Cerita pengabdian untuk negeri tercinta
Kisah perjalanan hidup Panji Watugunung sang Pendekar Pedang Naga Api membaktikan diri untuk negeri tercinta yang berada diambang kehancuran karna perebutan kekuasaan antara putra putra raja
Di balik perjalanan hidup, ada kisah cinta yang melibatkan Dewi Anggarawati putri Kadipaten Seloageng dan dua adik seperguruannya
Kepada siapakah cinta Panji Watugunung akan berlabuh?? Bagaimana perjalanan nya sebagai pendekar muda jagoan dunia persilatan?
Simak kisah selengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat untuk Bupati Gelang-gelang
Dewi Anggarawati benar-benar marah besar
Semua pengawal kadipaten Seloageng tidak ada yang berani bersuara.
Termasuk Ki Saketi, baru kali ini melihat wanita cantik yang biasanya ramah dan baik di lingkungan istana kadipaten Seloageng itu menjadi sesosok singa yang menakutkan.
Panji Watugunung menyarungkan Pedang Naga Api, berjalan menuju rumah makan, mengambil secangkir air minum.
Lalu Panji Watugunung mendekati wanita cantik yang sedang marah besar itu.
Memegang tangan Dewi Anggarawati. Perlahan nafas Anggarawati teratur. Matanya tak lagi berkilat seperti tadi. Sentuhan Panji Watugunung berhasil meredam emosinya.
"Dinda Dewi", pelan suara Panji Watugunung.
"Iya Kakang" , sahut Dewi Anggarawati masih sedikit nada marah.
"Sudah cukup marahnya, seorang putri bangsawan harus bisa menata emosi nya.
Nih minum"....
Dewi Anggarawati tersenyum tipis lalu meraih cangkir air minum yang di sodorkan padanya.
Glek glek
Hati Anggarawati sudah lebih baik dari sebelumnya. Nanar matanya kembali menjadi teduh.
Kalau saja tidak ada orang, pasti dia sudah memeluk tubuh Panji Watugunung.
Argamanik tergopoh-gopoh menuju tempat itu.
Lelaki sepuh berpakaian bangsawan dengan kumis dan jenggot yang memutih.
Ki Saketi mengenali nya, karna dulu Saketi pernah menjadi bawahannya.
Segera Argamanik bersujud kepada Dewi Anggarawati.
"Mohon ampun Gusti Putri, ini semua adalah kesalahan hamba Gusti Putri. Hamba bodoh tidak bisa mendidik nya dengan baik".
Usai berkata, Argamanik segera bergegas ke arah Jarasanda. Langsung memukuli anak sulungnya itu.
"Kau sudah bosan hidup ya hah?
Kau mau mencelakai hidup ku dan ibumu hah?,
Dasar anak tidak tau di untung!
Dasar anak kurang ajar!", maki Argamanik sambil terus memukuli Jarasanda.
Walau sudah menahan sakit akibat di pukul Panji Watugunung, dan sekarang di hajar ayahnya, Jarasanda tidak berani bergerak. Dia hanya pasrah enerima setiap pukulan dan tendangan dari Argamanik.
Wajah Jarasanda sudah babak belur.
"Cukup Ki Kuwu!",
teriakan Dewi Anggarawati cukup keras, membuat Argamanik menghentikan niatnya untuk menghajar putra nya.
"Sudah cukup Ki Kuwu,
Sebesar apapun kesalahan putra mu, kau tak boleh membunuhnya".
Argamanik kembali bersujud kepada Dewi Anggarawati.
"Berdirilah Ki, pahlawan Kadipaten Seloageng tidak boleh bersujud kepada gadis ingusan seperti aku".
Perlahan Argamanik berdiri, dia masih menunduk. Ada raut kesedihan disana.
Sebelum bicara lagi, Dewi Anggarawati menoleh kearah Panji Watugunung. Laki laki itu hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
"Dengar Ki, aku kali ini memaafkan putramu.
Didik dia Ki, seharusnya dia mampu menjadi punggawa kadipaten Seloageng seperti Ki Kuwu dulu. Kalau sudah selesai kau didik antar dia ke Seloageng Ki, biar dia bisa membuat bangga keluarga mu Ki".
"Terimakasih atas kebaikan hati Gusti Putri,
Argamanik berjanji akan segera mendidiknya dengan keras, agar kelak mampu berbakti kepada kadipaten Seloageng",
Hamba mohon diri Gusti Putri", ujar Argamanik sambil membungkukkan badannya dan menghaturkan sembah.
Para pengawal Pakuwon Sata segera membopong tubuh Jarasanda dan dua orang pengikut nya meninggalkan tempat itu.
Penonton yang tadi menyaksikan pertarungan itu segera membubarkan diri.
Namun berita Jarasanda di hajar seorang pendekar memakai pedang berwarna merah seperti api segera menjadi buah bibir di Pakuwon Sata.
Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati kembali masuk, menuju meja makan. Para pelayan yang melayani mereka menjadi lebih hormat kepada mereka. Apalagi melihat ada Putri Adipati Seloageng serta lelaki tampan yang bisa menghajar putra Akuwu Argamanik dengan mudah.
Rombongan Panji Watugunung makan dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Senja menjelang malam
Panji Watugunung sedang memandang langit kemerahan dari jendela kamar peristirahatan. Sudah hampir 2 pekan dia meninggalkan Padepokan Padas Putih.
Ada rasa rindu menyeruak di dadanya pada guru, saudara seperguruan dan tempat nya tinggal.
"Kau melamun ya Kakang?"
Suara merdu Dewi Anggarawati membuyarkan lamunan Panji Watugunung.
Lelaki itu tersenyum pada Dewi Anggarawati.
"Kakang hanya rindu pada padepokan dinda, karna selama hampir 6 tahun tempat itu adalah kediaman ku".
Wanita segera duduk di sebelah Watugunung, dan tanpa malu-malu menggelayut manja di pundaknya.
Walau Watugunung masih belum menyatakan cinta pada Putri Adipati Seloageng itu, tapi dia juga tidak bisa menolak kehadiran Dewi Anggarawati.
Senja semakin merah, pertanda malam segera menjelang...
**
"Guru,
Ada surat dari Gusti Pangeran Mapanji Garasakan".
Pedang Iblis menyerahkan sepucuk surat dari daun lontar kepada Iblis Bukit Jerangkong..
Lelaki tua bertubuh kurus dan berjenggot putih itu hanya menyeringai sadis setelah membaca surat itu.
Lalu surat di tangan Iblis Bukit Jerangkong terbakar menjadi abu.
"Pedang Iblis, kirim utusan ke semua perguruan aliran hitam. Lembah Hantu juga.
Purnama besok, kita adakan pertemuan di sini"
"Baik guru" , sahut Pedang iblis mundur.
'Ini akan semakin menarik hahahaha',
batin Iblis Bukit Jerangkong.
Sementara itu Pedang Iblis mengarahkan utusan ke 4 perguruan aliran hitam besar di Kahuripan seperti Lembah Hantu, Gunung Kematian, Kalajengking Biru dan Alas Larangan. Beberapa perguruan menengah seperti Racun Kembang, Bukit Hitam, dan Macan Alas juga di undang.
"Guru,
ada maksud apa mahaguru mengundang para tokoh dunia hitam untuk berkumpul di Bukit Jerangkong? "
tanya seorang utusan yang di suruh pergi ke Gunung Kematian.
"Aku juga tidak tahu. Sudah jangan banyak bicara. cepat pergi berangkat!
sahut Pedang iblis gusar.
**
Sementara itu di Padepokan Padas Putih
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang terlihat gelisah. Mondar mandir di serambi menunggu guru mereka.
"Bagaimana ini Kangmbok??
Aku bingung cara ngomongnya", ujar Sekar Mayang.
"Aku juga tidak tahu Mayang, aku takut guru marah pada kita", Ratna Pitaloka tak kalah panik.
'Huffft tenang Mayang tenang' , batin Sekar Mayang..
Dari serambi, tampak Mpu Sakri berjalan masuk ke halaman kediamannya.
Raut wajah Resi tua itu mengkerut, melihat dua murid nya mondar mandir di serambi.
"Guru" dua murid perempuan nya itu kompak membungkuk hormat kepada Resi Mpu Sakri.
"Ada apa kalian kelihatan bingung seperti itu?
Tidak biasanya kalian kompak" , ujar Mpu Sakri tersenyum .
"Maaf guru, mengenai balasan surat guru kepada Bupati Gelang-gelang....
Bolehkah kami yang mengantar langsung kesana??" ujar Ratna Pitaloka.
"Owhhh itu, bagaimana ya?" , ujar Mpu Sakri sambil melirik kedua muridnya yang tampak gelisah.
Sebagai Resi sepuh yang memiliki kemampuan terawangan lebih, Resi Mpu Sakri memang tau apa yang di pikirkan dua murid nya itu.
Hmmmmmm
'Kalau hanya Pitaloka yang berangkat, Sekar Mayang pasti tidak terima. Kalau Sekar Mayang yang berangkat, Pitaloka pasti marah.
Repot juga kalau begini', gumam sang Resi.
"Sebenarnya aku tidak tega membiarkan salah satu dari kalian berangkat ke Gelang-gelang" , ujar Mpu Sakri
Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang segera menatap wajah sepuh gurunya, mata mereka berkaca-kaca.
"Karena kemampuan kalian berdua masih mengkhawatirkan ku. Tapi mungkin ini memang sudah takdir. Sekalian kalian menimba pengalaman dari perjalanan ini.
Hmmmmm
Ku ijinkan kalian mengantarkan surat ke Gelang-gelang", ujar Mpu Sakri.
Seketika wajah Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang berbinar-binar bahagia. Mereka akan bertemu kakak seperguruannya, Panji Watugunung.
"Tapi dengan syarat..."
"Syarat apa guru?", tanya Sekar Mayang
"Kalian tidak boleh bertengkar selama perjalanan", ujar Mpu Sakri
Sekar Mayang dan Ratna Pitaloka saling memandang satu sama lain.
Lalu dengan kompak berkata
"Kami siap mematuhi syarat dari guru"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*bersambung*