Zeline Anindya adalah seorang pekerja hotel yang dijebak oleh salah satu teman kerjanya, membawa Zeline pada kejadian satu malam dengan Barata Adiwangsa yang membuat Zeline terhina dan terusir dari tanah kelahirannya.
"Kau akan menyesal, Tuan. Hidupmu akan hancur hingga harta kekayaan yang kau banggakan itu tidak akan berarti bagimu, Tuan," sumpah serapah Zeline kepada Bara yang telah menyakiti hatinya.
Bara berhenti sejenak dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zeline.
"Cih, bicaralah sesuka hatimu. Tinggal kita buktikan saja nanti. Kau atau saya yang akan hancur!" Bara pun berlalu dari kamar itu.
Dengan tekad yang kuat, Zeline beserta ketiga anak kembarnya yang genius akan bersaing hebat dengan Barata Adiwangsa untuk mengalahkannya.
Mampukan Zeline dan ketiga anak kembarnya mematahkan sosok Bara yang sangat dingin dan angkut serta ambisius itu?
Selamat membaca, semoga kalian terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengawasi
Sepulang dari kantor, Bara langsung naik ke atas menuju kamarnya. Tapi saat melewati kamar Jupiter, pintu kamar itu sedikit terbuka kemudian Bara mencoba untuk masuk ke dalam dan ternyata tak ada Jupiter maupun Starla di kamar itu, malah Bara melihat laptop milik Jupiter yang masih terbuka dan tergeletak di lantai.
Niat Bara ingin menutup laptop itu tapi tanpa sengaja tangan Bara menyentuh keyboard laptop tersebut, ternyata laptop itu belum dimatikan oleh Jupiter. Tiba-tiba sesuatu yang menarik terlihat jelas oleh penglihatan Bara di layar laptop itu.
Ternyata itu adalah program yang sedang dibuat oleh Jupiter. Bara begitu kagum dengan Jupiter yang begitu cerdas membuat program yang menurut Bara tidak semua orang bisa melakukannya seperti Jupiter.
"Wow, luar biasa. Belajar dari mana Jupiter hingga bisa menandingiku. Kode pemograman seperti ini begitu rumit dan cukup sulit tapi dia bisa menggunakannya dengan rapi. Sungguh seorang pogramer yang cerdas kamu, Piter!" gumam Bara dengan bangga memuji kecerdasan anak sulungnya yang genius.
Tanpa izin dari Jupiter, lalu Bara mencoba menjalankan program tersebut dan hasilnya sangat memuaskan bagi Bara. Dia sangat kagum dengan program yang telah dirancang oleh Jupiter.
"Wow keren!" ujar Bara.
Saat Bara masih menjalankan progam yang dibuat oleh Jupiter tiba-tiba saja Jupiter masuk ke dalam kamarnya.
Ceklek
Jupiter masuk ke kamarnya dan melihat Bara sedang berada di depan laptopnya. Jupiter malah berpikir jika Bara telah mengotak-atik program yang dia buat.
"Papa!" sapa Jupiter.
Bara terkejut saat mendengar Jupiter memanggilnya lalu dengan cepat Bara menutup program yang telah dijalankannya itu.
"Eh, Piter kamu...," ucap Bara yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Papa ngapain di kamar Piter dan pegang-pegang laptop Piter?" tanya Piter memotong ucapan Bara.
"Emm ... Papa hanya...," lagi-lagi ucapan Bara dipotong oleh Jupiter.
"Papa sedang mengotak-atik kode pemograman yang Jupiter buat ya?" tuduh Jupiter tanpa mengecek laptopnya terlebih dulu.
"Nggak kok, Papa hanya menjalankan program yang kamu buat saja, sayang!" jelas Bara.
"Papa bohong, pasti Papa sudah mengcopy kode pogram dari laptop Piter, iya kan?" tuduh Jupiter kembali pada Bara.
"Nggak Piter, Papa nggak akan melakukan itu. Periksa saja kalau kamu nggak percaya, nih!!" Bara menyerahkan tas miliknya pada Jupiter.
Jupiter hanya melihat tas yang ada di depannya itu, dia tidak ingin menyentuh atau mengambil tas Bara, karena Jupiter masih takut dengan sifat Bara yang mungkin akan melarangnya pada sesuatu yang lain.
"Pokoknya Papa nggak boleh sembarangan masuk kamar Piter dan menyentuh barang-barang Piter di kamar ini," ujar Piter dengan muka kesalnya.
Tiba-tiba Zeline masuk ke kamar Jupiter saat mendengar keributan dari kamar tersebut.
"Ada apa ini, kenapa ribut-ribut?" tanya Zeline penasaran.
"Papa curang, Ma. Papa sudah lancang menjalankan program yang Piter buat tanpa izin Piter," ujar Jupiter mengaduh pada Zeline.
"Ok, ok ... Papa minta maaf dan Papa janji nggak akan sembarangan lagi menyentuh barang milik kamu. Sudah jelas sekarang, bukan?" Bara terpaksa mengalah pada Jupiter yang masih anak-anak.
"Papa sudah minta maaf sama kamu, jadi sekarang jangan marah lagi ya, sayang!" bujuk Zeline pada Jupiter yang wajahnya menampakkan kekesalannya.
Jupiter mengangguk paham pada bujukan mamanya. Jupiter paling dekat dan sayang pada Zeline sehingga bujuk rayu mamanya lah membuat Jupiter luluh. Sedangkan Bara hanya menggeleng dengan heran melihat Jupiter begitu luluh pada Zeline.
"Hei, Zeline buatkan aku kopi dan taruh di atas meja di kamar. Kopi yang seperti biasa. Aku akan mandi terlebih dulu," pinta Bara yang memulai aksinya pada Zeline.
"Iya, aku tahu!" dijawab Zeline dengan datar.
"Ingat, kopinya jangan terla...," ucap Bara memperingatkan Zeline tetapi ucapan Bara sudah sangat dipahami oleh Zeline sehingga ucapan Bara di potong oleh Zeline.
"Jangan terlalu panas dan dingin, benarkan? Aku sudah tahu itu!" ujar Zeline ketus.
"Baguslah kalau begitu," Bara pun berjalan keluar menuju kamarnya.
Keesokan harinya di hari minggu pukul 14.00, Intan datang menemui Zeline dan si kembar di kediaman Adiwangsa. Intan sangat merindukan sahabatnya itu karena telah lama tidak bertemu. Tak hanya itu, tujuan Intan datang menemui Zeline adalah ingin memberikan kabar penting, entah kabar bahagia atau kabar buruk bagi Zeline, yang pasti Intan sudah menyampaikan amanah dari orang yang menitipkan salam pada Zeline.
"Oh ya, Zeline ada salam tuh dari kakak kamu, dia kangen banget sama kamu. Dan dia bilang mau pulang ke Jakarta sekitar satu atau dua minggu lagi dia datang. Dan dia ingin ketemu sama kamu, jadi tolong temui dia nanti," ucap Intan menyampaikan salam pada Zeline dan memintanya untuk menemui seseorang yang merindukan Zeline.
"Sssttt ... pelankan suaramu, Intan. Ada Bara yang sedang mengawasi kita. Aku nggak mau sampai Bara tahu tentang masalah ini," bisik Zeline memperingatkan Intan sembari melirik ke arah Bara yang sedang duduk tak jauh dari Zeline dan Intan.
"Duh, aku jadi nggak nyaman bicara sama kamu di sini. Ngobrol gini saja harus diawasi oleh si mata-mata Bara, huh!" kesal Intan menatap Bara tajam.
"Aku nggak janji ya untuk ketemu dengan kakak, sebenarnya juga aku sangat merindukannya. Tapi mau gimana lagi, kamu tahu sendiri kan sekarang aku sudah menjadi istri Bara dan aku harus meminta izin padanya dulu, itu pun jika Bara mengizinkan," ucap Zeline sedikit kecewa. Entah bagaimana dia akan meminta izin pada suaminya yang dingin dan angkuh itu.
"Ya sudahlah, yang penting aku sudah menyampaikan salam kakak padamu. Aku akan mengabari kamu lagi nanti. Sekarang aku harus pulang, karena aku benar-benar nggak nyaman sama suami kamu itu yang sedari tadi mengawasi kita," kata Intan benar-benar kesal.
Zeline mengantar kepulangan Intan sampai depan halaman rumah, dan tak lupa Intan berpamitan dengan Jupiter dan Starla yang kebetulan mereka bermain di teras depan rumah.
"Piter, Starla ... tante pulang ya, sayang!" ucap Intan memeluk Jupiter dan Starla bergantian.
"Iya Tante, sering-sering main ke sini ya!" pinta Starla.
"Hati-hati ya Tante!" ucap King melambaikan tangannya saat Intan berjalan menjauhinya.
Setelah Intan pergi, Zeline pun masuk ke dalam rumah tetapi tiba-tiba Bara sudah berada tepat di hadapannya, menatap tajam Zeline penuh tanya.
"Apa yang kalian bicarakan tadi, sepertinya seru banget," tanya Bara penasaran dan sedikit menyindir.
"Bukan urusan kamu, lagian juga hanya urusan wanita," Zeline hendak berjalan menuju kamar tetapi saat itu Zeline mengingat sesuatu yang harus dia katakan pada Bara.
"Bara!" sapa Zeline.
"Hemm ... ada apa?"
"Dua minggu ke depan aku minta izin ke luar sama Intan, apa boleh?" tanya Zeline ragu-ragu meminta izin pada Bara.
"Tidak boleh, aku tidak mengizinkan kamu bebas berkeliaran di luar!" ucap Bara dingin dan berbalik berjalan meninggalkan Zeline.
"Ughhh ... menyebalkan!" kesal Zeline.
lanjutkan