Untuk mengukuhkan kerja sama dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, Bara dan Elang menjodohkannya anak sulung mereka, Nathan dan Zea. Namun, pada kenyataannya, justru Zio-putra ketiga Baralah yang akhirnya menikahi Zea. Kok bisa?
"Gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.
"Aku nggak butuh tanggung jawab kamu, pergi!" usir Zea.
Zio berdecak, "terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab!"
Tangis Zea semakin pecah," semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"
"Bukannya lo emang udah benci sama gue?"
" Aku makin benci sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
"Apa kau sedang dalam masalah?" pertanyaan dokter mmebuat Zio sadar dan langsung mengusap air matanya.
"Sekali lagi, terima kasih dokter, saya permisi!" bukannya menjawab, Zio memilih pamit kepada dokter tersebut.
"Kemana tujuanmu sebenarnya?" tanya dokter tersebut.
"Entahlah, saya juga bingung," ucap Zio sembari melangkah pergi.
Zio langsung menuju motornya yang untungnya tak rusak parah dan masih bisa di kendarai. Sekarang, mungkin dia benar-benar sudah terlambat. Mungkin ia tak akan pernah bisa melihat anaknya lahir ke dunia ini. Ia tak menyangka Zea benar-benar melakukannya.
Saat hendak memutar motornya, Zio melihat plakat puskesmas tersebut. Ia lalu melihat ponselnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera tancap gas. Sekecil apapun kesempatan, tetap akan ia usahakan hingga titik terendah.
.....
Miranda benar-benar harap-harap cemas. Setelah berusaha keras mengingat nomor ponsel Zio saat pria itu menelepon tadi, akhirnya ia bisa menghubungi Zio. Tapi, tidak diangkat karena pria itu tengah tak sadarkan diri di tempat lain.
Hingga tiba giliran Zea masuk. Miranda semakin panik, ia mengirim pesan untuk Zio, berharap pria itu segera membacanya. Dan benar, baru saja masuk pesannya langsung di baca oleh Zio. Tapi tak di balas.
Miranda kirim saja alamat mereka berada sekarang, karena saking bingungnya ia sampai lupa memberi tahu dimana ia berada sekarang. Mungkin Zio sedang kebingungan mencari.
Sementara Zea, dengan ragu ia melakukan apa yang di suruh. Ia berbaring di atas ranjang berukuran kecil sembari menunggu petugas menyiapkan alat-alat.
Sebelumnya di periksa terlebih dahulu untuk meyakinkan jika dia benar-benar hamil karena Zea sendiri bilang belum periksa ke dokter dan hanya melalui tespeck yang bisa saja terjadi kesalahan pada hasilnya.
Zea mencengkeram erat pinggiran tempat tidurnya saat melihat layar monitor yang menunjukkan benar ada janin di rahimnya. Ada rasa haru saat melihatnya. Air matanya kembali menetes.
Ada ragu terbesit dalam benak Zea setelah melihat dengan jelas janin yang tak berdosa tersebut. Ya, janin itu sama sekali tak berdosa. Ia tak bersalah, yang salah adalah dirinya dan Zio. Perbuatan mereka yang salah.
Zea tanpa sadar menyentuh perutnya, "Dia nggak salah, Ze. Kamu tega mau bunuh dia?Apa salah dia? Setega itukah kamu, ze. Sampai hati nuranimu mati rasa? Janin itu gak berdosa, kenapa kamu tega akan menghilangkan kesempatan dia buat lihat dunia ini? Kamu bukan orang yang gak punya hati. Nyakitin semit aja kamu ngak tega, Ze. Ini nyawa anak kamu, darah daging kamu sendiri. Kamu mau jadi pembunuh anakmu yang sama sekai tak berdosa?," satu sisi hatinya berkata demikian.
Kepalanya menggeleng kuat, menampik rasa takut dan bersalah dalam dirinya.
" Lo mau bunuh anak gue? Lo mau nambahin daftar dosa gue? Dosa gue udah banyak, jangan lo tambah!" Zea kembali teringat ucapan Zio.
"Sejahat-jahatnya macan, ia tak akan pernah tega bunuh anaknya sendiri. Dan kamu manusia, Ze. Yang Tuhan ciptakan dengan penuh kasih sayang dan hati nurani. Kamu benar-benar tega mau menggugurkannya?" kali ini nasihat dari Miranda yang melintasi kepalanya.
Mengacuhkan mereka yang masih bersiap, Zea terus di landa di lema. Ada rasa takut juga menyeruak dalam dirinya mengingat kejadian di depan matanya tadi.
Tapi, di sisi lain, ada dorongan kuat untuk tetap melakukannya. Zea benar-benar tak tahu harus bagaimana sekarang. Ia merasa putus asa. Ia sudah kepalang berada di tempat terkutuk itu. Tinggal selangkah lagi, masalahnya akan selesai, pikirnya.
Zio tak memikirkan apapun sekarang. Yang terpenting baginya adalah cepat sampai di tempat dimana Zea kini berada. Meski ia juga mati-matian berusaha untuk menerima segala kemungkinan yang terjadi. Jika benar-benar sudah terlambat, Zio tak tahu apa dia bisa memaafkan Zea atau tidak.
Setelah melalui perjalanan panjang dan penuh liku, Zio berhasil memasuki halaman tempat yang kini menjadi tempat paling ia benci itu.
Begitu menginjakkan kakinya di tanah, dadanya langsung bergemuruh hebat. Ada rasa takut, khawatir, sedih dan juga marah bercampur menjadi satu. Hanya satu keinginannya saat ini, semoga saja ia belum terlambat meski itu kemungkinannya kecil.
Miranda yang melihat Zio langsung berlari ke arah pria tersebut.
"Mana Zea?" tanya Zio tanpa basa basi. Matanya sudah merah menahan amarah.
Dengan berderai air mata, Miranda menjawab, "Dia masuk beberapa waktu yang lalu. Aku nggak berani ikut ke dalam. Aku... Aku nggak tega," ucapnya.
Zio memejamkan matanya sejenak untuk sedikit menghilangkan rasa sesak di dadanya. Sejauh yang ia kenal, Zea adalah gadis manis yang sangat lembut hatinya. Bahkan dengan Miranda pun gadis itu jauh lebih lembut dan penyayang. Jika miranda saja bisa sesedih ini, apakah Zea benar-benar tega melakukannya. Apa gadis itu kehilangan kelembutan dan empatinya karen kebenciannya terhadap Zio. Apakah rasa sakit dan kecewa yang Zea rasakan membuatnya mati rasa.
Zio segera turun dari motor sportnya.
"Kening kak Zio kenapa?" tanya Miranda saat melihat Zio melepas helmnya.
Zio tak menanggapi pertanyaan Miranda. Ia langsung melangkah dengan perasaan tak menentu menuju ruangan di maksud dengan langkah cepat dan penuh amarah.
Saat sampai di ruanga tersebut, Zio melihat Sea yang akan keluar. Keduanya mematung di tempatnya masing-masing untuk beberapa saat lamanya.
Zea menatap Zio penuh kebencian, sementara Zio menatap Zea penuh amarah. Tangannya mengepal kuat.
"Ikut gue!" sentak Zio. Ia menarik paksa tangan Zea. Gadis itu dengan masih berderai air mata, terseok-seok mengikuti langkah Zio tanpa kata. Zio tak peduli jika gadis itu kesakitan yang mungkin di akibatkan oleh aborsii yang baru saja ia lakukan.
"Kunci mobil lo!"
Memberikan kunci mobilnya. Dengan kasar Zio membuka pintu mobil, "Masuk!" titahnya ada Zea.
Zea yang merasa lemas dan gemetar seluruh tubuhnya hanya menurut. Ia sedang tak bertenaga sekarang untuk adu mulut dengan Zio.
Miranda masuk ke jok belakang tanpa di minta oleh siapapun. Ia cukup tahu diri dengan situasi dan kondisi.
Zio melajukan mobil Zea keluar halaman tempat tersebut. Beberapa saat lamanya suasana dalam mobil sagat terasa mencekam.
Zio masih saja bungkam tanpa mengeluarkan sepatah katapun meski mereka sudah hampir setengah jam berada di dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan cukup tinggi tersebut.
Zio hanya sedang berusaha meredam emosinya. Untuk bertanya bagaimana kabar Zea kini saja ia tak bisa. Entahlah, dirinya benar-benar merasa marah, namun tak bisa melampiaskannya. Meski sebenarnya ia sangat penasaran, apakah janin itu benar-benar sudah tak ada di perut Zea lagi.
Lalu, dimana janin itu sekarang? Kenapa Zea tak membawanya serta, sebenci itukah gadis itu hingga tak tersentuh sama sekali untuk membawa serta janin tak berdosa itu dan meninggalkannya begitu saja. Atau karena wujudnya yang baru berupa gumpalan darah dan sudah tak berbentuk akibat benda tajam yang mengoyaknya sehingga tak perlu membawanya pulang untuk di kuburkan?
Hah membayangkan jika benda tajam itu mengoyak-oyak janin tak bersalah itu sehingga hancur dan tak berbentul membuat Zio naik pitam. Ia mencengkeram kuat stir mobil.
Tidak, ia tak bisa hanya terus berspekulasi. Ia harus bertanya pada Zea dimana janin mereka sekarang. Setidaknya ia bisa mengambil dan membawanya sebelum jauh meninggalkan kota tersebut.
Namun, sebelum Zio bertanya, Zea terlebih dahulu membuka suara setelah ia berhasil menenangkan diri, "Dia masih ada. Aku nggak jadi menggugurkannya," ucapnya lirih.
Dua kalimat tersebut setidaknya mampu membuat Zio bernapas lega. Saking panik, takut, sedih, kecewa dan marahnya ia sampai tak memperhatikan kondisi jalan Zea yang tak menunjukkan seperti orang habis melakukan aborsii.
Memang Zea telihat sangat lemas dan gemetar, tapi itu karena ketakutan dan rasa bersalahnya. Ya, dia bukanlah wanita yang tak punya hati. Hanya keadaan yang menekannya dan membuatnya hilang akal. Tapi, tepat saat akan di mulai proses aborsinya tadi, ia tersadar dan mengurungkannya.
Zio masih tetap diam.
"Tapi, bukan berarti aku mau menikah denganmu,"
Lagi-lagi Zio hanya diam tak menanggapi ucapan Zea. Ia hnya fokus terhadap jalan di depannya.
"Kamu dengar nggak, yo?" Zea kesal karena zio acuh. Bukankah ini keinginan pria itu untuk tidak menggugurkan kandungnya.
Zio menoleh, "Terserah!" ucapnya lalu kembali fokus ke depan.
Zea mendengus," Aku sudah memikirkannya. Kau tak perlu melakukan apapun, biar aku yang bicara dengan orang tuaku. Taoi aku butuh waktu. Aku tidak akan mengatakan jika kamu ayahnya. Tenang saja, aku tidak akan menuntutmu,"
"Hem," sahut Zio singkat.
...----------------...
hampir tiap hari nyari2 notif barangkali nyempil /Sleep//Sleep//Sleep/
ternyata hari ini kesampaian juga
makasih kak author
sehat" selalu 😘
🌸🏵️🌼 tetap semangat 💪
Zio cinta Zea tapi Zea tunangan dgn Nathan, kakaknya Zio. Karena suatu hal, Zio tidur dengan Zea akhirnya mereka menikah.
alhamdulillah semoga terus lanjut ya kka smpai tamat...
di tunggu up beriktnyaa