Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEET AND GREET ZENAYA
Brussels.
Di kota Brussel, suasana berbeda terasa di sebuah perusahaan agensi model ternama milik Hamilton.
Hari itu, ia mengadakan acara meet and greet yang mempertemukan para model dari berbagai negara.
Acara tersebut bukan hanya sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah langkah untuk mempererat hubungan antar model internasional agar persaingan di dunia fashion tidak semakin memanas.
Hamilton berharap acara ini dapat menciptakan hubungan yang lebih baik di antara para wanita berbakat tersebut.
Tentu saja, Zenaya Harper menjadi salah satu tamu yang paling menarik perhatian.
Sosoknya yang terkenal di dunia modeling membuat banyak mata tertuju kepadanya.
Di dalam ruangan yang megah itu, para model tampak berbincang dengan ramah satu sama lain. Senyuman dan sapaan hangat memenuhi suasana acara.
"Aku baru pertama kali bertemu denganmu secara langsung. Ternyata, kecantikanmu di dunia nyata jauh lebih memukau daripada yang terlihat di media," ujar Ellena, model perwakilan Amerika, sambil tersenyum kagum kepada Zenaya.
Zenaya tersenyum lembut mendengar pujian itu.
"Kau juga sangat cantik. Aku senang bisa bertemu denganmu," jawab Zenaya dengan ramah.
Tak lama kemudian, Roseline, model perwakilan Meksiko, ikut bergabung dalam percakapan mereka.
"Oh, iya. Selamat atas pernikahanmu dengan Tuan Eros. Kalian benar-benar terlihat seperti pasangan yang serasi," ucap Roseline dengan senyum manis.
"Terima kasih banyak," jawab Zenaya tulus.
"Kau pasti sangat bangga memiliki suami seperti Tuan Eros. Aku mendengar banyak rumor tentang dirinya. Dia adalah seorang pebisnis hebat dan bahkan menjadi salah satu pengusaha termuda yang sukses," ujar Roseline kagum.
"Benar sekali. Dan aku yakin Tuan Eros juga sangat bangga memiliki istri yang cantik dan berbakat seperti dirimu,"
tambah Gloria sambil tersenyum
Pujian dari kedua wanita itu membuat Zenaya hanya bisa tersenyum. Ia tidak menyangkal bahwa mendengar hal-hal baik tentang dirinya dan Eros membuat hatinya terasa hangat.
Namun, di balik suasana bahagia itu, ada sepasang mata yang memandangnya dengan penuh
kebencian.
Vexia.
Wanita itu berdiri tidak jauh dari mereka, menatap Zenaya dengan tatapan sinis. Senyum bahagia yang terpancar dari wajah Zenaya seolah semakin membuatnya merasa iri.
Tanpa membuang waktu, Vexia mengambil ponselnya dan berjalan menjauh dari keramaian. Ia menghubungi seseorang dengan ekspresi serius.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," ucap Vexia dengan suara rendah.
Setelah memberikan instruksi, ia memutuskan sambungan teleponnya. Senyum licik perlahan muncul di wajahnya saat matanya kembali menatap Zenaya.
"Kau akan berakhir hari ini juga, Zenaya," gumamnya pelan.
...----------------...
Beberapa jam kemudian, acara meet and greet akhirnya selesai.
Para model mulai meninggalkan gedung dengan wajah bahagia. Mereka saling berpamitan, tidak lupa memberikan pelukan kecil, ciuman pipi, dan melambaikan tangan satu sama lain.
Zenaya berjalan melewati lobi dengan anggun. Beberapa bodyguard berjalan mengiringinya untuk menjaga keselamatannya. Kehadiran Zenaya langsung menarik perhatian para wartawan yang sudah menunggu di luar.
"Nona Zenaya, bagaimana perasaan Anda setelah menikah dengan Tuan Eros Forger?"
"Apakah kehidupan pernikahan Anda berjalan baik?"
"Apakah Anda akan tetap melanjutkan karier modeling setelah menjadi istri seorang pengusaha besar?"
Berbagai pertanyaan terdengar bersamaan.
Namun Zenaya hanya memberikan senyuman kecil. Ia tidak menjawab pertanyaan para wartawan dan tetap berjalan menuju mobilnya.
Hari ini terasa sangat melelahkan baginya.
Sesampainya di dalam mobil, Zenaya hanya ditemani oleh sang supir. Joana tidak ikut bersamanya karena sedang menikmati liburannya di kota Berlin.
Mobil mewah itu melaju meninggalkan gedung agensi.
Zenaya menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menikmati perjalanan.
Namun beberapa saat kemudian, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Sang supir tiba-tiba terlihat panik. Wajah pria itu menegang, kedua tangannya menggenggam kemudi dengan kuat.
Zenaya langsung mengerutkan alisnya.
"Kenapa, Pak?" tanyanya dengan sedikit khawatir.
Sang supir mencoba menginjak pedal rem berkali-kali, tetapi mobil itu tidak melambat sedikit pun.
"Nona... kenapa remnya tidak berfungsi?" ucapnya panik.
Mata Zenaya membesar.
"Maksud Anda... remnya blong?" tanyanya dengan suara bergetar.
"B-betul, Nona. Saya tidak bisa menghentikan mobil ini," jawab sang supir dengan napas memburu.
Jantung Zenaya berdegup semakin kencang. Tangannya mulai gemetar.
Apakah ini akhir hidupnya?
Sang supir berusaha keras mengendalikan mobil yang terus melaju. Ia mencoba menghubungi para bodyguard Zenaya, tetapi keadaan yang terjadi terlalu cepat. Tidak ada waktu untuk menunggu bantuan.
"Nona..." suara sang supir terdengar semakin panik. "Di depan ada pertigaan dengan lampu merah. Saya sudah tidak bisa mengendalikan mobil ini."
Zenaya membeku.
Tatapannya tertuju ke depan.
Sebuah minibus terlihat sedang melintas.
Dalam hitungan detik—
Brakkk!!
Suara benturan keras mengguncang jalanan.
Mobil yang ditumpangi Zenaya menghantam minibus tersebut dengan keras. Kedua kendaraan itu mengalami kerusakan parah akibat tabrakan.
"T-tolong..." lirih Zenaya dengan suara lemah.
Pandangan wanita itu mulai mengabur. Rasa sakit perlahan menyelimuti tubuhnya hingga akhirnya ia kehilangan kesadaran.
Sang supir pun tidak sadarkan diri di tempat.
Orang-orang yang melihat kejadian itu segera berlari mendekat. Mereka terkejut melihat kondisi kecelakaan tersebut dan segera menghubungi polisi serta ambulans.
Tidak lama kemudian, suara sirene terdengar memenuhi jalanan Brussel.
Para korban kecelakaan segera dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit.
Termasuk Zenaya Harper.
Wanita yang selalu terlihat kuat dan anggun itu kini terbaring tanpa sadar, setelah menjadi korban dari sebuah kecelakaan yang tampaknya bukan terjadi secara kebetulan.
Di dalam sebuah mobil, seorang wanita yang sejak tadi menunggu kabar akhirnya menerima panggilan telepon. Ia segera mengangkatnya,
mendengarkan laporan di seberang sana dengan saksama. Beberapa saat kemudian, senyum licik terukir di wajahnya. Rencananya berhasil—ia berhasil membuat Zenaya mengalami kecelakaan.
Tanpa sedikit pun rasa bersalah, wanita itu menyalakan mobil sport mewahnya dan meninggalkan gedung agency dengan perasaan puas. Senyum kemenangan masih menghiasi wajahnya, seolah apa yang baru saja ia lakukan bukanlah sesuatu yang salah.
Wanita itu tak lain adalah Vexia.