Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
" Wah terima kasih. Aku sangat puas berbelanja hari ini. Lain kali kalau butuh teman belanja, hubungi aku saja. Aku pasti akan meluangkan waktu untukmu."
Inara tertawa kecil.
Awalnya ia berniat mengajak Ana untuk berbelanja. Namun sialnya ternyata tantenya yang tak mau di panggil tante itu malah memiliki kepentingan mendadak. Dan alhasil meminta teman baiknya untuk menemani Inara untuk menghabiskan uang yang ada di kartu atm yang Briant minta untuk Inara pergunakan.
Ya.. Semua belanjaan hari ini , Inara menggunakan kartu hitam milik Briant untuk membayarnya.
Jika dulu Inara begitu hemat karena sayang menggunakan uang - uang tersebut.
Tapi tidak untuk sekarang.
Ia akan menggunakan uang yang ada di dalam kartu - kartu itu untuk membeli apa yang ia mau.
Anggap saja itu sebagai bentuk balas jasa. Karena selama ini Inara sudah begitu baik melayani Briant.
Dari menyiapkan pakaian pria itu di pagi hari. Membuatkan Briant makanan yang pria itu sukai meskipun Inara tak pandai memasak.
Namun karena cinta yang begitu besar dan buta. Akhirnya Inara pun pagi siang dan malam belajar semua masakan favorite Brian itu. Hingga kini , Inara yang tak bisa masak apapun. Jadi sangat handal dalam hal memasak.
Bahkan chef yang selalu memasak di kediaman Atalaric pun tak mampu menyaingi keahlian masak Inara. Sehingga setiap hari Inara harus bangun pagi untuk menyiapkan makanan untuk Brian.
Tapi itu tentu saja terjadi dulu. Tidak setelah Inara tahu. Perselingkuhan yang di lakukan oleh Brian bersama Anita di belakangnya.
Jangankan menyiapkan makanan untuk pria itu. Menyiapkan pakaian Brian saja Inara sudah tak sudi.
Setelah mendengar kabat perselingkuhan itu. Inara sudah menganggap Brian bukan suaminya lagi.
Bahkan bisa terbilang , lebih kejamnya Inara sudah menganggap pria itu mati dan masuk ke lubang neraka jahanam agar pria itu bisa mendapatkan penyiksaan yang begitu menyakitkan di sana.
" Tentu saja. Lagi pula kau cukup seru untukku ajak jalan - jalan. "
" Benarkah!? Aku kira kau malu mengajakku jalan tadi."
Kening Inara berkerut dalam. " Malu? Kenapa aku harus malu jalan berdua denganmu? " tanya Inara tak mengerti sembari menatap wajah cantik alami Emily.
Masalahnya ia tak melihat sisi aneh yang di miliki oleh wanita berkuncir kuda pony tail itu.
Ya.. Selain wanita itu banyak bicara di sepanjang perjalanan mereka berbelanja tadi.
Namun Inara suka mendengar semua itu. Mengingat jika ia adalah tipe wanita yang suka mendengarkan cerita , bukanlah tipe yang suka bercerita pada umumnya.
Jadi hal itu tidaklah menjadi sebuah masalah bagi Inara yang memang sangat jarang memiliki teman karena sibuk menyenangkan Brian.
" Benarkah kau tak malu bersama denganku."
Inara menggeleng pelan. " Tidak. Aku malah senang bisa berjalan berdua denganmu."
" Hore.. Baiklah. Mulai sekarang kau dan aku adalah teman baik , oke? "
Inara mengangguk. Dan berkata." Oke." dengan kondisi hati yang terasa amat senang karena memiliki teman baru.
" Setelah ini kita lanjut pergi ke mana? " tanya Inara ke arah Emily yang berjalan di sisinya.
" Serius kau mau lanjut jalan lagi. Tapi belanjaan kita berdua terlihat sudah sangat banyak." ragu Emily mengingat mereka sudah berbelanja hampir menyentuh angka beberapa milyar dalam waktu kurun dua jam.
" Husst.. Soal itu tak usah di pikirkan. Khusus hari ini, apapun yang kau mau. Beli saja. Aku yang akan membayar semuanya."
Kedua mata Emily berbinar cerah.
Sebagai manusia normal. Tentu saja ia tak akan pernah mau membuang kesempatan emas ini.
" Kalau begitu ayo kita lanjut berbelanja. Aku akan menunjukan padamu perhiasan terbaru yang baru launching bulan ini. Kau pasti akan suka." dengan penuh semangat Emily menarik tangan Inara . Yang di ikuti oleh Inara dengan senang hati.
Bodo amat berapa uang yang keluar hari ini untuk berbelanja.
Uang itu adalah milik Brian. Jadi Inara yang saat ini tengah merasakan sakit hati tentu saja tak perduli akan hal itu lagi.
Dari pada uang - uang itu di pergunakan untuk membahagiakan gundik. Mending uang yang di berikan Brian, ia pergunakan untuk membahagiakan dirinya sendiri. Yang selama ini telah membuang - buang waktu untuk melayani pria itu. Namun endingnya , malah di balas dengan sebuah pengkhianatan.
___
Cling...
Cling..
Cling..
Bunyi notifikasi pesan masuk terus saja berbunyi di ponsel Brian. Hingga pria yang tengah menjaga Anita itu sedikit merasa terganggu dengan suara notifikasi itu.
Sampai tangan Brian meraih benda pipih yang ia letakkan di atas meja itu dan melihatnya.
Deg.
Kedua mata Brian secara spontan melotot parah. Ketika ia membaca banyaknya notifikasi uang keluar yang di pergunakan oleh Inara pada kartu yang ia berikan.
" Ini... "
" Brian ada apa? Kenapa kau terlihat terkejut begitu? " tanya Anita yang kini sedang duduk di atas ranjang sembari memegang mangkok sup yang telah habis ia santap.
" Tidak. Tidak ada apa - apa. Ini hanya masalah pekerjaan saja." jawab Brian memasukan kembali benda pipih itu ke dalam saku jas yang ia kenakan.
" Benarkah hanya urusan kerja? "
" Iya.. Kalau begitu aku tinggal sebentar ya. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Aku sudah menyiapkan dua suster untuk merawatmu. Jika kau butuh apapun kau bisa meminta bantuan mereka."
" Aku tak butuh perawat Brian. Aku bisa melakukan semuanya sendi.."
" Sstt.. Jangan ngeyel. Kemarin mungkin aku akan mendengarkanmu. Tapi tidak untuk kali ini. Kau tahu, bagaimana terkejutnya aku kemarin ketika menemukanmu dalam keadaan seperti itu. Jantungku serasa hampir lompat keluar rasanya. Jadi mulai sekarang kemana pun kau pergi kau harus di temani oleh pelayan. Begitu pula di apartement. Aku akan meminta mereka untuk menjagamu juga di sana."
" Tapi Brian.."
Mata elang Brian melirik tajam." Tidak ada tapi - tapian Anita. Ini sudah keputusan mutlak tak bisa di tawar."
Hembusan nafas pasrah Anita lakukan. Jika sudah begini , artinya Brian sudah tak bisa berbuat apa - apa lagi selain menuruti pria itu.
" Baiklah kalau begitu. Tapi kau harus berjanji padaku. Jika kau akan sering - sering mengunjungiku. Terutama ketika aku menghubungimu. Jangan sampai ketika aku memiliki perawat yang melayaniku, kau malah jarang mengunjungiku."
Brian terkekeh kecil dan mengusap gemas kepala cinta pertamanya itu." Tenang saja. Untuk hal itu aku pasti akan sering menemuimu dan juga anak kita ini. " tangan Brian beralih mengusap ke atas perut Anita yang terlihat masih rata dan menciumnya sejenak.
Dan hal itu tentu saja membuat Anita yang awalnya terlihat cemberut jadi langsung tersenyum senang ke arah Brian yang begitu memanjakannya.
Bahkan pria itu tak segan menunjukan keromantisan di hadapan para perawat yang ada disana.
Hingga membuat hati Anita jadi melayang. Karena merasa jika cinta Brian dari awal sampai akhir akan menjadi miliknya bukan pada wanita lain, apalagi kepada Inara.
" Lihatlah Inara. Akhirnya, Brian memang akan menjadi miliku. Hanya akan menjadi miliku. Tak akan pernah menjadi milikmu. Atau pun wanita lainnya. "
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra