Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.
Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.
Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prahara Kotak Kayu Hitam
Whhhuuuuuuutttt pllaaaaakkkkk...
Dhhaaaassssss dhhaaaassssss!!!
Seorang lelaki tua dengan janggut putih terengah-engah mengatur nafas sambil menatap tajam ke arah dua lelaki bertopeng tengkorak yang mengepungnya dari dua sisi yang berlawanan. Sisa darah di sudut mulut lelaki tua ini menandakan bahwa ia menderita luka dalam yang cukup serius. Di sudut pakaian nya yang berwarna putih selayaknya seorang pertapa terdapat bercak darah muntahan nya sendiri.
Di tangan kiri nya, sebuah kotak kayu berwarna hitam dengan ukiran yang indah terkunci rapat oleh palang kayu kecil yang ada di tengah-tengah. Sepertinya kotak kayu hitam ini adalah barang yang sangat berharga hingga lelaki tua itu mempertahankan nya sekuat tenaga.
"Serahkan kotak itu Mpu Tidu! Jika kau masih sayang dengan nyawa mu..!! ", ancam salah seorang lelaki bertopeng tengkorak emas itu sambil mengulurkan tangan nya ke arah lelaki tua berjanggut putih ini.
Phhuuuuuiiiiihhhhhh..!!
Lelaki tua itu malah meludah ke arah lelaki bertopeng tengkorak yang mengancam nya. Meskipun tidak mengenainya, tetapi jelas ia tidak akan menyerahkan kotak kayu hitam di tangannya begitu saja pada mereka.
"Jangan harap aku akan memberikan kotak kayu ini pada kalian, hei para perusuh!!
Jika benar-benar ingin mendapatkan nya, langkahi dulu mayat Resi Mpu Tidu ini! ", balas lelaki tua yang bernama Resi Mpu Tidu itu sambil memasang kuda-kuda ilmu beladiri nya.
" Tua bangka tak tahu diri..!!
Rupanya kau sudah bosan hidup hah..!! Aku ku hancurkan kesombongan mu itu!! ", balas lelaki bertopeng tengkorak emas itu sambil merentangkan kedua tangan nya.
Cahaya hijau kebiruan dengan hawa panas bergulung-gulung di lengan lelaki bertopeng tengkorak itu. Dengan sekuat tenaga ia menyentakkan tangan kanannya ke arah Resi Mpu Tidu dan cahaya hijau kebiruan berhawa panas di tangan kanannya langsung menerobos cepat ke arah Resi Mpu Tidu.
Whhhuuuuuuuummmmm!!!
Dengan sekali hentak ke tanah tempat ia berpijak, Resi Mpu Tidu melenting tinggi ke udara hingga cahaya hijau kebiruan itu langsung menghajar sebuah bangunan beratap daun alang-alang kering di belakang nya.
Bllaaaaarrrrrrrr..!!!!
Krettaaaakkk brruuuaaaakkk!!!
Bangunan kayu yang biasanya menjadi tempat peristirahatan para murid Padepokan Pesisir Selatan itu meledak dan hancur berantakan setelah terkena ilmu kedigdayaan si lelaki bertopeng tengkorak emas itu.
Melihat Resi Mpu Tidu berhasil lolos dari maut, si lelaki bertopeng tengkorak emas itu kembali memburunya. Bersama dengan lelaki bertopeng tengkorak lainnya yang terbuat dari perak, ia terus mengejar kemanapun Resi Mpu Tidu bergerak.
Sementara itu, keadaan sekitar tempat itu benar-benar porak-poranda. Tiga orang bertopeng tengkorak lainnya terus bertarung melawan para murid Padepokan Pesisir Selatan lainnya. Bisa dilihat bahwa dua dari tiga orang bertopeng ini adalah perempuan. Dua orang perempuan itu mengenakan topeng tengkorak dari kuningan sedangkan yang lelaki mengenakan topeng tengkorak dari perunggu.
Salah seorang murid Padepokan Pesisir Selatan yang sepertinya memang murid jagoan, Limbu Jati, bertarung dengan gagah berani. Dia mampu mengimbangi permainan silat salah seorang lelaki bertopeng tengkorak perunggu yang menyerbu ke Padepokan Pesisir Selatan. Bahkan berhasil menjatuhkan nya dengan tendangan kerasnya.
Melihat kawan mereka dijatuhkan, dua wanita bertopeng tengkorak kuningan itu langsung ikut mengeroyok ke arah Lembu Jati yang akhirnya membuat si murid jagoan Padepokan Pesisir Selatan itu harus dihajar habis-habisan oleh mereka bertiga.
Salah satu murid Padepokan Pesisir Selatan, Si Kundu yang berbadan sedikit gemuk dengan perut buncit yang merupakan murid paling penakut dari Padepokan Pesisir Selatan, diam-diam meninggalkan Padepokan Pesisir Selatan menuju ke arah timur, ke tempat sahabatnya berada.
Bllaaaaarrrrrrrr bllaaaaarrrrrrrr!!!
Dua ledakan keras kembali terdengar diikuti oleh robohnya pohon randu di belakang bekas tempat Resi Mpu Tidu berdiri. Melihat lagi-lagi lawannya bisa lolos dari serangan maut nya, lelaki bertopeng tengkorak emas itu langsung menoleh ke arah kawannya. Isyarat itu cukup membuat lelaki bertopeng tengkorak perak tahu bahwa rekannya membutuhkan bantuan nya.
Segera lelaki bertopeng tengkorak perak itu merentangkan kedua tangan nya dan lagi-lagi cahaya hijau kebiruan muncul dari tangannya. Sepertinya ia memang satu perguruan silat dengan lelaki bertopeng tengkorak emas yang lebih dulu mengejar Resi Mpu Tidu.
Si lelaki bertopeng tengkorak perak langsung melompat sambil menghantamkan tapak tangan nya ke arah Resi Mpu Tidu. Gumpalan cahaya hijau kebiruan berhawa panas darinya langsung menerabas cepat ke arah pimpinan Padepokan Pesisir Selatan itu.
Whhuuuutttttt...
Lagi-lagi dan lagi Resi Mpu Tidu menghindari serangan maut itu tetapi kali ini lelaki bertopeng tengkorak emas yang awal mengejar nya langsung memapak pergerakan Resi Mpu Tidu yang masih di udara.
"Mampus kau tua bangka!!
Chhiiiiyyyyyaaaaaaaaattttttt......! "
Whhhuuuuuuuummmmm....
Gelombang cahaya hijau kebiruan kembali menyerang ke arah Resi Mpu Tidu yang masih berada di udara. Tak mau mati konyol sia-sia, Resi Mpu Tidu dengan cepat merubah gerakan tubuh nya untuk menghindar dari sergapan maut ini. Saat itu lah, serangan berikutnya dari lelaki bertopeng tengkorak perak datang. Tentu saja ini membuat Resi Mpu Tidu gelagapan. Dia langsung memutarnya kedua telapak tangannya, menciptakan perisai pelindung dari tenaga dalam untuk menahan serangan dua ilmu kanuragan yang datang dari dua arah yang berlawanan.
BLLAAAAAAMMMMMMMM!!!
Oooouuuuuuwwwgghhhhhh!!!!
Tubuh Resi Mpu Tidu mencelat jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Lelaki tua itu langsung muntah darah segar saat mencoba untuk bangkit.
Lelaki bertopeng tengkorak emas yang awal menyerang Resi Mpu Tidu langsung memungut kotak kayu hitam yang tergeletak di tanah. Saat ia bersiap untuk menghabisi nyawa Resi Mpu Tidu yang luka dalam parah, lelaki bertopeng tengkorak perak langsung mencekal lengannya sambil menggelengkan kepala.
"Tidak perlu membunuh nya, Kakang!
Kita sudah mendapatkan apa yang kita cari. Lebih baik segera tinggalkan tempat ini", ujar lelaki bertopeng tengkorak perak itu yang membuat lelaki bertopeng tengkorak emas yang disebut dengan nama Kakang itu mendengus keras. Ia hanya sekilas menatap ke arah Resi Mpu Tidu yang masih tergeletak tak berdaya sebelum melesat cepat meninggalkan tempat itu. Keempat orang bertopeng tengkorak lainnya pun langsung mengikutinya, meninggalkan Padepokan Pesisir Selatan yang porak-poranda oleh ulah mereka.
Di bukit batu yang menjulang tinggi di tepi laut, tepatnya di sebuah gua kecil, seorang lelaki muda berusia sekitar 20 tahun sedang duduk bersila memejamkan mata. Kedua telapak tangannya menangkup di depan dada sebagai pertanda bahwa ia sedang bertapa.
Kulit pemuda ini terlihat kekuningan, berbeda dengan kebanyakan kulit murid murid Padepokan Pesisir Selatan lainnya yang sawo matang. Wajahnya tampan dengan bibir sedikit tebal dan alis mata yang indah. Sekilas saja melihat, pasti banyak perempuan yang akan jatuh hati pada pemuda ini.
Dia adalah Jenar Karana, murid Padepokan Pesisir Selatan yang juga merupakan murid kesayangan Resi Mpu Tidu. Dia diberi nama Jenar karena kulitnya yang kekuningan ini.
Sudah sembilan puluh hari lamanya, Jenar Karana bertapa di goa ini. 4 purnama yang lalu, Jenar Karana didatangi oleh seorang sosok misterius yang mengatakan bahwa ia akan menurunkan ilmu kanuragan nya pada Jenar jika ia mampu bertapa di goa ini selama tiga purnama penuh. Jenar Karana sudah mendapatkan ijin dari Resi Mpu Tidu hingga ia bertapa disitu.
"Jenar, bangunlah!! Tapa brata mu sudah selesai, waktunya kau mendapatkan apa yang pernah ku janjikan", demikian suara yang menggema di dalam goa kecil itu yang membuat Jenar Karana membuka mata.
Jenar Karana perlahan bangkit. Sekian lama tak bergerak membuat sendi sendi tubuhnya terasa kaku hingga ia perlu beradaptasi sebentar sebelum melangkah keluar dari dalam gua.
Di mulut gua kecil itu, seorang lelaki sepuh dengan jenggot putih panjang menjuntai hingga ke dada dengan pakaian selayaknya seorang pertapa, berdiri sambil memegang tongkat dan memandang ke arah barat. Ada sesuatu yang seperti nya sedang mengganggu ketenangan pikiran orang tua itu.
"Guru Maharesi Siwanata, apa yang sedang kau pikirkan?"
Pertanyaan Jenar Karana ini langsung membuat orang tua itu menghela nafas berat sebelum akhirnya berbicara sambil menunjuk ke arah Kundu yang sedang berlari menuju ke arah mereka,
"Ada masalah besar yang sedang menunggu mu.. "