NovelToon NovelToon
MIRNA

MIRNA

Status: tamat
Genre:Mata Batin / Roh Supernatural / Horor / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Siti H

Bagi yang membaca novel ini diharapkan untuk membaca 'Novel Kuntilanak Pemakan Janin' karena novel ini ada hubungannya dan saling berkaitan agar tidak bingung.

kisah teror bagi warga desa yang selalu kehilangan atau kematian misterius para warganya yang berjenis kelamin pria. dimana kondisi para korbannya selalu kehilangan senjata pamungkasnya.

Siapakah pelakunya? dan apa motifnya? ikuti kisah selanjutnya dalam Novel 'Mirna'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Korban-2

Tubuh kedua pria itu perlahan menjadi kaku, lalu sebuah bayangan hitam muncul dalam gelapnya malam yang berselimut embun, suasana dingin, sedingin tubuh kedua pria yang tertimpa sepeda motor tersebut.

Kedua tubuh yang sudah menjadi kaku itu saling tindih, kedua mata mereka terbuka seakan merasa sakit yang luar biasa sebelum mereka menghembuskan nafas terakhir mereka.

Bayangan hitam itu muncul dan menyeringai. Lalu Ia mencabut kedua lato-lato milik kedua pria itu.

Kreeeekkk..

Kedua pasang lato-lato beserta pucuk senjata iti tercabut dari tempatnya. lalu bayangan hitam itu menghilang dan pergi tanpa bekas. Dengan mendapatkan dua lato-lato sekaligus, maka ini adalah korban ke-6 dan bayangan hitam itu memerlukan 38 lagi lato-lato, Ia harus segera mendapatkannya, sebelum batas waktu tersebut habis.

Keesokan paginya. Mirna kembali lagi seperti biasanya, pergi kesungai untuk mencuci pakaian. Ia berjalan dengan santai dan seperti tidak ada masalah apapun yang terjadi.

Ia berpapasan dengan Kakek Nugroho, tampak keduanya hanya saling melempar senyum sapa.

"Cepat sekali, Kek berangkat menjala ikannya" sapa Mirna dengan ramah, yang membawa cuciannya didalam ember dan meletakkannya diatas kepalanya.

"Iya, Cu.. Biar cepat pulang dan beristirahat" jawab Kakek Nugroho dengan sopan.

Mirna hanya tersenyum menanggapi jawaban Kakek Nugroho. Lalu keduanya sampai ditepian sungai dan mereka mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.

Kakek Nugroho naik keatas sampannya, lalu mendayung sampannya dan menjauh dari Mirna, sedangkan Mirna mulai mencuci pakaiannya.

Mirna terus mencuci, hingga Ia merasakan sebuah kerinduan pada Satria. Sudah hampir seminggu ini Satria tidak mengunjunginya, hatinya begitu hampa, Ia mencuci dengan begitu tidak bersemangat.

Sementara itu, Satria kembali menjalani rutinitasnya, memandikan Syafiyah dan mengurusi keperluan lainnya.

Semua Ia lakukan dengan ikhlas dan juga dengan baik. Satria memberikan sarapan kepada Syafiyah, menyuapinya dengan sangat lembut. Setelah selesai, Ia juga memberikan obat pereda rasa nyeri pada Syafiyah.

Satria mencoba melakukan riset untuk membuat Sayafiyah agar kembali lagi dapat berjalan dengan normal dan juga beraktifitas kembali.

Mbak Lela sudah datang, lalu seperti biasanya, Ia memulai pekerjaannya, memasak sarapan dan membersihkan rumah. Kali ini ada jadwal Ia menyetrika pakaiannya.

Mbak Lela selalu merasa gugup jika berhadapan dengan Satria. Ia merasa sangat tidak sanggup memandang wajah tampan itu. Andai saja Ia menjadi Istri pria muda itu, tentulah sangat membahagiakan.

Angan-angan Mbak Lela yang terlalu jauh itu membuatnya terkadang tidak fokus saat bekerja.

Bertemu dengan Satria setiap saat, akan membuat dirinya merasa seperti tersiksa. Ia ingin sekali disapa oleh Satria, walau hanya sekali saja, namun pria muda itu tampak begitu sangat dingin padanya.

"Sarapannya sudah saya masakin, Tuan" ucap Mbak Lela dengan pandangan jelalatan. Hali ini terkadang yang membuat Satria merasa risih sekali.

Satria hanya menganggukkan kepalanya, lalu mengambil sarapannya dan membawanya kekamar untuk menghindari tatapan Mbak Lela yang tampak begitu liar menjelajahi tubuh kekarnya.

Disatu sisi, Mbak Lela tak puas hanya untuk menatap tubuh kekar itu, namun Ia menginginkan hal lebih. Apalagi Ia sudah sangat lama tidak ada yang mencangkul sawahnya, sehingga ketika bertemu dengan Satria, ada denyutan lain disawahnya yang hanya sepetak kecil saja.

Baru dua hari bekerja dirumahnya, Satria sudah merasa gerah. Ia merasakan jika Mbak Lela memiliki maksud tertentu selain bekerja. Ingin memecatnya, namun Ia merasa sungkan dengan Bu Ratna yang sudah mencarikan pekerja untuknya.

Satria akhirnya harus berlapang dada dan mencoba memberikan waktu untuk sebulan ini saja. Mungkin Ia akan mencari Asisten rumah tangga lainnya.

Sementara itu, Mirna sudah selesai dengan mencucinya. Ia kemudian mandi berendam dan menikmati dinginginnya air sungai. Dalam benaknya, wajah Satria tak dapat lekang dari ingatannya.

Sesaat Ia mendengar suara lirih memanggilnya.

Mirnaaaaaa...

Suara itu terdengar jelas ditelinganya, Mirna menutup kedua telinganya dan mencoba mengabaikannya.

Mirna mempercepat mandinya, lalu bersiap untuk naik keatas tepian dan menjemur pakaiannya.

Saat itu, Didi dan Dino sedang menuruni undakan tanah. Didi membawa senapan angin untuk memburu tupai. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Mirna yang baru selesai mandi dan ingin pulang membawa cuciannya.

"Wah.. Di.. Ada cewek cantik, Di" ucap Dino yang seakan mengalir air liurnya melihat Mina berkain basah dan menjunjung ember cuciannya.

"Ah, matamu ini kalau liat cewek langsung saja jelalatan" jawab Didi yang matanya terus mencari tupai yang mungkin melintas didahan pohon.

"Namanya juga rezeki, Di.. Masa iya ditolak" jawab Dino dengan cengengesan.

Didi hanya menggelengkan kepalanya.."Jangan macam-macam Kau sama anak gadis orang, kalau minat lamar" Didi menanggapi ucap Dino yang mulai aneh.

"Iya..iya.. Serius amat sih, Lu.. Amat z santai"jawab Dino kesal.

Saat berpapasan, tanpa sengaja, Mirna hampir terpeleset karena kainnya yang basah membuat jalanan licin.

Aaaaaw..

Teriak Mirna saat akan terjatuh karena tubuhnya yang tidak seimbang.

Lalu dengan sigap Didi menahan tubuh Mirna dari arah belakang, agar tidak terjungkal kebelakang.

Berkat bantuan Didi, akhinya Mirna dapat membenahi posisinya dan berdiri tegak kembali.

"Terimakasih, Mas" ucap Mirna dengan sopan.

"Sama-sama Mbak, lain kali pakai kain kering kalau siap mandi, Mbak, biar jangan licin jalannya kena titisan air kain basah Mbaknya.. Kalau jatuh kan sayang cuciannya, Mbak, jadi kotor lagi" ucap Didi menyarankan.

Mirna menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan.

Didi dan juga Dino kembali menyusuri pinggiran hutan untuk memburu tupai, karena ada pesanan dari warung penjual tuak (Minuman berakohol dari hasil sadapan permentasi air nira/enau).

Biasanya daging tupai ini akan dijadikan sebagai tambul atau makanan pendamping untuk meminum tuak tersebut.

Mereka menyusuri tepian sungai dan memandangi setiap dahan pohon untuk melihat tupai yang biasa melompat dan berjalan diatas dahan.

"Di.. Cewek tadi cantik banget ya.." Dino membuka percakapan mereka.

"Iya, Cantik.. Kenapa? Kamu naksir?" tanya Didi kepada sahabatnya.

"Aku kan cuma menyatakan pendapatku saja" jawab Dino dengan sebal.

Dooooooor.. Dooooor..

Didi menembak dua ekor tupai secara bersamaan. Lalu tampak lagi tupai itu melintas dan Ia menembaknya kembali..

Sudah hampir 15 ekor Ia menembak tupai hari ini, dan mendapatkan lumayan banyak.

Lalu melintas lagi seekor tupai merah didahan pohon yang sedikit jauh dari jarak mereka, dan..

Doooor..

Suara letusan senapan anginnya yang bersamaan dengan tewasnya tupai tersebut.

"Wah.. tupai merah, Di.." seru Dino dengan semangat.

"Iya.. Buruan.. Sono ambil, Aku mau menembak tupai lainnya biar genap 20 ekor" titah Didi lali mengarahkan pandangannya ke dahan lainnya.

Dinopun menuruti titah Didi, berlari kearah dahan pohon tempat dimana Didi menembak tupai merah itu.

Sesampainya dibawah pohon tersebit, matanya mengitari sekitarnya, lalu matanya tertuju pada sesuatu yang dianggapnya menarik perhatiannya, Ia mencoba mendekatinya, dan...

Aaaaaaarrgh...

Dino berlari sekencangnya yang membuat Didi tersentak melihat sahabatnya berlari kencang kearahnya bagaiakan dikejar setan disiang bolong.

1
Himura Henshin
sesuai ekspektasi pembaca Thor klo ilustrasi mirna kaya gni,mntp kecantikan selevel dewi bgtu kira2😁
Himura Henshin
lah bukan'a wktu itu kaki fiyah di amputasi y sebelah?
Himura Henshin
cocok lah hyper ketemu biang hyper 😀
Himura Henshin
jdi genderuwo nama'a rey? keren jg😃
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😂😂😂😂😂😂
total 1 replies
Himura Henshin
safiyah licik jg udh di tolong tpi g jujur
Himura Henshin
aneh aj satria sakti tpi msh gampang di jebak sm perempuan murahan, insting curiga'a krg peka
Himura Henshin
btw aji segoro geni punya mpu tong bajil bukan thor? 😁
Diana Azzam
lah percuma satria baja hitam naik gunung, lembah, hutang ujung" nya nungguin anak nya 10 thn lagi settt dah lama" kaya KPR
Diana Azzam
ini satria baja hitam kmna aja si, terlalu lemot jd mls dah
Kins
ini alur ceritanya bnyak yg gk masuk akal, apalagi karakter si Mirna
Safitra
ngeyel banget si Safiyah
Safitra
ngeyel banget tu Safiyah
echa purin
/Good/
Ayla Anindiyafarisa
sebentar lagi si Lela yg menggantikan Yanti dia akan jadi sekutu iblis
Ayla Anindiyafarisa
g mati mati para iblisnya
Ayla Anindiyafarisa
iblisnya kalau udah kena serang selalu melarikan diri trus kapan tu iblis musnah sementara kalau dia cari korban selalu berhasil
Ayla Anindiyafarisa
kok susah sih pergi aja ke butik disana banyak loh😅
Ayla Anindiyafarisa
cocoknya dikasih pelajaran ni si fiah biar kapok dia jadi orang kok keras kepala banget Gedeg aku lama lama sama dia
Ayla Anindiyafarisa
sukurlah mereka berdua masih pemuda yg waras
Ayla Anindiyafarisa
terlalu mudah menurutku para iblis tu dapat tumbalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!