Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Luna berjalan santai ke arah lift yang tak jauh dari resepsionis berada, naik menuju lantai 25 tingkatan paling tertinggi digedung tempat ruangan presdir perusahaan berada.
Ting..
Pertanda tiba dilantai yang dituju Luna, dirinya berjalan lurus dan tepat didepan ruangan Edward mendengar beberapa suara seperti sedang ada meeting penting di dalam.
Tok..tok..tok..
"Masuk.."teriak Edward dari dalam ruangan.
"Halo kak Edward, apa aku mengganggu?"tanya Luna
Luna masuk dengan santai ke dalam dan melihat ada beberapa orang sedang meeting begitu pun Edward yang duduk di tengah meja kecil dibuat diskusi tersebut.
"Sama sapa kesini?"tanya Edward.
"Bawa mobil sendiri kak, are you busy brother?"ucap Luna pada Edward.
"No, wait five minute."ucap Edward tangannya memberi arah menunjuk ke meja kerjanya untuk Luna duduk di sana lebih dulu.
"Ok.."Tangan Luna memberi tanda.
Edward segera menyelesaikan meeting dengan divisi keuangan, dirinya tak ingin membuat adiknya menunggu lama.
"Sudah bagus semua hasilnya pertahankan laporan seperti ini, kalian boleh kembali keruangan masing-masing. Meeting selesai."kata tegas Edward pada orang - orang di depannya.
Meeting pun berakhir setelah itu, dan Edward langsung menghampiri Luna yang udah menunggu di meja kerjanya.
"Maaf lama Lun, udah makan siang?"tanya Edward.
"Belum kak, ayo makan siang bersama. Di kantin perusahaan sini aja enggak masalah ingin merasakan masakan kantin perusahaan itu seperti apa kak."jawab Luna.
"Yakin mau makan disitu?"kata Edward.
"Yakinlah kak, ayo.."ucap Luna sambil menarik tangan Edward.
"Iya sebentar Lun.."kata Edward.
Lalu Edward telepon lewat interkom kepada seketarisnya.
"Nanti jika ada yang cari saya bilang, saya keluar makan siang lebih dulu."ucap perintah Edward dengan seketarisnya.
Lalu Edward berjalan disamping Luna dan membawanya ke kantin perusahaan yang letaknya di lantai 15.
Ting..
Banyak pasang mata melihat mereka berdua yang berjalan saling beriringan satu sama lain.
"Siapa itu yang disebelah presdir kita?"ucap salah satu karyawan
Banyak karyawan berbisik-bisik melihat presdir dengan wanita cantik.
"Abaikan aja mereka itu, jangan di ambil hati jika ada yang mengatakan hal tak menyenangkan buatmu."ucap Edward pada Luna yang disampingnya.
"Baik kak, ternyata kakak sangat di kagumi di sini."kata Luna.
Edward hanya tersenyum aja menanggapi omongan Luna.
Kantin perusahaan yang sangat luas di lantai 15 itu banyak menyediakan makanan yang sangat lezat banyak pilihan yang bisa dipilih tentu itu membuat Luna semakin betah berada di sana.
"Banyak sekali pilihan makanan kak, aku mau itu dan itu."ucap Luna dengan menunjuk tenant-tenant apa aja yang akan dia makan.
"Baik princess, tunggu di pojok sana. Kakak akan pesankan lebih dulu."ucap Edward.
Edward pun menuju tenant yang dipilih Luna dan memesan makanan yang diminta. Setelah itu duduk kembali di depan Luna.
"Ada apa sebenarnya kamu kesini, enggak mungkin cuma main aja?"tanya Edward.
Sepertinya dirinya enggak bisa membohongi kakaknya kalau dirinya masih kepikiran masalah rumah tangganya.
"Mudah ketebak ternyata kak, padahal udah mencoba menutupi sebaik mungkin."kata Luna dengan menunduk kepala.
"Kakak lebih tau gimana dirimu."kata Edward.
"Sepertinya aku akan memberi kesempatan lagi untuk suamiku tapi aku juga masih ragu kalau dirinya akan berubah."kata Luna sendu.
"Permisi pak, ini makanan yang dipesan."ucap pelayan yang mengantar makanan ke meja Luna dan Edward berada.
"Lebih baik makan dulu, nanti lanjutkan ceritanya setelah selesai."kata Edward.
Luna pun mulai melahap makanan yang ada diatas meja begitu juga Edward, dengan banyak pasang mata melihat ke arah meja yang ditempati mereka berdua.
Drrt..drrrt...
Berdering ponsel Luna pertanda adanya panggilan.
"Halo, ada apa?"tanya Luna.
"Iya, have fun"ucap balas datar Luna.
Panggilan pun mati, Luna hanya berdiam diri dengan banyak pertanyaan dalam dipikirannya saat ini.
"Siapa yang menelepon?"tanya Edward.
" Suami Luna, katanya dirinya pulang telat ada janji temu dengan klien."kata Luna.
"Udah biarkan jangan terlalu dipikiran, mungkin memang sedang sibuk saat ini suamimu."kata Edward.
Setelah selesai makan siang bersama, mereka kembali keruangan Edward.
"Lanjutkan soal tadi, apa kamu yakin akan memberikan kesempatan untuk suamimu?"tanya Edward.
Luna tampak berpikir sejenak dan memejamkan matanya.
"Iya kak, aku udah yakin namun jika terbukti masih berkhianat tolong bawa aku pergi jauh dari sini kak."jawab Luna penuh yakin namun tersirat kesedihan di mata.
Melihat adik kecilnya seperti itu membuat dirinya sangat yakin jika suaminya membuat kesalahan fatal ia tak segan akan membawa Luna pergi jauh dari sini dan tak ada bisa mencarinya sekalipun itu orang tua Luna. Semenjak kejadian dimana Luna mengalami trauma ditinggalkan ibunya pergi dari kehidupannya Luna menjadi pribadi menyimpan masalahnya sendiri dengan ditutupi oleh sikapnya seolah tak ada masalah apapun yang dihadapi.
"Kakak akan bawa dirimu pergi jauh jika sampai itu terjadi nantinya tapi tolong adik kecil kakak jangan bersedih lagi sudah cukup kesedihanmu selama ini meskipun kakak tidak berada disampingmu tapi kakak akan selalu mendukung dirimu apapun yang terjadi."ucap Edward sambil mengelus kepala Luna dengan lembut.
"Terima kasih kak Edward mau mendengarkan apa yang menjadi beban pikiranku. Apa kabar kakek disana kak?"tanya Luna.
Yah, Edward masih memiliki kakek yang berada di London tempatnya tinggal diluar negeri selama ini hanya tinggal kakeknya orang paling terdekat bagi Edward selain orang tuanya yang sudah meninggal tentunya.
"Kakek baik-baik aja, nanti liburan kita main kesana kakek kadang menanyakan tentangmu tentunya ikut mencari keberadaanmu juga." kata Edward
"Jadi merindukan kakek, apa masih menyebalkan seperti dulu kak?"tanya Luna.
"Kamu tau sendiri gimana karakter kakek jadi tak ada berubah dari beliau. Kesini bawa mobil sendiri atau perlu kakak anterin kamu pulang?"kata Edward.
"Luna bawa mobil sendiri kak, enggak perlu pulang nanti Luna mau mampir ke minimarket dekat rumah ada yang mau dibeli sebelum pulang ke rumah."kata Luna.
"Baikla, everything it's be okay."kata Edward.
Luna hanya mengganguk aja tanpa menjawab, tak berasa waktu mulai sore Luna pun ijin pulang lebih dulu dan Edward melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Luna balik dulu kak, hari udah mulai sore takut dicari mama nanti kalau lama-lama di sini."kata Luna.
"Hati-hati dijalan, kabarin kakak kalau udah dirumah."kata Edward.
Luna berjalan keluar dari ruangan Edward dan turun menuju arah parkiran mobil yang terparkir di sana.
"Sepertinya aku butuh cemilan manis, toko seperti biasanya mungkin masih buka jam segini."gumam Luna dengan melihat arah jam tangan.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦