NovelToon NovelToon
Jangan Salahkan Aku, Ibu

Jangan Salahkan Aku, Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Bullying dan Balas Dendam / Hamil di luar nikah / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Widhi Labonee

kisah nyata seorang anak baik hati yang dipaksa menjalani hidup diluar keinginannya, hingga merubah nya menjadi anak yang introvert dengan beribu luka hati bahkan dendam yang hanya bisa dia simpan dan rasakan sendirian...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widhi Labonee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Ibu Kandung ku?

Hari ini setelah melaksanakan upacara bendera seluruh siswa masuk kelas masing-masing. Tiwi baru saja duduk di bangkunya ketika namanya dipanggil untuk menghadap ke ruang Kepala Sekolah. Dengan hati penuh tanya Tiwi melangkah menuju ke bagian depan sekolah dimana kantor kepala sekolah berada. Dengan perlahan Tiwi mengetuk pintu ruangan itu dua kali. Terdengar suara menyuruhnya masuk.

“Selamat pagi Pak, saya Tiwi dari kelas 2Budaya, ijin masuk,” ucap Tiwi dengan sopan.

“Masuk dan duduk dulu Wi, coba lihat, apakah kamu kenal dengan pria muda ini?” Tanya pak Kepala Sekolah.

Tiwi menoleh, dia kaget karena ada mas Jaya, kakak nomer empatnya sedang duduk dan tersenyum padanya.

“Kenal Pak, dia namanya Mahmud Jaya, kakak saya nomor empat,” jawab Tiwi tegas.

“Hm, berarti benar ya, tidak bohong kan? Bukan pacarmu kan?” Tanya pak Kepala Sekolah dengan nada menggoda pada muridnya itu.

Tiwi menggeleng dengan keras.

“Bukan Pak, nama dia ada di Kartu Keluarga kami kok Pak. Dia benar-benar kakak saya Pak ..” jawab Tiwi.

Pak Kepala Sekolah tertawa kecil.

“Begini, kakakmu ini sudah menceritakan semua kisah hidupmu kepada saya, dan saya cukup bersimpati atas takdir yang sedang kamu jalani sejak kecil hingga saat ini kamu belum pernah bertemu ibu kandungmu. Kakakmu ini bilang jika saat ini ibumu datang dari pulau seberang, menempuh perjalanan darat dan laut selama hampir sepuluh hari hanya ingin bertemu denganmu. Kakakmu ingin mengajak kamu menemui beliau tanpa kedua orang tua mu disini tau. Saya memahami sifat orang tua angkatmu yang tidak pernah mengijinkan kamu bertemu ibu kandungmu itu, mungkin karena mereka takut kalau kamu akan memilih ikut beliau dan meninggalkan mereka yang telah membesarkan dirimu. Oleh karena itu, meskipun saya tidak suka berbohong, tapi dengan terpaksa saya mengijinkan kamu untuk ikut kakakmu ini ke Surabaya untuk bertemu ibu kandungmu Wi. Saya beri waktu kamu tiga hari. Kamis kamu sudah harus masuk sekolah seperti biasanya ya. Dan berjanjilah untuk pulang ke rumah orang tua angkatmu seperti biasa. Jangan kecewakan mereka. Bagaimana?” Pak Kepala Sekolah berkata kepada Tiwi dengan lembut.

Tiwi yang terkejut, sampai menutup mulutnya. Sebutir air mata jatuh di pipinya. Benarkah ini semua? Dia akan bertemu ibu kandungnya? Akhirnya, doanya dikabulkan oleh Allah SWT.

“Ba-baiklah Pak.. sa-saya berjanji. Dan saya juga sangat berterima kasih atas kesempatan dan ijin yang Bapak berikan kepada saya,” jawab Tiwi dengan gugup.

Kepala Sekolah mengusap lembut kepala muridnya ini. Hatinya trenyuh mendengar semua cerita hidup anak yng terlihat ringkih itu.

“Berangkatlah! Hati-hati dijalan. Salam buat ibumu ya ..” ujar sang Kepala Sekolah menyalami Tiwi dan Jaya.

Setelah mengucapkan terimakasih, kedua kakak beradik itu segera keluar dari ruangan itu.

“Tunggu sebentar ya Mas, aku akan ambil tas dulu di kelas,” Tiwi menyuruh sang kakak menunggu.

“Ayo aku antar, nanti jika guru kelasmu bertanya aku yang akan menjawab seperti pesan Bapak Kepala Sekolah tadi,” Jaya melangkah mengikuti Tiwi menuju kelasnya.

Dan seperti yang diperkirakan, guru kelas pun bertanya mengapa Tiwi ijin pulang, dengan sopan Jaya menjelaskan apa yang sudah dipesankan Pak Kepala Sekolah tadi, dan akhirnya Tiwi pun diijinkan. Bayu menatap kepergian gadis itu dengan penuh tanya. Tetapi dia tidak punya kesempatan bertanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sampai gadisnya masuk sekolah kembali.

—--------

Setelah sempat mampir ke asrama sebentar untuk ganti seragam, dan mengambil beberapa baju dan keperluan menginap, Tiwi pun mengikuti sang kakak naik Bus menuju Surabaya.

Sepanjang perjalanan dia hanya diam, memandangi jalanan yang cukup ramai karena ini memang hari kerja, hari Senin lagi. Dua jam kemudian, sampailah mereka berdua di rumah sang kakak sulung yang tampak sepi itu.

Jaya dan Tiwi mengucap salam dan mengetuk pintu depan rumah sang kakak perempuan, Rini.

Ceklek.

Pintu dibuka dari dalam, tampak seorang ibu yang berusia diatas Riyanti membuka pintu. Pandangan mereka bertemu. Setetes airmata meluncur di pipi tuanya. Tanpa banyak bicara dia langsung menarik Tiwi kedalam pelukannya.

“Dean …” panggilnya lirih, sembari mengusap kepala sang anak, menciumi kedua pipinya, dan kembali memeluknya erat-erat.

Tiwi terdiam.. Dean? Siapa itu?

“Loh Jay, katanya Minggu depan, kok sudah muncul sekarang? Eh, sama Tiwi toh ..” suara Rini membuyarkan suasana haru yang tengah melingkupi ketiga orang ini.

“Iya, kalau Minggu depan ku nggak mungkin bisa menculik Tiwi Mbak. Mumpung Bapak sedang balik ke kota M. Ibuk Riyanti nggak mungkin kan memeriksa Tiwi ke asrama. Aku bilang aja sudah kangen Ibu Rosalina, ya akhirnya diijinkan. Langsung aku ke sekolah Tiwi, minta ijin ke gurunya dan taraaaa… inilah dia sudah disini,” terang Jaya panjang lebar.

Rosalina masih memeluk Tiwi erat dan mengajaknya duduk di sofa. Tangannya menggenggam erat jemari gadis muda yang terasa dingin itu.

“ Dean, nama aslimu adalah Dean Lavani. Tapi oleh ibumu diganti Tiwi Rastuti kan?” Tanya wanita yang wajahnya adalah fotokopian dirinya itu. Eh, terbalik… dia yang mirip sekali dengan sang ibu kandung.

“Mengapa diam saja, katakanlah biar cuma satu kata? Ibu juga ingin mendengar suaramu Nak…” kembali dia memeluk Tiwi dengan lembut.

“I-ibu….” Ucap Tiwi lirih.

Wanita itu mendongak, lalu tersenyum,

“Iya… ini ibumu Nak … terimakasih telah mau memanggil ibu padaku…” ujarnya pelan.

Rini dan Jaya berpelukan, kedua kakak adik itupun ikut larut dalam keharuan. Mereka memahami perasaan sang ibu yang sudah terpisah dengan Tiwi sejak bayi itu berusia dua bulan.

—--------

Mereka sudah selesai makan malam, dan sedang berkumpul diruang keluarga, Agus suami Rini juga sudah pulang dari kerja. Kelima orang itu bercengkrama bersama, bercerita mengenai masa lalu. Tiwi pun bertanya, diantara kelima saudaranya mengapa dia yang dikasihkan orang lain?

Lalu mengalir lah cerita masa lalu itu….

#flashback on

Rosalina masih menyusui bayi yang baru dilahirkannya dua bulan lalu. Ismawan yang baru datang itu sedang marah. Seluruh usahanya bangkrut. Dan itu semenjak sang istri hamil anak kelimanya itu.

“Dasar anak pembawa sial! Gara-gara kamu ada semua jadi hilang! Usahaku bangkrut! Hutangku banyak! Aku benci kamu!” Teriak Ismawan menuding bayi yang tak berdosa itu.

“Kak! Apa yang kak Is katakan itu nyandak benar! Dorang bukang pembawa sial Kak.. ini Kakak pe anak loh!” Bantah istri nya yang malah membuatnya semakin naik pitam.

Dengan kasar diambilnya bayi merah itu dan dipegangnya dengan satu tangan diatas sumur, kepala bayi itu berada dibawah. Rosalin menjerit keras, sementara bayi itu menangis keras-keras. Semua anak berteriak minta tolong. Bu Mirah yang mendengar dari rumah sebelah segera berlari mendekati. Melihat bayi tak berdosa yang akan dibuang di sumur itu, dengan keberanian dan bekas, Bu Mirah merebutnya dari tangan Ismawan.

Plakkk!!!!

Sebuah tamparan keras dilayangkan wanita paruh baya itu pada Ismawan.

“Kalau kamu tidak mau mempunyai anak dia, jangan kamu buang ke sumur begini. Biarkan aku yang akan memeliharanya. Mulai detik ini dia bukan lagi anak kalian! Tapi dia cucuku! Aku yang akan merawat dan membesarkannya dengan tanganku! Kalian tidak usah ikut campur!”

Dengan sigap Bu Mirah membawa bayi yang masih terisak itu pulang ke rumahnya. Ismawan yang masih emosi segera masuk kerumah mengambil beberapa baju dan keluar pergi dari rumah yang mereka sewa dari Bu Mirah ini.

“Kak! Jangan pergi! Bagaimana nasibku dan anak-anak nanti? Kaaaakk…!” Teriak Rosalina memanggil suaminya yng terus melangkah tanpa menoleh lagi itu.

Rosalina menangis, badannya jatuh ketanah. Rini yang sudah kelas lima SD, Adi kelas tiga SD, Evi yang belum sekolah dan Jaya yang masih berumur tiga tahun, mengerumuni sang ibu. Ikut menangis tanpa tau harus berbuat apa. Rosalina tidak tau lagi bagaimana masa depannya jika sang suami pergi meninggalkannya dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil ini.

Sampai datanglah Riyanti menenangkannya, merangkulnya, dan mengajaknya duduk di bangku yang ada di ruangan itu.

“Sudah, biarkan saja dia pergi. Kalau masalah makannya anak-anak, biar untuk sementara makan jadi satu saja di rumah sebelah ya Mbak…kamu tenangkan dirimu dulu. Kasian anak-anak jadi ikutan nangis semuanya..” ujar Riyanti yang menggendong Evi yang terisak-isak itu.

Rosalina pun menggendong Jaya, lalu mengangguk lemah pada Riyanti.

Sejak saat itu tidak ada kabar sama sekali dari Ismawan. Lelaki itu seperti menghilang ditelan bumi. Rosalina terpaksa mengirim surat kepada orang tuanya di pulau seberang. Jaman dahulu, menunggu jawaban surat bisa sampai satu bulan lamanya. Dan ketika dia mendapat balasan sekaligus kiriman wesel berisi ing untuk membeli tiket kapal laut untuk mereka pulang ke kampung halamannya. Akhirnya Rosalina dibantu oleh kakak beda ibu yang tinggal di Surabaya yang suaminya berdinas sebagai TNI itu untuk mendapatkan Tiket kapal Laut tujuan Palu.

“Apakah bayimu ini juga akan kamu bawa Ros?” tanya Bu Mirah yang sedang mendampingi ibu lima anak itu mempacking barang, sembari menggendong bayi bernama Dean itu.

“Apakah Ibu mau merawat dia dengan sepenuh hati Bu?” Tanya Rosalina kemudian, matanya berkaca-kaca, tapi membayangkan perjalanan sepuluh hari laut dan darat dengan empat anak dua diantaranya masih balita serta satu bayi, dan dia sendirian, sepertinya dia tidak akan mampu.

“Aku akan menjadikannya cucuku yang akan aku sayangi Dengan nyawaku Ros..” jawab bu Mirah sambil menatap bayi mungil itu penuh kasih sayang.

Rosalina menangis, dimintanya anak bungsunya itu untuk dia susui terakhir kali. Diciumnya bayi merah itu penuh kasih.

“Maafkan ibu ya Nak. Kelak jangan pernah salahkan siapapun, jadilah anak yang baik, dan sabar, ibu selalu mencintaimu, mendoakanmu dari jauh Nak. Kelak suatu hari nanti, ibu yakin kita akan berjumpa lagi.. maafkan ibu Nak…Dean Lavani tetaplah anak dari seorang Rosalina Lavani…” ucapnya lirih dengan air mata terus meluncur di pipi nya yang berkulit putih itu.

“Sebelum pergi, mari kita urus proses adopsi resmi saja Mbak, biarkan aku dan mas Fendi yang akan menjadi orang tuanya di akte kelahiran nya nanti..” ujar Riyanti mantab.

Rosalina pun dengan terpaksa menyetujui hal itu. Disamping agar anaknya ini mendapat pengakuan negara secara legal, dia pun berharap semoga keluarga ini akan merawat dan membesarkan anak bungsunya seperti anak kandung sendiri. Dan ia yakin jika kelak anak bungsunya itu akan mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak.

Bu Mirah memberikan nama Tiwi Rastuti, mengganti nama Dean Lavani agar menghapus jejak-jejak orang seberang pulau dan menjadikan Tiwi sebagai orang Jawa asli.

Selanjutnya Tiwi sudah tau seperti apa jalan hidupnya yang sangat berliku itu hingga dia bertemu sang Ibu kandung saat ini…

#flashback off

*********

1
Widhi Labonee
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!