BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja yang Aneh
Deru mesin mobil SUV hitam milik keluarga Mahendra membelah jalanan komplek elite Maheswara Residence yang mulai temaram. Di kursi belakang, Rayyan bersandar pada kaca mobil yang dingin, menatap deretan pohon cemara di pinggir jalan yang bergerak mundur. Tangannya sesekali menyentuh bahu kirinya yang masih terasa agak kaku akibat benturan di gang tadi.
"Mas Rayyan capek banget ya hari ini? Kok lemes bener kelihatannya," tanya Pak Yanto, sopir pribadi keluarga mereka, melirik lewat kaca spion tengah dengan raut peduli.
Rayyan tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan sisa ketegangan di wajahnya. "Ah, enggak kok, Pak. Cuma agak pegel aja tadi habis main basket pas istirahat."
"Oh, pantesan seragamnya agak kotor kena debu. Nanti langsung mandi air hangat ya, Mas, biar badannya gak pegel-pegel amat," saran Pak Yanto ramah.
"Iya, Pak."
Rayyan kembali menatap ke luar jendela. Pikirannya tidak bisa tenang. Bayangan kejadian di gang belakang sekolah terus berputar di otaknya seperti kaset rusak. Lebih spesifiknya, tatapan mata Revan saat cowok itu berdiri kokoh di depannya, menghalangi Adrian dengan tubuh besarnya.
“Jangan berani-beraninya lu sentuh dia pake tangan kotor lu...”
Suara serak Revan yang sarat akan amarah dan kepemilikan itu terus terngiang-ngiang di telinga Rayyan. Kenapa Revan harus bertingkah sejauh itu? Bukankah mereka musuh? Bukankah Revan seharusnya senang jika melihat Rayyan dalam masalah? Rasa bingung dan gelisah itu terus menggerogoti dada Rayyan hingga mobil akhirnya berhenti di depan gerbang rumahnya yang bergaya modern minimalis.
...****************...
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, aroma harum masakan sup ayam dan bawang goreng langsung menyambut indra penciuman Rayyan. Rasa hangat yang familier seketika menyelimuti tubuhnya, perlahan mengikis sisa-sisa hawa dingin dari gang belakang sekolah tadi.
"Kak Rayyan pulang!" teriak Reina lantang dari arah ruang tengah. Anak perempuan itu langsung berlari menghampiri Rayyan, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap noda tanah di seragam olahraga kakaknya. "Ih, Kakak habis guling-guling di mana? Kotor banget!"
"Bawel lu, bocil. Tadi gua jatuh pas main basket," bohong Rayyan, menjentik dahi Reina pelan hingga adiknya itu mengaduh kesal.
"Rayyan? Sudah pulang, Nak?" Anindya Mahendra keluar dari arah dapur dengan celemek yang masih terpasang di badannya. Sebagai seorang dokter spesialis anak, insting keibuannya sangat tajam. Langkah kakinya mendekat, matanya langsung memindai tubuh Rayyan dari atas ke bawah. "Ya ampun, itu sudut bibir kamu kenapa agak merah? Terus seragam kamu kenapa kotor begini?"
"Enggak apa-apa, Ma. Tadi cuma tabrakan pas lay-up di lapangan basket. Lawannya agak kasar," jawab Rayyan selembut mungkin, tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Anindya menghela napas, jemarinya yang hangat menyentuh pipi Rayyan lembut. "Lain kali hati-hati, Sayang. Kamu tahu kan Mama paling gak bisa liat anak-anak Mama terluka? Ya sudah, kamu mandi dulu pakai air hangat, habis itu kita makan malam sama-sama. Papa sama Kak Reyhan juga baru aja pulang."
"Iya, Ma."
Makan malam di rumah keluarga Mahendra selalu menjadi momen yang paling Rayyan syukuri. Meja makan kayu panjang itu dipenuhi oleh suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, diselingi oleh tawa dan obrolan hangat.
Steven Mahendra, sang ayah yang menjabat sebagai direktur perusahaan teknologi, duduk di kepala meja. Di sebelahnya ada Reyhan, kakak laki-laki Rayyan yang berusia dua puluh dua tahun dan sedang sibuk-sibuknya kuliah tingkat akhir.
"Gimana hari kedua masuk sekolah, Dek? Masih sering berantem sama Revan?" tanya Reyhan jenaka sambil menyendokkan nasi ke piringnya. Ia sangat tahu sejarah panjang permusuhan adiknya dengan anak tetangga sebelah komplek itu.
"Gak usah sebut nama dia pas lagi makan deh, Kak. Bikin mual," gerutu Rayyan, menyingkirkan sepotong wortel dari mangkuk supnya.
"Huss, gak boleh begitu, Ray," tegur Steven dengan nada kebapakan yang hangat namun berwibawa. "Revan itu anaknya Pak Bram. Bagaimanapun, mereka tetangga kita. Dulu waktu kecil kan kalian sering main bareng di halaman depan."
"Itu dulu, Pa. Sekarang dia udah berubah jadi preman sekolah," sahut Rayyan pelan.
"Revan itu cuma kurang perhatian, Pa," sela Anindya lembut, meletakkan semangkuk sambal di tengah meja. "Keluarga Sanjaya itu terlalu sibuk dengan bisnis mereka. Kasihan sebenarnya anak itu."
"Iya, Dek. Mending lu fokus belajar aja. Biarin aja si Revan mau jungkir balik kayak gimana juga," timpal Reyhan, lalu beralih meledek Reina yang kesulitan memotong ayamnya. "Nih, bocil, makanya makan yang banyak biar tenaganya gak kayak tahu!"
"Kak Reyhan menyebalkan! Papa, liat Kak Reyhan!" adu Reina dengan bibir mengerucut, memicu tawa renyah dari Steven dan Anindya.
Rayyan menatap interaksi hangat keluarganya dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya. Rasa aman, kasih sayang yang tulus, dan kehangatan yang melimpah di ruangan ini adalah dunianya. Ia merasa sangat beruntung, sangat dicintai.
...****************...
Kontras dengan kehangatan di kediaman Mahendra, suasana di rumah mewah keluarga Sanjaya malam itu terasa seperti berada di dalam lemari es raksasa.
Rumah bergaya klasik modern bergaya Eropa itu sangat megah, dipenuhi oleh pilar-pilar marmer tinggi dan lampu gantung kristal yang mewah. Namun, kemegahan itu terasa kosong dan mati.
Di ruang makan yang luas, sebuah meja makan marmer panjang yang bisa menampung dua puluh orang hanya diisi oleh lima anggota keluarga Sanjaya. Bram Sanjaya duduk di ujung meja dengan setelan jas kerjanya yang belum dilepas, sementara Livia Sanjaya sibuk menatap layar tabletnya, mengabaikan makanan mewah di depannya. Rendy, sang kakak tertua yang sudah memegang salah satu anak perusahaan, sibuk menerima telepon bisnis, sedangkan adik perempuan mereka, Keisha, hanya menunduk diam sambil memainkan makanannya dengan garpu.
Revan duduk di barisan paling ujung, berjarak cukup jauh dari ayahnya. Sudut bibirnya yang robek sudah dibersihkan, meninggalkan bekas merah keunguan yang kontras di kulitnya yang putih.
Klak.
Bram meletakkan garpu peraknya ke atas piring porselen dengan suara ketukan yang cukup nyaring, seketika menghentikan semua aktivitas di meja makan. Suasana mendadak menjadi sangat menegangkan.
"Gua denger hari ini kamu bikin masalah lagi di sekolah, Revan," ucap Bram, suaranya terdengar berat, dingin, dan penuh tekanan yang mengintimidasi. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah putra bungsunya. "Baru hari kedua, dan pihak sekolah sudah mengirimkan laporan pelanggaran ke sekretaris Papa."
Revan tidak menghentikan makannya. Ia mengunyah daging steak-nya dengan santai, mengabaikan tatapan tajam sang ayah. "Cuma salah paham."
"Salah paham kamu bilang?!" suara Bram meninggi satu oktav, membuat Keisha sedikit tersentak ketakutan di kursinya. "Kamu berkelahi di gang belakang sekolah dengan anak-anak SMA luar! Kamu mau mempermalukan nama keluarga Sanjaya di hari pertama kamu masuk SMA, hah?!"
"Bram, sudahlah. Jangan di meja makan," sela Livia tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet bisnisnya. Suaranya terdengar sangat datar, seolah-olah pertengkaran ini adalah rutinitas membosankan yang tidak perlu ia pedulikan.
"Kamu selalu membela dia, Livia! Lihat anak ini, dia sama sekali tidak punya sopan santun!" Bram menunjuk Revan dengan jarinya. "Contoh kakakmu, Rendy. Di usiamu dulu, dia sudah memenangkan olimpiade bisnis internasional. Sedangkan kamu? Kamu hanya tahu cara menggunakan kepalan tangan dan membuat Papa malu!"
Revan meletakkan pisau dan garpunya perlahan. Ia mendongak, menatap ayahnya dengan mata gelap yang dingin dan kosong dari emosi. Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya, namun ia sudah terbiasa menyembunyikannya di balik topeng arogansinya.
"Kalau Papa ngerasa malu punya anak kayak gua... kenapa Papa gak coret aja nama gua dari kartu keluarga?" tanya Revan datar, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan luka yang mendalam.
"Revan! Jaga mulut kamu!" bentak Bram, wajahnya memerah karena amarah.
Revan berdiri dari kursinya tanpa menyelesaikan makan malamnya. Ia menyambar tas ransel hitamnya kasar, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan yang dingin itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suara langkah kakinya yang tegas menggema di koridor marmer yang sunyi, meninggalkan keheningan yang mencekam di belakangnya.
...****************...
Malam semakin larut. Langit di atas Maheswara Residence kini sepenuhnya hitam pekat, tanpa ada satu pun bintang yang terlihat. Udara malam berembus kencang, menggoyangkan dedaunan pohon di luar jendela kamar Rayyan dengan suara desis yang aneh.
Rayyan duduk di meja belajarnya, menatap buku catatan Fisika yang terbuka di depannya. Namun, pikirannya sama sekali tidak fokus pada rumus-rumus di atas kertas.
Tiba-tiba, sebuah perasaan aneh menyerang dada Rayyan secara mendadak.
Itu bukan rasa sakit fisik, melainkan sebuah firasat kosong yang teramat sangat dingin. Rasanya seolah-olah ada sebuah bayangan hitam tak kasat mata yang perlahan merayap masuk ke dalam kamarnya, membungkus tubuhnya dan menyerap seluruh kehangatan yang ia rasakan malam ini.
Rayyan memegangi dadanya yang mendadak berdegup kencang dengan ritme yang tidak teratur. Kulitnya terasa merinding, dan suhu tubuhnya mendadak drop drastis hingga ia bisa merasakan ujung-ujung jarinya mendingin seperti es.
Ada apa ini? batin Rayyan panik.
Ia berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela kaca kamarnya yang menghadap langsung ke arah jalan komplek dan rumah besar keluarga Sanjaya di seberang sana. Di seberang jalan, ia bisa melihat jendela kamar Revan di lantai dua yang masih menyala temaram.
Rayyan menatap langit malam yang tampak tidak biasa. Awan hitam tebal bergulung-gulung seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang mengerikan di balik kegelapan. Angin malam yang berembus melewati celah jendelanya terdengar seperti suara bisikan lirih yang memanggil namanya, berulang-ulang, seolah-olah waktu yang ia miliki di dunia ini sedang berjalan mundur dengan sangat cepat menuju sebuah titik akhir yang tidak bisa ia hindari.
Firasat itu begitu kuat, begitu nyata, hingga membuat air mata Rayyan menetes tanpa sebab di pipinya yang pucat. Rasa takut yang teramat sangat akan kehilangan semua kehangatan yang ia miliki saat ini mendadak mengunci seluruh tubuhnya dalam keheningan malam yang sunyi.