Bijaklah dalam membaca dan berkomentar ya gaes.
Karena kelalaiannya sudah menabrak dan merusak mobil sang CEO muda yang Arisha sebut sebagai Mr.Arrogant itu,membuat dirinya harus terjebak pada kesepakatan konyol Alvaro.
Dirinya terpaksa mengikuti itu,karena Alvaro sudah memberikan penawaran yang bisa membuat hidupnya aman,meski harus menghadapi sikap Arrogant nya Alvaro.
Hidup Arisha semakin terjebak pada Alvaro,karena mereka harus menikah karena kejadian yang diluar dugaan,terpaksa mereka akan semakin terikat.
Dan seiring berjalan waktu justru Alvaro yang jatuh cinta lebih dulu.
penasaran kisah selanjutnya mereka ?ikuti yuk !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Terluka
Alvaro membawa Arisha kedalam mobilnya,dan Arisha mengikuti arahan Alvaro dan duduk dikursi depan sebelah Alvaro.
Alvaro sudah mendudukan dirinya dikursi pengemudi,dan memasang seatbeltnya sendiri,lalu memandang Arisha yang masih menunduk lemah.
Alvaro masih terdiam terus memandang Arisha,rasa Iba menggelitik direlung hatinya,kalau bisa ingin dia peluk wanita di depannya ini dan menyerukan wajahnya di dekapan dada bidangnya itu,namun apalah daya dia bukan siapa siapa wanita itu.
Alvaro mendekat " Eh,Anda mau apa Tuan ?" Arisha kaget saat Alvaro mendekat secara tiba tiba.Alvaro tak menjawab dia berniat memasangkan seatbeltnya Arisha.
Arisha bernafas lega,saat Alvaro kembali ketempat duduknya.
"Jangan geer.." Desis Alvaro ,Arisha menunduk malu. Dan Alvaro tersenyum simpul.
"Pulang ke kossan ?" Tanyanya disela sela fokusnya pada jalanan di depannya.
Arisha tak menjawab hanya menganggukan kepalanya saja,Alvaro pun mengerti dan tak ada pembicaraan lagi diantara mereka.
Arisha mencuri curi diam memandang Alvaro,lima bulan tak bertemu dengan Alvaro,kini dia tau ada sisi lain lagi di diri Alvaro.
"Terima kasih Tuan.." Mereka sudah sampai di depan kossan Arisha.
"Perlu aku antar ?" Masih dengan suara dingin.
"Tak perlu Tuan,sekali lagi terima kasih,semoga kebaikan anda terbalasķan" Beruntung Alvaro lewat sana,kalau tidak entahlah.
"Hmmmm..." Hanya deheman yang Alvaro ucapkan.
Arisha melepaskan seatbeltnya dan turun dari Mobil Alvaro,tapi sebelum itu tangannya ditahan Alvaro.
Mata Arisha kembali membelalak saat telapak tangan Alvaro menyentuh pipi Arisha,dia mengusapnya perlahan. Arisha meremas kedua bajunya rasa takut kembali menyelimutinya,Alvaro masih diam tanpa bicara apa apa.
"Turun dan istirahatlah juga jaga diri" Ujarnya kemudian,dan membuat Arisha mengerjap bingung ,namun sedetik kemudian dia segera turun dari sana.
Dia masih memantung di depan gerbang dia berniat masuk setelah Alvaro pergi.Tapi justru Alvaro malah diam dan mengerak gerakkan tangannya pertanda Arisha masuk lebih dulu.
Arisha tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya lalu masuk kedalam kossannya.
"Kenapa kita selalu dipertemukan,dan aku pikir kamu sudah bahagia" Lirihnya tanpa sadar.
Dia tangkupkan wajahnya disetir mobil,merasai ikut sakit hati yang Arisha alami,dia menghela nafasnya berat,sungguh kalau bisa ingin dia kejar Arisha.
"ahhhhh,ada apa dengan aku..selalu begini" Gumamnya lagi
Setelah melihat Arisha jauh dari pandanganya ,dia melajukan kembali mobilnya dan beranjak dari sana.
***
Arisha membersihkan dirinya ,menguyur dirinya dengan air sebanyak mungkin,dan berganti pakaian dengan pakaian santainya.
Arisha mengompres pipinya yang sedikit agak bengkak itu,dia masih tidak bisa menahan untuk tak menangis saat itu.
Karena nyatanya hatinya masih berdenyut nyeri akan perlakuan Fian tadi,dia pikir sudah mengenal Fian dengan benar,tapi nyatanya tidak,perkenalan dengannya sebagai seorang teman menjadi sahabat tidak membuat dirinya begitu mengenal Fian.
Bodoh ya bisa dibilang bodoh dia menerima Fian menjadi kekasihnya,nasi sudah jadi bubur,kini hubungannya dengan Fian tidak bisa dia teruskañ ,bahkan sekedar untuk menjadi teman pun tidak.
Perlakuannya tak termaafkan.Suara pintu kamar terdengar diketuk dari luar dan pelakunya Anin,berhubung pintu tak terkunci ,Anin menyelonong masuk.
"Sha,kamu udah disini ?aku kira pergi dulu sama Fian tadi"
Anin masuk dan mendudukan dirinya disofa kecil disana ,karena tidak ada jawaban dari Arisha.
"Gak,aku lagi malas.." Jawab Arisha ala kadarnya. Posisinya sedang duduk di depan Teve dan membelakangi Anin.
"Sha.." Tegur Anin,Arisha masih duduk membelakangi Anin
Dia mencoba menyembunyikan bekas luka tamparan Fian,Anin curiga dan dia berdiri menghampiri Arisha yang sedang duduk di depan teve.
"Sha.." Tegur lagi Anin,yang tadi tak menerima sahutan dari Arisha ,Dia meraih bahu Arisha,dan membalikan tubuh Arisha,matanya membelalak saat melihat rona merah yang kontras dipipi Arisha.
"Sha ,kamu kenapa ?" Pekik Anin sambil meraba bekas tamparan Fian.
"Awww..sakit Nin" Lirih Arisha
"Kenapa ?apa yang terjadi Sha ?kamu kenapa ?" Tanyanya panik dan melihat Arisha menunduk .
Arisha semakin menangis dia peluk Anin dan semakin meluapkan kepedihan hatinya,Anin yang belum mengerti menyambut pelukan Arisha dan membelai punggung Arisha perlahan.
"Kenapa ?,kamu bisa cerita sama aku" Lirih Anin disela pelukannya.
Arisha masih diam dan masih menangis dipelukan Anin,Anin membiarkan itu mungkin Arisha masih butuh waktu untuk bicara.
Setelah puas menangis,Arisha melepaskan pelukannya dari Anin,dan mencoba menarik nafasnya mengaturnya selepas mungkin.
"Nin,aku tidak mau lagi kenal sama Fian,aku salah,aku tak mengenal dia dengan baik ,aku pikir aku mengenal dia tapi nyatanya tidak" Arisha mencoba menahan tangisnya lagi,saat mengingat bagaimana perlakuannya Fian padanya.
"Yang lakuin ini sama kamu Fian Sha ?" Anin menunjuk luka dipipi Arisha yang dia yakini itu sebuah tamparan,karena terlihat mencolok diwajah Arisha yang putih.
Arisha menganggukan kepalanya "Ya ampun,serius Sha ? Fian yang lakuin ini sama kamu ?kok dia tega,kalian berantem ?" Pertanyaan beruntun Anin ajukan pada Arisha.
Arisha pun dengan sekuat hatinya menceritakan apa yang harus dia ceritakan pada Anin,Anin yang selalu dia percayai.Anin terus mengumpat kala Arisha menceritakan semuanya,dia juga tak menyangka Fian seperti itu ,karena selama ini dia mengenal Fian benar benar tak seperti itu.
"Aku akan kasih dia pelajaran,dasar cowok tidak tau diuntung,beruntung kamu segera ada yang menolong Sha" Anin kembali memeluk Arisha,dan Arisha kembali menangis dipelukkannya.
"Sstttt,udah..udah..aku temani kamu disini ya,aku bantu obati ini" Anin mengelus luka dipipi Arisha.
Dan malam itu Anin tidur dikamar kossan Arisha menemani Arisha supaya tidak terlalu banyak pikiran.
***
"Sudah kamu pastikan ,kalau dia tidak akan mengganggu Arisha lagi Sam ?" Alvaro sudah sampai diapartementnya dan terlihat Sam sedang berada di depan kamar Alvaro.
"Sudah Pak,saya sudah sangat pastikan kalau dia tidak akan datang menemui atau bahkan mengganggu Nona Arisha lagi"
Sam memang sudah memperingati Fian dan bahkan mengancamnya,supaya tidak lagi mendekati Arisha,dan kalau itu terjadi dipastikan hidup Fian tidak akan aman.
"Bagus,kamu sudah bekerja dengan baik dan berkat kamu memilih jalan tadi membuat kita bisa menemukan Arisha"
Ya kalau Sam tidak mengusulkan untuk tidak lewat sana,mungkin dia tidak bisa menolong Arisha yang sedang dalam keadaan sulit.
"Pulang dan istirahatlah Sam,terima kasih untuk hari ini" Alvaro menepuk bahu Sam,dan melangkah masuk ke kamarnya.
Dan Sam pergi beranjak dari sana,perjalanan dari Luar negeri lalu pulang pulang harus berolahraga membuatnya tubuhnya sedikit terkuras dan dia butuh kasur untuk menetralkan tubuhnya.
***
...Bersambung...
Info : Mohon maaf kemarin gak Update gaes,ada keperluan di RL yang gak bisa ditinggalkan.
...Okay jangan lupa ritual jejaknya ya...