NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Antara Kertas dan Lampu Sore

Ruang multi-media SMA Wijaya yang berpendingin udara dingin terasa begitu hening sore itu. Cahaya jingga matahari pukul lima sore menerobos masuk lewat celah tirai tebal, membiaskan garis-garis emas di atas meja panjang berpelitur cokelat. Di atas meja tersebut, tumpukan jurnal ilmiah, peta demografi kota, dan draf usulan proyek sosial berserakan secara teratur.

Callista menopang dagunya dengan sebelah tangan, sementara jemarinya yang lentik bergerak lincah menari di atas kibor laptop. Matanya yang sedikit lelah menatap layar yang menampilkan grafik analisis kebutuhan fasilitas publik bagi lansia dan penyandang disabilitas—sebuah usulan proyek sosial yang sedang ia susun untuk seleksi Young Asian Leaders Exchange Program.

Di seberang meja, Kenzo duduk tegap dalam keheningan yang disiplin. Kemeja seragam putihnya masih tampak rapi meskipun jam belajar sekolah sudah berakhir sejak dua jam lalu. Dengan kacamata berbingkai tipis menempel di pangkal hidungnya, Kenzo dengan tekun merevisi bagian metodologi penelitian dan estimasi anggaran dalam berkas proposal mereka.

"Kenzo," panggil Callista pelan, memecah kesunyian ruangan. Suaranya terdengar sedikit parau karena kelelahan. "Menurut lo, indikator keberhasilan untuk program pendampingan di panti jompo ini lebih baik pakai pendekatan kuantitatif dari jumlah jam kunjungan, atau kualitatif dari tingkat kepuasan penghuni?"

Kenzo menghentikan ketikannya. Ia melepas kacamatanya perlahan, lalu menatap Callista dengan pandangan yang dalam dan fokus.

"Pendekatan kualitatif bakal punya nilai bobot lebih tinggi di mata penguji," jawab Kenzo dengan intonasi berat dan teratur. "Juri dari seleksi internasional biasanya gak cuma nyari angka di atas kertas, Cal. Mereka mau liat dampak emosional dan keberlanjutan dari interaksi sosial yang kita rancang."

Callista mengangguk-angguk paham, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Bener juga. Logika lo selalu tajam kalau soal struktur penilaian."

"Itu karena lo yang nyusun kerangka idenya dengan sangat empati dari awal," balas Kenzo tulus. Tidak ada sedikit pun kesombongan dalam nadanya, hanya murni apresiasi antarrekan tim yang saling melengkapi.

Kenzo meraih cangkir kopi hitamnya yang sudah dingin di tepi meja, meminumnya sedikit, lalu melirik jam dinding di atas pintu. Angka menunjukkan pukul 17.15 WIB.

"Kita rehat sepuluh menit," ujar Kenzo tegas seraya menutup laptopnya separuh. "Lo udah ngetik tanpa henti selama dua jam, Callista. Mata lo udah kelihatan kape."

Callista menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi busa, mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi. "Jadwal bimbingan minggu pertama ini bener-bener menguras tenaga ya. Pak Bambang minta draf awal harus selesai sebelum hari Jumat."

"Gak usah terlalu memaksakan diri," kata Kenzo tenang. "Proyek ini marathon, bukan lari cepat. Kita punya ritme yang bagus."

Saat Callista hendak meregangkan jemarinya yang kaku, pintu kaca ruang multi-media terdorong terbuka pelan.

Derap langkah kaki yang santai terdengar mendekat. Sean melangkah masuk ke dalam ruangan. Cowok jangkung itu sudah berganti pakaian dari seragam sekolah menjadi kaos polos berwarna abu-abu tua dan celana jeans, membawa tas olahraga di bahu kirinya—tanda bahwa ia baru saja menyelesaikan latihan rutin tim basket di lapangan luar.

Di tangan kanannya, Sean menjinjing sebuah kantong plastik putih yang mengeluarkan uap hangat dan aroma manis yang menggugah selera.

"Sore, para calon pemimpin masa depan," sapa Sean ramah dengan nada bercanda yang renyah.

Callista mendongak, dan seketika wajah lelahnya berbinar terang. "Sean! Lo belum pulang?"

"Gimana mau pulang kalau pelindung utama lo ini tahu lo belum makan dari siang?" gurau Sean sambil berjalan mendekati meja mereka. Ia meletakkan kantong plastik itu di tengah meja—di antara tumpukan jurnal tebal milik Kenzo dan laptop Callista.

"Gue beliin martabak manis rasa keju-cokelat kesukaan lo dari kedai depan gerbang," terang Sean seraya mengeluarkan kotak karton hangat. "Plus dua botol teh melati dingin."

Kenzo menatap kehadiran Sean dengan ekspresi tenang. Tidak ada riak canggung atau ketegangan seperti masa-masa lalu. Kenzo menganggukkan kepalanya pelan sebagai sapaan. "Makasih, Sean."

"Sama-sama, Kenzo. Dimakan aja, mumpung masih hangat. Katanya otak butuh gula kalau lagi dipakai mikir keras," balas Sean santai, memberikan senyuman ramah tanpa beban pada ketua OSIS tersebut.

Sean menarik sebuah kursi kosong di samping Callista, lalu duduk bersandar dengan posisi rileks. Ia memperhatikan lembaran proposal dan grafik rumit yang terpampang di layar laptop Callista.

"Gila... tulisan dan bahasanya tinggi banget. Gue baca judulnya aja udah bikin pusing," seloroh Sean sambil terkekeh pelan, mencoba mencairkan atmosfer ruangan yang terlampau serius.

Callista mengambil sepotong martabak hangat dan mengunyahnya pelan, merasakan rasa manis keju dan cokelat meleleh di lidahnya. Rasa lelah yang sempat menumpuk di kepalanya mendadak menguap seketika. "Makasih ya, Sean. Lo selalu tahu jam-jam berapa otak gue butuh asupan."

"Gue kan udah hafal jam biologis lo dari SD, Cal," sahut Sean jenaka, membuat Callista tertawa kecil.

Kenzo yang menyaksikan interaksi manis dan alami di hadapannya menyunggingkan senyum tipis yang amat dewasa. Di dalam hatinya, Kenzo semakin yakin bahwa keputusannya untuk mundur dan membiarkan Callista kembali ke lingkaran hidup Sean adalah langkah yang sangat tepat. Di antara kerumunan berkas rumit dan tekanan akademis yang tinggi, sosok Sean adalah Oase—sebuah tempat berlabuh yang sederhana, hangat, dan selalu berhasil mengembalikan senyuman Callista.

"Gue rasa untuk hari ini pengerjaan proposal kita cukup sampai di sini dulu," kata Kenzo seraya berdiri dan merapikan tumpukan bukunya ke dalam tas. "Kita lanjutin bab analisis data besok sore setelah jam pelajaran terakhir."

Callista menatap Kenzo. "Lo mau pulang duluan, Kenzo?"

"Iya, Pak David udah minta gue datang ke rapat keluarga malam ini," jawab Kenzo sopan. Ia mengemas laptopnya, lalu menatap Callista dan Sean secara bergantian. "Kalian pulang hati-hati. Udah mau magrib."

"Lo juga hati-hati di jalan, Nzo," balas Sean ramah.

Setelah Kenzo melangkah keluar dan pintu kaca tertutup rapat, ruangan multi-media kini hanya menyisakan Callista dan Sean.

Sinar matahari sore makin meredup, menyisakan keremangan hangat di balik jendela. Callista menutup laptopnya, lalu menoleh menatap Sean yang sedang tenang meminum teh botolnya.

"Sean," panggil Callista pelan.

"Hm?" Sean menoleh, menatap tepat ke dalam manik mata Callista.

"Makasih ya... buat semuanya. Buat martabaknya, buat sabarnya lo nungguin gue bimbingan, dan karena lo gak pernah berubah," ucap Callista tulus dengan intonasi lembut.

Sean menatap wajah Callista yang diterangi sisa sinar keemasan sore. Ia tersenyum—senyuman tulus yang memancarkan ketenangan mendalam. Tangannya terulur, menepuk pelan puncak kepala Callista dengan lembut.

"Gue kan udah janji, Cal. Di mana pun lo berdiri, seringgi apa pun panggung yang mau lo capai... gue bakal selalu ada di samping lo, mendampingi langkah lo. Jadi, berjuanglah sekuat tenaga buat seleksi ini, oke?"

Callista mengangguk mantap, memegang tangan Sean yang bersandar di kepalanya. Di ruang hampa antara kertas-kertas laporan dan senja yang merambat turun, Callista tahu bahwa apa pun badai persaingan yang akan ia hadapi di depan, ia tak akan pernah melangkah sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!