Demi bisa hamil, Deavenny sampai nekat mencuri benih suaminya sendiri yang tak mau memiliki anak dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Rencana awal hanya akan mengawasi proyek di Jerman selama satu bulan saja. Tapi, berhubung Marvel akhirnya sepakat untuk menerima dan melanjutkan kehamilan istrinya, mereka tak pulang-pulang sampai perut Deavenny sudah mulai terlihat buncit.
Marvel berasa seperti seorang pengecut yang berusaha menghindari orang tua istrinya. Sampai detik ini, belum ada yang tahu tentang kehamilan Deavenny. Bahkan sudah menginjak usia kandungan tujuh bulan.
Marvel berusaha untuk menjaga kehamilan istrinya. Sebab, kalau berita itu terdengar sampai ke telinga Tuan Dominique, sudah pasti mertuanya akan murka. Ia juga mencoba menghindari rencana licik yang mungkin bisa saja dilancarkan oleh orang tua Deavenny untuk menghilangkan anaknya.
Jika Deavenny yakin bisa menerima apa pun konsekuensi yang akan didapatkan nantinya ketika anak sudah lahir, maka Marvel hanya bisa mencoba sebaik mungkin melindungi calon anaknya.
Awalnya Marvel memang tak mau menerima anak itu, tapi semakin berjalannya waktu, ia sangat menantikan bayi yang ada di dalam rahim Deavenny segera lahir. Pria itu menyayangi sepenuh hati.
“Dua bulan lagi kita akan bertemu, Sayang,” ucap Marvel seraya mengusap perut buncit istrinya. Saat ini ia sedang duduk di lantai, kepala sejajar dengan perut Deavenny yang tengah tidur miring di sofa. Dia menyewa sebuah apartemen selama satu tahun untuk tempat tinggal sementara saat di Jerman.
“Tak terasa, ya, ternyata waktu secepat ini berlalu.” Deavenny terus mengulas senyum. Memang berat sekali menjalani hari-hari selama kehamilan, setiap minggu rutin pengecekan ke dokter untuk memastikan kalau kondisinya baik-baik saja. Semua dilakukan untuk mengantisipasi jika ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi dikemudian hari.
Marvel mengela napas, tangannya beralih dari perut ke pipi Deavenny. Biasanya, wanita hamil akan semakin bertambah gendut di beberapa bagian tubuh, entah lengan, pipi, ataupun yang lainnya. Namun, tidak dengan istrinya yang semakin kurus. Jujur, Marvel sedih melihat kondisi wanitanya yang tak sebugar dahulu, kini sering merasakan pusing hingga terasa diputar-putar. Tapi, Deavenny tetap keras kepala ingin mempertahankan sampai akhir.
Jemari kekar itu mengusap wajah istrinya. “Kita tak pernah datang setiap kali kumpul keluarga besar, sepertinya Daddymu mulai curiga karena terus bertanya di mana kita saat ini,” ungkapnya.
“Lalu, apa kau mengatakan kalau kita di Jerman?”
Marvel menganggukkan kepala. “Ya, ku jawab ataupun tidak, pasti Daddymu akan mencari tahu lewat orang lain.”
Kedua bola mata Deavenny dapat menangkap sebuah raut kecemasan dari mimik suaminya. Ia berusaha menenangkan dan meyakinkan Marvel kalau semua akan baik-baik saja. Balas mengusap rahang tegas prianya. “Tenang, kalau Daddyku menyusul ke sini, aku yang akan menghadapi langsung. Kau tidak salah dan tak bermaksud mengingkari janjimu.”
Marvel hanya merespon dengan anggukan kepala. Walaupun dia tahu kalau pada akhirnya dirinya tetap akan disalahkan.
...........
Sementara itu, di Kota Helsinki, Tuan Dominique sedang menanti seseorang. Tujuh bulan lamanya tak melihat putri satu-satunya yang sangat dia sayangi. Tentu saja membuatnya merasakan sesuatu yang aneh. Sebelum Marvel memberitahukan lokasi sedang berada di Jerman, sesungguhnya ia sudah tahu sendiri, hanya saja sedang mengetes kejujuran menantunya. Tapi dia belum puas karena tak tahu bagaimana keadaan anaknya.
“Bagaimana? Kau sudah dapat alasan kenapa putriku tak kunjung pulang ke Helsinki?” tanya Tuan Dominique pada salah satu utusannya yang bertugas memata-matai Deavenny dan Marvel di Jerman.
...*****...
...Asekkk, bakalan ada yang kena sembur nih kayanya wkwkwk...