Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 7
Gita merengut pelan mendengarnya.
"Tapi kalau dia beneran kaya gimana?"
"Lagian, Satria itu dari dulu emang pekerja keras."
"Cuma kemarin nasibnya aja lagi apes pas perusahaannya bangkrut."
"Halah, Git. Dulu aja lu putusin gara-gara dia gak bisa beliin tiket konser VIP,"
sindir Rendra sambil terkekeh, membuat wajah Gita memerah padam.
Tepat saat perdebatan mereka mulai memanas, pintu kaca ruang VIP terbuka.
Dua orang pelayan restoran masuk dengan wajah yang sangat tegang, melangkah mundur seolah-olah sedang memberikan jalan bagi seorang tamu agung atau mungkin pelaku teror ekonomi.
Satria melangkah masuk.
Penampilannya masih konsisten merusak pemandangan: jaket lusuh penuh lubang yang rasi bintangnya makin tidak beraturan, celana jins belel, dan sandal jepit karet tipis yang mengeluarkan bunyi plek-plek setiap kali menginjak lantai marmer.
Namun, yang membuat seluruh ruangan mendadak hening bukan pakaian Satria, melainkan sosok di belakangnya.
Nisa, dengan kaus anime longgar dan jepit rambut wortelnya yang legendaris, masuk sambil megap-megap memanggul sebuah karung beras putih ukuran lima puluh kilogram di pundak kanannya.
Karung itu tampak menggembung padat dan berat, dengan ikatan karet gelang yang sangat kencang di ujungnya.
"Selamat malam, Sahabat-sahabat Sukses Bersama,"
sapa Satria dengan senyum ramah yang sangat santai, seolah-olah dia baru saja menghadiri rapat pemegang saham internasional dengan daster.
"S-Satria?" Rendra melotot, hampir tersedak jus jeruknya.
Matanya beralih dari jaket rombeng Satria ke karung beras yang ditaruh Nisa di atas lantai marmer dengan bunyi buk! yang cukup berat.
"Lu... lu bawa apa itu? Kok ke restoran bintang lima bawa-bawa sembako?"
Nisa langsung menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu berdiri tegap di samping Satria seperti pengawal pribadi yang kurang gizi.
"Ini bukan sembako, Mas."
"Ini adalah barang operasional logistik Boss Satria."
Satria langsung mengambil posisi duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelah Gita.
Gita mendadak tersenyum manis, menggeser kursi makannya agar lebih dekat dengan Satria.
"Satria! Akhirnya kamu dateng."
"Kamu kok kurusan banget sih?"
"Kamu pasti kurang ada yang merhatiin ya semenjak kita... ya kamu tahu lah."
Satria hanya tersenyum tipis, matanya melirik ponsel yang ditaruhnya di atas meja.
Layar holografis tak terlihat dari Sistem Total Reversal langsung berkedip.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Status Misi Reuni: Berjalan.
Sisa Waktu: 00:35:12
Peringatan: Pastikan cara pembayaran Anda benar-benar menghancurkan wibawa sosial dan membuat mereka merasa terhina secara finansial.
"Gak apa-apa, Git."
"Yang penting isi dompet saya gak ikut kurus," jawab Satria santai.
Dia kemudian menoleh ke arah Rendra.
"Ren, mana menunya? Kok makanannya dikit banget?"
"Pesan lagi dong yang paling mahal."
"Jangan tanggung-tanggung, malam ini semuanya gua yang bayar."
Mendengar kata "gua yang bayar", mata para alumni langsung berbinar-binar.
Sifat jilat mereka yang terpendam mendadak keluar ke permukaan tanpa saringan.
"Wah, gila! Satria beneran jadi Sultan!" seru Dimas bersemangat.
"Mbak! Mbak pelayan! Sini! Tambah lobster saus tiram lima porsi, kepiting Alaska tiga ekor, sama kaviar kalau ada!"
Dalam waktu singkat, meja marmer itu penuh dengan makanan mewah berskala royal.
Teman-teman lama yang selama dua bulan terakhir memblokir nomor WhatsApp Satria kini bergantian menuangkan air ke gelas Satria, menyodorkan tisu, bahkan ada yang menawarkan diri untuk memijat bahunya.
Satria menerima semua perlakuan palsu itu dengan senang hati, sembari sesekali menyuapkan udang galah ke mulut Nisa yang duduk diam di pojokan ruangan sambil tetap memeluk karung berasnya.
Satu jam berlalu, suasana foya-foya itu mencapai puncaknya.
Perut semua orang sudah membuncit kekenyangan.
Rendra berdeham, mencoba mencari muka.
"Sat, sebenarnya gua dari dulu tahu lu bakal sukses."
"Kelihatan dari aura muka lu yang cerdas."
"Ngomong-ngomong, bisnis lu bergerak di bidang apa sekarang?"
"Ada lowongan gak buat gua jadi manajer?"
"Bisnis gua? Oh, gua cuma bergerak di bidang pengosongan minimarket dan pengelolaan transportasi gratis,"
jawab Satria jujur.
Teman-temannya tertawa terbahak-bahak, menganggap itu hanya lelucon tingkat tinggi seorang miliarder eksentrik.
"Mbak, bil!" teriak Satria kemudian.
Waktu sistemnya tinggal sepuluh menit.
Seorang manajer restoran berkemeja hitam rapi datang membawa sebuah nampan kecil berisi map kulit hitam.
Dia membungkuk sopan kepada Satria, tampaknya sudah diberi tahu oleh pelayan luar bahwa pria bersandal jepit ini adalah pemilik mobil sport kuning di parkiran.
"Selamat malam, Bapak Satria."
"Ini total tagihan untuk ruang VIP malam ini, termasuk pesanan tambahan dari rekan-rekan Anda,"
ucap sang manajer dengan suara halus.
Rendra dan yang lainnya ikut mengintip kertas struk yang keluar dari map kulit tersebut.
Angka di bagian paling bawah membuat mereka menahan napas berjamaah.
TOTAL TAGIHAN: Rp 185.450.000,00
Seratus delapan puluh lima juta rupiah! Angka yang setara dengan harga satu unit mobil keluarga baru dihabiskan hanya dalam waktu dua jam untuk urusan perut.
Dimas langsung menelan ludah dengan susah payah, merasa agak bersalah karena tadi terlalu bersemangat memesan kepiting Alaska raksasa.
Mereka semua menatap Satria, menunggu pria itu mengeluarkan kartu kredit berlapis emas atau platina.
Namun, Satria justru menoleh ke arah Nisa.
"Nisa, buka logistiknya."
"Siap, Bos!"
Nisa dengan sigap menarik ikatan karet gelang pada karung beras di lantai. Dengan sekali sentakan, dia membalikkan karung beras itu ke atas meja marmer mewah, tepat di tengah-tengah sisa-sisa cangkang lobster dan kepiting.
BRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!
Ribuan, bahkan puluhan ribu lembar uang kertas pecahan dua ribu rupiah dan lima ribu rupiah yang masih baru, kaku, dan wangi minyak cetak bank tumpah ruah, longsor memenuhi seluruh permukaan meja marmer hingga menutupi piring-piring kotor.
Beberapa ikat uang bahkan meluncur jatuh ke pangkuan Rendra dan gaun malam Gita.
Ruang VIP itu mendadak sunyi senyap, seketika berubah atmosfernya menjadi seperti pasar grosir tanah abang saat menjelang Lebaran.
Manajer restoran membeku dengan mulut terbuka lebar, sementara para alumni melotot sampai matanya hampir keluar.
"Sat... Satria... ini apa?"
tanya Rendra dengan suara bergetar, memegang seikat uang pecahan dua ribu rupiah yang masih dibungkus kertas segel bank.
"Itu uang buat bayar makanannya, Ren,"
jawab Satria dengan wajah tanpa dosa yang sangat menyebalkan.
"Maaf ya, dompet saya lagi penuh sama recehan."
"Di karung itu totalnya ada seratus sembilan puluh juta rupiah. Pas kan?"
"Kembaliannya empat juta lima ratus lima puluh ribu ambil aja buat tips pelayan."
Satria berdiri dari kursinya, merapikan jaket bolongnya dengan gaya angkuh.
Dia menatap teman-temannya yang kini wajahnya memerah padam antara malu yang luar biasa, syok, dan merasa sangat terhina.
Membayar makanan mewah ratusan juta di restoran bintang lima menggunakan karung beras berisi uang dua ribuan adalah bentuk tamparan finansial yang paling merusak martabat sosial yang pernah ada.
Mereka baru sadar, Satria tidak sedang menjamu mereka, melainkan sedang mengemis harga diri mereka menggunakan uang receh yang melimpah.
"Manajer, tolong dihitung ya."
"Kalau kurang, asisten saya masih punya dua karung lagi di bagasi mobil,"
ucap Satria kepada manajer restoran yang kini mulai berkeringat dingin dan bingung bagaimana cara memasukkan uang sekarung itu ke dalam mesin kasir elektronik.
Tepat saat Satria melangkah menuju pintu keluar diikuti Nisa yang menyeret karung kosong, ponsel di sakunya bergetar riang.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Reuni: BERHASIL MUTLAK.
Evaluasi: Membayar tagihan bintang lima dengan uang receh sekarung beras berhasil meruntuhkan wibawa sosial Anda sekaligus menghancurkan kesehatan mental sisa alumni penjilat (Sangat Brilian).
Dana Kompensasi Dipertahankan.
Saldo Efektif Anda Saat Ini: Rp 2.464.550.270,00.
Catatan: Mantan pacar Anda sedang merencanakan pesan teks darurat. Abaikan atau buat dia membeli sesuatu yang konyol.
Satria tertawa lirih di koridor restoran, sementara Gita di dalam ruangan VIP masih menatap tumpukan uang dua ribuan di depannya dengan penyesalan terdalam seumur hidupnya.