Rheyna Aurora adalah istri dari seorang pria yang cuek dan minim perhatian yang bernama Bagas Awangga.
Bagas bekerja sebagai Manager pada perusahaan milik sepupunya, Arlo Yudhistira adalah CEO perusahaan tersebut.
Arlo menaruh hati pada Rheyna sudah sejak lama….
Tak semudah itu hubungan Arlo dan Rheyna berjalan,karena Arlo adalah sepupu dari Bagas dan Arlo telah memiliki istri dan 2 orang putri…..
Akankah Rheyna ertahan dengan Bagas? Ataukah berpaling pada Arlo? Atau ada yang lain?
Selamat membaca dan selamat menikmati karya pertama saya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhecella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengakhiri
Sesampainya dirumah mama, waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari
“Masuk dulu mas, aku anter mama ke kamar dulu” aku mempersilahkan mas Arlo untuk masuk kerumah mama dan duduk di ruang tamu,
“Mbak Sari bisa tolong buatkan minuman buat mas Arlo? Sekalian tolong masakin mama sesuatu yang bisa buat mama makan ya mbak, kasian mama pasti belum makan dari tadi” aku meminta bantuan mbak Sari untuk membuatkan minum untuk mas Arlo dan makanan untuk mama
Aku mengantar kan mama ke kamar,
“Mama istirahat dulu ya ma, aku keruang tamu sebentar nanti aku temani mama lagi” pamitku pada mama dan hanya di jawab dengan anggukan kepala mama kemudian memeluk gulingnya membelakangi ku
“Mas terima kasih banyak sudah membantu kami, maaf hingga selarut ini bahkan mas masih disini membantuku, terima kasih sudah repot-repot membiayai semuanya, aku berhutang banyak sama mas” aku mengucapkan terima kasih atas semua bantuannya
“Sama-sama, tapi aku gak memberikanmu pinjaman apapun jadi jangan merasa berhutang padaku” jawabnya sembari tersenyum
“Kamu mau tinggal di sini terus atau masih mau kembali ke apartemen?” Tanya mas Arlo memastikan
“Sepertinya aku akan tinggal disini mas, kasihan mama gak ada yang temani”
“Ya sudah nanti biar aku suruh orang buat kirim barang-barangmu ya” kata mas Arlo sambil menyesap teh dalam cangkir
“Gak usah mas, sebentar lagi biar aku ambil sendiri aja” kataku menolak halus
“Aku antar sekalian aja, biar mobilmu pak Aman bawa ke apartemen aja jadi kamu bisa pulang naik mobilmu sendiri”
“Tapi mas….” Kataku menginterupsi
“Gak pakai tapi tapi, aku tunggu disini sampai kamu mau aku antar ke apartemen, ini sudah tengah malam Rhey” jawabnya memaksa
“Iya deh, tapi aku suapin mama sebentar ya mas” kataku akhirnya menyetujui
“Ok take your time” jawabnya sambil mengedipkan satu matanya genit dan hanya ku jawab dengan senyuman, kemudian berlalu masuk ke dalam untuk menyuapi mama
“Ayo dong ma makan dulu ya ma? Dikit aja ma” kataku membujuk mama
“Mama gak laper nak” jawab mama sendu
“Kalau mama gak makan nanti maagh nya kambuh ma” kataku mengingatkan
“Mama kangen papamu nak” jawab mama sambil berderai air mata
“Kalau mama seperti ini pasti papa juga sedih ma” kataku kembali membujuk dan mencoba menyodorkan sendok kedepan mulut mama dan hanya berhasil masuk beberapa suap saja dan kata mama sudah kenyang
“Ma, aku pergi sebentar ya, mau ambil baju-bajuku dan mbak Sari sebentar, mama istirahat ya” pamitku pada mama dan di jawab dengan anggukan mama
\~\~\~
Saat perjalanan menuju apartemen, aku hanya diam saja memandang lurus kedepan, memikirkan kesalahan-kesalahanku, memikirkan apa yang harus aku lakukan.
“Aku tadi tak melihat Bagas, apa kamu sudah menghubunginya?” Tanya mas Arlo memecahkan lamunanku
“Aku memblokir kontaknya, sudah tak mau berurusan lagi dengannya mas” jawabku sambil memandang mas Arlo yang terlihat tampan, kemudian aku buru-buru memalingkan pandanganku
“Tapi dia berhak tahu Rhey, bagaimanapun kalian masih suami istri” ia kembali berpendapat
“Kemarin sepulangku dari rumah mama, aku mampir ke supermarket dan mas tau siapa yang aku lihat?” Aku coba bertanya padanya “Bagas sedang berjalan dengan wanita itu, memeluk wanita itu erat, hal yang sudah lama tidak ia lakukan padaku. Untuk apa aku mempertahankannya” aku menjawab sendu menatap keluar jendela
Tangan itu membelai puncak kepalaku, “Bersabarlah dengan semua ujian ini” katanya memberiku kekuatan
“Jika kamu butuh bantuanku katakan saja, jangan sungkan ya” sambungnya
“Mas punya kenalan pengacara?” Kataku kemudian
“Untuk apa pengacara?” Tanyanya heran
“Untuk mengurus perceraianku dengan Bagas mas” jawabku
“Sudah yakin mau bercerai?” Tanyanya memastikan, dan langsung ku jawab dengan anggukan pasti
“Okay nanti biar aku bantu”
“Tapi mas, bisa gak kalau aku gak harus ketemu Bagas? Aku ingin segera berakhir tanpa harus menemui nya”
“Coba nanti aku bicara dulu dengan pengacara ya, gimana baiknya, soalnya aku gak tahu menahu soal perceraian, jika soal perusahaan aku pasti bisa jawab” katanya sembari tersenyum.
Sesampainya di parkiran apartemen aku segera turun, berjalan perlahan karena suasana yang sudah sangat sepi mengingat ini sudah pukul 02.00 malam, tiba-tiba mas Arlo memeluk pundakku,
“Apa seperti ini Bagas memeluk wanita itu?” Katanya kemudian tertawa
“Apa’an sih mas” kataku coba mengelak, tetapi langsung di tarik kembali oleh mas Arlo
“Tetaplah seperti ini, supaya kejadian tempo hari tak terulang kembali, jam segini biasanya beberapa orang baru pulang dari club” katanya, membuat aku membiarkan dia memeluk pundakku sementara
Setelah memasuki ruang apartemen aku langsung kekamar mbak Sari terlebih dahulu, membereskan barang-barang mbak Sari, kemudian beralih ke kamarku untuk mengemasi barang-barangku, 2 koper sudah siap di depan pintu kamar. Kemudian aku beralih ke dapur, hendak mengemasi sayur,buah dan ikan yang sudah aku beli kemarin. Saat melewati ruang TV aku melihat mas Arlo tengah tertidur dalam posisi duduk, aku membiarkannya dan berencana membangunkannya nanti saat aku telah selesai mengemasi semuanya.
Aku membuka frezer, mengambil ikan dan daging yang telah aku beli kemarin, memasukkannya dalam tas belanjaan, kemudian aku membuka pintu kulkas bawah, memasukkan semua sayur dan buah ke tas belanjaan, dan menutup kulkas dengan tas belanjaan yang aku letakkan sementara di lantai.
Aku membalikkan badanku, betapa terkejutnya aku saat mas Arlo ternyata sudah berdiri di hadapanku,
“Eh mas bikin kaget aja sih, aku kira lagi tidur” kataku sambil tertawa untuk mengusir kekagetanku dan jantungku yang berdegub kencang,
“Bagaimana aku bisa tidur jika kamu terus menggangguku” jawabnya sambil berjalan maju perlahan sehingga membuat aku ikut mundur dan menatap pintu kulkas
“Ha? Siapa yang mengganggu? Aku bahkan menata semuanya tak mengeluarkan suara” aku membela diri
“Senyummu, jutekmu, tangismu, wangimu, semua tentangmu menggangu pikiranku, menari dipikiranku” katanya sambil terus menatapku, menyandarkan tangan kirinya pada pintu kulkas
“Hahaha apa’an sih mas, yuk aku mau balik ke rumah mama, udah jam tiga nih kamu juga pasti sudah lelah kan mas” kataku mencoba mengalihkan pembicaraan dan pandangannya dengan menatap ke arah jam tanganku
“Tatap aku Rhey, jangan mengalihkan pembicaraan ini” katanya menarik daguku lembut dan kembali menatap kedalam mataku, seolah sedang menghipnotisku
“Bagaimana jika sebenarnya aku mencintaimu?” Pertanyaan yang membuat aku terkejut
“Jangan bercanda dengan perasaan, gak lucu tau” kataku sedikit mendorong tubuhnya, tetapi gagal karena dia malah menggenggam pergelangan tanganku, kembali menatapku tajam
“Akan aku buktikan” jawabnya pasti
“Gak per….” Belum selesai aku mengatakannya dia tiba-tiba menciumku, membuat aku terkejut dan kembali berusaha mendorongnya, namun usahaku sia-sia karena dia menangkap kedua tanganku dan mengangkatnya ke atas kepalaku, menguncinya di atas dan menyandar pada kulkas.
Bersambung…….
...Siapa nih yang berharap ada adegan 21+ nya? 😁...