NovelToon NovelToon
Istri Pengganti

Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pengantin Pengganti / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Purpledee

Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.

Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.

Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.

Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15. Awal yang baik

Ruang makan keluarga Van Bodden malam itu terasa megah sekaligus menegangkan bagi Noa. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan, meja panjang dari kayu mahoni dipenuhi hidangan mewah yang bahkan namanya saja sulit untuk di ucapkan. Semua anggota keluarga duduk rapi, percakapan terjadi di berbagai sisi, namun Noa merasa seperti orang asing di tengah keluarga bangsawan.

Ia duduk di sisi kanan Riana, dengan Landerik di seberang. Sesekali ia mengintip ke arah Landerik hanya untuk segera memalingkan wajah saat pria itu menangkap tatapannya. Leo, adik Landerik, melempar senyum ramah setiap kali Noa terlihat gelagapan, tapi Isabella di sisi Leo hanya memutar mata setiap kali Noa terlihat kikuk menggunakan alat makan. Riana, meski tubuhnya lemah, tampak paling ceria malam itu. Ia menyentuh tangan Noa pelan untuk menenangkan gadis itu sebelum membuka percakapan yang lebih besar.

“Ayah,” Riana memanggil ayah mertuanya dengan lembut, “ada hal yang ingin aku bicarakan.”

Ayah mertua Landerik, pria berwibawa dengan rambut perak dan suara berat, menghentikan makannya. “Hm? Apa itu, Riana?”

Riana tersenyum, memandang Noa dengan bangga. “Noa ingin mendalami dunia kuliner. Dia ingin menjadi chef. Dan aku pikir, ini kesempatan bagus untuknya jika ia bisa belajar di restoran keluarga kita.”

Noa yang sedang minum langsung tersedak sedikit. Wajahnya memerah, sementara jantungnya serasa meloncat ke tenggorokan. Ayah mertua Landerik menaikkan alis, memandang Noa sejenak, memeriksa, menilai.

“Kau ingin belajar di Le Serein? Restoran itu tidak mudah dimasuki bahkan oleh koki profesional.” Noa menelan ludah, gugup. “A-aku… aku tahu. Tapi aku ingin mencoba. Jika hal itu diizinkan.” Sejenak suasana hening. Isabella sudah memutar mata seolah tidak percaya. Leo justru terlihat penasaran dan memberi anggukan semangat dari ujung meja. Landerik? Ia hanya menatap Noa, sulit dibaca, seakan ingin menolak, tapi juga tidak. Akhirnya sang ayah mertua berkata pelan,

“Jika itu yang kau inginkan, aku tidak keberatan. Asalkan kau benar-benar bersungguh-sungguh.” Noa membungkuk sedikit refleks dari rasa syukur. “Terima kasih… terima kasih banyak.”

Riana merangkul bahunya pelan, bangga seperti seorang kakak. “Dia akan bersungguh-sungguh. Aku menjaminnya.” kata Riana.

...♡...

Setelah makan malam selesai, Noa merasa napasnya lega karena akhirnya keluar dari meja makan yang begitu formal. Ketika ia keluar ke ruang keluarga, seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan senyum paling lembut yang pernah Noa terima sejak memasuki rumah besar ini.

Wanita itu mengenakan gaun kerja berwarna pastel, wajahnya bulat dan hangat, matanya penuh kasih seperti ibu penyayang di cerita dongeng.

“Noa?” panggil Riana dengan suara lembut.

“Noa, ini Matilda,” Riana memperkenalkan dari belakangnya. “Mulai hari ini, dia akan menjagamu. Semua kebutuhanmu, kamar, jadwal, pakaian, atau apa pun yang kau perlukan, Matilda yang akan mengurusnya.” Matilda tersenyum, menjabat tangan Noa dengan hangat.

“Senang sekali bertemu dengan anda, Aku tahu semua ini pasti terasa baru bagi anda, rumah besar, keluarga besar, aturan yang mungkin menyesakkan.” Ia menepuk tangan Noa pelan, seperti menenangkan anak yang ketakutan. “Tapi anda tak perlu takut. Anda bisa meminta apa saja pada saya. saya akan membantu anda sebisa saya.”

Noa, yang sejak tadi merasa seperti terlempar ke dunia lain, akhirnya merasa sedikit lebih aman. Matilda terasa seperti cahaya kecil yang menghangatkan di tengah dunia asing yang dingin ini. Riana tersenyum lega melihat interaksi itu.

“Noa, Matilda sudah mengabdi begitu lama di keluarga ini, dia bahkan sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Jadi kau jangan merasa kesepian aku dan Matilda akan ada untukmu, ya.” Ucapan itu membuat dada Noa mengencang, namun ia mengangguk kecil. Matilda hanya merangkul bahu Noa lembut.

“Ayo,Biar saya antar ke kamar. anda pasti lelah.” Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah itu, Noa merasa tidak sendirian.

...♡...

Pagi di Paris menyapa dengan cahaya lembut yang jatuh miring ke balkon kamar Noa. Udara masih dingin, namun aroma roti panggang dari toko-toko di sekitar rumah sudah terbawa angin. Dari balkon lantai dua itu, Noa memandang jauh rumah-rumah bergaya klasik, orang-orang yang mulai beraktivitas. Paris terlihat indah tapi hatinya masih penuh tanda tanya. Ia memeluk lutut, mencoba memantapkan diri untuk hari barunya sebagai istri seseorang yang tidak mencintainya.

Suara pintu mengetuk pelan membuyarkan lamunannya. “Noa,” suara itu dalam dan tenang. Landerik masuk dengan rapi dalam kemeja putih dan jas tipis, aroma cologne khasnya langsung memenuhi ruangan. Ia melihat Noa yang masih duduk di balkon, lalu berjalan mendekat, berhenti tepat di ambang pintu balkon.

“Kau sudah selesai sarapan. Bagus.” Suaranya tetap datar, namun tidak dingin. “Aku kemari untuk memberi tahu jadwalmu hari ini.”

Noa bangkit pelan, merapikan gaun rumahnya. “Jad—jadwalku?” Landerik mengangguk. “Kau akan kuantar ke restoran keluarga kami. Ayah sudah memberitahu chef kepala bahwa kau akan mulai belajar hari ini.” Ia menatap Noa sejenak. “Kau tidak perlu takut. Kau hanya perlu mengamati dulu.” Noa mengangguk kecil, meski jantungnya berdegup kencang.

“Terima kasih.”

Landerik tidak berkomentar atas kegugupannya. Ia hanya memasukkan tangan ke saku celana, seperti sedang menahan sesuatu dalam dirinya.

“Setelah itu,” lanjutnya, “aku harus membawa Riana ke rumah sakit. Jadwal kemoterapinya tidak dapat ditunda.”

Nada suaranya berubah—lebih lirih, lebih berat. Untuk pertama kalinya Noa melihat sedikit kepedihan di balik mata biru itu.

“Aku mengerti,” ucap Noa pelan. “Aku harap terapi hari ini berjalan lancar.”

Landerik menatapnya. Tatapan itu sulit ditebak, seperti seseorang yang ingin bersikap baik namun masih menjaga jarak yang sangat jauh. “Kau tidak perlu berterima kasih,” katanya dengan suara rendah. “Ini bagian dari kesepakatan kita.”

Noa tersenyum kecil, tanpa bisa menahan getaran di ujung bibirnya. “Aku tetap ingin mengucapkannya, karena aku sungguh berterima kasih.”

Landerik terdiam sebentar. Lalu ia memberi anggukan singkat dan sederhana, tapi terasa seperti bentuk pengakuan. “Baik,” katanya. “Bersiaplah dalam sepuluh menit. Kita berangkat.”

Ia kemudian berbalik meninggalkan kamar. Namun sebelum benar-benar melangkah keluar, ia sempat menoleh lagi.

“Dan Noa,” ucapnya, suaranya sedikit lebih lembut dari tadi,

“jika kau merasa tidak nyaman atau tertekan kau boleh mengatakan padaku. Aku tidak ingin kau merasa seperti tawanan di rumah ini.” Noa membeku sejenak. Matanya perlahan memanas.

“Aku akan mengingatnya,Terima kasih.” Landerik tidak menambahkan apa pun. Ia hanya pergi, meninggalkan Noa berdiri di balkon, dengan hati yang entah kenapa, terasa sedikit lebih ringan daripada sebelumnya, senyuman kecil perlahan menyungging di bibirnya.

To Be Countinue...

1
Deii Haqil
mulai ada tumbuh nih,benih benih taneman..ciye 🤭🤭
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di Novelku Judul Nya Menikahi Tuan Muda Kejam kita saling dukung👍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): siap kak nanti aku mampir ya🤗
total 1 replies
riniandara
aku mampir kak semangat berkarya moga berkah dan sukses selalu/Heart/
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih sudah mampir kak😍
total 1 replies
Kam1la
hati2 Laderick bisa tergoda Mora
Kam1la
💪💪💪 lanjut , Noa
Kam1la
Tidak... Noa!!🤭
Deii Haqil
ow.. no, Noa..🙈💪💪
Miu Nuha.
rasany nyesek ya, harus menahan diri demi mewujudkan keinginan orla 🤧
Miu Nuha.
paham banget kalo mau nentuin kapan meninggoynya 😩😩😩
Deii Haqil
lanjut lagi..hemhemhem🤭
Kam1la
makin seru nnih ....! semangat up. dan jangan lupa mampir di Terlambat Mencintaiku...😍
Deii Haqil
makin seru😊 lanjut kak💪
Afriyeni
setidaknya kamu punya hak untuk itu saat ini noa. sebab landerik juga tidak punya kuasa untuk menekan mu.
Afriyeni
Riana, noa dan landerik adalah orang orang yg tengah bermain di atas luka masing masing
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): ouh suka bnget kata-kata nya kak😭
total 1 replies
Deii Haqil
keren kak, mantap! semagat nulisnya😁
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
lanjutkan...
Deii Haqil
jangan lupa ngopi. kak. semangat😁
Kam1la
alur yang bikin nyesek..... semangat berkarya Kak !!
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih kak🤗
total 1 replies
Kam1la
semangat 2.....up😍
Deii Haqil
lanjut baca, kasian juga Riana😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!