Chevani Agra
Seorang janda beranak satu yang diceraikan oleh suaminya tanpa sebab.
Menjadi janda bukan lah satu hal yang menyenangkan apalagi dia harus mengurus seorang anak dan nenek reot yang mulutnya pedas bak cabe rawit.
Saban harinya ia bekerja sebagai babu dan tukang cuci dengan gaji tak seberapa, hingga suatu saat ia dipertemukan kembali dengan mantan suaminya melalui sebuah cara yang sakitnya melebihi perceraiannya kala itu.
Bagaimana kisahnya?
Yuk mampir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanda Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERITA MENGEJUTKAN
Bisa-bisanya si kudanil air satu ini mengaku sebagai pacarku di depan Bu Lastri. Apa dia tidak berpikir bagaimana nasibku nanti? Bisa mati aku kalau sempat diusir dari rumah ini.
“Gila kamu ya!” Aku mengacak-acak rambutku sendiri.
“Sudah lah Che. Lagipula mertuamu juga tidak merasa keberatan.”
Haduh! Di depanmu mungkin nenek tua itu bersikap anteng-anteng saja. Tapi bagaimana setelah kau pulang nanti? Sungguh dia pasti akan berubah menjadi serigala yang siap mengkoyak-koyak daging lembutku. Aku benar-benar mati kata melihat kelakuan Aren, dia tidak ada bedanya dengan anak batita. Sama-sama belum memiliki akal.
“Oke begini saja! Aku tahu selama ini kau sudah sangat banyak membantuku, tapi bukan berarti melalui pertolonganmu itu aku harus berbalas jasa dengan menjadi suamiku. Besok aku akan mencari pekerjaan dan kupastikan semua yang telah kau beri padaku akan kembali. Hitung saja berapa total semuanya!”
Bugh!
Aku menutup pintu rapat-rapat kemudian menguncinya dari dalam. Hatiku nyeri, otakku juga sontak memanas memikirkan semua ini. Sebenarnya aku juga tidak mau menjanjikan hal yang sedemikian, tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah tahu niat busuk di balik semua kebaikan yang ia berikan dan aku tidak mau berhutang budi apapun lagi terhadap si kudanil air itu.
“Che buka che!”
Dor dor dor.
“Chevani!”
Gedoran keras membuat tubuhku yang saat ini masih menempel di balik pintu menjadi terguncang-guncang. Aku seperti orang yang sedang terkena bencana gempa bumi kali ini.
Di tengah kepanikan yang taramat akut, sesosok makhluk astral menyembul dari pintu kamar dan berjalan ke arahku. Sosok itu memasang raut datar dengan tatapan tajam yang menusuk. Oh astaga! Itu si nenek gerandong. Mampus, tamat sudah riwayatku.
“Buka pintunya!” Suara serah khas oma-omanya mulai terdengar.
“Jangan ma! Di depan sedang ada banteng ngamuk.” Kataku seraya bertahan di balik pintu.
Perlahan tapi pasti Bu Lastri menyingkirkan tubuhku dan mulai menarik kenop pintunya dari dalam. Jantungku semakin jedag jedug, aku merasakan bahwa akan ada perang dunia ke III di rumah ini.
“Kau tunggulah di sini!”
Bugh!
Pintu kembali tertutup dan membuat nenek tua itu terkurung di luar sana. Aku enggan mengikut, sungguh emosiku semakin tidak terkontrol bila aku memandang wajah banteng yang sedang kesetanan di sana.
Dari balik jendela yang bersebelahan dengan pintu ini aku mengintip, memperhatikan mertuaku yang saat ini sedang membicarakan sesuatu dengan si tabung gas. Aku tak dapat menebak apa yang mertuaku katakan, tapi tiga menit setelah itu Bu Lastri sukses membuat Aren manut dan pergi dari rumah ini. Hei! Hebat juga dia.
Ceklek.
Decitan pintu kembali terdengar pertanda ada seseorang yang menariknya dari arah luar.
Satu.
Dua.
Dan ti-
“Siapa pria itu?”
Modar aku!
Bu Lastri menatapku sinis dari ambang pintu. Entah kenapa setiap menatap matanya aku jadi teringat akan Malaikat Izrail. Ya Tuhan, tolong selamatkan hamba-Mu ini.
“I- itu Aren bu, temanku bekerja.”
“Jangan bohong kamu!”
“Sungguh ma aku sedang tidak berbohong.”
“Kalau kau ingin menikah dengannya pergilah! Tapi jangan harap kau dapat menginjakkan kaki di rumah ini lagi.” Si nenek gayung beringsut masuk ke dalam kamar. Aku dapat melihat dengan jelas guratan kesal yang terpampang di wajah lisuhnya.
Hah! Nasibmu kenapa begini sekali sih Che! Lagipula siapa juga yang mau diperistri oleh kanebo kering itu? Lebih baik aku menjanda seumur hidup daripada harus menikah dengan banteng yang suka kesetanan. Diseruduk tidak jadi orang aku.
Sudahlah. Lebih baik aku menidurkan Pricilia di dalam kamar. Kasihan anak ini kalau terus menerus menyaksikan air mataku yang perlahan-lahan mulai luruh.
...***...
Tik tik tik.
Detikan jarum jam terdengar nyaring bersamaan dengan kokokan ayam-ayam jantan. Aku mengerjapkan mata, terlihat angka enam yang tergantung di dinding.
“Hoaam sudah pagi ternyata.” Kataku mencoba bangkit dari posisi tidur. Semalaman ini aku merasa benar-benar terbuai di alam mimpi, mungkin karena rasa capek akut yang menyerangku kemarin.
Tadi malam sebelum tidur aku sempat berdebat lagi dengan si gerandong itu. Entah apa yang sudah diucapkan oleh Aren padanya sehingga kejujuranku pun tak mampu menembus nuraninya lagi. Dia bersikeras menuduh bahwa aku adalah calon istri Aren. Padahal jangankan untuk menjadi istri, bisa cinta terhadapnya saja pun aku tidak.
“Gusti. Aku menerima semua kebaikan yang akan engkau anugerahi untukku hari ini.” Aku menadahkan tangan ke arah atas, semoga Zat yang dituju mengindahkan semua doa-doaku.
Sang mentari mulai menampakkan sinarnya meskipun masih agak malu-malu. Aku meraih tubuh Pricil dan membawanya ke kamar kecil. Dia juga harus harum dan cantik seperti mamanya ini ehehehe.
Setelah bergelut dengan dunia perairan bayi selama sepuluh menit akupun segera beranjak ke dapur untuk memasak. Berhubung aku adalah seorang babu, jadi urusan potong memotong sayur serta meracik bumbu dapat kulakukan hanya dengan kedipan mata.
Tak butuh waktu lama, gulai ikan dan rebusan sayur telah terhidang di atas meja. Aku langsung menyantapnya seraya menyuguhkan dot berisi susu putih untuk Pricil. Si nenek lampir belum bangun, mungkin dia masih berlayar di alam mimpinya saat ini.
Aku berharap mulai hari ini dan seterunya alam tak lagi mempertemukanku dengan Aren. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan mengembalikan apa-apa yang pernah ia berikan untukku. Dan suatu saat jika aku menemui seseorang seperti dia aku tak akan mau ditolong meski dalam kondisi sepelik apapun. Aku trauma.
...***...
Saat ini aku telah berada di sebuah rumah mewah nan megah tempatku biasa mengabdikan diri. Dari kejauhan aku dapat melihat bocah gendut sedang bersantai ria di atas mobil mainan bersama seorang pria bertubuh jenjang.
“Ibu udah dateng.” Refa menyapaku dari depan.
“Hai sayang, gimana mainan barunya?”
“Atu mau dalan-dalan naik mobintu cendili.”
Pffft.
Hampir saja aku terkekeh. Mana mungkin bisa mobil beremote control seperti itu membawanya di jalanan besar. Bisa-bsia remuk ketubruk bajai benda berkelir hitam itu.
“Wah enak sekali ya yang sudah punya mobil sendiri.” Kataku pura-pura antusias.
Aku kemudian beranjak menemui seorang pria yang sedang mengendalikan mobil mainan tersebut dari jarak jauh. Pagi ini dia terlihat sangat berbeda, balutan singlet dan celana puntungnya benar-benar membuat mata siapa saja yang memandang menjadi tercuci.
Astaga Chevani! Bicara apa kau barusan hah?
“Saya izin ke sebelah dulu ya pak.” Kataku setelah berhasil mendekatkan jarak pada Pak Reno.
“Mau ngapain kamu?”
“Ada yang ingin saya tanyakan.”
“Oh hmm.”
Mendengar persetujuan abstrak dari Pak Reno membuat tubuhku sontak berbalik arah dan berjalan menuju rumah sebelah. Aku ingin menemui Ratna di sana, semoga saja konco lamaku itu sudah mengambil pesangonnya kemarin.
Ting nong ting nong.
Bel berbunyi deras takkala kupencet tombol bulat di samping pintu. Kakiku menghentak-hentak di lantai sembari menunggu yang dicari menunjukkan batang hidungnya.
Ceklek.
Pintu terbuka.
“Maaf mencari siapa?” Seorang wanita muda berbibir tipis muncul di hadapanku.
“Aku ingin mencari Ratna. Apakah ada?”
“Ratna?” Tanyanya setengah berpikir. “Oh asisten di rumah ini ya?”
“Iya.”
“Maaf kak, Ratna sudah tidak bekerja lagi dan sayalah yang menggantikannya.”
“Apa?”
...***...
Bersambung
Comment, like & vote
Dukungan kalian semangat buat aku :)
Mampir juga di AKU KAU DAN ISLAM yaa guys
Semoga kalian sehat selalu 🤗
masukin pavorit ah...biar tak lupa...
namax yg hero kok dibenci amat ?