malam ini tetapi jika dirinya tak menemani Jiya ia takut akan terjadi apa-apa dengan Jiya.
" mau ya? " (kata Jiya)
Jiya yang sudah duduk disebelahnya saat ini bertanya kembali, Rindu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
" mau kemana? " (kata Rindu membuka suara)
" cari angin yang jelas, biar sedikit dapat oksigen nih otak " (kata Jiya)
" tapi kita berdua ajakan gak ada yang lain? " (kata Rindu)
" iya Beib " (kata Jiya tersenyum), " ya udah mandi gih, tar habis magrib kita jalan " (kata Jiya)
" ok " (kata Rindu)
Terakhir kali saat Jiya mempunyai masalah ia pergi ke clubb malam & mabuk karena dijebak oleh laki-laki yang baru ia kenal di clubb tersebut beruntung Rindu datang tepat waktu sebelum terjadi hal-hal yang buruk dengan Jiya.
Terkadang Rindu sangat kasian dengan beban yang di tanggung Jiya meskipun Jiya terlihat menutup-nutupi apa yang terjadi dengannya. Rindu tersenyum kepada Jiya, hanya Jiya lah teman baiknya selama berada jauh dari orangtuanya sehingga Rindu benar-benar menjaga Jiya seperti Jiya juga menjaganya.
# Abdul Zayn Mikail
Adzan Maghrib telah berkumandang, saat ini Zayn telah berganti pakaian setalah beberapa saat lalu dia membersihkan dirinya, ia bersama Faiz pergi keluar dari hotelnya menuju masjid terdekat untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib, meskipun sepupunya Faiz ini adalah seorang yang hidup dengan gaya bebas tetapi Faiz tak pernah meninggalkan kewajibannya dengan sang pencipta, bagi sepupunya Faiz dosanya adalah urusannya dengan yang mahakuasa meskipun begitu ia harus tetap menjalankan kewajibannya juga entah itu akan di terima atau tidak. Setelah selesai menunaikan ibadah sholat Maghrib ia & Faiz berkeliling sejenak.
" cari makan diluar aja kali ya? " (kata Zayn)
" jadi kemana bro? " (kata Faiz)
Zayn sedikit berpikir akan pergi mereka berdua, seperti biasa kali ini Faiz lah yang mengendarai mobil miliknya.
" nongkrong dikafe aja lah, sapa tau ketemu cewek cantik " (kata Faiz tersenyum)
" cewek lagi, emang Gina mau lo kemanain? " (kata Zayn)
" gue Ama Gina sekedar teman biasa aja tuh " (kata Faiz)
" buset, Lo udah wikwik ama Gina baru Lo bilang temen biasa doang, ah sumpah Gil* Lo bro " (kata Zayn tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya)
" ya dia juga butuh, gimana dong?, kan sayang kalo gue tolak " (kata Faiz tersenyum)
" anjie*r, hahahahhah, bisa banget Lo " (kata Zayn sambil tertawa)
" hahahahaha, itu namanya rejeki jadi gak boleh di tolak " (kata Faiz yang juga tertawa)
Beberapa saat akhirnya mereka sampai juga disebuah kafe, tanpa menunggu lama mereka berdua memesan beberapa makan & minuman.
" mana nih si Gibran gak ada kabarnya " (kata Zayn)
" suruh kesini aja gimana? " (kata Faiz)
" wa gih, suruh cepet meluncur " (kata Zayn)
Faiz mengirimkan pesan WhatsApp kepada Gibran agar Gibran mendatangi mereka dikafe tersebut.
" gimana? " (kata Zayn)
" otw dia, katanya mau nginep sekalian " (kata Faiz)
" bagus deh, biar Lo ada temennya besok " (kata Zayn)
" gue aslinya lebih baik sendiri bro, bebas ngecengin cewek, hahahah " (kata Faiz)
" hahahah, gue heran nyokap Lo dulu hamil Lo nyiram apaan bro bisa gini jadinya Lo " (kata Zayn)
" hahaha, sayang bro muka seganteng gue gak dimanfaatin, mumpung masih laku gue " (kata Faiz)
" mumpung masih laku Lo cari yang bener bro " (kata Zayn)
" ah tar aja lah, belum waktunya " (kata Faiz)
Asik mengobrol berdua terlihat Gibran datang dari arah kejauhan, diangkatnya satu tangannya menyapa kearah mereka berdua.
" gercep juga Lo Gib " (kata Faiz)
" iyalah, ngapain sih nongkrong disini bang, gak asik banget " (kata Gibran)
" emang mau kemana?, lagian disini makanannya lumayan enak kok " (kata Zayn)
" oh Lo kesini cuman mau cari makan bang? " (kata Gibran)
" iya lah, Lo gak liat kita berdua lagi makan, pesen sana Lo " (kata Faiz)
Bersyukur hari ini Zayn punya banyak waktu luang untuk sekedar menghibur diri di sebuah kafe dengan kedua sepupunya, terkadang karena padatnya jadwal penerbangan ia sampai tak punya waktu luang seperti ini sehingga terkadang ia merasakan kejenuhan. Mereka bertiga saat ini sudah berada diluar masjid setelah beberapa saat lalu menunaikan ibadah sholat isya bersama.
" asik dugem aja kita nih " (kata Faiz), " masih jam delapan juga kok " (kata Faija lagi setelah melihat jam ditangannya)
" gue sih ayok aja " (kata Gibran setelah melihat kearah Zayn)
Kedua sepupunya melihat kearahnya bersamaan memastikan jawaban darinya, kali ini mau tidak mau Zayn harus mengikuti kemauan kedua sepupunya tersebut karena terlalu sering menolak ajakan kedua sepupunya.
" iya deh, tapi jangan jangan pulang kemaleman, gue besok ada jadwal penerbangan " (kata Zayn)
" iya bang, kita mah juga tau kali, ya udah yuk meluncur " (kata Gibran tersenyum)
Mereka bertiga pun segera pergi menuju clubb malam, Zayn masih bersama dengan Faiz sedangkan Gibran membawa mobil miliknya sendiri, setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai juga.
Musik DJ mengalun merdu seirama dengan detak jantung, banyak para muda-mudi telah berjoget, Zayn beserta kedua sepupunya duduk disebuah kursi sambil memesan segelas minuman.
" awas Lo mabok bro, Lo mabok sapa yang bawa mobil, gue lagi males " (kata Zayn)
" hahaha tenang aja bro, mabok dikit masih bisa gue bawa mobil " (kata Faiz)
" bang itu Rindu ya Ama temennya " (kata Gibran Yanga menunjuk ke arah dua wanita yang tengah duduk di clubb tersebut juga)
Zayn melihat kearah tangan Gibran, ternyata benar itu adalah Rindu calon istrinya & temannya yaitu Jiya wanita yang ia suka.
" ngapain juga sih cewek Dateng ketempat kaya gini, kurang kerjaan banget, mending diem aja di rumah " (kata Zayn dalam hati agak tidak suka)
" samperin gih bro " (kata Faiz)
" ogah gue, sapa tau aja dia bareng pacarnya " (kata Zayn)
Zayn menenggak minumannya sampai tak tersisa, lalu ia memesan lagi, Zayn sangat kesal melihat dua wanita yang ia pikir adalah wanita baik-baik, jika kedua wanita tersebut adalah wanita baik-baik maka bukan ditempat seperti ini pikirannya.
" kalo gitu gue aja yang samperin mereka bang " (kata Gibran), " Lo disini aja bang Faiz nemenin bang Zayn, takutnya tar dia baper kabur, hahahah " (kata Gibran lagi)
" sial*n Lo ngatain gue baper " (kata Zayn)
" hahahahah, siapa tau ya Gib, namanya juga ngegep calon bini di tempat kaya gini " (kata Faiz ikut tertawa)
" apaan calon bini " (kata Zayn)
Gibran pun pergi meninggalkan mereka menghampiri Rindu & Jiya yang tak sadar dengan keberadaan mereka.
# Rindu Mentari
Baru saja ia & Jiya sampai disebuah diskotik beberapa menit yang lalu, tempat yang lumayan bising menurutnya, jika saja bukan karena Jiya ia tak akan pernah menginjakkan kakinya ditempat seperti ini. Dilihatnya teman baiknya terlihat nampak baik-baik saja padahal sebenarnya Jiya dalam keadaan tidak baik, ia hanya berusaha menutupi masalahnya dengan pergi ketempat seperti ini.
" hai " (kata seorang pemuda)
Rindu terkejut melihat Gibran berada di clubb tersebut juga.
" Gibran " (kata Rindu)
" berdua aja nih? " (kata Gibran)
" iya kita berdua aja " (kata Rindu)
" Lo sama sapa? " (kata Jiya)
" tuh, Ama abang-abang gue " (kata Gibran menunjuk kearah Zayn & Faiz)
Rindu tertunduk tak enak hati karena harus bertemu dengan Zayn ditempat seperti ini, selama ini diskotik merupakan tempat yang buruk bagi sebagian orang, sebagian orang berfikir jika diskotik adalah tempatnya orang-orang nakal padahal yang sebagian org pikirkan tidak sepenuhnya benar.
" gabung yuk kesana " (kata Gibran mengajak Rindu & Jiya)
" disini aja deh kita " (kata Jiya)
" ayo biar rame, dari pada sepi berdua aja disini " (kata Gibran)
Merekapun berdiri berjalan menuju kearah Zayn & Faiz, terlihat tatapan mata Zayn sangat tidak suka dengan dirinya & Rindu, pasti saat ini Zayn telah salah faham dengannya pikirnya. Rindu berusaha bersikap biasa-biasa saja meskipun sebenarnya ia sangat takut melihat tatapan sorot mata Zayn yang tiba-tiba menakutkan menurutnya.
Jiya
Faiz
Gibran
Rindu
Zayn
Jiya & Rindu