Di Pesantren Al-Ihsaniyyah, cinta, ilmu, dan takdir keluarga Ihsani bersatu. Warisan Abah Muzzamil diuji, pilihan Inayah mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan yang Tertunda: Antara Pelukan, Pertanyaan, dan Telepon dari Masa Lalu
Akung dan Abi langsung ke lantai 1 bawah dan duduk di ruang keluarga berbincang bincang santai. lalau dikamar Ning Hana, tangisan Ning Hana sudah reda dan saat ia membuka mata nya ia kaget ia kira kakaknya yg memeluk dia tetapi trnyata bukan dan melainkan juga yg memeluknya adalah Gus Rasel. ia sempat bilang maaf Gus, maaf saya nggk bermaksud gimana gimana Gus, ucap Ning Hana. nggk papa Ning jawab Gus Rasel. dan setelah itu Gus Rasel ke lantai 1 menghampiri akung dan Abi (mertuanya) dan disana akung juga abi menanyakan tentang Ning Hana dan kenapa Hana sepertinya nangis tadi
- (Akung dan Abi Haikal langsung menuju ke lantai 1 dan duduk di ruang keluarga untuk berbincang-bincang santai.)
- (Di dalam kamar, tangisan Ning Hana sudah reda. Ia membuka matanya dan terkejut menyadari bahwa yang memeluknya adalah Gus Rasel.)
- Ning Hana (gugup): "Maaf, Gus... Maaf, saya nggak bermaksud gimana-gimana, Gus."
- Gus Rasel (tersenyum lembut): "Nggak papa, Ning."
(Gus Rasel keluar dari kamar Ning Hana dan menghampiri Akung dan Abi di lantai 1.)
- Abah Yai: "Rasel, sini duduk. Tadi Akung lihat kamu meluk Hana di kamarnya. Hana kenapa?"
- Abi Haikal: "Iya, Rasel. Hana kenapa nangis?"
- Gus Rasel (dengan nada sedih): "Tadi Hana lihat foto almarhumah ummahnya, Yai, Abi. Terus dia nangis karena kangen sama ummahnya."
Di ruang tamu ndalem juga akung dan Abi membahas tentang bagaimana Rasel dan Ning Hana apakah Ning Hana sudah tau tentang pernikahannya dan Gus Rasel menjawab belum. tp Gus Rasel juga bilang kalau ia sedang mencoba mendekati Ning Hana perlahan lahan dan tetapi lumayan susah, karena untuk memandang dirinya, Ning Hana juga tidak pernah jadi ia harus berusaha perlahan lahan untuk memberitahu juga berusaha membuka hati Ning Hana gar mau menerima pernikahannya kelak ketika Ning Hana sudah mengetahui kalau Rasel itu suaminya.
- (Akung dan Abi Haikal duduk berdua di ruang tamu ndalem, membicarakan tentang Gus Rasel dan Ning Hana.)
- Abah Yai: "Rasel sudah cerita ke kamu tentang rencananya mendekati Hana?"
- Abi Haikal: "Sudah, Yai. Katanya dia mau pelan-pelan, tapi kayaknya susah juga ya. Hana itu kan memang susah ditebak."
- Abah Yai: "Iya, Yai juga khawatir. Tapi kita harus percaya sama Rasel. Dia pasti bisa membujuk hati Hana."
- Abi Haikal: "Semoga saja, Yai. Yang penting, kita terus doakan yang terbaik untuk mereka berdua."
- Abah Yai: "Betul. Kita hanya bisa berdoa dan memberikan dukungan мораль kepada mereka."
Dan saat masih berbincang - bincang tentang pernikahan Gus Rasel juga Ning Hana, tiba" Gus Rasel mendapatkan telepon dari abinya yaitu Gus Ilham dan abahnya yaitu Abah (kakek) yai Ammar mereka menelpon menanyakan gmn kabar nya juga menanyakan tentang pernikahan Rasel juga Ning Hana Pakah Ning Hana sudah mengetahui dan Gus Rasel langsung menjelaskan semuanya ke Abah juga abinya
- (Saat mereka masih berbincang-bincang, telepon Gus Rasel berdering. Ternyata dari Abinya, Gus Ilham, dan Abahnya, Abah (Kakek) Yai Ammar.)
- Gus Rasel: "Assalamualaikum... Iya, Abah... Waalaikumsalam... Alhamdulillah, baik Abah... Iya, ini Rasel... Iya, Abah... Soal itu... Begini, Abah..."
(Gus Rasel menjelaskan situasinya kepada Abah dan Abinya.)
- Gus Rasel (di telepon): "Begini, Abah, sampai sekarang Ning Hana masih belum tahu tentang pernikahan kami. Rasel sudah berusaha mendekatinya, tapi memang agak sulit. Ning Hana itu orangnya pemalu dan nggak gampang percaya sama orang lain. Tapi Rasel janji akan terus berusaha sampai Ning Hana bisa menerima Rasel sebagai suaminya."
(Setelah mendengarkan penjelasan Gus Rasel, Gus Ilham memberikan semangat kepada putranya.)
- Gus Ilham (di telepon): "Rasel, Abah percaya sama kamu. Kamu pasti bisa. Ingat, pernikahan ini adalah amanah dari keluarga kita. Kamu harus menjaganya dengan baik."
(Abah Yai Ammar juga memberikan nasehat kepada cucunya.)
- Abah Yai Ammar (di telepon): "Rasel, kamu harus sabar dan telaten dalam menghadapi Ning Hana. Tunjukkan sama dia kalau kamu benar-benar sayang sama dia dan ingin membahagiakannya. Yai yakin, cepat atau lambat, hati Ning Hana pasti akan luluh."