Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Oleh-oleh
Setelah memastikan bahwa tidak ada kendala atau masalah di kantor selama lima hari, tepat di hari ke enam Agha berangkat ke kota Palermo (Sicily) karena udah dari dua hari yang lalu Agha di hubungi terus bahkan langsung di hubungi Mr. Marko, karena tugas Agha selesai di kantor langsung berangkat hari ini setelah itu Agha pergi cari oleh-oleh dan langsung balik Milan untuk membeli oleh-oleh di sana setelah itu baru pulang ke apartemen miliknya, tentunya selalu di temani oleh asistennya yaitu Luca.
"Wah, banyak banget makanan halal nya, kalau gini bakalan kalap mah." Ujar Agha sambil memilih makanan halal atas rekomendasi Luca.
"Luca, prendilo anche tu così pago io, non rifiutare e fai quello che vuoi." (Luca, kamu ambil saja, jangan menolak dan menurut saja).
"Va bene, Mr. Agha."
Setelah mengucapkan itu, Luca mengambil makanan dan minuman yang sekiranya masuk ke selera dirinya, kita balik ke Agha yang sedang mendorong troli yang hampir penuh makanan dan minuman dan matanya tertuju dengan store baju tak jauh dari store makanan dan minuman.
Saat tiba di kasir dan proses berbayar pun di mulai, karena banyak banget barang milik Agha dan setelah itu di lanjut milik Luca yang dikit dia mengambil, lumayan lama mereka menunggu sampai Agha di tawarkan duduk oleh Luca tapi Agha menjawab 'Saya gak selemah itu' kalau di terjemahkan ke Indonesia dan Agha meminta di satukan saja pembayarannya.
Kemudian mereka lanjut ke store baju dan kali ini Agha lumayan kalap juga sebab baju di sini kualitas nya bagus dan masuk ke seleranya, seperti biasa Agha tetap menyuruh asistennya untuk mengambil barang yang mereka suka. Lumayan lama mereka di mall sekitar 3 jam mereka di sana termasuk waktu untuk makan juga, setelah itu Agha meminta di antar ke apartemen nya dan di bantu Luca mengangkat barang bawaan milik Agha. Saat semua barang masuk ke apartemen, Agha menahan Luca dan langsung memberikan oleh-oleh dari Indonesia membuat Luca makin senang.
"Grazie mille Mr. Agha, Come al solito sei molto gentile, hai fatto la mia spesa e mi hai anche regalato dei souvenir, grazie ancora mr. Agha." (Terimakasih banyak Mr. Agha, seperti biasa anda sangat baik, udah belanjakan saya bahkan memberi saya oleh-oleh, sekali lagi terimakasih Mr. Agha).
"Sì, non esagerare con gli elogi, non mi piace." (Iya, udah jangan berlebihan kalau memuji, saya gak suka).
"Va bene, ma grazie ancora mille e me ne vado." (Baiklah, tapi tetap terimakasih banyak dan saya undur diri).
"Sì, fai attenzione." (Ya, hati-hati).
"SÌ Mr. Agha." (Ya Mr. Agha).
Saat Luca udah keluar dan sudah masuk kedalam lift, Agha masuk kedalam dan mulai memasukkan semua barang yang udah di belinya dari semalam dan hari ini, di susun dengan rapi agar muat dan menyusun kembali laptop, tab, dan charger serta beberapa berkas yang penting milik Mr. Marco kedalam tas ransel yang biasa di bawa Agha ketika bisnis trip.
Sudah siap dengan menyusun barang semua, Agha melihat jam di handphone nya menunjukkan waktu udah masuk sholat magrib, setelah sholat Agha berniat tidur karena ngantuk tapi waktu saat ini gantung antara magrib dan isya tidak boleh tidur jadi Agha menelpon keluarganya di Indonesia.
"Assalamualaikum umah abah."
"Waalaikumsalam nak, kamu gimana disana?."
"Alhamdulillah baik bah, dan tenang sholat nya Erlan alhamdulillah gak tinggal bah."
"Alhamdulillah kalau gitu, gimana kerjaan kamu nak udah selesai?."
"Udah bah, besok Erlan pulang, abah sama umah sehat?."
"Alhamdulillah sehat nak, abah nih uring-uringan karena minta telpon kamu." Ujar umah membuat muka sewot abah keluar.
"Dih umah, yang uring-uringan itu kan umah, kenapa abah yang di salahkan, umah teh gak ngaku nak." Ucap Abah dengan logat Sunda, mungkin sudah kelamaan tinggal di Indonesia.
"Hahaha, lucu umah sama abah berdebat."
"Astaghfirullah kamu ini nak, orang tua berdebat malah senang kamu." Ucap umah.
"Gak gitu umah sayang, habisnya kalau umah mau telpon Erlan yah sok atuh telpon, bakalan Erlan angkat walaupun lagi meeting sekalipun." Jelas Agha yang malah ikutan pakai logat dan campuran bahasa Sunda kek abah tadi.
"Duh abah, umah gak harus daftar BCA lagi karena udah jadi prioritas Agha." Ujar umah yang mulai masuk ke candaan ibu-ibu.
"Hahahaha." Gelak tawa abah dan Agha kompak.
"Umah bisa aja, tapi kan umah juga jadi prioritas nya abah atuh, ya kan bah."
"Bener tuh, kalau gak beh habis sudah abah sama umah."
"Hahaha canda sayang, jangan ngambek." Lanjut abah langsung melihat wajah cemberut istrinya dan mencium pipinya.
"Hahaha, umah jangan ngambek Erlan udah belikan oleh-oleh banyak banget."
"Hah, tapi gak melebihi kiloan bagasi kamu kan nak."
"Aman umah, umah lupa Erlan pulangnya pakai jet pribadi, jadi tenang aja. Erlan juga beli baju untuk kita semua tau."
"Wah mantap tuh, tenang aja pas kamu sampai di bandara mbak ada di sana." Ucap mbak Aqila yang tiba-tiba nimbrung.
"Astaghfirullah mbak, kalau masuk telpon mah ucap salam, ini teh malah nyelonong." Ucap Agha sedikit terkejut, sebab tadi dirinya sibuk ngobrol sama umah abah tapi tiba-tiba masuk mbak Aqila.
"Abah yang tambahkan dek, biar mbak heboh." Ujar abah yang udah tau sifat anak perempuannya ini.
"Hahaha mantap abah, nanti kita sikat oleh-oleh Erlan." Ujar mbak Aqila yang dibalas acungan jempol oleh abah.
Obrolan terus berlanjut sampai tiba waktunya Agha untuk sholat isya dan setelah sholat Agha beneran langsung tidur, sungguh lelah sekali tubuh Agha dalam seminggu ini tanpa istirahat yang cukup karena mengejar waktunya yang sangat mepet menjelang hari pernikahan nya. Sebenarnya Agha bisa aja buat acaranya berjalan tanpa dirinya hadir di acara resepsi tapi itu sama aja seperti menggali kuburannya sendiri, dan Agha tidak mau itu makanya dirinya memaksa kerja terus karena nanti dirinya bakalan cuti sehari aja, itupun gak bisa di bilang sehari sih karna pas sore acara udah kelar.
Agha emang gak mau ambil cuti untuk liburan setelah menikah, kerena Agha nikah bukan dengan Alicia. Kalau pengantin wanitanya Alicia, maka dengan senang hati Agha mengambil cuti dua Minggu bahkan lebih, tapi ini kan bukan, jadi Agha malas berlama-lama ngambil cuti dan mengingat perintahnya ke Helmi untuk tidak mengubah jadwalnya.
Tiba saatnya hari ini Agha untuk pulang ke Indonesia, untuk ke bandara Agha di antar oleh Luca yang entah kapan dia membawa bingkisan lumayan banyak dan berat serta diserahkan ke Agha.
"Questo è un souvenir da parte mia, non è un granché, ma io e la mia famiglia ve lo offriamo con tutto il cuore. Per favore accettatelo e non rifiutatelo." (Ini oleh-oleh dari saya, emang gak seberapa tapi saya dan keluarga saya tulus memberikan ini ke anda, mohon di terima dan jangan ditolak Mr. Agha).
"Luca, perché tu e la tua famiglia vi date tanto da fare?." (Luca, kenapa kamu dan keluargamu repot-repot?).
"Nessun problema se sei tu Mr. Agha." (Tidak repot jika itu anda Mr. Agha).
"Ok, Luca grazie mille per i souvenir per te e la tua famiglia." (Baiklah, Luca terimakasih banyak atas oleh-oleh kamu dan keluarga).
"Fai attenzione lungo la strada Mr. Agha." (Hati-hati di jalan Mr. Agha).
"SÌ."
Kemudian Agha masuk kedalam pesawat, setelah itu Luca kembali lagi kekantor untuk bekerja. Didalam pesawat Agha menaruh dengan rapi bingkisan oleh-oleh dari Luca di atas tempat duduk pesawat, dalam perjalanan Agha memuaskan diri untuk tidur dan di bangunkan untuk makan setelah itu tidur lagi. Mungkin inilah momen dimana Agha bisa istirahat lebih banyak ketika di pesawat saat bisnis trip.