Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
"Makasih, Kak Alvin."
Alvin langsung melajukan motornya menuju tempat parkir setelah menurunkan Michelle di dekat gerbang tanpa mengatakan apa pun. Cewek berkuncir kuda itu hanya bisa menghela napas saat Alvin mengabaikannya, bukankah sudah biasa? Mungkin Michelle saja yang belum terbiasa dengan sikap Alvin yang kini benar-benar dingin padanya.
Michelle berusaha menarik kedua ujung bibirnya, lalu melangkah melewati gerbang yang ramai lalu lalang siswa yang baru berangkat sekolah. Sikap Alvin tidak boleh merusak moodnya hari ini atau akan berdampak seharian.
"Michelle!"
Baru saja menikmati ketenangan karena udara pagi yang masih segar, suara melengking itu membuat Michelle reflek menutup kedua telinganya. Dari jauh pun sudah bisa dikenali siapa pemilik suara itu.
"Pagi, Michelle! Tadi lo bareng Kak Alvin, ya?"
Michelle menoleh, Meyra sudah berdiri di sampingnya, dua remaja itu berjalan beriringan menuju gedung sekolah.
"Iya."
"Kok bisa?!"
Untuk kedua kali, Michelle harus menutup telinganya sebagai upaya mencegah kebudekan dini karena suara menggelegar milik Meyra.
"Bisa nggak, nggak usah pakek teriak?" tanya Michelle kesal.
Meyra malah cengengesan. "Serius nanya nih, kok bisa? Nggak takut ketauan pacarnya Kak Alvin?"
Michelle menaikkan sebelah alisnya. "Kalau ketauan emang kenapa?"
Meyra melongo mendengar pertanyaan santai dari Michelle, seolah cewek itu tidak melakukan apa-apa, padahal jelas ia baru saja berangkat bersama pacar orang.
"Ini kenapa tangannya di jidat gue?" tanya Michelle saat Meyra menempelkan telapak tangannya ke dahi cewek itu.
"Lo sehat, kan?" tanya Meyra ragu.
Michelle menatapnya aneh, lalu menyingkirkan tangan Meyra dari dahinya. Cewek itu malah merangkul leher Meyra, mengajak teman sebangkunya itu kembali berjalan setelah sempat berhenti.
"Al, lo ngeri banget sih. Itu pacar Kakak kelas lo, Al!"
Michelle hanya tersenyum tanpa menjawab, terus berjalan dengan posisi lengan masih merangkul leher Meyra. Sementara Meyra bergidik ngeri, ia yakin kalau teman sebangkunya sejak minggu lalu ini memang sedang sakit.
Berbeda dengan yang dipikirkan Michelle. Alvin memang pacar dari Kakak kelasnya, tapi bagaimana pun Alvin adalah tunangannya--maksudnya, calon. Jadi Michelle tidak membuat kesalahan kan kalau berangkat bersama Alvin?
.
.
.
.
"Eh, si Alvin datang sama siapa tuh?"
Devis yang masih duduk di atas motornya langsung mengalihkan perhatian ke arah yang ditunjuk Azra, Arga yang bersandar di pilar tempat parkir juga langsung menegakkan posisi berdirinya.
"Bukan si Nara, kan?" tanya Arga dengan mata menyipit memastikan yang ia lihat tidak salah.
"Bukan lah! Sejak kapan si Nara ngewarnain rambut jadi hitam?" ujar Azra.
Devis yang merasa kenal dengan cewek bersurai hitam itu hanya memerhatikan saat Alvin menurunkannya di dekat gerbang dan pergi begitu saja.
"Mau taruhan nggak?" tanya Azra dengan senyuman menantang.
Arga yang merasa ditantang lantas mengangkat dagu menantang balik. "Ayok! Gue tebak Alvin nganterin itu cewek karena dia mohon-mohon biar bisa bareng sama Alvin," ujar cowok itu.
Azra menggeleng. "Itu cewek saudaranya Alvin."
"Heh! Lo nggak lihat tadi si Alvin nyuekin dia? Mana mungkin itu saudaranya tuh cowok!"
"Lo berdua kok malah ngomongin Alvin?" Lion yang sejak tadi menyimak kali ini ikut buka suara. "Nggak lihat temen kalian nih diem aja sambil lihatin apa," ujar cowok itu.
Azra dan Arga yang tidak mengerti hanya mengerutkan kening, sementara Lion langsung mengedikkan dagu pada Devis.
"Vis," panggil Azra membuat Devis menoleh.
"Mangsa baru, Vis?" tanya Arga dengan seringai jail sambil memainkan alisnya.
Azra menepuk pundak Devis. "Gue dukung aja lo mau deketin siapa pun, Vis, tapi bisa nggak sih yang nggak ada hubungannya sama Alvin? Nggak capek lo sejak SMP berurusan sama itu cowok terus?"
Devis melirik Azra yang langsung membuat cowok itu tutup mulut, sepertinya ia salah memilih kata-kata dan membuat Devis tersinggung.
"Di situ serunya," ujar Devis, bergerak turun dari motornya. "Ayo ke kelas."
Cowok itu melangkah meninggalkan tiga temannya di tempat parkir yang hanya diam memerhatikan kepergian Devis. Sudah bukan rahasia umum kalau Devis suka bergonta-ganti cewek dengan banyak tipe, mulai dari yang suka dandan sampai yang dingin setingkat Kayla, teman seangkatan mereka.