Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.sumbu pendek
Devan sengaja membawa Cesa ke sebuah restoran fine dining Perancis yang terkenal dengan suasananya yang tenang, intim, dan super formal. Tempat ini biasanya dihuni oleh para ekspatriat, pejabat, dan sosialita papan atas yang berbicara dengan nada suara berbisik demi menjaga tata krama. Devan berharap, atmosfer elegan tempat ini bisa sedikit menekan sifat barbar Cesa.
Namun, Devan melupakan satu fakta penting: Cesa tidak bisa dijinakkan oleh tempat sekelas apapun.
"Permisi, Tuan dan Nyonya, ini menu siang ini," seorang pelayan dengan setelan tuksedo rapi membungkuk hormat, memberikan buku menu beludru kepada mereka berdua.
Cesa membuka buku menu itu, mengerutkan keningnya dalam-dalam hingga alisnya yang diukir rapi hampir menyatu. Matanya membaca tulisan-tulisan berbahasa Perancis dengan dahi berkerut.
"Mas," panggil Cesa dengan suara yang cukup keras, membuat dua orang ekspatriat di meja sebelah menoleh kaget. "Ini menunya kok nggak ada harganya? Terus ini tulisan apa? Escargot? Ini apaan? Bekicot sawah dikasih mentega?"
Devan langsung membelalakkan matanya. Ia mencondongkan badannya ke depan meja, berbisik dengan gigi tergemertak. "Cesa, kecilin suara lo! Itu siput premium dari Perancis, bukan bekicot yang biasa lo temuin di got depan rumah!"
"Ya sama aja, Devan kampret! Sama-sama berlendir dan punya rumah di punggung! Kenapa harganya mahal banget?! Terus ini lagi, Foie Gras, apa ini? Hati angsa yang kena penyakit liver?" Cesa mendengus keras, melempar menu beludru itu ke atas meja dengan kasar. "Gue ke sini mau makan kenyang, bukan mau makan makanan sisa burung dara! Mas, ada nasi padang nggak? Atau minimal ayam geprek level tiga puluh lah, biar keringat gue keluar!"
Pelayan restoran itu mengerjapkan mata, wajahnya mendadak pias. "Ma-maaf, Nyonya, di restoran kami tidak menyediakan menu tersebut..."
"Halah, restoran elit tapi menunya pelit!" gerutu Cesa lagi.
Devan sudah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa frustrasinya sudah mencapai ubun-ubun. Di kepalanya, ia merutuki kakak Cesa yang kabur di hari pernikahan. 'Kenapa dari semua perempuan di dunia ini, harus si sumbu pendek ini yang jadi istri gue?!' batin Devan menjerit histeris. Ketenangan hidupnya sebagai bad boy yang suka kelayapan malam kini resmi berakhir, digantikan oleh mimpi buruk di siang bolong.
"Pesan yang paling mahal aja semuanya, Mas. Tolong cepat ya, sebelum istri saya ini makan meja makan yang ada di depannya," ujar Devan pada pelayan dengan nada pasrah yang amat sangat. Setelah pelayan itu pergi dengan terburu-buru, Devan menatap Cesa dengan pandangan lelah. "Bisa nggak sih lo satu jam aja bertingkah anggun? Jaga wibawa gue sebagai suami lo, Sa."
"Wibawa apaan? Lo aja hobinya kelayapan malam, mabuk-mabukan nggak jelas. Punya suami tengil kayak lo itu musibah tahu! Untung Kakek lo baik ngasih gue kartu hitam, kalau nggak, udah gue racun lo pakai kecubung!" balas Cesa telak, sama sekali tidak mau kalah.
Saat perdebatan sengit antara suami-istri dadakan itu masih berlangsung, suasana restoran yang sunyi tiba-tiba dipecahkan oleh suara ketukan sepatu yang ritmis dan elegan. Wangi parfum mewah perpaduan antara vanilla dan white musk menyeruak, menusuk indra penciuman.
"Devan? Kamu Devan, kan?"
Sebuah suara lembut, mendayu-dayu, dan sangat feminin terdengar dari arah samping meja mereka.
Cesa dan Devan serentak menoleh. Di sana, berdiri seorang wanita yang kecantikannya bak lukisan porselen. Wanita itu mengenakan dress sabrina berwarna putih gading yang pas di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuh yang proporsional. Rambut panjangnya ditata bergelombang dengan sangat rapi, dan senyumnya... oh, senyumnya sangat manis hingga bisa membuat diabetes siapa saja yang melihatnya. Sangat kontras dengan Cesa yang saat ini terlihat seperti toko bunga berjalan dengan kacamata segede gaban.
Mata Devan langsung membelalak. Tubuhnya menegang di kursi. "Joan? Lo... lo sejak kapan balik ke Indonesia?"
Wanita bernama Joan itu tersenyum semakin manis, melangkah mendekat tanpa memedulikan kehadiran Cesa yang sudah menatapnya dengan pandangan menyelidik dari balik kacamata hitamnya.
"Baru minggu lalu, Dev. Aku sengaja balik buat ngurus beberapa bisnis keluarga," ujar Joan dengan nada suara yang sangat manja. Ia menatap Devan dengan binar mata penuh kerinduan yang tidak ditutup-tutupinya. "Aku kangen banget sama kamu. Kamu kok nggak pernah hubungin aku lagi sih semenjak kita putus waktu di London? Kamu masih suka kelayapan malam sampai pagi kayak dulu?"
Cesa yang mendengar kata 'putus' dan 'kangen' langsung menaikkan sebelah alisnya. Jiwa reognya yang peka terhadap pelakor langsung bangkit bergejolak. Ia melepas kacamata hitamnya dengan sekali sentak, lalu melipat tangannya di dada, bersandar ke kursi sambil menatap Joan dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai yang sangat tidak bersahabat.
"Oh... jadi ini salah satu dari koleksi masa lalu lo, Dev?" sindir Cesa dengan suara yang sengaja dinyaringkan.
Joan tampaknya baru menyadari keberadaan Cesa. Ia menoleh, menatap Cesa dengan pandangan terkejut yang tertata rapi, lalu kembali menatap Devan dengan raut wajah bingung yang dibuat seimut mungkin. "Dev... dia siapa? Sepupu kamu dari desa? Atau... pembantu baru di rumah kamu?"
DUAARRRR!!
Kata 'pembantu baru dari desa' sukses meledakkan sumbu pendek di kepala Cesa. Suasana di dalam restoran mewah itu mendadak terasa seperti di dalam inkubator yang siap meledak. Wajah Cesa memerah menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.
BRAAAKKK!
Cesa menggebrak meja makan marmer itu dengan sangat keras hingga sendok dan garpu perak di atasnya berdenting nyaring. Beberapa tamu restoran langsung menoleh dengan wajah shock.
"Heh, perempuan bermuka porselen kurang kalium!" bentak Cesa sambil bangkit berdiri dan menunjuk wajah Joan dengan jarinya yang penuh cincin berlian. "Mata lo ditaruh di mana, hah?! Muka secantik dan se-glowing ini lo bilang pembantu?! Lo lihat ini!" Cesa memamerkan cincin berliannya tepat di depan mata Joan. "Gue istri sahnya Devano Alvian Mahendra! Nyonya besar di rumah Mahardika! Lo siapa, hah?! Datang-datang pasang muka melas kayak kucing minta pindang, pakai nanya kangen-kangen segala lagi!"
Joan tersentak mundur, wajah porselennya langsung memucat karena terkejut mendapat serangan verbal yang begitu barbar di tempat umum. "Dev... dia... dia kasar banget..." adu Joan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, mencoba mencari pembelaan dari sang mantan kekasih.
Devan sendiri sudah panik setengah mati. Ia ikut bangkit berdiri, mencoba memegang lengan Cesa. "Cesa, stop! Malu dilihat orang, ini tempat umum—"
"Bodo amat sama tempat umum!" Cesa menepis tangan Devan dengan kasar, lalu menatap Devan dengan mata yang menyala-nyala penuh amarah. Kalimat Joan tentang masa lalu Devan benar-benar menyulut rasa cemburu dan emosinya yang tak terkontrol.
Cesa menunjuk dada Devan dengan jari telunjuknya, menatap suaminya itu dengan pandangan membunuh yang sangat menyeramkan.
"Devan kampret! Mantan lo banyak banget dih, monyet!!" geram Cesa dengan suara bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. "Kemarin di mal ketemu mantan lo yang model, tadi pagi ada yang nge-DM lo ngajak balikan, sekarang di restoran elit kayak gini muncul lagi satu yang sok anggun kayak angsa keselek biji salak! Lo itu sebenarnya manusia apa agen penyalur mantan, hah?!"
Joan yang merasa dihina sebagai 'angsa keselek biji salak' langsung menutup mulutnya dengan tangan, air matanya benar-benar tumpah karena malu luar biasa menjadi pusat perhatian seluruh isi restoran.
"Cesa, jaga omongan lo! Joan nggak salah apa-apa!" Devan mencoba membela, yang sebenarnya malah menjadi kesalahan fatal terbesar dalam hidupnya.
"Oh, jadi lo belain dia?! Lo belain mantan lo yang kayak kanebo kering ini?!" teriak Cesa, matanya melotot tajam. Tanpa aba-aba, Cesa menyambar tas Hermes merahnya dan topi jerami raksasanya dari atas meja. "Urusin tuh mantan lo sampai puas! Gue mau pulang! Dan jangan harap lo bisa masuk kamar malam ini, tidur lo di kandang buaya sekalian!!"
Dengan langkah besar-besar dan gaya barbar yang sudah mencapai level maksimal, Cesa berbalik dan menghentakkan kakinya keluar dari restoran, meninggalkan kehebohan massal dan tagihan makanan mahal yang bahkan belum sempat mereka cicipi.
Devan hanya bisa berdiri mematung di tempatnya. Ia melihat kepergian Cesa, lalu melihat Joan yang menangis terisak, dan kemudian melihat para pelayan yang menatapnya dengan pandangan menghakimi. Devan mengusap wajahnya dengan kasar, menghela napas yang rasanya sangat berat.
'Hari ini dilarang masuk kamar... besok-besok mungkin gue udah dicoret dari kartu keluarga sama dia,' ratap Devan dalam hati, meratapi nasibnya yang harus terjebak selamanya dengan si gadis barbar bersumbu pendek bernama Cesa.