Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Matahari pagi mulai menyinari jalanan, dan Samantha melajukan mobilnya dengan tenang menuju rumah baru Suci. Hatinya penuh semangat, pikirannya tertuju pada segala hal yang harus disiapkan demi mewujudkan impian salon kecantikan mereka berdua. Sesampainya di depan rumah, ia mematikan mesin dan melangkah masuk setelah mengetuk pintu pelan.
Pintu terbuka, dan Bu Lastri menyambutnya dengan senyum hangat yang tulus. "Selamat pagi, Nak Samantha. Silakan masuk kedalam." sapa ibu itu ramah sambil menyingkirkan kain lap yang dipegangnya.
"Selamat pagi, Bu," jawab Samantha sopan sambil tersenyum. "Terima kasih. Apakah Suci sudah siap? Kita akan segera berangkat survei lokasi nanti."
"Suci masih ada di dalam kamarnya sebentar lagi selesai," jelas Bu Lastri sambil menuntun Samantha duduk di meja makan. "Tapi lihatlah, sarapan sudah siap tersaji di sini. Ibu tahu kamu pasti berangkat pagi-pagi sekali tanpa sempat makan. Ayo, duduklah dan nikmati dulu hidangan ini bersama kami. Perut kosong tidak baik untuk berpikir dan beraktivitas berat."
Samantha hendak menolak karena merasa tidak enak, namun aroma nasi uduk hangat, telur dadar gurih, dan sambal yang menggugah selera membuatnya tersenyum pasrah sekaligus haru.
"Terima kasih banyak ya, Bu. Ibu selalu saja perhatian sekali padaku," ucap Samantha tulus. "Sebenarnya aku berniat makan di jalan saja, tapi kebaikan Ibu membuatku tidak tega menolaknya."
"Tidak boleh begitu, Nak. Makanlah dengan tenang di sini," tegur Bu Lastri lembut sambil menuangkan teh hangat. "Kesehatanmu juga penting bagi kami."
Tak lama kemudian, Suci keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan wajah berseri. Ia terkejut melihat mereka sudah duduk di meja makan.
"Wah, Sam sudah datang rupanya," sapa Suci sambil duduk di sampingnya. "Maaf ya, tadi agak lama membereskan catatan kita."
"Kebetulan sekali kamu sudah keluar," kata Bu Lastri sambil menaruh piring berisi makanan di depan mereka. "Kita sarapan bersama dulu. Nikmati masakan Ibu, nanti baru kalian bicara soal rencana kalian."
Sambil menyantap hidangan sederhana namun lezat itu, mereka mulai mengobrol. Samantha menceritakan soal alamat ruko yang diberikan Kak Aslan, lokasinya yang strategis, dan janji bertemu dengan pemiliknya. Suci mendengarkan dengan mata berbinar, sesekali bertanya detail mengenai ukuran dan tata letak ruangan. Bu Lastri hanya tersenyum bahagia melihat keakraban mereka, merasa damai melihat masa depan putrinya perlahan terang kembali.
"Semoga lokasinya cocok dan rencana kalian membuka usaha salon bisa berjalan dengan lancar semuanya ya," doa Bu Lastri tulus saat mereka selesai makan. "Kalian berdua anak yang rajin dan baik, pasti Tuhan melancarkan segala urusan kalian."
" Amiiiinnnnn ." jawab samantha dan suci secara bersamaan .
Setelah selesai menyantap sarapan dan membereskan diri, Samantha dan Suci pun bersiap untuk berangkat. Sebelum melangkah keluar menuju mobil, Bu Lastri menahan mereka sejenak di ambang pintu. Ia menggenggam tangan keduanya erat dengan penuh kasih sayang, lalu menatap mereka dengan pandangan yang tulus dan penuh harap.
"Tunggu sebentar, Nak. maaf ya ibu tidak bisa membantu apa - apa . Ibu hanya bisa mendoakan kalian saja " ucap Bu Lastri lembut.
Ia pun menengadahkan tangannya ke atas dengan mata terpejam, melantunkan doa yang mengalir dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah... lindungilah kedua anak ini dalam perjalanan mereka hari ini. Lancarkanlah segala urusan dan rencana baik yang sedang mereka usahakan. Mudahkanlah mereka dalam menemukan tempat yang tepat, berikan mereka kebijaksanaan dan kemudahan dalam setiap langkah, serta jauhkanlah dari segala rintangan dan halangan. Semoga usaha ini membawa berkah, kebahagiaan, dan kemandirian bagi mereka berdua. Aamiin."
Samantha dan Suci pun mengaminkan doa itu dengan hati yang lapang. Merasakan ketenangan yang menyelimuti hati setelah mendapatkan restu dan doa dari ibu yang begitu tulus.
"Terima kasih banyak ya, Bu," ucap Samantha dengan mata berkaca-kaca terharu. "Doa Ibu adalah kekuatan terbesar bagi kami."
"Terima kasih, Ibu. Kami akan berhati-hati," tambah Suci mencium punggung tangan ibunya.
Mereka pun akhirnya melangkah menuju mobil dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan penuh keyakinan, siap menyambut apa pun yang menanti di lokasi ruko nanti.
Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah Bu Lastri, membawa harapan dan doa yang tulus menyertai perjalanan mereka. Tidak butuh waktu lama, akhirnya kendaraan itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan ruko yang berdiri kokoh di pinggir jalan utama yang cukup ramai. Sesuai dengan alamat yang diberikan Kak Aslan, inilah tempat yang dituju.
Samantha dan Suci turun dari mobil, namun belum terlihat sosok Pak Rio di sana.
"Sepertinya Pak Rio belum datang ya," ucap Suci sambil menoleh ke sekeliling. "Tidak apa-apa, kita tunggu sebentar sambil melihat-lihat dari luar dulu."
Mereka pun berjalan perlahan mengelilingi bagian depan bangunan itu. Wajah ruko itu tampak sangat bersih dan mengesankan dindingnya dicat warna krem yang elegan, jendela kaca besar yang lebar, dan konstruksinya terlihat sangat kokoh karena memang bangunan ini baru saja selesai dibangun. Lokasinya benar-benar strategis, tepat di pinggir jalan raya yang sering dilewati kendaraan dan pejalan kaki, serta terlihat mudah dikenali oleh siapa saja.
"Wah, Sam... lihatlah," kata Suci dengan mata berbinar penuh kekaguman. "Dari luar saja sudah terlihat sangat bagus dan rapi. Bangunannya masih baru sekali, belum pernah dipakai sama orang lain. Posisinya juga sangat pas, pasti banyak orang yang lewat dan melihat tempat ini."
Samantha tersenyum setuju, matanya tak lepas meneliti setiap sudut bangunan itu. "Benar sekali, Suci. Aku juga sangat suka dengan penampilannya. Desainnya sederhana namun berkelas, persis seperti yang kita impikan. Kalau dari luar saja sudah begitu menarik, pasti akan membuat orang penasaran ingin masuk ke dalam."
"Tapi kita tidak boleh menilai hanya dari tampilan luar saja, kan?" tambah Suci sambil menatap pintu utama yang masih tertutup. "Kita harus memastikan kondisi ruangan di dalamnya juga sesuai keinginan kita ."
"Tentu saja," jawab Samantha mantap. "Kita harus teliti. Penampilan luar memang menarik, tapi kenyamanan dan fungsi ruangan di dalamlah yang paling penting untuk kelancaran usaha kita nanti. Kita tunggu Pak Rio datang sebentar lagi, supaya kita bisa masuk dan memeriksanya satu per satu."
Mereka pun berdiri menunggu di depan ruko itu, hati mereka penuh harap bahwa keindahan yang terlihat dari luar akan sebanding dengan kenyamanan yang ada di dalamnya.
Belum lama mereka berdiri menunggu, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam melaju perlahan dan terparkir rapi tepat di samping kendaraan Samantha. Dari dalamnya turun sepasang suami istri yang tampak berpenampilan rapi dan sopan. Pria itu terlihat seumuran dengan Kak Aslan, memiliki senyum yang ramah dan wajah yang teduh, sementara wanita di sampingnya tampak anggun dengan pakaian yang sederhana namun berkelas.
Keduanya berjalan mendekat dengan langkah santai namun penuh keramahan.
"Selamat pagi," sapa pria itu dengan suara lembut namun tegas. "Maaf sepertinya saya agak terlambat sedikit. Apakah benar kalian adalah Nona Samantha dan Nona Suci?"
Samantha dan Suci segera mengangguk sopan sambil tersenyum. "Selamat pagi, Pak. Benar sekali, saya Samantha dan ini teman saya, Suci."
Mendengar itu, wajah pria itu semakin berbinar senang. Ia mengulurkan tangan ramah. "Saya Rio, teman lama Kakakmu, Aslan. Dan ini istri saya, Bu Rina."
"Salam kenal, Pak Rio, Bu Rina," jawab Samantha tulus sambil bersalaman bergantian. "Terima kasih sudah menyempatkan waktu bertemu kami hari ini."
Pak Rio tertawa kecil ramah. "Sama-sama, non . Aslan sudah banyak bercerita tentangmu. Katanya adik kesayangannya ini ingin membuka usaha sendiri dan mencari tempat yang tepat. Melihatmu langsung sekarang, saya jadi mengerti kenapa dia begitu bangga padamu."
Bu Rina pun ikut tersenyum hangat menatap mereka berdua. "Salam kenal ya, Samantha, Suci. Kalian tidak perlu sungkan atau canggung di sini. Pak Rio sudah lama bercerita tentang persahabatannya dengan Kak Aslan, jadi bagi kami kalian sudah seperti keluarga sendiri. Silakan saja sampaikan apa yang ingin kalian tanyakan dari tempat ini."
"Terima kasih banyak atas sambutan hangatnya, Pak, Bu," ucap Suci dengan hati yang lega. "Kami sangat berterima kasih karena dipercaya untuk melihat tempat ini."
"Sama-sama," jawab Pak Rio mantap sambil menunjuk pintu ruko yang terkunci. "Karena kalian sudah datang, mari kita masuk dan lihat langsung kondisi di dalamnya. Saya ingin pastikan semuanya benar-benar sesuai dengan kebutuhan usaha kalian."
Mereka pun berjalan beriringan menuju pintu utama, disambut dengan keterbukaan dan keramahan yang membuat kekhawatiran Samantha dan Suci perlahan hilang berganti rasa nyaman.
Bersambung...