Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Api Kecil dan Perhitungan Besar
Penemuan Rumput Embun Beku membuat suasana Aula Alkimia berubah sejak pagi.
Para murid yang biasanya bekerja dengan tenang kini memeriksa ulang kotak-kotak tanaman dengan wajah jauh lebih serius. Tidak ada lagi yang hanya membaca label lalu percaya begitu saja. Setiap batang dipatahkan sedikit, setiap daun diperiksa warna uratnya, dan setiap akar dicium aromanya dengan hati-hati.
Di tengah kesibukan itu, Feng Bai Hu duduk di sudut gudang dengan papan catatan di pangkuannya. Di hadapannya tertumpuk beberapa jenis tanaman tingkat rendah yang sudah dipilih oleh Tetua Guo.
Tetua Guo Rong berdiri tidak jauh darinya, kedua tangan berada di belakang punggung. Wajah tua itu tampak tenang, tetapi matanya memperhatikan setiap gerakan Bai Hu.
“Cukup,” ucap Tetua Guo setelah Bai Hu selesai mengenali tanaman terakhir. “Dalam tiga hari kau sudah menghafal lebih banyak dari yang kupikirkan. Kalau hanya mengenali bahan, kau memang punya bakat.”
Bai Hu mengangkat kepala. “Kalau begitu aku boleh mulai belajar membuat pil?”
Tetua Guo tersenyum tipis. “Tidak semudah itu.”
Wajah Bai Hu langsung sedikit jatuh.
Tetua Guo menunjuk tungku kecil di sisi ruangan. “Sebelum membuat pil, kau harus belajar mengendalikan api. Alkimia bukan hanya memasukkan bahan ke tungku lalu menunggu hasilnya. Api terlalu besar, bahan hangus. Api terlalu kecil, khasiat tidak keluar. Api berubah sedikit saja, seluruh proses bisa gagal.”
Bai Hu menatap tungku kecil itu.
Ukuran tungku tersebut hanya setinggi pinggangnya. Permukaannya berwarna cokelat gelap, jauh lebih sederhana dibandingkan tungku besar milik Tetua Guo. Di bawahnya terdapat batu api spiritual kecil yang biasa digunakan murid baru untuk berlatih.
Bai Hu berjalan mendekat, lalu berjongkok.
“Berapa harga batu api ini?” tanyanya.
Tetua Guo memejamkan mata sejenak.
Liang Chen yang berdiri di samping hampir tersenyum, tetapi cepat-cepat menahannya.
Tetua Guo menarik napas panjang. “Itu bukan pertanyaan pertama yang harus kau ajukan.”
“Tetapi kalau aku tidak tahu biayanya, bagaimana aku menghitung kerugian saat gagal?”
“Belajarlah dulu. Kerugian bisa dihitung nanti.”
Bai Hu tampak tidak sepenuhnya setuju, tetapi ia tetap mengangguk. Ia tahu hari ini lebih baik tidak terlalu banyak membantah. Kalau Tetua Guo marah dan membatalkan pelajaran gratis, kerugiannya akan sangat besar.
Tetua Guo mengambil seikat Rumput Roh Hijau kualitas rendah dan meletakkannya di atas meja. “Hari ini kau tidak akan membuat pil. Kau hanya akan mengekstrak cairan obat dari tanaman ini. Ini latihan paling dasar. Murid alkimia biasa membutuhkan beberapa hari untuk melakukannya dengan stabil.”
Bai Hu mengamati tanaman itu. “Kalau berhasil, cairan obatnya bisa dijual?”
“Nilainya sangat rendah.”
“Tapi tetap bisa dijual?”
Tetua Guo menatapnya datar.
Bai Hu segera batuk kecil. “Baik. Aku hanya bertanya.”
Liang Chen akhirnya tidak tahan dan tertawa pelan. Selama bertahun-tahun di Aula Alkimia, ia belum pernah melihat seseorang memulai latihan pertama dengan menanyakan harga hasil latihan.
Tetua Guo tidak memperpanjang perdebatan. Ia mengangkat tangan, lalu energi spiritualnya mengalir ke batu api di bawah tungku. Dalam sekejap, nyala api kecil muncul. Api itu tidak besar, tetapi warnanya stabil, kuning kemerahan, bergerak dengan lembut.
“Perhatikan,” kata Tetua Guo.
Beliau memasukkan Rumput Roh Hijau ke dalam tungku. Dengan gerakan jari, api kecil itu membesar sedikit, lalu mengecil, kemudian berputar perlahan di sekitar tanaman. Tidak sampai setengah dupa, daun kering itu perlahan melunak. Tetesan cairan hijau muda keluar dari serat tanaman, berkumpul di dasar tungku dalam jumlah kecil.
Aroma segar menyebar pelan.
Tetua Guo menghentikan api.
“Ini cairan obat paling sederhana. Yang perlu kau lakukan adalah mengeluarkan khasiatnya tanpa membakarnya.”
Bai Hu menatap cairan itu dengan mata serius.
Ia tidak langsung bercanda.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sendiri bagaimana sebuah tanaman berubah menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Sebatang Rumput Roh Hijau yang murah, jika diproses dengan benar, bisa menjadi bahan dasar pil pemulihan energi.
Bai Hu menarik napas dalam. “Aku coba.”
Tetua Guo memberi isyarat kepada Liang Chen untuk menyiapkan tungku lagi. Setelah semua siap, Bai Hu berdiri di depan tungku kecil. Tangannya menyentuh batu api spiritual. Ia mengalirkan sedikit energi spiritual seperti yang tadi dilakukan Tetua Guo.
Api menyala.
Terlalu besar.
Wuuush!
Dalam sekejap, Rumput Roh Hijau yang baru dimasukkan langsung menghitam. Bau gosong menusuk hidung.
Bai Hu membeku.
Liang Chen menutup mulutnya, menahan tawa.
Tetua Guo berkata tenang, “Gagal pertama. Kenapa?”
Bai Hu menatap abu hitam di dalam tungku. Wajahnya muram seolah baru kehilangan sekantong uang.
“Api terlalu besar.”
“Benar, coba lagi.”
Bai Hu mengambil tanaman kedua. Kali ini ia jauh lebih hati-hati. Energi spiritual yang ia masukkan ke batu api sangat kecil. Api menyala redup, hampir mati. Ia memasukkan Rumput Roh Hijau dan menunggu.
Satu tarikan napas.
Lima tarikan napas.
Sepuluh tarikan napas.
Tanaman itu hanya layu sedikit, tetapi tidak mengeluarkan cairan.
Tetua Guo berkata, “Gagal kedua. Kenapa?”
“Api terlalu kecil.”
“Lagi.”
Percobaan ketiga, api awalnya stabil, tetapi Bai Hu terlalu lama mempertahankannya. Daun memang mengeluarkan cairan, tetapi cairan itu berubah keruh karena khasiatnya rusak.
Percobaan keempat, ia menaikkan api terlalu cepat.
Percobaan kelima, ia menurunkan api terlalu lambat.
Percobaan keenam, ia terlalu fokus pada warna api dan lupa memperhatikan aroma tanaman.
Satu demi satu Rumput Roh Hijau berubah menjadi abu, layu tanpa hasil, atau menghasilkan cairan yang gagal digunakan.
Wajah Bai Hu semakin lama semakin gelap.
“Enam batang,” gumamnya dengan suara berat. “Enam batang sudah hilang.”
Tetua Guo mengangkat alis. “Itu bahan latihan.”
“Tetap saja bahan.”
“Bahan berkualitas rendah.”
“Kalau dijual diskon tetap ada nilainya.”
Liang Chen akhirnya tertawa kecil. “Tuan Muda, semua murid baru memang menghabiskan banyak bahan di awal.”
Bai Hu menoleh dengan wajah serius. “Itulah masalahnya. Kalau semua murid baru menghabiskan banyak bahan, bukankah Aula Alkimia mengalami kerugian besar setiap tahun?”
Liang Chen terdiam.
Tetua Guo juga tidak langsung menjawab.
Bai Hu menatap tungku, lalu menatap sisa Rumput Roh Hijau di meja. Kekesalannya perlahan berubah menjadi konsentrasi. Ia mengambil papan catatan dan mulai menulis.
Percobaan pertama: api terlalu besar sejak awal. Hasil: hangus total.
Percobaan kedua: api terlalu kecil. Hasil: tidak keluar cairan.
Percobaan ketiga: waktu terlalu lama. Hasil: khasiat rusak.
Percobaan keempat: perubahan api terlalu cepat. Hasil: serat pecah.
Percobaan kelima: penurunan api terlambat. Hasil: cairan keruh.
Percobaan keenam: tidak memperhatikan aroma. Hasil: gagal.
Tetua Guo menyipitkan mata.
Banyak murid gagal berkali-kali, tetapi sedikit yang mencatat kegagalan dengan rapi. Sebagian besar hanya mengandalkan perasaan dan mengulang kesalahan yang sama. Bai Hu berbeda. Ia memperlakukan kegagalan seperti kerugian dagang yang harus ditemukan penyebabnya.
Setelah menulis, Bai Hu meletakkan papan catatannya. Ia tidak langsung mencoba lagi.
Ia berdiri diam di depan tungku.
Matanya menatap batu api.
Kemudian tanaman.
Lalu kembali ke tungku.
“Api bukan hanya besar atau kecil,” katanya pelan. “Harus berubah sesuai kondisi tanaman.”
Tetua Guo tidak berkata apa-apa, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
Bai Hu mengambil batang ketujuh.
Kali ini ia tidak terburu-buru.
Api dinyalakan kecil lebih dulu. Setelah Rumput Roh Hijau mulai melunak, ia menaikkan sedikit panasnya. Tidak banyak. Hanya sedikit. Ketika aroma segar mulai keluar, ia menurunkan api perlahan, membiarkan panas tersisa memeras cairan dari serat tanaman.
Setetes cairan hijau muda muncul.
Lalu setetes lagi.
Jumlahnya sedikit.
Warnanya tidak sejernih hasil Tetua Guo.
Tetapi tidak gosong.
Tidak keruh.
Berhasil.
Liang Chen menatap tungku dengan mata sedikit membesar.
Tetua Guo melangkah mendekat dan memeriksa cairan itu. Setelah beberapa saat, ia mengangguk.
“Buruk, tetapi bisa digunakan.”
Bai Hu tidak tersinggung.
Sebaliknya, wajahnya langsung cerah.
“Berarti berhasil?”
Bai Hu mengepalkan tangan kecilnya. “Bagus. Mulai percobaan ketujuh sudah tidak rugi total.”
Tetua Guo hampir tertawa.
Bagi murid lain, keberhasilan pertama biasanya disambut dengan kegembiraan karena berhasil menyentuh pintu alkimia. Namun Bai Hu justru bahagia karena tidak rugi total.
Tetua Guo menggeleng pelan, tetapi matanya menunjukkan kepuasan.
“Lanjutkan. Hari ini targetmu bukan berhasil sekali, tetapi berhasil tiga kali berturut-turut.”
Senyum Bai Hu membeku.
“Tiga kali? Kalau gagal lagi, bahan hilang akan bertambah”
“Kalau takut kehilangan bahan, kau tidak akan pernah menjadi alkemis.” jawab tetua Guo
Bai Hu terdiam.
Ia menatap sisa Rumput Roh Hijau di meja. Untuk pertama kalinya ia tidak langsung menghitung harga. Ia mulai memahami bahwa beberapa kerugian memang diperlukan untuk mendapatkan kemampuan. Seperti membeli informasi. Seperti mengambil risiko membeli Bintang Perak Biru. Seperti menghabiskan waktu berkultivasi agar uang bulanannya aman.
Jika kegagalan bisa mengurangi kegagalan berikutnya, maka kegagalan itu bukan murni kerugian.
Itu biaya belajar.
Bai Hu menarik napas pelan.
“Baik. Tiga kali berturut-turut.”
Latihan berlanjut hingga sore.
Ia gagal berkali-kali lagi. Namun kegagalannya tidak lagi sama. Setiap kesalahan baru dicatat. Setiap perubahan aroma, warna, dan waktu ia tulis dengan rapi. Liang Chen yang awalnya hanya menonton akhirnya ikut memberi beberapa petunjuk. Tetua Guo tidak banyak bicara, tetapi setiap kali Bai Hu hampir menemukan jawabannya sendiri, beliau membiarkannya mencoba.
Menjelang matahari turun, Bai Hu akhirnya berhasil mengekstrak cairan obat tiga kali berturut-turut.
Kualitasnya masih rendah.
Jumlahnya sedikit.
Tetapi stabil.
Tangannya gemetar karena lelah. Wajahnya sedikit pucat. Energi spiritualnya terkuras lebih banyak daripada saat kultivasi pagi.
Namun matanya bersinar.
Di hadapannya, tiga botol kecil cairan obat hijau muda tersusun rapi.
Bai Hu menatapnya cukup lama.
Lalu bertanya dengan suara pelan, “Tetua... kalau kualitasnya rendah seperti ini, kira-kira bisa dijual berapa?”
Tetua Guo menepuk dahinya.
Liang Chen tertawa.
Tetapi kali ini, Tetua Guo tidak memarahinya. Ia hanya mengambil salah satu botol, mengamati cairan di dalamnya, lalu berkata, “Tidak banyak. Namun jika kau bisa meningkatkan kualitasnya, cairan dasar seperti ini bisa menjadi bahan campuran pil tingkat rendah. Ada nilainya.”
Mendengar kata “ada nilainya”, wajah Bai Hu langsung segar kembali.
“Berarti besok aku bisa lanjut latihan?”
Tetua Guo menatapnya.
Bocah itu lelah, tetapi tidak menyerah. Alasannya mungkin tetap uang, tetapi semangatnya nyata. Dan di dunia alkimia, alasan seseorang memulai tidak selalu menentukan sejauh mana ia akan berjalan.
“Besok kau datang lagi,” kata Tetua Guo. “Kali ini bukan hanya Rumput Roh Hijau. Aku akan memberimu tiga jenis bahan dengan sifat berbeda.”
Bai Hu mengangguk penuh semangat.
Namun sebelum ia sempat menjawab, seorang murid alkimia berlari masuk dari luar ruangan dengan wajah panik.
“Guru! Ada masalah!”
Tetua Guo mengerutkan kening. “Apa yang terjadi?”
Murid itu menelan ludah. “Kiriman bahan obat dari Pasar Timur bermasalah. Setengah dari Akar Darah Kecil yang baru datang kualitasnya buruk, tetapi pihak pedagang menolak menurunkan harga. Mereka bilang Aula Alkimia sudah menyetujui pembelian.”
Mendengar kata “harga” dan “kualitas buruk”, mata Bai Hu yang lelah langsung menyala.
Ia perlahan menoleh.
“Pedagang menolak menurunkan harga?”
Liang Chen melihat ekspresi itu dan tiba-tiba merasa kasihan kepada pedagang tersebut.
Tetua Guo menatap Bai Hu, lalu menatap murid yang panik itu.
Beberapa saat kemudian, alkemis tua itu tersenyum tipis.
“Sepertinya,latihan hari ini belum selesai.”
Bai Hu meletakkan botol cairan obatnya dengan hati-hati, lalu menepuk debu di pakaiannya.
Rasa lelahnya seolah hilang seketika.
Jika soal mengendalikan api, ia masih murid baru.
Tetapi kalau soal menilai barang dan menawar harga...
Itu medan perang yang jauh lebih ia kenal.
Bersambung...
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut