kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
......................
Jam sudah melewati waktu makan siang cukup jauh saat rapat akhirnya selesai.
Tumpukan dokumen di meja sudah berkurang, dan suasana tegang sejak tadi perlahan mulai mereda.
Arseno menutup map terakhir lalu menatap Evelyn yang terlihat sedikit memijat pelipisnya.
“Kau lapar?” tanya Arseno sambil menyimpan beberapa berkas.
Evelyn menghela napas kecil.
“Lumayan.., aku belum makan sejak pagi.”
Evelyn melirik jam di ponselnya lalu mengangkat alis. “Sudah jam segini…”
“Ayo makan siang,” ujar Arseno santai. “Aku juga mulai kasihan melihatmu hidup hanya dari kopi, ku perhatikan sejak rapat kau minum kopi cukup banyak."
Evelyn terkekeh kecil. “Perhatian sekali.”
“Aku hanya tidak mau partner bisnisku pingsan di kantor.” elah Arseno beralasan.
“Kalau aku pingsan, bukankah itu menguntungkan perusahaan Anda?” sahut Evelyn.
Arseno menyandarkan tubuhnya sambil menyeringai tipis.
“Sayangnya aku bukan tipe orang yang mengambil keuntungan dari orang lemah.”
Evelyn langsung menatapnya curiga.
“Kalimat itu terdengar sangat manipulatif, anda pria yang berbahaya.”
Arseno memejamkan mata sebentar, pasrah. “Lihat? Kau mulai lagi.”
Evelyn tertawa kecil.
Entah sejak kapan, Mengganggu Arseno terasa menyenangkan.
“Ayo,” ujar Arseno akhirnya sambil berdiri. “Aku tahu restoran yang bagus dekat sini.”
“Kalau makanannya buruk, itu menunjukkan selera anda kurang.”
“Kau selalu mengancam orang seperti itu?” tanya Arseno sedikit penasaran.
“Hanya pria yang ku anggap mencurigakan.” sahut Evelyn.
“Dan aku masih masuk kategori itu?” tanya Arseno.
Evelyn tersenyum tipis. “Sedikit.”
Arseno menggeleng pelan sambil mengambil jasnya. “Luar biasa.”
—
Beberapa menit kemudian, Mobil Arseno berhenti di depan restoran ternama yang cukup eksklusif.
Begitu masuk, mereka langsung diarahkan ke meja privat.
Pelayan menyerahkan menu dengan sopan.
Evelyn langsung membuka menu tanpa ragu.
“Aku mau truffle pasta, risotto, dan tiramisu nanti.”
Pelayan mencatat cepat.
Arseno meliriknya sekilas dengan senyuman tipis.
“Kau memang makan sebanyak itu?, tapi mengapa tubuh mu masih krempeng ?”
Evelyn menutup menu dengan santai. “Aku bekerja keras, lemak ku berubah menjadi tenaga.”
“Masuk akal.” jawab Arseno.
Pelayan kemudian menoleh pada Arseno.
“Seperti biasa,” ujar Arseno tenang. “Steak medium rare dan sebotol wine.”
“Baik, Tuan.”
Setelah pelayan pergi, suasana menjadi sedikit lebih santai, mereka mengobrol seolah sebagai teman bukan musuh atau rekan bisnis semata.
Untuk pertama kalinya, mereka terlihat seperti dua orang normal.
Arseno menatap Evelyn beberapa detik sebelum bertanya,
“Kau punya hobi?” tanyanya tiba-tiba.
Evelyn sedikit terkejut. “Hobi?” sambil sejenak berfikir.
“Ya. Jangan bilang hidupmu hanya kerja, itu membosankan.” ucap Arseno langsung, padahal dia sendiri juga gila kerja.
Evelyn bersandar santai di kursinya. “Aku suka tenis.”
Arseno mengangkat alis sedikit. “Tenis?”
“Sesekali kalau sedang libur.” jelasnya.
“Tidak terlihat seperti wanita yang suka olahraga." ujar Arseno
Evelyn langsung menyipitkan mata. “Maksud Anda?, aku rasa kamu lupa rasanya tendangan ku.”
“Aku kira kau tipe orang yang menghabiskan liburan dengan rapat tambahan.”
Evelyn tertawa kecil. “Aku masih manusia, bukan robot tanpa kehidupan.”
“Masih diragukan.” jawab Arseno.
“Kurang ajar.” dengan wajah kesal Evelyn melempar tisu ke arah Arseno.
Arseno tersenyum tipis. “Aku serius. Sulit membayangkanmu santai.”
“Dan saya sulit membayangkan Anda punya kehidupan selain kantor.” jawab Evelyn.
“Baiklah kita impas.”
Makanan datang satu per satu.
Aroma makanan memenuhi meja.
Evelyn langsung terlihat jauh lebih hidup saat melihat makanannya.
Arseno memperhatikan itu diam-diam.
“Kau benar-benar suka makan.”
Evelyn mulai memotong pasta.“Aku suka makanan enak.”
“Jelas.”
“Kau sendiri?” tanya Evelyn sambil menatapnya. “Punya hobi?”
“Golf.”
Evelyn langsung tertawa kecil.
“Ah… cocok.”
“Kenapa terdengar menyindir?”
“Entahlah,” jawab Evelyn santai. “Saya langsung membayangkan Anda punya banyak caddy golf cantik.”
Arseno langsung memijat pelipisnya pelan.
“Lagi-lagi…, suka sekali menuduh orang sembarangan.
“Apa?” sahut Evelyn tanpa rasa bersalah.
“Kau selalu mencurigaiku seperti pria cabul.” dengan ekspresi kesal Arseno melirik ke arah Evelyn.
Evelyn langsung tertawa lebih jelas kali ini.
Melihat ekspresi kesal Arseno ternyata lucu.
“Aku serius,” lanjut Arseno datar. “Aku hanya main golf.”
“Dengan para wanita cantik di sekitar?” masih dengan senyuman menuduh.
“Aku bahkan jarang memperhatikan mereka.” ucap Arseno berusaha membela diri.
“Ya, tentu saja.” jawab Evelyn terdengar sarkas.
“Nada bicaramu itu.”
Evelyn menahan tawa sambil minum wine.
“Aku cuma bercanda.”
“Akhirnya mengaku juga.”
“Tapi wajah mu memang cocok jadi playboy.”
Arseno menatapnya tajam. “Itu pujian atau hinaan?”
“Dua-duanya.” jawab Evelyn disertai tawa.
Arseno menghela napas panjang seolah menyerah.
“Kenapa aku merasa reputasiku hancur setiap bicara denganmu?”
“Karena mungkin itu memang reputasi asli Anda.”
“Aku bahkan belum melakukan apa pun.”
Evelyn tersenyum tipis sambil kembali makan.
Dan lagi, Arseno memperhatikan pipi Evelyn yang sedikit mengembung karena terlalu banyak makanan.
Lucu seperti tupai.
Tanpa sadar, sudut bibir Arseno kembali terangkat.
Evelyn menangkap itu.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” suara Evelyn langsung datar.
“Tidak.” elak Arseno.
“Kau menertawakan aku?”
“Sedikit.., kau terlihat seperti tupai." jawab Arseno jujur.
Evelyn langsung menyipitkan mata.
“Hati-hati. Aku masih bisa menendang.”
Arseno spontan tertawa pelan.
Tawa yang tulus.
Dan itu membuat Evelyn sedikit terdiam.
Karena untuk pertama kalinya, Ia melihat Arseno benar-benar tertawa, bukan sekadar senyum tipis penuh sindiran.
Suasana mereka semakin hangat.
Obrolan kecil terus berlanjut.
Kadang saling menyindir atau terkadang saling mengejek seperti anak kecil.
Kadang hanya tertawa kecil tanpa alasan jelas, benar-benar hubungan kedua manusia yang sama-sama aneh.
Mereka memang hanya rekan bisnis, Namun cara mereka berbicara dan Cara mereka saling memperhatikan…
Terlihat jauh lebih dekat dari itu.
...****************...