sebagian dari kisah ini terinspirasi dari kejadian nyata..
Armala Anggun, ingin menguji takdir, sejauh mana takdir mempermainkan kehidupan cintanya.
Menikah dengan seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, apalagi rupanya. tapi dia berusaha menerima laki-laki asing itu sebagai suaminya.
Jemicko Putra Nawar, dan Gama Maziantara Gundala, sama-sama memendam perasaan
kepada Mala. keduanya terus berusaha mendekati Mala.
diantara mereka, siapakah suami Mala yang sebenarnya?
Follow
Ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 25.
perlahan-lahan Mala membuka matanya, pemandangan pagi hari yang pertama ia lihat adalah wajah Micko. pria itu, saat sedang tidur pun masih terlihat tampan. matanya yang sipit, hidung mancung, bibir sexi dan padat, bahkan kulit mulusnya tak luput dari pandangan Mala. perlahan ada yang berdesir didadanya. mengalirkan perasaan hangat ke hatinya.
"awas saja kalau sampai wajahku berlubang." gumam Micko. Mala terkejut dan buru-buru membalikkan badannya menghadap kearah sebaliknya. bukankah ia sedang tidur?
Micko tersenyum simpul sambil terpejam. ia merasakan gerakan Mala yang membelakanginya. lalu iapun mendekati Mala dan menelusupkan tangannya ke perut Mala. membuat Mala sangat terkejut.
"mas.! apa-apaan?!!" pekik Mala. ia berusaha melepaskan tangan Micko dari perutnya.
"sudah. diam." kata Micko mempererat pelukannya. membuat Mala mematung. merasakan kenyamanan dari pelukan Micko.
30 menit berlalu, tapi Micko belum melepaskan pelukannya.
"mas. sudah siang. aku ada kelas pagi." rayu Mala. tapi ia tetap tidak berani berkutik.
"sebentar lagi. 10 menit." janji Micko.
setelah sepuluh menit....
"mas... udah sepuluh menit nih.. aku harus kekampus."
dengan berat hati akhirnya Micko melepaskan pelukannya. memaksa matanya untuk terbuka. Mala yang sudah duduk menatap mata Micko yang belekan.
"mas tidak perlu mengantarku, mas kan tidak ada jadwal kuliah hari ini. aku naik ojek online saja, sekalian mau mampir ke kos nanti. mau membereskan barang-barang."
"gak.! aku akan mengantarmu." kata Micko segera bangkit dan mengikuti Mala masuk kedalam kamar mandi.
Mala membelalakkan matanya saat tau Micko mengikutinya.
"mas Micko mau ngapain?"
"mau mandi." jawab Micko santai.
"aku dulu mas. nanti baru mas Micko.
"tidak bisakah kita mandi bersama?" rengek Micko.
"apa?? gak,, gak,, gak,, jangan aneh-aneh mas.!" Mala menolak tubuh Micko, memaksanya agar keluar dari kamar mandi. Micko menatap pintu kamar mandi dengan kecewa. entah sampai kapan dia bisa menahan 'kebutuhan' nya itu.
hufh.!
Mala menghembuskan nafas lega.. hampir saja...
saat Mala turun, mbok Tum sedang menyiapkan sarapan pagi diatas meja makan. wanita paruh baya dengan tubuh agak berisi itu tersenyum ramah kepada Mala.
"sarapannya sudah siap Mbak Mala." ujar mbok Tum dengan logat jawanya.
"iya mbok,, trimakasih ya mbok."
"Mbak Mala semalam masak mie ya? kenapa tidak membangunkan mbok? biar mbok yang buatkan." kata mbok Tum sambil menuangkan air putih ke gelas yang ada dihadapan Mala.
"bukan saya yang buat mbok, tapi mas Micko." jelas Mala
"waahh,, baru kali ini mas Micko membuatkan makanan untuk seorang wanita. ya tapi wajar sih, mbak Mala kan istrinya. hehehe.." kata Mbok Tum lagi. membuat Mala jadi ikut tertawa.
Micko datang dan langsung bergabung dengan Mala di meja makan. mbok Tum dengan sigap melayani majikannya itu.
"mas Micko mau apa ikut kekampus.?"
"memangnya aku tidak punya kegiatan apa dikampus?"
"ya kan aku cuma bertanya mas. kalau tidak mau jawab ya sudah. kenapa jadi sewot.?"
"aku ada urusan sedikit." jelas Micko.
"oooo.."
setelah menyelesaikan sarapan, Micko dan Mala langsung berangkat ke kampus. seperti biasa, Mala akan minta diturunkan di tempat yang tak jauh dari fakultas. ia masih takut jika orang-orang tau kalau ia dan Micko sudah menikah. hal itu tentu akan membuatnya jadi bahan gosip di seantero kampus. mengingat betapa terkenalnya Micko dikalangan para gadis.
Dewi melambaikan tangan kepada Mala saat Mala masuk kedalam kelas. Dewi menepuk-nepuk kursi disebelahnya. ia sudah menyiapkan kursi itu untuk Mala. dengan tersenyum senang, Mala segera duduk dikursi itu.
entah kenapa, pelajaran pagi ini terasa membosankan bagi Mala. tidak seperti biasanya. biasanya saat ada kuliah pagi, Mala lah yang paling semangat mendengarkan dan bertanya ini itu. tapi tidak pagi ini. bayangan wajah Micko, dan pelukan hangat Micko terus saja bergelayut di pelupuk matanya. membuat ia sulit berkonsentrasi.
"hei.! kenapa melamun?" bisik Dewi.
"entahlah Wi, aku seperti tidak semangat pagi ini." jelas Mala.
"memikirkan apa sih?"
"huh... memikirkan ma....." ups. untung Mala masih sempat mengerem lidahnya.
sampai kelas selesai, Mala masih sulit fokus.
"kapan kamu akan mengemas barang-barangmu yang ada dikos?"
"rencana nanti Wi. bisakah kau membantuku?"
"siappp bos." keduanyapun langsung menuju ke angkringan langganan mereka. seperti biasa, Mala akan memesan es jeruk dan Mala es teh.
mereka menyantap bungkusan nasi kucing itu dengan lahap. padahal Mala tadi sudah sarapan, melihat nasi kucing membuatnya lupa kalau sudah sarapan.
dikejauhan, ia melihat Micko yang sedang bercengkerama bersama teman-temannya. perasaan aneh itu kembali menelusupi hati Mala tanpa seijinnya. membuat detak jantung Mala menjadi semakin kencang.
apa hatinya sudah mulai menerima Micko?
dia sengaja mungkin ngawal kamu tuh makanya ngikutin trus balik lg 🤣