Rumah tangga yang kelihatan harmonis hanya topeng belaka.
Hutang orang tua yang menumpuk kepada mertua, membuat terjadinya perjodohan yang terpaksa dan membuat Jihan terpenjara oleh kekerasan bathin dan fisik.
Sakit hati yang dialami jihan, sampai melupakan apa arti cinta yang sesungguhnya.
Dari rasa nyaman saling bertukar cerita, membuat dua insan yang dimabuk asmara terjebak oleh cinta terlarang, sehingga membuat keduanya susah untuk berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhang zhing li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Cara Agar Semua Terungkap
...Warning : Banyak kata-kata toxic, harap bijak membaca...
Perasaan begitu trenyuh melihat keadaan Jihan yang begitu kacau. Tanpa henti dia terus saja menangis. Langkah sudah berlarian menuju ke dapur, untuk mencoba membuat segelas minuman hangat. Teh celup mungkin merupakan minuman yang tepat, untuk meredakan kekacauan yang diderita jihan sekarang.
"Minumlah ini!" suruhku sudah menyodorkan segelas teh.
Karena tergesa-gesa dan gugup, maka cangkir tanpa nampan maupun penutup lagi sudah tersuguhkan.
Pemberian diacuhkan. Jihan terus saja menangis. Wajah sudah kuusap kasar, sebab bingung mau membantu Jihan tapi tidak tahu caranya lagi sekarang.
"Ayo, minumlah sedikit saja. Semoga saja bisa menenangkan hatimu," suruhku lagi.
Tangan berusaha membantunya untuk minum, ketika cangkir teh sudah kuangkat. Mungkin akibat kecemasan akut, Jihan tidak bisa memegang cangkir sendiri.
Alhamdulillah, sedikit demi sedikit Jihan mau meneguk air gula yang berwarna merah ini. Walau masih sesegukan menangis, dia akhirnya mau meminumnya.
"Tenangkan dirimu sekarang! Kita akan menemukan jalan keluarnya. Tetaplah tenang, insyaallah aku akan terus membantu kamu," cakap berusaha membujuk agar Jihan mau berhenti menangis, dengan menepuk-nepuk pelan tangannya yang terus gemetaran.
"Iya, Satria. Terima kasih," jawabnya masih meneteskan airmata.
"Sekarang ikutlah diriku. Semoga kamu bisa lebih tenang lagi," ajakku mencoba masuk ke dalam kamar pribadi.
Jihan nurut saja apa yang kusuruh. Sesampainya dikamar langsung saja kuambil selimut tebal, agar bisa menghangatkan tubuhnya. Walau masih sesegukan tapi kelihatannya agak sedikit mereda menangis, mungkin dia sekarang sudah lelah ketika hampir beberapa jam terus bersedih.
Cukup lama juga menunggu untuk tertidur lelap. Beberapa kali tangannya terus kuusap-usap pelan agar dia tenang. Pilu, melihatnya yang kini hanya bisa menangis, meratapi nasibnya yang terus tersiksa.
Sekarang kutinggalkan dia begitu saja. Pasti dia begitu lelah hati dan pikiran, makanya sekarang tidak mau menganggunya dulu.
Gawai diatas meja makan langsung kuambil. Tadi baru ingin makan pagi menjelang siang. Baru beberapa suapan ada suara ketukan pintu, yang ternyata Jihan sedang butuh bantuanku.
Tut ... tut, gawai berusaha menghubungi nomor yang ingin kusemprot orangnya.
[Hemm, ada apa?]
[Dasar baj*ng*n, apa yang kau lakukan pada Jihan, hah?]
[Hahaha, kenapa kamu jadi repot dan rempong begitu, dasar aneh!]
Rasanya ingin kubogem saja mulutnya itu. Sudah menyakiti istri, masih bisa-bisanya tertawa tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
[Kau ini sudah gila, apa? Jihan itu istri kamu, kenapa kau menyakitinya terus. Apa kamu tidak takut hukuman penjara atau karma yang akan datang padamu?]
[Hahaha, Karma? Apa itu? Jangan banyak b*c*t kamu. Jihan istriku, kenapa kamu repot sekali. Mau kuapakan dia, ya terserah sama diriku 'lah. Salah sendiri kenapa mau jadi istri, yang jelas-jelas tidak ada cinta. Kalau bukan wanita bod*h, lalu apa namanya, hah? Dia telah membuat wanita yang aku cintai putus hubungan, jadi rasakan akibatnya jika sudah melukai hatiku duluan]
Keterangannya terdengar bikin emosi sampai pucuk urat kepala. Tangan mengepal kuat dengan gigi mulai bergemerutukan menahan geram dan amarah.
[Tapi kau tidak harus menyiksanya begitu. Dimana hatimu? Apakah sudah mati, hah?]
[Kamu itu sudah lama tau 'lah, kalau aku ini tidak punya hati, jadi jangan tanyakan lagi. Salahkan wanita bod*h itu, sebab telah memilih menjadi suaminya]
Plok ... plok, suara tepuk tangan terdengar memuakkan diseberang sana.
[Dasar orang gila]
[Hahahah. Wah ... wah, aku baru sadar kalau kamu sekarang jadi dewa penyelamatnya]
[Ooh, baru sadar ya? Ingatlah aku punya banyak bukti atas kelakuanmu yang kasar pada Jihan, jadi simpan senyuman palsu itu, agar beberapa hari ini kau bakalan nangis darah. Lihat saja]
Ancaman berusaha kuberikan, agar pikiran mas Bayu sedikit terbuka.
[Silahkan kalau kamu berani. Aku tidak takut, malahan Jihan akan jadi sasaran empuk kebuasanku terus, sebab dia wanita yang pantas dibuat mainan dan harus diberi pelajaran]
Aku hanya bisa mengelus dada sekarang, karena heran ada manusia yang kejam seperti mas Bayu. Ternyata dugaan meleset, karena sudah diancam bukannya takut malah menantang.
[Hah, dasar tak waras. Kau memang sudah tidak punya hati lagi, Bayu]
Akibat emosi sudah tidak hormat lagi memanggilnya.
[Hahaha, kenapa? Apa kau mulai ciut untuk menumbangkanku]
[Aku tidak akan pernah takut dan mau kalah darimu, cam kan itu?]
[Silahkan, akan aku tunggu tantanganmu itu]
Tangan kian mengepal kuat, saat suara Bayu sangat-sangat meremehkan sekali.
[Ok, tunggu saja. Kalaupun aku tidak bisa menumbangkanmu sekarang, tapi ingatkah hukum dunia itu akan berlaku, jadi cepatlah sadar maupun tobat agar karma yang tidak kau mengerti itu turun untukmu. Jihan akan aku lindungi dari pria kejam seperti kamu. Sampai kapanpun dia akan menjadi wanita dalam genggamanku dan selamanya tidak akan pernah kulepas, jadi ingatlah itu. Wassalam, bye ... bye]
Tut ... tut, gawai langsung kutekan off, sebab muak dan percuma saja berbicara sama manusia yang buta hatinya.
"Astagfirullah. Kenapa ada manusia seperti itu? Apakah mas Bayu benar-benar sudah mati hatinya, sampai-sampai sedikitpun tidak ada belas kasihan," Kesedihan hati yang langsung duduk dimeja makan.
Tangan merangkup wajah, kemudian mengusapnya kasar sebab heran sama sikap mas Bayu yang mati hati.
"Apa yang harus kulakukan sekarang, agar Jihan bisa lepas dari suami lakn*t itu? Hmm, semua bukti ada ditangan, maka aku akan terima tantangannya, dan semoga semua akan segera terbongkar atas kebusukannya yang terus menyiksa," rancau hati yang mantap.
Tut ... tut, gawai kembali melakukan panggilan, tapi kali ini berbeda orang mau berbicara.
[Hallo, selamat siang]
[Hallo, siang juga. Maaf, kalau saya sedang menganggu anda sekeluarga]
[Iya, tidak apa-apa. Kalau boleh tahu ini dengan siapa, ya?]
[Ini dengan Satria. Bapak masih ingat 'kan? Saya adalah keluarga dari pihak mas Bayu. Kita pernah bertemu waktu bapak sekeluarga sedang acara makan-makan dirumah Jihan, dan kebetulan waktu itu saya sedang ada disana untuk menumpang tinggal sebentar]
Semua harus terbongkar, maka aku harus mengadu semuanya pada orangtua Jihan. Semoga semuanya bisa berakhir. Untung saja gawai Jihan kutemukan didalam tasnya, yang sempat tertinggal didepan teras rumah tadi.
[Oh, ingat ... ingat. Bapak ingat sama kamu. Memangnya ada apa, ya? Kok kamu tahu nomor kami? Kayaknya penting sekali, sampai orang lain menghubungi kami]
[Saya tahu nomor bapak dari Jihan. Iya, ini penting sekali. Maafkan saya, sebab ingin mengabarkan berita buruk pada bapak sekeluarga]
[Astagfirullah, berita buruk apa itu?]
Suara beliau kaget dan terdengar cemas.
[Lebih baik bapak datang kerumah saya dulu, nanti semuanya akan saya ceritakan, sebab kalau kita berbicara di telepon tidak akan jelas dan puas, maka dari itu saya akan kirimkan alamatnya, dan bapak kalau bisa secepatnya datang kesini, karena keadaan Jihan sekarang kacau dan mungkin hanya keluarganyalah yang dia butuhkan sekarang]
[Ya Allah, ada apa ini nak, Satria? Baik ... baiklah, bapak dan ibu akan segera datang kesana. Kirim saja alamatnya sekarang]
[Iya, pak. Assalamualaikum]
[Iya, nak. Terima kasih. Wa'alaikumsalam]
Tut ... tut, sambungan sudah terputus.
"Ya Allah, akhirilah semua ini. Semoga
semuanya akan berlalu dan kedua orangtua Jihan bisa menyelesaikan ini semua, amin ... amin!" Doaku sudah menengadahkan tangan ke atas.
"Kamu patut dibela, Jihan. Aku tidak ingin kamu terus terluka begini. Semoga kamu akan mendapatkan kebahagiaan kembali seperti yang kamu inginkan. Semoga kamu akan segera bebas dari penyiksaan," guman hati terus berdoa sambil cemas menunggu kedua orangtua Jihan datang.
come on sattt selidiki kuyyy
hmmz bawa kabur jihan sat wkwkwk