Seorang gadis membuka mata dengan perlahan dan menatap sekeliling untuk memastikan dirinya berada dimana. Matanya terbelalak kaget saat menyadari dirinya berada di rumah sakit.
"Astaga, apa yang terjadi sebenarnya? Gue belum mati?" tanya gadis itu dengan bingung.
Sangat mengherankan kalau dirinya masih hidup saat nekat menabrakkan diri di sebuah truk yang sedang melintas di jalan. Dan yang lebih mengherankan di tubuhnya tidak mengalami luka gores sedikitpun.
Penasaran dengan kelanjutan ceritanya langsung aja di baca gaes🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ana marisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Kiana menghela napas saat sudah tiba di depan pintu masuk kantin. Ia mengatur napasnya dan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan sahabatnya.
Di bangku paling pojok, Loli melambaikan tangan kepada Kiana. Dan untungnya ia melihat tangan Loli dengan keadaan kantin yang ramai.
"Iya gue udah liat..." ucap Kiana saat melihat Loli terus melambaikan tangan dan memberi kode kearah kanan membuat Kiana mengerutkan kening tidak mengerti.
"Apaan sih?" Kiana kebingungan sendiri, dan lebih mengejutkan lagi saat napas seseorang menerpa pipi kanannya.
"Minggir gue mau lewat," ucapnya pelan dengan suara pelan namun terdengar berat.
Kiana langsung menoleh, sudah ia duga jika itu adalah Azam, cowok yang sudah sah menjadi suaminya.
"Gabut banget ya, tuh jalan lebar bisa lo lewati, kenapa musti nyuruh gue geser?" ucap Kiana kesal.
Raut wajah Azam terlihat datar. "Gue maunya lewat situ. Jadi minggir sekarang juga," celetuk Azam, napas harum mint memasuki indra penciuman Kiana, jarak wajahnya sangat dekat.
Keadaan kantin mendadak hening seketika, semua pandang mata mengarah pada dua insan yang sedang berada di pintu masuk kantin.
Kiana berdecak kesal, tidak ingin keributan terjadi, ia memilih minggir dan memberi jalan pada Azam. Namun bukannya pergi, Azam malah tetap berdiri tenang di depannya.
"Apa lagi sih?" ketus Kiana.
Azam berdehem sejenak dan mulai berjalan melewati Kiana. "Jangan main di belakang gue," ucap Azam pelan dan langsung berlalu masuk menghampiri teman-temannya.
Kiana masih tercengang di tempatnya setelah mendengar perkataan Azam. "Kerasukan setan dari mana tuh cowok." gumamnya pelan, ia masih bisa melihat tatapan tajam Azam yang tertuju padanya.
Kiana tak mau ambil pusing, ia segera melangkah masuk dan langsung menghampiri kedua temannya yang sudah menunggu kedatangan dirinya.
"Tega banget kalian ninggalin gue," kesal Kiana langsung menarik minuman Loli yang hendak di teguk gadis itu.
"Ihh, minuman punya Loli," rengek Loli saat melihat Kiana meminum jus jeruknya.
"Lo udah kalah, berarti harus turutin kemauan kita yang menang," ucap Alira membuat Kiana mendelik sebal.
"Nggak ah, gue males. Lagian tadi nggak adil banget, kalian main pergi aja ninggalin gue," kesal Kiana.
"No no no!" Alira menggeleng. "Udah kesepakatan dari awal, sekarang lo harus turutin kemauan gue sama Loli." imbuh Alira.
"Yaudah iya. Gue sekarang harus ngapain," pasrah Kiana, sahabatnya ini minta di getok kayaknya.
Alira tersenyum tipis. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sesuatu yang bagus untuk di lakukan Kiana sebagai bentuk hukuman saat kalah dari tantangan.
Sekilas pandangannya tertuju para Ringga yang sedang mengacak rambut Elsa, namun pandangan cowok itu tertuju pada Alira. Alira terkekeh sinis, Elsa ternyata belum jera juga mencari masalah dengannya.
Alira memusatkan pandangannya pada satu cowok yang tengah sibuk bermain ponsel dan sesekali menyeruput jus alpukat. Senyum Alira langsung terbit seketika, ia kenal dengan cowok ganteng itu.
Davian, cowok kelas dua belas memiliki sikap dingin dan cuek. Cowok yang pernah tertangkap basah tengah berpelukan dan juga mencium pipi cowok yang seumuran dengannya. Di tambah dengan sikapnya yang jarang berinteraksi dengan perempuan semakin menguatkan bukti bahwa Davian adalah penyuka sesama jenis.
"Kia, liat cowok yang lagi main handphone itu," Alira menuntun Kiana untuk menoleh pada Davian, Kiana mengikuti arah dan menatap cowok itu.
Ia terkejut saat melihat cowok yang mengikat tali sepatunya di koridor tadi. "Kenapa sama dia?" tanya Kiana bingung.
Alira tersenyum tipis. "Dia kakak kelas kita. Namanya Davian." jelas Alira.
Kiana waspada dengan tatapan Alira. "Ya terus? Jangan aneh-aneh ya Al," peringat Kiana kepada Alira.
"Enggak kok," jawab Alira santai dengan menepuk bahu sahabatnya pelan. "Sekarang hukuman yang harus lo lakuin, lo harus bisa dapatkan nomor kak Davian dan minta disuapin makan sama dia."
"WHAT!" teriak Kiana saking terkejut dengan ucapan Alira barusan.
"Gue setuju. Nanti kalau Kia berhasil, Loli kasih permen yupi deh," imbuh Loli antusias.
"Al, gue nggak mau ah, mana banyak orang yang liat lagi," tolak Kiana.
"Nggak lama kok, tinggal minta nomor handphone terus minta di suapin, udah selesai. Lo tenang aja, kalau ada yang ngatain lo, gue sumpal mulut mereka pake cabe," ucap Alira.
Kiana mengerucutkan bibirnya. Alira dan Loli terus menyuruhnya untuk segera pergi. Dengan langkah kesal, Kiana menghampiri Davian yang masih asik dengan handphone yang berada di genggaman tangannya.
****
dan kiana sama rayyan aja.. cocok🤭😁