Enough berkisah tentang kisah asmara seorang wanita bernama Dia Tarisma Jingga dengan seorang lelaki yang belum lama dikenalnya, Btara Langit Xabiru
Keduanya saling mencintai dan kemudian memutuskan membangun kehidupan keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.
Namun sayangnya semua itu hanya menjadi angan saja, hal ini terjadi lantaran trauma masa lalu dan sikap Tara yang abusive, yang pada akhirnya menjadi prahara dalam rumah tangga mereka.
Akankah Tari dan Tara mampu mempertahankan rumah tangga mereka? Kisah selengkapanya hanya ada di novel Enough.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
"Sekarang kau memanggil apa pada kekasihmu?" gumam Tari. "Apa kau memanggilnya 'Peri baikku' juga?" Rasanya Tari tidak rela jika Ranu memanggil kekasihnya dengan sebutan yang sama.
"Jika bertemu lagi, aku akan menanyakannya." Tari membuka halaman selanjutnya.
Dear diary,
Aku tidak mau memikirkan soal kepergian Ranu, bagiku saat ini adalah menikmati waktu kebersamaan dengannya sebelum dia benar-benar pergi dari Indonesia.
Aku melongok ke luar jendela untuk melihat mobil teknisi PLN yang berada di ujung jalan sedang memperbaiki kabel listrik, yang berarti bahwa hari ini lampu padam.
"Sepertinya hari ini akan sangat membosankan, tidak ada ac, radio dan juga TV," ucapku dengan nada kecewa.
"Jangan cemberut!" Ranu menoel hidungku. "Hari ini akan jadi hari yang menyenangkan, kau punya oven kompor?" tanya Ranu.
"Punya," aku mengangguk bingung, mengapa tiba-tiba ia bertanya soal oven.
Ranu mulai berjalan ke arah dapur. "Akan kubuatkan sesuatu untukmu," ucapnya.
"Kau bisa memasak?" aku mengikutinya dari belakang. Ranu membuka kulkas dan mulai menggeser-geser isinya. "Memasak adalah salah satu hal yang aku suka, seperti kau suka berkebun."
Ranu mengeluarkan beberapa bahan dari kulkas dan mulai memanaskan oven. Aku hanya bersandar di mini bar dan mengamatinya. Ranu bahkan sama sekali tak melihat resep, ia langsung menuangkan bahan-bahan ke mangkuk dan mencampurnya tanpa perlu memakai gelas takar.
Seumur hidup, aku belum pernah melihat ayah menyentuh apa pun di dapur. Bahkan aku yakin sekali jika ayah tidak bisa memanaskan oven, yang ia bisa hanyalah memanaskan hatinya saja.
Tadinya ku pikir semua pria seperti itu, tapi melihat Ranu gesit di dapur membuktikan bahwa pandanganku keliru. "Kau mau membuat apa?" tanyaku.
"Cookies," jawabnya. Ranu mendekat ke arahku sambil membawa mangkuk yang berisi adonan, ia mengangkat sendok yang ia gunakan untuk mengaduk adonan ke dalam mulutku, dan aku pun mencicipinya.
"Wow..."ujarku, jujur saja ini adalah adonan kue terlezat yang pernah ku cicipi.
Ranu menaruh adonannya di atas mini bar, kemudian mengelap sisa adonan yang menempel di bibirku dengan jarinya, sambil menatapku dalam-dalam. "Tari, apa kau pernah di cium?" tanya Ranu.
Aku menggelengkan kepala, membalas tatapannya. Aku seakan di buat tercengang saat Ranu mendaratkan bibirnya di bibirku, dan aku bergeming. Aku merasakan tangan Ranu bergetar saat bibirnya memagut bibirku.
Sesaat kemudian aku memberanikan diri utuk melakukan apa yang ia lakukan, aku menggerakan bibirku. Aku merasakan ujung lidahnya menyapu bibirku satu kali, kemudian ia melakukannya lagi, hingga akhirnya aku juga menyapukan lidah dan lidah kami bersentuhan.
Ranu melepaskan bibirnya menarik tubuhnya menjauh. "Maafkan aku, Tari," ucapnya dengan raut wajah bersalah.
Aku menggeleng sembari tersenyum. "Tidak apa-apa Ranu, aku menyukainya."
"Benarkah?" Matanya berbinar, lalu Ranu kembali menciumku lebih dalam lagi. Kami tidak berhenti, kami tertawa sambil berciuman, dan itu sangat meluluhkan hatiku. Melihat Ranu tertawa bahagia, hatiku pun juga merasa bahagia sehingga aku ingin menemukan lagi hal yang ia sukai dan memberikannya padanya.
Ini adalah ciumna pertamaku, dalam benakku bertanya-tanya apakah aku jatuh cinta padanya? Aku belum pernah punya pacar jadi aku sama sekali tak tahu bagaimanna rasanya jatuh hati pada seorang pria.
Karena sejujurnya sebelum mengenal Ranu aku sangat takut dekat apalagi menjalin hubungan dengan lawan jenis, karena aku tidak di besarkan dalam keluarga dengan sosok teladan pria yang tahu bagaimana seharusnya memperlakukan wanita yang di cintai, aku menyimpan segunung keraguan dan ketakutan menyangkut hubungan dengan pria.
Bahkan aku pernah bertanya-tanya, apakah suatu saat aku bisa memiliki hubungan dengan pria dan bisa menghilangkan ketakutan ini?
Sebagian besar alasanku membenci pria karena satu-satunya contoh yang aku miliki adalah ayah.Tapi menghabiskan waktu bersama Ranu, mulai merubah pandanganku karena Ranu selalu memperlakukan aku dengan lembut.
Ranu berhenti menciumku, dan mengambil mangkuk adonan itu kembali. Ia mulai menyendoki adonan ke dua loyang yang sudah di lapisi kertas roti.
"Kamu mau tahu trik memanggang dengan oven kompor ini?" tanyanya.
Aku yang hampir tak pernah tertarik soal memasak, mendadak ingin mengetahuinya, aku ingin mengetahui segala hal yang ia ketahui. Karena melihat betapa antusiasnya Ranu saat bercerita.
"Oven seperti ini memiliki titik-titik panas." Ranu berkata sambil membuka pintu oven dan meletakan loyang di dalamnya. "Kau harus meletakan pas di tengah, kemudian setelah setengah matang kamu putar loyangnya supaya matang merata." Ranu menutup pintu oven dan mencopot sarung tangan dan menarihnya di atas meja.
Ranu menghampiriku lagi, baru ia ingin menciumku lagi, namun kami mendengar suara mobil masuk ke rumah dan pintu garasi mulai membuka. Aku bergegas turun dari tempat duduk, memandang sekeliling dengan panik.
Ranu menangkup wajahku, "Awasi cookiesnya, kira-kira dua puluh menit lagi matang." Ranu mengecup bibirku dengan cepat kemudian melepasku dan bergegas ke ruang tamu untuk mengambil ransel, ia berlari keluar dari pintu belakang tepat saat ayah mematikan mesin mobil.
Aku mulai merapihkan bahan-bahan kue, saat ayah melangkah masuk ke dapur. Ia memandang sekeliling, kemudian melihat kompor menyala.
"Kamu sedang masak?" tanyanya.
Aku mengangguk, sembari mengelap dapur agar bersih sempurna. "Cookies. Aku sedang membuat cookies."
Ayah meletakan tas kerjanya di mini bar, dan berjalan ke kulkas untuk mengambil soft drink. Ia duduk lalu mengajakku berbincang menanyakan di mana aku mau kuliah. Ingin sekali aku mengatakan, aku ingin kuliah di Eropa agar bisa bertemu dengan Ranu, tapi aku tidak bisa meninggalkan bunda bersama monster di depanku.
"Jadi kau mau kuliah di mana Tari?" tanyanya kembali, membuyarkan lamunanku.
"Mungkin di Jakarta atau di Singapore, yang tak begitu jauh." jawabku.
Aku memilih Singapore karena hanya menempuh 2 jam perjalanan dengan menggunakan pesawat, sehingga aku bisa kapan pun pulang mengecek kondisi bunda dan tetap mendapatkan pendidikan terbaik.
Duduk di dapur bersamanya membahas soal pendidikan dan karier, membuatku merindukan lebih banyak moment-moment seperti ini bersama ayah. Andai saja ayah selalu menjadi pria yang sehangat ini, segalanya akan jauh berbeda, aku akan sangat mencintainya.
*Diarynya bersambung ke chapter 28.
👏👏👏👍
banyak pesan moral yg didapat dari cerita ini.. asli keren kak.. bisa buat baper akut n nangis Bombay.. untuk kak Irma sukses terus sehat dan selalu di tunggu karya selanjutnya..
banyak pesan dan ilmu yang terkandung
Semangat Kak author,
Terima kasih untuk cerita yg luar biasa ini,
💪👍