Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari raya idul fitri
Tak terasa 3 bulan berlalu. Hari ini umat islam di seluruh dunia sedang merayakan hari kemenangannya. Hari Raya idul fitri. Berbeda dengan hari raya sebelum-sebelumya. Hari raya tahun ini di lewati tanpa sholat ied berjamaah di tanah lapang seperti biasanya. Masyarakat tidak boleh melakukan kegiatan apapun yang membuat kerumunan. Termasuk sholat ied.!
Jadilah mereka sholat di rumah masing-masing dengan keluarga mereka. Tak terkecuali keluarga pak Banu.
Hari raya idul fitri yang biasanya sangat semarak kini sepi. Seperti tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Tidak ada silaturahmi kumpul keluarga besar, tidak keliling ke rumah para sesepuh yang di tuakan. Cukup berpuas diri hanya di rumah. Mematuhi protokol kesehatan yang selalu digalakkan oleh pemerintah yakni memakai masker, mencuci tangan, jaga jarak dan menghindari kerumunan.
"Maafkan segala salah dan khilaf ibu ya pak, selamat lebaran. Semoga Allah menerima segala ibadah kita di bulan ramadhan, aamiin. "
Rena melakukan sungkem kepada suaminya, dan dibalas dengan kecupan manis di dahinya.
Kemudian berlanjutlah mereka untuk menikmati santap lebaran, yakni opor ayam ketupat dan rendang. Satu dari sekian banyak makanan kesukaan Banu.
"Hizam mau mam apa? " Rena mendekati Hizam yang sudah duduk di meja makan bersama dengan Banu.
"Mam opol, pake klupuk pake ketcap ya Bu ya" Ucapnya dengan semangat.
"Okeii ibu buatkan ya, Bapak apa? opor atau rendang" Rena menatap suamingan.
"Samaiin kaya adek ya dek pake opoll. " Banu menirukan gaya Hizam.
Rena langsung meracik pesanan paduka dan anaknya itu, tak perlu waktu lama opor spesial tersedia di meja makan mereka.
"Kali ini Hizam yang mewakili doa ya," Rena memerintahkan Hizam untuk berdoa.
"Bismilahilohmanilohin allohumabalikana finalozaktana wakina ababanar aamiin. "
Dengan suara khas nya dan bacaan yang belum fasih namun selalu Rena koreksi, Hizam mampu membacakannya dengan suara keras.
Suara denting sendok berbunyi. Mereka makan dengan khusyu, sesekali Hizam berceloteh tentang makanan yang ada didepannya. Dari mulai rasa opor yang katanya mantap, krupuk yang berwarna-warni, hingga daging ayam yang sulit untuk dia kunyah sehingga memilih untuk hanya memakan ketupatnya saja.
"Kita ke rumah Uyut dan Kakung 'kan, Pak? " Rena yang sedang membereskan piring kotor bersuara.
"Iya, nanti. Kita ke makam Ibu dulu baru ke tempat Uyut dan Kakung ya." Banu meraih gelas yang berisi air putih didepannya.
"Kelumah Kakung? " Hizam yang sedang asyik bermain lego langsung menyahut setelah mendengar kakungnya di sebut-sebut.
"Iya, tapi kita ke makam Uti dulu ya. " Rena menjawab sambil tersenyum memandang putranya.
"Uti ngaji?" Hizam kembali bertanya, kali ini bocah berusia 3,5 tahun itu menghampiri ibunya sambil membawa lego yang sudah dia bentuk.
"Iya sayang, Hizam mau ikut? " Rena mencondongkan badannya, mensejajarkan dengan Hizam.
"Itut" Hizam menjawab antusias.
Rena memang sering menceritakan tentang Ibunya kepada anak semata wayangnya itu. Seringkali bercerita lewat foto yang ada di dalam album. Sambil membuka album, Rena bercerita tentang apa yang mereka lihat. Apapun yang ada di dalam album foto, dia ceritakan. Tak terkecuali Ibunya. Rena ingin segala tentang dirinya diketahui oleh anaknya. Segalanya.
Banu mengeluarkan Suprayitno, kemudian memanasinya di garasi. Sementara Rena sedang menyiapkan keperluan Hizam yang akan dibawa. Baju ganti, masker, hand sanitizer, tisue kering dan basah tak ketinggalan juga snack serta susu Hizam.
"Sudah siap ibu dan adek?" Banu yang melihat Rena dan Hizam keluar dari dalam rumah tersenyum simpul.
"Siap don bapak" Hizam berjalan mendekati Banu dan hendak naik ke atas Suprayitno.
"Tunggu, biar bapak naik dulu, Dek, nanti motornya roboh" Rena yang melihat Hizam naik reflek berteriak melarang.
Berbeda dengan reaksi Rena, Banu hanya diam namun langsung berjalan untuk menaiki motornya, disusul kemudian Rena membonceng di belakang.
"Pegangan ke sini ya, Dek". Banu berbisik kearah Hizam sambil mengarahkan tangan mungil itu untuk meraih ganggang sepion untuk digenggamnya. " Dan sekarang Ibu pegang sini." Meraih tangan rena yang di belakangnya, kemudian merangkulkan di perut sixpack miliknya.
Cubitan gemas mendarat dipinggangnya.
"Tidak tau malu. " Rena berseloroh di telinganya Banu. Hinga akhirnya mereka tertawa bersama.
Tujuan awal mereka adalah ke pemakaman umum. Tak berbeda seperti di jalan raya yang tadi mereka lewati, untuk suasana lebaran, ini tergolong sepi. Hanya ada beberapa orang yang ziarah. Tak lebih dari 10 orang yang terlihat di sekitar pemakaman.
Banu menghentikan motornya di depan pintu masuk pemakaman. Ember berisi air yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, berjejer di depan pintu masuk. Tak ketinggalan juga sabun cuci tangan dan hand sanitizer. Dan seorang petugas yang memegang thermogan untuk mengukur suhu badan.
Setelah mencuci tangan, mereka bertiga jalan beriringan menuju ke arah makam ibu Rena. Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai.
Rena mencabuti rumput yang ada di sekitar makam ibunya. Menaburkan bunga yang dia bawa kemudian mendoakan ibunya yang dipimpin oleh Banu.
Hizam hanya duduk, tidak tertarik untuk bertanya mungkin. Sesekali dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Entah apa yang bocah gembul itu pikirkan.
Tak butuh waktu lama, merekapun meninggalkan pemakaman umum. Dikarenakan arah menuju rumah kakung Hizam melewati rumah Uyut, jadilah mereka singgah ke tempat Uyut dahulu.
Halaman yang luas itu terlihat sepi, samar-samar hanya terdengar suara gelak tawa dari dalam rumah. Siapa lagi kalau bukan Tika. Gadis tomboy dengan sikap konyolnya.
"Asyalamuikum." Hizam berlari masuk ke dalam rumah Uyut, Sementara Rena dan Banu berjalan di belakang.
"Woyyy Walaikumsalam coyy, wahh ganteng sekali kamu hemm?" Dan benar saja, Tika menyambut mereka.
"Yu, Taqoballalahu mina waminkum, taqoballalahu ya karim, Maaf lahir batin ya, Yu, Mas." Tika menyalami mereka disusul oleh Ela dan Zana.
"Lah kok sepi? Uyut dan mama kalian dimana? " Rena menanyakan keberadaan orang-orang yang tak tampak.
"Ke pemakaman, Yu." Ela menjawab sambil memberikan coklat kepada Hizam.
"Loh barusan Yayu juga dari sana, lah kok gak ketemu ya? " Rena mengerutkan kening.
"Baru aja berangkat, Yu, mungkin papasan di jalan". Zana keluar dari ruang tengah sambil membawa 3 gelas minuman berwarna oranye.
" Diminum, Yu, Mas. " perintahnya kepada Rena dan Banu. "Apa mau makan soto? Ibu sama Uyut bikin soto" Tawarnya.
Ibu Zana anak ke 2 Uyut, adik dari ibu Rena. Namanya Teti. Zana dan ibunya memang tinggal di bersama uyut. Uyut mempunyai 4 anak. Yang pertama ibu Rena, kemudian ibu Zana, yang ketiga ayahnya Tika yang berada di belakang rumah Uyut rumahnya, dan yang terakhir Bulik Anti yang tinggal di Purworejo.
"Ke rumah Ayah dulu saja apa, Bu? " Banu memberikan usulan ke Rena.
"Terus? nanti ke sini lagi?". Tanyanya.
" Iya nanti atau sorenya. "Jawab Banu.
"Ya udah. " Rena beranjak, "Ayo dek kita ke rumah Kakung dulu ya, nanti kita ke sini lagi" Rena mengulurkan tangannya untuk diraih Hizam.
"Diminum dulu dong, gak menghargai aku nih yang sudah bikin" Zana merajuk.
Sementara Rena dan Banu hanya saling pandang dan tersenyum, kemudian meraih gelas yang berisi minuman oranye sampai habis.
"Manis, kaya yang disebelah Mas Banu nih" Banu berseloroh sambil memandang istrinya, dan hanya di balas dengan cibiran.
"Manis kaya yang bikin kali mas." Zana keberatan dengan selorohan Banu.
"Hahahahah" Rena, Banu, Ela dan Tika tertawa.
"Tinggal sini aja deh, Yu, Hizamnya. " Ela membuka suara.
"Eh, jangan. Gak enak sama Kakungnya. Masa cucunya gak sungkem ke sana, nanti 'kan kita kesini lagi. " Rena menjelaskan.
Hingga akhirnya mereka bertiga berpamitan, saling melempar senyum dan melambaikan tangan.
"Izam ke lumah kakung duyu ya buyik, ntal kesyini lagi kalo syudah syole ya, Dadaaa syemuanaaa" Hizam melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"asyalamuikum"
*********************
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor