Bahagia. Satu kata, sarat makna yang belum pernah dikecap oleh seorang Anastasya. Berkubang dalam lara, hingga gadis itu lupa akan arti bahagia.
Kisah ini bagian dari Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Kacang Lupa Kulit
Gurat wajah lelah tergambar jelas di wajah gadis cantik bernama Anastasya. Baik Inces juga Maya sudah memilih pamit kerumah masing-masing. Hingga gadis itu juga Rangga kembali melanjutkan langkah menunju apartemen masing-masing yang posisinya berdekatan.
"Tasya, jika sewaktu-waktu aku mengundangmu untuk makan malam, apa kau bersedia?" tanya Rangga seraya menatap gadis di sampingnya. Posisi keduanya berjalan beriringan. Sesekali terlihat saling melempar pandang guna mengusir rasa gugup yang menjalar.
"Makan malam, tuan?"
"Ya." Rangga faham, jika ini terbilang dini bagi Anastasya untuk memahami arti pendekatan yang selama ini ia lakukan. Seperti saat ini, lorong apartemen menjadi salah satu sarana bagi Rangga untuk berbincang dengan Anastasya lebih dekat. Sebenarnya jarak yang mereka tempuh hingga depan pintu apartemen masing-masih tak terlalu jauh, akan tetapi baik Rangga atau pun Anastasya tampak mengulur langkah, untuk tak segera sampai di tempat.
"Kapan?"
"Entahlah, mungkin lusa."
Gadis itu hanya mengangguk samar.
Melihat sang gadis hanya terdiam, Rangga kembali memutar otak berusaha mencari topik pembicaraan.
"Bukankah kau mendapat hadiah satu unit rumah, lalu apa kau tak berniat untuk menempatinya?"
Anastasya terdiam sejenak. Gadis nampaknya tengah berfikir sementara sepasang kaki jenjangnya tetap melangkah.
"Sepertinya saya harus bicara dengan Kak Sarah lebih dulu sebelum menempatinya."
Rangga mengernyit. Mungkin yang dimaksud Anastasya adalah seseorang yang sudah memberinya tumpangan selama ini.
"Apa hubungan kalian begitu dekat hingga seseorang itu membawamu untuk tinggal bersamanya?" Rangga mulai penasaran.
Gadis itu tersenyum tipis, namun raut wajahnya menyimpan ketidaknyamanan.
"Yang pasti, beliau adalah orang baik yang sudi menampung saya untuk tinggal di huniannya yang nyaman, tuan." Rasanya kurang etis jika Anastasya memaparkan hubungannya dengan Sarah pada seseorang yang baru saja dikenal.
"Maaf jika aku salah bicara. Sepatutnya memang aku tak perlu menanyakan hal semacam itu kepadamu," sesal Rangga.
Keduanya kini saling diam dan hanya terdengar langkah kaki bersahutan hingga keduanya terpisah menuju kediaman masing-masing.
*****
Anastasya menghela nafas lega. Selepas berakhirnya kontes, bukan berarti berakhir pula tanggung jawab yang dipikul, akan tetapi justru kian berat. Satu tahun hubungan kontrak yang dijalin dengan Wiratama Management juga beberapa perusahaan lain, pasti akan menyita banyak waktu juga tenaganya.
Bukannya ini yang ia harapkan? Ah benarkah? Bahkan Anastasya pun ragu jika semua berjalan atas keinginannya atau mungkin tidak.
"Ana, kau sudah pulang?" Suara Sarah seketika menyapa indra pendengaran sesaat setelah gadis itu membuka pintu apartemen.
"Iya, baru saja Kak," jawab Anastasya sembari mengulas senyum kearah lawan bicaranya.
"Selamat ya." Sarah mengulurkan tangan yang seketika disambut hangat oleh Anastasya. "Aku kagum dengan bakat yang kau miliki," sambung Sarah.
"Terimakasih. Jika bukan karna kakak, aku tak akan mungkin sampai ke titik ini." Terselip haru disetiap ucapan gadis cantik bersurai hitam legam itu. Apalah dirinya jika tanpa bantuan Sarah.
Sarah tersenyum tipis.
"Baguslah jika kau masih ingat, dan aku berharap kelak kau tak akan seperti kacang yang lupa pada kulitnya."
Glek.
Anastasya menelan saliva berat. Ucapan Sarah serasa menghunjam ulu hati. Apa maksud ucapan perempuan di hadapannya ini. Apakah Sarah tak benar-benar membantunya dengan tulus?
"Pasti, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan juga jasa Kak Sarah selama ini."
Sudut bibir Sarah terangkat. Perempuan itu tampak menyerigai tipis yang entah apa maksudnya.
"Duduklah," tunjuk Sarah pada sofa kosong yang letaknya bersebrangan dengan tempat duduknya.
Gadis itu tak menolak. Meski sejujurnya ia teramat lelah, tetapi ia pun akan mengambil keputusan untuk meninggalkan apartem Sarah dan tinggal di kediamannya sendiri.
"Kak, boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Katakanlah."
"Em, karna mendapatkan sebuah rumah, maka aku akan menempatinya dalam waktu dekat," ragu Anastasya menguvapnya. Jemarinya tampak memilin satu sama lain. Sarah memang baik, akan tetapi terasa ada jarak cukup jauh di antara keduanya yang membuat mereka cukup dekat.
"Kau meminta izin dariku?"
Gadis itu mengangguk kemudian bericap, "Jikak Kakak mengizinkan."
Sarah tergelak seketika.
"Hei bukankah itu rumah yang sudah menjadi hak milikmu, kenapa harus meminta izin padaku, kau ini sungguh lucu." Sarah tergelak, namun terlihat aneh di mata Anastasya. Bukankah ini sama sekali tak lucu? Kenapa Sarah justru terbahak.
"Pergilah, aku tak akan melarangmu. Hanya saja jika kapan pun aku butuh bantuanmu, maka kau harus datang dan aku tak ingin mendengar adanya penolakan."
Gadis itu mengangguk, meski pun dari hati terdalam cukup ragu meng_iyakan.
"Beristirahatlah, aku tahu kau lelah." Tanpa menunggu Anastasya, Sarah bangkit dari posisinya. Melangkahkan kaki dan menghilang di balik pintu kamar.
******
Ada yang aneh. Begitu kiranya fikir Anastasya.
Tubuhnya sudah kembali segar selepas air hangat menguyur seluruh tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat.
Ia gunakan setelah piyama berbahan satin yang cukup nyaman, kemudian merebahkan diri di atas ranjang untuk beristirahat.
Saat tengah sibuk berperang dengan fikirnya, ponsel yang tergeletak tak jauh dari jangkauan tampak bergetar. Diraihnya benda pipih tersebut, lamtas memeriksanya.
Lengkung tipis merah muda itu tampak mengulas sebuah senyuman mana kala pandangannya tertuju pada layar ponsel miliknya.
"Pesta? Benarkah tuan Rangga akan membawaku bersamanya kesebuah pesta?" Senang, namun juga ragu. Apakah pria itu bersungguh-sungguh, atau hanya bergurau.
Tak kunjung mendapat balasan, lagi ponselnya bergetar namun bukan suatu pesan melainkan panggilan. Tangan Anastasya seketika bergetar. Ragu untuk menjawab panggilan hingga getar pada benda pipih itu terhenti.
Gadis itu menghela nafas. Lega, namun kecewa.
Bagaimana ini.
Lagi, benda pipih itu bergetar.
Gadis itu cepat-cepat mengangkat pangillan sebelum teputus.
"Ya, tuan."
"....."
"Apa tuan yakin?."
"...."
"Baiklah, saya akan bersiap."
"....."
Panggilan terputus. Anastasya tak mampu menyimpan rona bajagia di wajah cantiknya.
Siap tidak siap, kau harus siap, Ana. Semangat."
Bersambung
tetap semangat utk terus berkarya 💪💪😍😍😍
ditunggu kelanjutan kisah mereka 😍😍😍
lanjut kak 🙏💖💖💖
semangat 💪💪
makasih up nya kak...tetep semangat 💪💪💪