Sejak cintanya di hianati. Aiden berubah 180 derajat dari Aiden yang dingin berubah jadi aiden yang super duper dingin dan cuek.
"Apakah ini karma saya yang sudah menyia-nyiakan jodoh yang di pilihkan orangtua saya dulu?" tanya Aiden yang tampak frustasi setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa orang yang benar-benar dia cintai bermain yang tak senonoh di belakangnya.
"Maybe Pak. Banyakin sabar aja Pak toh nona Rara juga gak akan mau lagi sama Bapak yang sudah menolak dan merendahkan dirinya yang lebih membela dan memilih wanita yang salah. Terima nasib Pak." Della menenangkan Aiden yang tampak kacau di dalam apartemen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Erlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Della membaringkan tubuhnya keatas kasur queen sizenya setelah sampai di rumah tercintanya saat ini.
Baru saja ia memejamkan matanya, pintu kamar di ketuk keras dari luar dengan langkah malas akhirnya Della berhasil membukakan pintu dan terlihat disana ada sosok yang paling Della rindukan.
"Abang," pekik Della dengan mata yang terbelalak lebar.
"Hai adeknya Abang yang paling bawel, gak mau peluk Abang nih?" tanpa aba aba Della langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat Maxime. Nyaman satu kata yang dapat Della gambarkan sekarang.
"Kirain Abang udah balik ke Rusia," ucap Della yang masih didalam pelukan Maxime.
"Mana bisa Abang balik gitu aja sedangkan Abang kesini tujuannya selain kerja juga mau ketemu lo," tutur Maxime seraya mengelus lembut rambut Della dengan penuh kasih sayang.
Della pun melepaskan pelukannya dan menatap binar kearah Maxime sedangkan Maxime yang di tatap seperti itu oleh adiknya hanya bisa mengerutkan keningnya tak paham dengan tatapan Della.
"Apa?" tanya Maxime penasaran.
"Oleh oleh," jawab Della dengan cengiran kuda andalannya.
"Astaga dek, harusnya itu Abang yang minta oleh oleh ke lo bukan sebaliknya," tutur Maxime sembari menggelengkan kepalanya.
"Ck mana sempet gue beli oleh-oleh bang, orang pulangnya aja dadakan kayak tahu bulat," gerutu Della dan berjalan memasuki kamarnya kembali, mendudukkan tubuhnya keatas kasur di ikuti Maxime disampingnya.
"Kok bisa?" tanya Maxime kepo.
"Mana gue tau bang, tiba-tiba aja atasan Della bilang kalau urusan di situ udah selesai dan kita bisa pulang hari ini juga," ucap Della menjelaskan dan Maxime hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Abang gak bawa oleh oleh beneran?" tanya Della memastikan.
"Ck bawa tapi cuma dikit. Entah udah habis apa belum tanya aja sama mbak Rina siapa tau bagian lo udah dihabisin sama dia," ucap Maxime santai padahal Della sudah melototkan matanya dan segera berlari menghampiri Rina yang tengah memasak di dapur untuk makan malam mereka.
"Mbak Rina," teriak Della yang sudah berada di belakang Rina yang tengah menyicip masakannya
"Huwaaaaa emak panas," teriak Rina.
"Astaga mbak Rina hati hati dong kalau mau nyobain masakannya itu udah tau panas masih aja di lahap gitu aja," tutur Della sembari menyerahkan segelas air putih kearah Rina dengan secepat kilat Rina mengambilnya dan segera membasahi lidahnya yang terasa panas bahkan sekarang sudah mati rasa sementara, ia meneguk air tersebut hingga tak tersisa lagi.
"Ya Allah non saya sudah hati-hati tadi, non aja yang ngagetin saya sampai saya refleks langsung masukin ini makanan ke mulut saya tadi," bela Rina tak mau kalah.
"Hehehe ya maaf mbak, kan aku gak tau tadi kalau mbak Rina lagi icip icip," ucap Della dan lagi lagi dengan cengiran di bibirnya. Rina hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan majikannya yang satu ini. Rina pun membalikan badannya dan melanjutkan kegiatannya sedangkan Della, dia lupa tujuannya tadi apa turun kebawah memanggil Rina dengan teriakan yang berakhir Rina tersedak dengan masakan yang akan ia cicipi dan sekarang dia tengah sibuk membantu Rina menyajikan makanan di atas meja makan.
"Oh ya non, non tadi panggil saya kenapa?" tanya Rina yang tengah asik membersihkan dapur setelah ia gunakan tadi, Della menepuk pelan dahinya bisa bisanya dia lupa dengan hal penting satu ini.
"Mbak Rina oleh oleh dari bang Maxime masih gak?" Rina menatap Della dan dengan otak cemerlang Rina merencanakan kejahilan di dalam otaknya, seru kali ya ngerjain majikannya itu sekali kali boleh lah pikir Rina.
"Aduh non udah habis saya makan semua, kirain non mau lama disana jadi dari pada kadaluarsa mending saya makan aja," terlihat jelas raut wajah Della berubah menjadi kusam gak enak dilihat deh pokoknya sedangkan Rina dia sudah menahan tawanya.
"Ih mbak Rina kok tega banget sih," tutur Della yang sekarang sudah berkaca kaca.
"Hahahaha astaga non gitu aja masa nangis," ledek Rina yang sudah terbahak bahak.
"Haish mbak Rina gak ada yang lucu tau," gerutu Della yang air matanya sekarang sudah terjun bebas menghiasi kedua pipinya itu. Rina menghampiri Della dan merangkul pundak Della.
"Saya bercanda non Della, oleh oleh dari mas Maxime masih utuh di kulkas itu, ya kali saya habisin coklat segitu banyaknya non yang ada sakit gigi saya kambuh lagi kan bisa nangis seharian saya nanti," ucap Rina menenangkan. Della segera menghapus air matanya dan berjalan mendekati kulkas yang khusus untuk para coklatnya itu.
Mata Della berbinar ketika melihat isi kulkasnya yang sudah penuh dengan berbagai macam jenis coklat dan es krim dengan berbagai rasa.
"Bang Maxime," teriak Della lagi.
"Astaga dek ini rumah bukan hutan, jangan teriak teriak mulu kasihan tetangga yang udah tidur jadi kebangun gara gara teriakan lo itu," ucap Maxime yang tengah berjalan menuju ke arah Della dengan segera Della berlari memeluk Maxime dan terus menerus menciumi wajah Abang satu satunya ini.
"Stop dek, bau jigong ih wajah ganteng Abang nanti," Maxime berusaha melepaskan ciuman bertubi tubi dari Della dengan cara mendorong jidat Della dengan kuat.
"Thanks bang, Abang memang yang terbaik," ucap Della dengan senyum lebarnya setelah mengakhiri aksinya.
"Udah dari dulu kali Del Abang baik, lo aja yang baru nyadar," jawab Maxime yang sudah duduk di meja makan.
"Iya iya deh percaya Della mah sama Abang," tutur Della yang juga sudah duduk di depan Maxime.
"Sudah sudah makan dulu keburu dingin makanannya" ucap Rina menengahi ucapan dari dua bersaudara tersebut dan ikut duduk disebelah Della dengan telaten ia melayani para majikannya tersebut.
"Terimakasih mbak" ucap mereka berbarengan dan di balas senyuman oleh Rina.
Mereka bertiga menikmati makanannya dengan nikmat tidak ada batasan antara majikan dan pembantu di rumah ini yang ada hanyalah ikatan persaudaraan walapun di dalam tubuh Rina tidak mengalir darah keluarga Genoveva namun mereka semua bahkan orang tua Della menganggap Rina sebagai anak pertama mereka bahkan Rina sempat ingin di angkat anak secara resmi oleh keluarga ini namun dia menolaknya dengan halus dengan alasan dia tidak mau nantinya dia terlena oleh setatus yang ia sandang nanti dan hanya bisa membuat susah kedua orang tua angkatnya, walaupun di dunia ini dia sudah tidak mempunyai keluarga tapi dia juga tidak mau memanfaatkan keadaannya sebagai ajang menaikan derajatnya tiba tiba tanpa usaha sama sekali.
Namun disisi lain dia sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan keluarga yang sangat amatlah baik dan selalu rendah hati, tidak memandang sebelah mata dirinya bahkan mereka sangat menyayangi dirinya, kalau dia ditanya siapa orang yang paling beruntung di dunia ini, dia dengan lantang akan menjawab dirinya lah orang beruntung itu.