Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan CEO Cabe-Cabean
Reygan tidak membalas ucapan Shella. Pria itu justru mengalihkan pandangan tajamnya pada Nia yang sudah menggigil seperti kucing kehujanan.
"Nia, kamu kenal dengan ibu-ibu tidak tahu diri ini?" tanya nya tak habis pikir, kenapa bisa berjumpa wanita ini disini.
"D-Dia... Dia teman baru saya di bagian cuci piring di dapur, Pak. Hari ini baru mulai bekerja," jawab Nia terbata-bata, pasrah jika hari ini adalah hari terakhirnya melihat slip gaji.
Mendengar jabatan Shella, seringai kemenangan langsung terukir di wajah tampan Reygan. Pria itu mundur satu langkah, lalu bercekak pinggang dengan pongah. Aura kemenangan mutlak menguar dari tubuhnya.
"Wah, wah... ternyata takdir sebercanda ini," ujar Reygan tertawa sinis, menatap Shella dari atas ke bawah seolah wanita itu hanyalah sebutir debu di ujung sepatunya. "Jadi, sekarang kamu resmi jadi bawahan saya di kasta paling bawah? Dengar ya, kalau kamu tidak suka dengan pemilik tempat ini, silakan angkat kaki sekarang juga!"
"Pemilik?" ulang Shella, matanya berkedip bingung.
"Kenapa? Kaget, Babu?" tantang Reygan arogan. Ia sengaja memajukan wajahnya, membalas dendam atas rasa malu setengah mati yang ia rasakan tadi siang saat kakinya diinjak di depan umum. "Selain menjadi CEO di perusahaan besar, restoran mewah tempatmu mengais rezeki ini juga milik saya pribadi. Sekarang pilihan ada di tanganmu. Minta maaf dengan lantang dan tulus atas kejadian tadi siang, atau kamu saya depak malam ini juga tanpa pesangon!"
Shella sempat membeku. Gengsinya berteriak menolak, menyuruhnya untuk meludahi sepatu pria itu lagi lalu pergi.
'Awas saja ya kamu, Pak Reygan! Kalau aku sudah dapat panggilan kerja kantoran yang layak, aku bakal buat perhitungan sampai kamu sujud di kakiku!' jerit Shella berang dalam hati.
Namun, bayangan saldo ATM-nya yang mengenaskan langsung melintas di otak. Belum lagi tagihan Paylater dan uang sewa kontrakan bulan depan. Jika dia dipecat malam ini, fiks, dia akan menjadi gelandangan sungguhan besok pagi.
Melihat Reygan yang masih berdiri tegak dengan pose bercekak pinggang menanti kekalahannya, Shella akhirnya memejamkan mata. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap menurunkan harga dirinya demi sesuap nasi.
Dalam hitungan detik, wajah garang Shella berubah total. Matanya dibuat berkaca-kaca, dan tubuhnya sengaja membungkuk sangat dalam secara dramatis, meniru adegan dayang-dayang di drama kolosal kerajaan.
"Wahai Pak Reygan yang ganteng rupawan, berkilau badai bak Dewa Yunani yang tersesat di bumi..." seru Shella dengan suara yang dibuat melengking sedih.
Reygan sempat tersentak mundur, terkejut dengan perubahan kepribadian Shella yang mendadak ekstrem.
Pikiran Liar Shella: 'Ganteng-ganteng kok hobinya memusuhi perempuan cantik sesensitif ini? Jangan-jangan dia ini cowok penganut sekte pelangi dari kota Taipei yang sempat viral itu? Masa sama perempuan se-glowing aku dia antipati banget, kayak lagi rebutan maskara!'
Shella melanjutkan aktingnya, mengabaikan Nia yang sudah melongo heran di sampingnya."Mohon ampuni hamba yang berdosa ini, Baginda Reygan... Hamba sangat butuh pekerjaan ini. Tolong jangan pecat hamba, agar sebulan ke depan... nasi dan obat Promag tidak perlu saling baku hantam memperebutkan lambung hamba yang kosong ini. Hamba mohon dengan amat sangat, Baginda..." ratap Shella bertingkah memelas, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
Reygan mendengus puas. Ia menurunkan kedua tangannya dari pinggang, merasa sudah berhasil menjinakkan singa betina yang sempat menginjak harga dirinya tadi siang.
"Bagus. Anggap saja malam ini kamu beruntung. Bersihkan piring-piringku dengan benar besok, atau—"
"Tentu saja, Baginda," potong Shella cepat.
Ia menegakkan tubuhnya, menghapus air mata palsunya dalam sekejap, lalu memasang senyum paling manis namun penuh racun. Shella melangkah mendekati Reygan, lalu berbisik dengan nada menyindir yang sangat pedas tepat di samping telinga pria itu.
"Hamba akan bekerja dengan sangat rajin, Pak. Tapi omong-omong... ketampanan paripurna Bapak itu sayang sekali kalau cuma dipakai buat memusuhi perempuan. Jaga kesehatan ya, Pak... jangan sampai stres memikirkan saya, nanti aura 'belok' dan hobi pencinta sesama jenis Bapak malah makin kelihatan jelas ke publik. Mari pulang, Nia!"
Setelah melempar bom atom tersebut, Shella langsung menarik tangan Nia dan berjalan melenggang pergi dengan santai, meninggalkan Reygan yang mematung di tempat dengan wajah yang perlahan memerah padam karena menahan syok dan amarah yang meledak-ledak.
"Belok?"