NovelToon NovelToon
Elvan

Elvan

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:327.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fira Anjelita

"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.

"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.

"Gak akan!"

"Berani apa?"

"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.

"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

027

027

Nyaris

"Apa yang perlu gue tau?"

......

Setelah menutup telponnya dengan Elvan, Aleta menuju ke kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, terdengar gedoran pintu kamarnya yang begitu berisik.

Tok. Tok. Tok.

Tok Tok Tok

"Aleta! Buka pintunya!"

TOK TOK TOK

"ALETA!"

Mendengar ayahnya berteriak membuat Aleta berlari secepat mungkin menuju pintu. Jantungnya berdegup takut bila terjadi sesuatu.

Klek

Pintu kamar Aleta terbuka. Di depannya berdiri sosok ayah yang menemaninya selama 17 tahun ini. Wajahnya begitu garang menatap Aleta dengan napas memburu.

"Ada apa ayah?" tanya Aleta sedikit menundukkan kepalanya. Takut. Itulah yang Aleta rasakan.

Herman menatap putrinya tajam. Pria yang tampak masih mengenakan baju kantornya itu sungguh kesal dengan gadis di depannya.

"Hukuman dari ayah sudah selesai lama bukan?" tanya Herman yang diangguki Aleta pelan.

"Tapi ayah heran," ucap Herman membuat Aleta mendongakkan kepalanya. Ayahnya heran kenapa?

"Selama ayah potong separuh uang sakumu, kamu baik-baik saja. Pulang naik apa kamu?"

Aleta meremas tangannya gugup. Haruskah dia jujur atau justru berbohong? Dia takut nila kejujuran justru membuat ayahnya marah, tapi berbohong pun akan menimbulkan masalah.

"Aleta pulang dengan Aksa ayah," katanya akhirnya, dia tidak sepenuhnya bohong. Dia memang terkadang pulang dengan Aksa, meski lebih hanyak diantar pulang oleh Elvan.

"Ayah dengar dari Bik Mah, kamu pernah diantar laki-laki, tapi bukan Aksa."

Aleta mengembuskan napas kesal. Lagi dan lagi ayahnya mengintrogasi Bik Mah. Kasihan wanita itu, pasti dia dibentak dan dipaksa berbicara oleh ayahnya.

"Itu teman Aksa."

Herman mengalihkan pandangannya sebentar sebelum mengatakan kalimat yang membuat Aleta semakin takut untuk jujur.

"Kalau sampai ayah tau dia pacar kamu. Habis kalian."

Setelah mengucapkan kalimatnya, Herman pergi begitu saja menuruni tangga menuju kamarnya di lantai 2.

Aleta menutup pintunya sedikit kasar. Badannya luruh seketika. Kenapa? Kenapa ayahnya sekeras ini? Salah apa Aleta sampai ayahnya menjadi seperti ini?

Aleta ingin masa remajanya seperti teman-temannyang lain. Lalu salahkah dia ingin merasakan yang namanya jatuh cinta? Pacaran?

"Ibu, sebenarnya apa salah Aleta?" gumamnya dengan air mata yang menetes begitu saja.

"Apa Aleta bukan anak ayah dan ibu?"

"Atau Aleta hanya pembawa sial bagi ayah?

Aleta menghirup napasnya dengan tangis yang mulai sesegukan.

"Dulu saat ibu ada Aleta selalu disayang ayah kan?"

"Tapi kenapa ... hiks ... kenapa sekarang ayah seperti ini?"

........

Pagi-pagi buta Elvan telah tiba di depan rumah Aleta. Cowok itu tak berani masuk ke dalam hanya untuk memanggil Aleta. Ia lebih memilih menelpon Aleta.

Pintu rumah Aleta terbuka menampakkan ayah Aleta yang masih menggunakan pakaian santai. Matanya memicing curiga ke arah Elvan.

Elvan yang mengetahui tatapan dari ayah Aleta harus menunduk gugup. Kenapa dia ditatap seperti itu? Apa mungkin penampilannya berantakan? Ah iya, dia memang suka berpenampilan seperti itu.

"Ayah, Aleta berangkat dulu," kata Aleta yang kini berdiri di samping Herman. Cewek itu pamit dengan perasaan dag dig dug, takut ayahnya bertanya yang iya-iya ke Elvan.

Herman menerima uluran tangan Aleta dan terpaksa mengubur pertanyaan di otaknya. "Hati-hati."

Aleta mendekati Elvan yang memberikan helmnya. Sepasang kekasih itu tidak ada yang bersuara sebelum mereka pergi dari sana.

"Ayah kamu galak ya?" ucap Elvan saat mereka sudah jauh dari pekarangan rumah Aleta.

"Ah enggak kok, cuma kalau di depan ayah ngaku aja temen Aleta ya?"

Elvan mengernyitkan dahinya. "Loh kenapa? Kan aku sebagai calon menantu yang baik harusnya berkata jujur."

Aleta mendorong kepala Elvan yang terlindung helm dengan keras.

"Aduh!"

"Makanya jangan ngaco kalau ngomong tuh."

Elvan terkekeh pelan. "Bener tauk, aku kan calon mantu ayah kamu."

"Udah ih, berhenti depan gerbang aja ya?" kata Aleta yang menyadari bahwa mereka hampir sampai.

"Iya," kata Elvan namun dengan seringai jail.

Perasaan Aleta sedikit kurang yakin dengan jawaban Elvan.

Tuh kan benar, nah kan ... cowok itu tetap mengegas motornya melewati gerbang tanpa menurunkan Aleta!

"Van! Ih, kok gak berhenti?" kesal Aleta memajukan bibirnya.

Cowok itu menghentikan motornya tepat di di parkiran. "Iya, ini berhenti," kata Elvan sambil terkekeh geli.

Aleta turun dengan lompatan, membuat Elvan sedikit oleng saat menahan motornya. "Ati-ati dong sayang!"

Bukannya menjawab, Aleta justru memberikan helmnya dengan kasar. "Nih!" katanya lalu pergi begitu saja meninggalkan Elvan yang masih terbegong.

"Lah, ngambek ternyata!" ucap Elvan heran lalu tertawa menyadari tingkah Aleta.

"Van?" panggil Megan dengan nada lirih.

"Kenapa?" tanya Elvan yang kini telah turun dari motor dan juga telah melepas helmnya.

"Lama kita gak jalan," kata cewek itu membuat Elvan mendengus malas.

"Kamu tau pacar aku bukan kamu aja. Dan kamu harus ngerti, prioritas aku sekarang Aleta!" tegas Elvan lalu mengusap wajahnya dengan kasar.

"Kenapa dia, Van? Aku sama dia duluan aku di samping kamu!"

"Bukan masalah siapa yang lebih dulu, tapi hati aku cocoknya sama dia," jawab Elvan dengan wajah dinginnya.

Megan terkekeh sinis, "Bukan karena taruhan turnamen? Oh .. atau gak rela karena Hendra-"

"CUKUP!" teriak Elvan muak. Dari mana Megan mengetahui semua itu? Siapa yang memberitahu cewek ini?

Megan sedikit terkejut mendengar bentakan Elvan, namun sedetik kemudian cewek itu tertawa mengejek. "Bener kan? Kayaknya Aleta perlu tau."

"Apa yang perlu gue tau?"

Deg. Suara Aleta berhasil membuat tubuh Elvan menegang sempurna. Jantungnya memompa lebih cepat. Sejak kapan Aleta di sana? Apa cewek itu mendengar apa yang Megan katakan?

Terdengar langkah kaki mendekat. Membuat jantung Elvan semakin meronta. "Apa yang perlu gue tau?" tanya Aleta sekali lagi.

Megan yang mengetahui Elvan sedang mati kutu tersenyum sinis. "Soal Elvan," kata Megan yang berhasil membuat Elvan melotot ke arahnya.

"Elvan kenapa?" tanya Aleta lagi. Walaupun Megan mulutnya comel, tapi Elvan bisa sedikit bernapas lega. Aleta tidak mendengar apa yang Megan ucapkan dari awal.

"Aku gak apa-apa. Jangan dengerin Megan."

Aleta menyatukan alisnya heran. "Yakin? Kamu gugup gitu."

"Ya, hanya masalah kemarin yang belum selesai," ucap Elvan ambigu.

Dasarnya Aleta tidak tau yang sebenarnya, jadi dia percaya-percaya saja. Cewek itu berpikir mungkin soal Elvan yang memutuskan hubungannya dengan Megan.

"Oh gitu ... ya udah ayok, Van. Aku ke sini mau ajak kamu ke ruang OSIS."

Elvan langsung mengangguk menyetujui daripada di sini, Elvan takut Megan berbicara yang iya-iya.

.......

Elvan mendegus malas memerhatikan Aleta dan Sindy yang sedang asik menyampaikan rencana pensi. Tau begini dia jemput Aleta lebih siang agar tak perlu ikut.

Elvan melirik sebelah kirinya, Ferel menguap sambil mengucek matanya yang masih memerah.

"Sumpah ya, gue ngantuk," gumam Ferel sambil menatap depan.

"Tidur," sahut Elvan malas lalu melirik sebelah kanannya. Di kanannya duduk Zen yang sibuk mencatat apa yang Elvan dan Sindy jelaskan.

"Oke, jadi segitu aja. Oh iya," ucapan Aleta terputus karena dirinya melirik Elvan dengan seringai manisnya. "Elvan bantu jaga keamanan ya?"

Elvan yang mendengar mendengus malas. Tau begini dia benar-benar tidak perlu ikut rapat. Cuma disuruh jaga acara pensi? Hih, waktu mereka kencan juga bisa diomongin.

"Fix ya, Zen udah ditulis?" tanya Aleta menatap Zen. Cowok keturunan Cina itu mengangguk sambil tersenyum membuat Elvan lagi-lagi berdecak malas.

"Oke, kita akhiri rapat ya. Udah jam 7. 30 juga. Masuk kelas ya guys, jangan bolos ..." kata Aleta sambil melirik Elvan yang kini mengernyit bingung.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsallam," sahut seluruh anggota OSIS plus Elvan.

"Kamu tu kenapa ajak aku sih!" omel Elvan saat mereka telah berjalan menuju koridor kelas sebelas. Namun omelannya hanya dianggap angin oleh Aleta.

"Ta ... aku tuh males tauk ikut kaya begituan. Mana cuma suruh jadi keamanan."

Aleta memutar bola matanya malas. Kenapa sih cowoknya sebawel ini? Perasaan dia terkenal cool.

"Terus maunya apa sayang? Mau jadi yang nyanyi?" Aleta menanggapi ucapan Elvan sekenanya. Tapi sayang, Elvan malah setuju dan mengangguk antusias.

"Boleh! Kita duet ya?"

Aleta menepuk jidatnya keras. "Van, tadi cuma bercanda."

Elvan malah mengacak-acak rambut Aleta dengan gemas. "Mau bercanda atau bukan, pokoknya aku mau duet sama kamu. Oiya, bilangin ke Zen ya?" kata Elvan begitu semangat. Dan akhirnya Aleta hanya mengangguk pasrah.

"Ta!" panggilan keras dari belakang mereka berhasil menghentikan keduanya yang sedang asik berbincang.

Aleta memutar badannya. Di belakang sana Gavin berdiri di dekat pintu toilet dengan senyum aneh. Iya aneh, cowok tengil itu biasanya kan tidak pernah tersenyum selebar itu kepadanya.

"Kenapa?"

Gavin mendekat tanpa memerdulikan Elvan yang telah melotot dengan mata yang hampir keluar.

Saat sampai di depan Aleta, Gavin memilih merenggut tubuh cewek itu ke dalam pelukannya sambil menyeringai kepada Elvan.

"Minggu depan Elvan sama yang lain ada turnamen voli sama anak Cempaka," bisik Gavin lalu melepas pelukannya dengan cepat.

"Maaf gue refleks," katanya menyengir lebar. Elvan yang melihatnya hanya mampu diam. Dia takut Gavin berbicara yang sebenarnya.

Gavin memilih melangkah hendak melewati Elvan, tapi saat keduanya sejajar, Gavin memilih berhenti. Cowok itu berkata dengan nada datar tanpa melihat Elvan.

"Sorry sengaja meluk Aleta."

Emosi Elvan seketika memuncak.

"GAVIN!" teriak Elvan marah.

Gavin sendiri memilih lari sambil tertawa ngakak. Ternyata Elvan cemburuan!

.........

1
shimaizha
lanjutt dong Thor.. nanggung in critanya
Dinda
Luar biasa
Nurmalasari
ku kira nyium ahahaha
Nur Hayati
aku mampir thor 🥰
Ipulgita Ipul
ipul
Muna Maulina Maulina Muna
lnjut dong thorrrt
Neno
tukang bw besi kuningan😂😂😂
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Agus Purnama
up up up up up up up
Agus Purnama
up upup up up
Nurwana
lnjut....
Elvandraa
mana lanjutanya
Tina Chu
like
Kirana
oke sipp
Naa
like
Naa
like
Biruuuu
Up terus thor.
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉
Biruuuu
Semangat
Biruuuu
Hadir thor
Biruuuu
😍
Maryati Subur
ayah nya kok jahat banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!