NovelToon NovelToon
DEWA PERANG NAGA TERLARANG: Menantu Sampah Yang Mengguncang Langit

DEWA PERANG NAGA TERLARANG: Menantu Sampah Yang Mengguncang Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam / Robot AI / Anak Yang Berpenyakit / Kultivasi Modern
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zen Feng

Baskara—menantu sampah dengan Sukma hancur—dibuang ke Jurang Larangan untuk mati. Namun darahnya membangunkan Sistem Naga Penelan, warisan terlarang yang membuatnya bisa menyerap kekuatan setiap musuh yang ia bunuh. Kini ia kembali sebagai predator yang menyamar menjadi domba, siap menagih hutang darah dan membuat seluruh kahyangan berlutut. Dari sampah terhina menjadi Dewa Perang—inilah perjalanan balas dendam yang akan mengguncang sembilan langit!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: NAGA YANG DIINCAR (2)

[KAMAR BASKARA - PAGI HARI, SETELAH 24 JAM MEDITASI]

Cahaya matahari pagi menerobos jendela—menyinari sosok yang duduk bersila di tengah ruangan.

Baskara.

Mata tertutup—napas teratur—tapi aura di sekitarnya...

Berbeda.

Lebih tebal.

Lebih pekat.

Lebih... berbahaya.

Prana mengalir di meridiannya seperti sungai yang deras—energi emas dari Pil Inti Emas sudah diserap sempurna—dan Sukma di dadanya berdenyut dengan kekuatan yang jauh melampaui sebelumnya.

Lalu—

WUSH!

Aura meledak keluar—angin kencang menyapu ruangan—tirai berkibar—debu beterbangan—

Dan Baskara membuka mata.

Mata hitam yang bersinar dengan kilatan merah samar.

[DING!]

[Penyerapan Pil Inti Emas selesai!]

[Breakthrough berhasil!]

[Ranah Inti Emas Bintang 2 → Bintang 4!]

[Kekuatan meningkat 150%!]

[Meridian diperkuat!]

[Sukma diperluas!]

Baskara bangkit perlahan—tubuhnya basah dengan peluh—jubah menempel pada kulitnya.

Dia melepas jubah atas—melemparnya ke samping—memperlihatkan tubuh yang terpahat sempurna.

Dada bidang dengan otot yang terdefinisi jelas.

Bahu lebar seperti tembok.

Perut seperti bata yang tersusun rapi—six-pack yang keras.

Lengan berotot tapi tidak berlebihan—proporsional dan mematikan.

Dan di punggungnya—bekas luka panjang dari lemparan ke Jurang Larangan—sudah memudar tapi masih terlihat.

Dia menarik napas panjang—merasakan kekuatan baru mengalir di tubuhnya.

"Ranah Inti Emas Bintang 4," gumamnya dengan nada yang... tidak puas. "Masih belum cukup."

[Tuan,] ucap Sistem, [ini sudah kemajuan luar biasa. Dari Bintang 2 ke Bintang 4 dalam sehari—kultivator normal butuh bertahun-tahun.]

"Aku tahu." Baskara menatap tangannya—mengepalkan jari—merasakan kekuatan yang bisa menghancurkan batu dengan mudah. "Tapi untuk mengalahkan Adipati Lesmana dan memusnahkan Keluarga Cakrawala tanpa mengeluarkan Cakar Naga..." dia menggeleng, "aku butuh minimal Bintang 6. Lebih baik Bintang 7."

Dia berbalik—dan matanya jatuh pada sosok yang terbaring di ranjang.

Larasati.

Tertidur dengan tenang—selimut menutupi tubuhnya hingga bahu—rambut hitam panjang terurai di atas bantal—wajah damai.

Dia sudah menjaga Baskara sepanjang malam—menemani—memberikan dukungan diam—

Dan akhirnya tertidur karena kelelahan.

Baskara tersenyum tipis—senyum yang jarang dia tunjukkan—senyum tulus yang hanya untuk Larasati.

Tapi senyum itu membeku saat dia mendengar—

Sebuah gerakan.

Larasati... terbangun.

Mata bening itu terbuka perlahan—menatap ke arah Baskara—

Dan membelalak.

Karena di depannya berdiri Baskara—tanpa baju atas—tubuh yang sempurna terpapar cahaya matahari pagi—peluh masih menetes di dada dan perutnya—

Dan aura yang menguar dari tubuhnya—

Kuat. Dominan. Luar biasa.

Larasati merasakan sesuatu BANGKIT di dalam dirinya.

Sesuatu yang sudah lama terpendam.

Sesuatu yang tidak pernah tersalurkan sejak mereka menikah.

Hasrat.

Hasrat wanita yang melihat pria yang dia cintai—yang kuat—yang melindunginya—yang menjadi segalanya baginya—

Wajahnya MEMERAH.

Napasnya sedikit lebih cepat.

Jantungnya berdegup keras.

Dan tanpa sadar—tanpa berpikir—dia bangkit dari ranjang—berjalan mendekat—

Lalu MENYENTUH.

Tangan lembut menyentuh dada Baskara yang keras—membelai perlahan—merasakan otot yang padat seperti batu—merasakan kehangatan kulitnya—

Baskara tersentak—terkejut—menatap Larasati dengan mata yang melebar.

"Larasati—"

Tapi dia tidak berhenti.

Tangan bergerak dari dada ke bahu—ke lengan—merasakan setiap lekuk otot—

Lalu dia MEMELUK.

Memeluk Baskara erat—wajah terkubur di dadanya—menghirup aroma peluh dan Prana yang masih menguar—

"Kau... sangat kuat sekarang," bisiknya dengan suara yang bergetar. "Auramu... luar biasa..."

Baskara menelan ludah—merasakan kehangatan tubuh Larasati yang menempel pada dirinya—merasakan napasnya di kulitnya—

Dan sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang selama ini dia tekan—mulai BANGKIT.

Larasati mengangkat wajah—menatap Baskara—mata bening itu basah dengan emosi—

Lalu dia MENCIUM leher Baskara.

Ciuman lembut tapi penuh gairah—bibir menyentuh kulit—napas hangat—

Baskara menggeram pelan—tangan meraih rambut Larasati—menggenggam lembut—

Lalu dia membalas.

Mencium bibir Larasati—ciuman yang dalam—penuh emosi yang selama ini tertahan—

Tangan meremas rambut lembut istrinya—menarik sedikit—membuat Larasati mendongak—

Lalu dia turun—mencium leher putih itu—menggigit lembut tapi manja—meninggalkan tanda—

Larasati mendesah pelan—tangan mencengkeram punggung Baskara—kuku sedikit menancap—

Baskara merasakan, ia tak bisa menahannya lagi—tangan bergerak ke gaun putih Larasati—mulai melonggarkan ikatan—

Gaun mulai terbuka—memperlihatkan bahu putih—tulang selangka yang indah—

Napas keduanya semakin cepat—semakin panas—

Tapi tiba-tiba—

TOK TOK TOK!

Ketukan pintu.

Keras. Mendesak.

Baskara BERHENTI.

Mata yang tadinya sayu dengan gairah tiba-tiba MENYALA MERAH.

Aura membunuh meledak dari tubuhnya—begitu kuat hingga udara di ruangan bergetar.

Dia menoleh ke pintu dengan tatapan yang bisa membunuh.

"PERGILAH!" teriaknya dengan suara yang menggelegar.

Tekanan aura menekan pintu—bahkan kayu berderit seperti akan pecah.

Di luar, suara bergetar—ketakutan—tapi tetap berbicara.

"A-aku membawa kabar penting, Baskara. Sangat penting... demi keselamatanmu dan istrimu."

Baskara menggertakkan gigi—amarah masih memuncak—tapi kata-kata itu membuat dia berhenti.

‘Keselamatan Larasati.’

Dia menarik napas panjang—menenangkan diri—lalu menatap Larasati.

Larasati wajahnya merah padam—sadar apa yang hampir terjadi—cepat merapikan gaun yang setengah terbuka—lalu melompat kembali ke ranjang dan menutupi diri dengan selimut hingga hanya kepala yang terlihat.

Baskara mengambil jubah bersih dari lemari—‘memakainya dengan cepat—lalu berjalan ke pintu.

Membukanya dengan kasar.

BRAK!

Di luar berdiri Tetua Ibad—pria tua dengan wajah yang pucat—tubuh sedikit gemetar—merasakan sisa aura membunuh yang tadi meledak.

"Kau harus membawa kabar sangat penting, hingga berani menggangguku," desis Baskara dengan nada berbahaya.

Tetua Ibad menelan ludah—lalu berbicara dengan hati-hati.

"Aku... aku datang untuk menawarkan kerja sama."

Baskara menatapnya dengan tatapan datar.

"Tidak tertarik."

Lalu akan menutup pintu—

Tapi Tetua Ibad cepat menahan dengan tangan.

"Tunggu! Aku punya informasi penting! Tentang ancaman yang datang padamu!"

Baskara berhenti—menatap Ibad dengan mata yang menyipit.

"Informasi apa?"

Tetua Ibad tersenyum tipis.

"Aku akan memberitahumu... jika kau mau bekerja sama denganku."

Hening.

Lalu tangan Baskara...MELESAT.

Begitu cepat hingga Tetua Ibad bahkan tidak bisa bereaksi—

Tangan kiri Baskara mencengkeram leher Ibad—mengangkatnya tinggi!

Ibad tersedak—kaki terangkat dari tanah—mata membelalak dengan shock.

‘Kecepatan ini—! Kekuatan ini—!’

Saat turnamen dengan Wibawa, dia yakin Baskara masih Ranah Inti Emas Bintang 2—

Tapi sekarang yang dia rasakan—

Bintang 4!

‘Bagaimana mungkin naik 2 tingkat dalam sehari?!’

Ibad mencoba berkultivasi—mengumpulkan Prana di tangan dengan susah payah—akan menyerang—

Tapi dia merasakan sesuatu DINGIN menyentuh ulu hatinya.

Jari telunjuk Baskara—dengan aura HITAM-MERAH yang mengerikan di ujungnya—menempel tepat di titik Sukma.

Dan Ibad TAHU.

Jika dia menyerang—jika dia bergerak sedikit saja—

Baskara akan menghancurkan Sukma-nya.

Membuatnya jadi cacat seperti Wibawa.

"A-aku menyerah!" teriak Ibad dengan suara yang putus asa. "Menyerah!"

Baskara melepas cengkeraman—Ibad jatuh ke lantai—terbatuk-batuk—memegangi lehernya yang memar.

"Katakan," ucap Baskara dengan nada dingin. "Sekarang. Atau kau akan cacat seperti Wibawa."

Ibad menarik napas—napas yang menyakitkan—lalu mulai bicara dengan cepat.

"Tetua Satriya telah memanggil Aliansi Pemburu Naga."

Baskara tersentak.

[Tuan,] bisik Sistem dengan nada serius, [Aliansi Pemburu Naga adalah organisasi yang dibentuk oleh para Dewa untuk membasmi jejak-jejak Naga di Benua Niskala. Mereka sangat berbahaya. Sebaiknya jangan berurusan dengan mereka. Hindari kontak. Jika mereka tahu tentang Anda... para Dewa pun akan tahu.]

Baskara menggertakkan gigi.

‘Satriya... bajingan itu..’.

Ibad melanjutkan—suara masih bergetar.

"Tetua Satriya akan memfitnahmu. Mengatakan kau adalah Pewaris Naga. Mereka akan datang untuk membunuhmu. Semua bukti akan direkayasa!"

"Bukan hanya itu," tambah Ibad dengan cepat, "Adipati Lesmana sudah selesai dari kultivasi tertutupnya. Dia sekarang Ranah Inti Emas Bintang 7. Dan dia akan datang dalam 10 hari untuk mengambil Larasati."

Di dalam kamar—di balik selimut—Larasati terbelalak.

‘Bintang 7... lebih tinggi dari Baskara...’

"Jika dalam 10 hari kau masih ada di Kediaman Cakrawala," lanjut Ibad dengan nada suram, "Adipati tidak hanya akan membunuhmu. Dia akan membunuh seluruh Keluarga Cakrawala juga. Semua akan binasa."

Hening.

Lalu Ibad menarik napas—menatap Baskara dengan tatapan yang penuh harap.

"Aku, Tetua Zaki, dan Tetua Wira... kami tidak terlibat dalam rencana untuk mengincar nyawamu. Kami ingin membantu." Dia bangkit perlahan—masih memegangi leher. "Jika kau mau berpihak pada kami... kami bisa memberimu berbagai pil dan ramuan eliksir untuk menambah kekuatanmu. Memang lebih rendah dari Pil Inti Emas, tapi—"

Baskara TERSENYUM.

Senyum yang perlahan melebar.

Menjadi SERINGAI.

Lalu dia... TERKEKEH.

Tawa rendah yang mengerikan—membuat Ibad merinding.

"Apa kau takut?" tanya Baskara dengan nada yang main-main tapi berbahaya.

Ibad tergagap.

"T-tentu saja aku takut. Nyawa seluruh keluarga dipertaruhkan di sini."

Baskara TERTAWA lebih keras.

Tawa yang bergema di koridor—membuat pelayan-pelayan yang lewat berhenti dan menjauh dengan cepat.

"Sebaiknya kalian melarikan diri sejauh mungkin," ucap Baskara dengan nada yang tiba-tiba menjadi dingin seperti es. "Karena Adipati akan membunuh kalian semua jika aku kalah."

Dia melangkah lebih dekat—menatap Ibad langsung.

"Namun aku juga akan menghabisi kalian semua walaupun aku menang."

Ibad pucat.

"Kenapa—"

"Karena kalian semua diam saja," potong Baskara dengan suara yang rendah tapi penuh kebencian. "Bahkan tertawa melihat dulu aku menderita. Kalian semua bersalah. Dan kalian semua akan membayarnya."

Ibad membuka mulut—mencoba membela—

"Tapi, tapi Adipati Lesmana memiliki pusaka Badik Singo Edan, kau tidak akan—"

BRAK!

Pintu DIBANTING keras.

Ibad tersentak—lalu berjalan mundur dengan langkah yang gontai—tubuh gemetar—

‘Dia benar-benar singa. Dia tidak bisa didekati.’

[DALAM KAMAR]

Larasati keluar dari balik selimut—wajahnya pucat—mata penuh kekhawatiran.

"Baskara—" suaranya bergetar, "Adipati Lesmana... Bintang 7... dan pusaka Badik Singo Edan..."

Dia berlari—memeluk Baskara dari depan—wajah terkubur di dadanya.

"Kita harus kabur. Bersembunyi. Kau tidak bisa melawannya—"

Baskara memeluk Larasati—tangan mengusap rambutnya dengan lembut.

"Aku akan naik melampaui ranah Adipati Lesmana," ucapnya dengan nada tenang tapi penuh keyakinan. "Dalam kurun waktu kurang dari 10 hari."

Larasati mengangkat wajah—menatap Baskara dengan tidak percaya.

"Itu tidak mungkin! Tidak ada yang bisa naik 3 tingkat dalam 10 hari!"

Baskara tersenyum—senyum yang percaya diri.

"Aku bisa."

"Tapi bagaimana—"

"Percaya padaku." Dia mencium dahi Larasati. "Aku tidak akan hidup seperti tikus. Aku tidak akan bersembunyi selamanya."

Matanya menjadi serius—mengingat sesuatu yang menyakitkan.

"Kau ingat saat kita tertangkap benang baja orang suruhan Patriark dulu?" Dia menggeleng. "Jika kita terus lari, jika kita punya anak nanti... semuanya akan semakin sulit. Kita tidak akan pernah aman."

Dia melepas pelukan—menatap Larasati dengan tatapan yang penuh determinasi.

"Mereka semua—Cakrawala, Adipati Lesmana, siapapun yang mengancam kita—harus dimusnahkan. Jika perlu, aku akan membantai mereka semua."

Larasati menatapnya—melihat api yang menyala di mata suaminya—

Dan dia tahu tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.

Baskara mencium bibir Larasati sekejap—ciuman singkat tapi dalam—

Lalu dia berbalik—berjalan ke jendela—membukanya—

"Kita lanjutkan yang tadi setelah aku mengalahkan Lesmana!" ucapnya tanpa menoleh—lalu MELOMPAT.

Tinggi.

Hampir seperti melayang.

Tubuhnya melayang di udara dengan Prana—seperti burung—

Larasati berlari ke jendela—wajahnya memerah mengingat kata-kata Baskara—

"BASKARA MAU KEMANA?!" teriaknya.

Baskara membalik badan saat melompat—melayang di udara—lalu berteriak dengan senyum lebar.

"BERBURU!"

Lalu dia menghilang di balik bangunan.

Larasati menatap ke arah dia menghilang—berbisik dengan bingung.

"Berburu...?"

[HUTAN BELANTARA - 30 KM DARI KOTA BATU KARANG]

HARI 1-2

Baskara berdiri di tengah hutan—menatap kelompok bandit yang mengepungnya.

20 orang.

Semua Ranah Pengumpulan Prana.

Pemimpin mereka—pria besar dengan bekas luka di wajah—Ranah Inti Emas Bintang 2.

"Bocah," ucap pemimpin dengan tertawa kasar, "kau tahu ini wilayah kami? Berikan hartamu atau mati!"

Baskara tidak menjawab.

Hanya tersenyum.

Lalu—

BERGERAK.

[2 JAM KEMUDIAN]

Baskara berdiri di tengah tumpukan mayat.

20 bandit.

Semua mati dengan cara yang brutal—leher patah, dada hancur, kepala terpisah dari tubuh.

Dia menempatkan tangan di tubuh pemimpin—

"ABSORB."

Tubuh mengering—energi tersedot—

[+250 Kultivasi Points!]

[Ranah Inti Emas Bintang 4 (Awal) → Bintang 4 (Akhir)!]

Baskara mengerutkan dahi—menatap tangan nya.

"Hanya ini?" gumamnya dengan nada yang tidak puas. "Menyerap Inti Emas Bintang 2 tidak membuatku naik ke Bintang 5?"

[Tuan,] ucap Sistem, [semakin tinggi ranah, semakin sulit untuk naik tingkat. Anda butuh lebih banyak energi untuk breakthrough.]

"Kalau begitu..." Baskara menatap ke arah kota dengan mata yang menyala, "aku butuh target yang lebih kuat."

[HARI 3-4 - DESA TERPENCIL]

Baskara menyelidiki kasus anak-anak yang hilang, dicurigai seorang kultivator kuat yang berada di balik hilangnya anak-anak itu.

Baskara berdiri di depan rumah tua yang roboh—mendengar tangisan dari dalam.

Anak-anak.

Puluhan anak kecil—dikurung dalam sangkar seperti binatang.

Dan di depan mereka berdiri seorang pria—Ranah Inti Emas Bintang 3—dengan senyum mengerikan.

"Bocah-bocah ini akan dijual ke pasar budak," ucap pria itu dengan tertawa. "Harga bagus—"

Dia tidak sempat menyelesaikan kalimat.

Karena KEPALA-nya sudah TERPISAH dari tubuh.

Baskara berdiri di belakangnya—belati Bulan Beku di tangan—darah menetes dari bilah.

"Pedang Bayangan," gumamnya—mengingat teknik yang baru dia serap dari memori pria ini. "Teknik yang berguna."

Dia menatap anak-anak yang ketakutan—lalu membuka sangkar.

"Pergi. Pulang ke rumah kalian."

Anak-anak berlari—menangis—tapi selamat.

[+400 Kultivasi Points!]

[Ranah Inti Emas Bintang 4 → Bintang 5!]

[Teknik Baru: Pedang Bayangan (Tingkat Menengah)]

Baskara tersenyum puas.

"Akhirnya. Bintang 5."

Dia menatap ke langit—menghitung hari.

‘Masih 6 hari lagi. Paling tidak, aku butuh naik ke Bintang 7.’

[KEDIAMAN KELUARGA CAKRAWALA - SAAT YANG SAMA]

Dua sosok berjubah hitam dengan tudung berjalan mendekati gerbang utama.

Di punggung mereka—terlukis dengan cat merah—

Kepala naga yang dirantai.

Aura mereka menguar—kuat—mengerikan—

Dua penjaga di gerbang merasakan BERGIDIK di tulang belakang mereka.

‘Ranah Inti Emas... Bintang 6...!’

Salah satu penjaga melangkah maju—mencoba terlihat berani.

"Berhenti! Siapa kalian?!"

Dua sosok itu berhenti—lalu perlahan membuka tudung mereka.

Wajah terlihat.

Kembar.

Tapi beda perawakan.

Yang satu—jangkung—rambut panjang hitam—dengan seringai mengerikan yang membuat darah membeku.

Yang satu lagi—tinggi gempal—rambut cepak—bekas luka sayatan di pipi dan mata kiri—dengan ekspresi datar yang tidak menunjukkan emosi apapun. Di punggungnya terikat pedang besar dan panjang yang lebih mirip papan baja daripada senjata.

Pria berambut panjang mengeluarkan sesuatu dari jubahnya—

Giok merah dengan ukiran kepala naga yang dirantai.

Dia TERKEKEH—suara yang mengerikan seperti kaca yang pecah.

"Kami dari Aliansi Pemburu Naga," ucapnya dengan suara yang ceria tapi mematikan. "Kami dengar di sini ada anak naga berkeliaran."

Dia menatap Kediaman Cakrawala dengan mata yang bersinar dengan antisipasi.

"Dan kami... datang untuk membunuhnya."

Di hutan, Baskara tiba-tiba merasakan DINGIN menjalar di tulang belakangnya. Sistem berteriak: [PERINGATAN! Ada dua aura kuat memasuki Kota Batu Karang! Ranah Inti Emas Bintang 6! Kemungkinan... Aliansi Pemburu Naga sudah tiba!] Baskara menoleh ke arah kota—mata menyala merah. "Mereka datang lebih cepat dari yang kukira." Dia mengepalkan tangan—aura meledak.

[BERSAMBUNG KE BAB 32]

1
Abil Amar
agak soplak ceritany wkkwkwkw mungkin otakny miring alur ceritany g msuk akal
Zen Feng: Ya gitu lah bang, ni novel intinya senggol bacok dibumbui romansa 😅
konsep memang unik absurd tapi geludnya mayan 🔥
total 1 replies
Santos
Anjirr makina seru thor 🔥
Aisyah Suyuti
good
Zen Feng
Silahkan tinggalkan komentar kritik dan saran untuk novel ini agar saya semakin semangat menulis, wahai para pembaca 😁
Luthfi Afifzaidan
baskara atau wibawa thor?
Zen Feng: Ah iya iya sorry typo
Harusnya wibawa.
Makasi makasi sudah saya edit 🫡
total 1 replies
Heavenly Demon
Anjani berhasil buat larasati cemburu 😅
Zen Feng: Konflik cinta tipis-tipis😅
total 1 replies
Heavenly Demon
Siasat apa lagi yang kalian buat 😌
Luthfi Afifzaidan
bukany tangan kanannya tdk bs dgunakan thor?
Zen Feng: Terimakasih sudah koreksi 🫡
Sudah saya edit dan perbaiki, saya lupa tangan kanannya dislokasi hehe
total 1 replies
Valentino
Ngeri cik😭
Valentino
Ey eyy 🥵
Meliana Azalia
Njirr badik arema 😭
Meliana Azalia
Naikin terus ranahnya thorr manteb
Subasa
Nyambung ke mimpi do prolog ya
Subasa
Teagis anjirr
Santos
Lu yg bodoh mbrong
Santos
Satu persatu yang dulu menyiksa Baskara mati mengenaskan 🔥
Ren
Bau bau saingan niih
Ren
Wwooohhh🫡
Dina Li
Uluu uluu wkwkwk
Valentino
Ntabs kiingg, balas dendam yang satisfying 👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!