Reno yang berniat meneruskan kuliah S2 di kota harus terpaksa menikahi anak saudara jauh dari ayahnya.
Reno terpaksa menikah karena wasiat ayahnya yang sudah meninggal.Rianti yang anak yatim piatu harus menuruti kemauan ibu Ningrum untuk menikahkannya dengan anaknya Reno.
Reno yang merasa tidak menginginkan pernikahan itu,selalu mengabaikan Rianti,dan tak pernah pulang ke rumahnya.
Ibu Ningrum yang mengetahui kelakuan anaknya sampai marah hingga membuat siasat agar Reno bisa tidur dengan Rianti.
Apakah yang di lakukan ibu Ningrum?
Bagaimana setelah Rianti mempunyai anak,apakah Reno berubah?
Yuk,kepoin ceritanya yah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.Curiga
Benar saja,Reno bangun pagi sekali.Dia sudah siap-siap untuk berangkat ke toko.Dia keluar dari kamarnya dan melihat Rianti sedang memasak di dapur membuat sarapan seperti biasa,hanya untuk dirinya.
Reno memandang Rianti yang membelakangi jika dia menghadap ke arah Reno.Dia ingat kata-kata Panji di pesan wathsap tadi malam.
Masih berdiri mematung di tempatnya,hingga Rianti sadar ada yang memperhatikannya sejak tadi.
Dia menoleh ke arah Reno yang masih menatapnya.Lalu tiba-tiba Reno bergegas pergi dari di mana dia berdiri menuju keluar.
Sempat ada rasa canggung di hati Reno,tapi lagi-lagi dia tepis.
Setelah di luar,dia tidak langsung naik ke mobilnya.Namun kembali lagi ke dalam rumah untuk mengambil baju-baju kotor yang sudah menumpuk di kamar.
Dia ambil dari keranjang kemudian dia masukkan ke dalam kantong kresek besar untuk di cuci di laundry di samping rumahnya.
Bergegas pergi tanpa melihat Rianti yang juga sudah siap untuk pergi ke toko roti.
Tapi langkah Rianti terhenti sejenak ketika tahu Reno masih ada di rumah.Dia ingin menunggu Reno berangkat lebih dulu setelah itu baru dia berangkat.
Namun mobil Reno belum juga keluar dari garasi,jam sudah menunjukkan pukul tujuh empat puluh lima.Artinya Rianti hanya punya waktu lima belas menit saat toko roti buka.
Biasanya dia akan menunggu sebelum tokonya buka,tapi kali ini mungkin dia terlambat.
Rianti mendesah gelisah,kenapa Reno belum juga berangkat.
Lalu dengan langkah hati-hati,Rianti terpaksa keluar.Sebelum melangkah lebih jauh,dia memastikan si mobil Reno tidak ada.Karena tadi sempat melihat Reno membawa kantong kresrk besar berisi pakaian kotornya.
Mungkin mas Reno ke laundry,gumam Rianti.Akhirnya dia memberanikan diri keluar dari pagar dan langsung menyeberang jalan menuju toko roti.Agak berlari Rianti berjalan karena memang waktu sudah menunjukkan pukul delapan.
Sedangkan Reno selepas dari laundry,dia balik lagi ke rumahnya.Sekilas dia melihat Rianti berjalan cepat ke arah toko roti.Reno heran,mau apa gadis itu ke toko roti?Apa dia membeli roti?Sepagi ini?
Akhirnya karena tak menemukan jawaban dan tak peduli Rianti mau kemana,dia langsung naik ke mobilnya lalu melajukan dengan kecepatan sedang.
Sempat heran,di ujung jalan dia seperti melihat motor Panji.Apa Panji ada keperluan di daerah kompleks rumahnya?Ah,mungkin itu kendaraan lain yang mirip dengan punya Panji.Pikirnya.Seolah tak peduli,dia langsung melajukan mobilnya.
Keadaan jalanan sudah mulai padat,tapi Reno tetap santai.Di lampu merah dia berhenti karena lampu merah menyala.
Sembari menunggu,Reno menyetel musik di radio mobilnya.Satu nyanyian jadul terputar di radio.
Judul lagu itu 'Lelah',di bawakan oleh penyanyi tahun delapan puluhan,Rafika Duri.Reno tidak mengenal siapa penyanyinya namun lagu sendu itu membuat Reno mengangguk-anggukan kepalanya dan mengetuk-ngetuk tangan di kemudinya.Seolah menghayati lagu itu.
Lirik lagu itu seperti sebuah gambaran kehidupan seseorang.
Reff,
*Lelah...lelah hati ini
Menggapai hatimu tak jua menyatu..
Lelah...lelah hati ini
Bagaimana kelak ku akan melangkah di sisimu*..
(Hayo,siapa yang tahu lagunya??)😊
_
_
Rianti yang sudah di toko masih merasa khawatir tentang tadi dia berangkat buru-buru.Karena dia sudah menyeberang jalan sempat menengok ke belakang,Reno sudah keluar dari laundry dan menatapnya heran.
Tapi Rianti tak peduli,dia terus jalan.Walau di hatinya ada rasa waswas.
Dan di depan toko,ada Panji yang menunggunya.Rianti malas untuk bertemu dengan Panji setelah acara makan di warung pecel itu.
Tak ada pilihan baginya selain mendekat ke arah Panji yang berdiri tepat di pintu toko.
Tangan kanan Panji membawa kantong besar,entah apa isinya.Sambil menunduk dan melihat kantong di tangannya,Panji masih diam.
Belum ada yang berani memulai menyapa,karena Rianti sibuk bermain dengan anaknya untuk mengalihkan pertemuannya dengan Panji.Sedangkan Panji masih kaku untuk memulainnya.
Satu sapaan Susan yang baru datang membuyarkan lamunan Panji dan Rianti yang menoleh ke arah Susan.
"Masuk pak Panji,maaf kami baru buka jadi belum merapikan di dalam."ucap Susan basa basi.Panji hanya tersenyum saja.
Rianti yang sudah siap untuk bekerja hendak masuk ke dalam,dia tidak peduli dengan Panji.
"Rianti."
Tapi suara Panji yang memanggilnya terpaksa menghentikan langkah Rianti.Rianti menoleh.
"Ada apa pak Panji?"jawab Rianti sembari mendesah pelan.
"Boleh kita ngobrol sebentar?"pinta Panji.
"Ini masih pagi pak Panji,waktunya kerja bukan ngobrol santai."ucap Rianti ketus.
"Hanya sebentar,setelah ini saya tidak akan ngajak kamu ngobrol lagi dan menemuimu lagi."ucap Panji memohon.
Lalu Rianti masuk ke dalam di susul dengan Panji.Rianti masuk ke ruang dapur yang di sebelahnya tempat menyusui yang biasa Rianti gunakan untuk menidurkan anaknya.Sedangkan Panji duduk di kursi pelanggan.Dan Susan menghampiri untuk menawarkan kue,tapi di tolak oleh Panji.
Lalu Susan kembali lagi ke dapur menghampiri Rianti yang sedang mendudukkan anaknya di karpet.
"Rianti,itu pak Panji mau ngajak ngobrol kamu lagi?"tanya Susan penasaran.
"Iya mba,tapi katanya ini yang terakhir.Aku juga ngga ngerti sama dia,padahal kan tahu aku sudah bersuami dan suamiku itu temannya juga."kata Rianti membetulkan tampat duduk anaknya.
"Mungkin ada yang penting kali."ucap bu Sri yang tiba-tiba ikut nimbrung dan mengambil alih Raka yang sedang duduk memainkan mainannya.
"Udah temuin sana."ucap bu Sri lagi.
"Tapi bu,ini kan jam kerja.Masa saya harus korupsi waktu kerja lagi."kata Rianti masih enggan untuk bertemu Panji.
"Ngga apa-apa,lagi pula belum ada yang harus di bersihkan.Dan katanya juga inikan yang terakhir.?"
"Iya."lemah Rianti menjawab.
Dia merasa tidak enak,selalu di repotkan oleh urusannya.Dan lagi-lagi bu Sri memberikan waktu untuk menyelesaikan urusannya itu.
"Ya sudah,sana temuin."kata bu Sri lagi.
Lalu Rianti menemui Panji dengan terpaksa karena dorongan dari ibu Sri dan Susan.
"Andai saja yang lebih perhatian itu suaminya."kata bu Sri menatap kepergian Rianti.
"Iya bu,saya merasa kasihan sama Rianti,juga pak Panji sepertinya suka sama Rianti."ucap Susan.
"Tapi sikap Rianti juga sebenarnya sudah tepat,dia sudah bersuami tidak baik berdekatan dengan laki-laki lain,apa lagi laki-laki itu teman suaminya.Bisa ada perang dunia ketiga nanti jika ketahuan"bu Sri menerawang ke depan.
"Kalau itu suaminya peduli sih bu,pasti ada perang dunia ketiga."kata Susan ikut menimpali.
Susan hanya memandangi kepergian Rianti,lalu dia pergi kembali bekerja.Sedang bu Sri sudah bermain dengan anak Rianti.
_
"Pak Panji mau ngomong apa?"tanya Rianti to the point masih dengan nada ketus.
'Tidak ada ramah-ramahnya.'ucap Panji dalam hati yang masih menatap Rianti.
"Saya hanya mau memastikan kamu,benarkah sudah menikah dengan Reno?Dan anakmu itu anaknya Reno juga?"tanya Panji to the point juga,karena dia pun tak mau berlama-lama berurusan dengan Rianti.
Rianti diam.Apa maksudnya pak Panji memastikan?'gumam Rianti.
"Rianti?"
"Kalau sudah tahu,kenapa harus tanya-tanya lagi?"
"Saya sahabat Reno sejak SMP dulu,jadi paling tidak saya harus mengingatkan Reno kalau tindakan dan sikap dia padamu itu tidak bagus.Maaf,jika saya.sedikit tahu cerita kamu dari temanmu Udin.Dan terlalu jauh mencampuri urusan kalian."Rianti mencerna ucapan Panji,lalu diam.
"Dan saya akan bantu kamu mendapatkan hakmu,maaf saya sejauh ini.Tapi sungguh,hati saya merasa kurang enak jika sahabat saya seperti itu.Saya akan bicara pada Reno."
"Jangan pak,sebaiknya tidak usah.Biar saya seperti ini."
"Reno itu perlu di ingatkan,jadi saya akan mengingatkan dia.Kamu jangan khawatir."
"Kenapa pak Panji mau membantu saya?"
"Karena saya merasa tidak enak sama kamu dan juga Reno adalah sahabat saya.Saya tidak mau dia terlalu lama dalam kesalahannya."ucap Panji,dia juga tidak ingin Reno masih mengejar perempuan yang bernama Nena.
Rianti masih diam,tidak seperti tadi ketus dan tidak bersahabat.
"Terima kasih atas bantuan pak Panji sebelumnya,tapi saya tidak berharap banyak dengan mas Reno akan berubah lebih baik."
"Kamu jangan putus asa,setiap orang itu pasti bisa berubah.Mungkin Reno berubahnya harus di ingatkan,ya walaupun mungkin akan susah.Tapi saya yakin dia pasti berubah."Rianti diam,mungkin benar kata Panji.
Mungkin dia saja yang terlalu takut dan tidak mau berusaha memperjuangkan haknya pada suaminya itu.
"Dan ini,bukan apa-apa.Hanya sekedar mengganti pampers anakmu."sambil menyerahkan kantong kresek pada Rianti.
Rianti menerima kantong itu.
"Terima kasih pak Panji."
_
_
_
*****(@@***@@)*****