Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK KELIMA YANG DISEMBUNYIKAN
Lampu rumah sakit masih padam.
Isabella berdiri dengan tubuh gemetar sambil menggenggam kertas yang ditemukan di atas ranjang Victoria.
Jika kalian ingin menyelamatkan Victoria, temukan anak kelima.
Ia menatap Clara yang masih terbaring lemah.
“Ibu, siapa anak kelima itu?”
Clara memejamkan mata. Air mata mengalir di pipinya.
“Anak kelima adalah bayi yang tidak pernah tercatat dalam dokumen kelahiran rumah sakit.”
Dominic mendekat.
“Bagaimana mungkin ada lima bayi? Selama ini kita hanya mengetahui empat.”
Clara menarik napas panjang.
“Karena bayi kelima tidak dilahirkan oleh perempuan yang sama dengan kalian. Dia dilahirkan oleh seorang perempuan yang menjadi bagian terpenting dari eksperimen Alexander.”
“Siapa perempuan itu?” tanya Isabella.
Clara terdiam cukup lama.
“Helena.”
Dominic terkejut.
“Jadi Helena memiliki dua anak?”
“Benar. Victoria dan anak kelima. Tetapi keduanya tidak pernah dibesarkan bersama.”
Isabella mengerutkan kening.
“Kalau begitu, siapa anak kelima?”
Clara menatap putrinya dengan penuh kesedihan.
“Orang yang selama ini kalian kenal sebagai saudara, sahabat, bahkan mungkin seseorang yang sangat dekat dengan kalian.”
Belum sempat Clara melanjutkan penjelasannya, pintu ruang perawatan terbuka.
Seorang petugas keamanan masuk dengan tergesa-gesa.
“Maaf, kami harus memindahkan kalian. Ada orang bersenjata yang memasuki lantai ini.”
Dominic langsung berdiri.
“Di mana Victoria?”
Petugas itu menggeleng.
“Kami belum menemukannya.”
Dominic mengambil pistolnya.
“Aku akan mencarinya.”
Isabella segera menahan lengannya.
“Jangan pergi sendirian!”
Dominic menatapnya.
“Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada Victoria.”
Clara tiba-tiba menggenggam tangan Dominic.
“Jangan mencari Helena.”
Dominic menoleh.
“Kenapa?”
Clara berbisik.
“Karena Helena bukan orang yang paling berbahaya. Orang yang harus kalian waspadai adalah anaknya yang kelima.”
Sementara itu, di sebuah gedung tua di pinggiran kota, Victoria terbangun di atas kursi dengan kedua tangannya terikat.
Di hadapannya berdiri seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun.
Helena.
Perempuan itu tersenyum ketika melihat Victoria membuka mata.
“Akhirnya kau sadar, anakku.”
Victoria mencoba melepaskan ikatannya.
“Lepaskan aku!”
Helena menggeleng.
“Sudah dua puluh tahun aku menunggu kesempatan untuk bertemu denganmu.”
“Aku tidak mengenalmu!”
“Tentu saja. Alexander mengambilmu ketika kau masih bayi.”
Victoria menatapnya penuh kebencian.
“Kalau kau benar-benar ibuku, kenapa kau membiarkanku hidup dalam kebohongan?”
Wajah Helena berubah.
“Karena aku harus melindungimu.”
Victoria tertawa pahit.
“Semua orang selalu menggunakan alasan itu. Melindungi, menyelamatkan, menjaga. Padahal kalian hanya ingin mengendalikan hidup kami!”
Helena terdiam.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan dua bayi perempuan yang sedang berbaring berdampingan.
“Ini foto kalian berdua ketika dilahirkan.”
Victoria menatap foto tersebut.
“Siapa bayi satunya?”
Helena tersenyum.
“Saudara kembarmu.”
Victoria membeku.
“Apa?”
“Ya. Kau memiliki saudara kembar. Namun Alexander mengambilnya dan menyembunyikannya dari dunia.”
Victoria mulai menangis.
“Di mana dia sekarang?”
Helena mendekatkan wajahnya.
“Dia berada di tempat yang tidak pernah kalian bayangkan.”
Tiba-tiba pintu gedung terbuka.
Seorang pria masuk membawa sebuah tas hitam.
Helena menoleh.
“Kau terlambat.”
Pria itu meletakkan tasnya di atas meja.
“Maaf. Ada sedikit masalah di rumah sakit.”
Victoria terkejut ketika melihat wajah pria tersebut.
“Tidak mungkin…”
Pria itu tersenyum.
“Halo, Victoria.”
Victoria menggeleng tidak percaya.
“Richard?”
Pria itu tertawa.
“Bukan, sayang. Namaku Adrian.”
Di rumah sakit, Dominic dan Isabella sedang memeriksa rekaman CCTV.
Mereka menemukan rekaman seseorang yang membawa Victoria keluar melalui pintu darurat.
Isabella menunjuk layar.
“Perbesar bagian wajah pria itu.”
Petugas mengoperasikan komputer.
Wajah pria tersebut terlihat jelas.
Dominic mengepalkan tangan.
“Adrian.”
Isabella terkejut.
“Bukankah dia sudah ditangkap?”
Petugas keamanan menggeleng.
“Ruang tahanannya ditemukan kosong sekitar tiga puluh menit lalu.”
Dominic memukul meja.
“Dia bekerja sama dengan Helena!”
Clara yang berada di atas ranjang tiba-tiba memanggil mereka.
“Dominic… Isabella…”
Mereka segera menghampirinya.
“Ada sesuatu yang harus kalian ketahui sebelum terlambat,” ujar Clara.
Isabella menggenggam tangannya.
“Apa itu, Bu?”
Clara menunjuk sebuah laci kecil di samping tempat tidurnya.
“Ambil amplop biru.”
Isabella membuka laci tersebut dan menemukan amplop yang dimaksud.
Di dalamnya terdapat sebuah surat dan foto seorang bayi laki-laki.
Pada bagian belakang foto tertulis:
SUBJEK E — ANAK KELIMA — IDENTITAS DIRAHASIAKAN.
Dominic mengambil surat itu dan membacanya keras-keras.
“Anak kelima tidak dilahirkan untuk menjadi pewaris. Dia diciptakan untuk mengendalikan empat subjek lainnya. Jika suatu hari Proyek Imanuel terbongkar, anak kelima akan menjadi satu-satunya orang yang berhak menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang harus mati.”
Isabella menatap Clara.
“Siapa bayi ini, Ibu?”
Clara menangis.
“Dia adalah anak yang selama ini paling ingin ditemukan Alexander.”
“Siapa namanya?”
Clara menutup mata.
“Daniel.”
Dominic terdiam.
Nama itu terasa tidak asing baginya.
“Daniel…?”
Isabella menoleh.
“Kau mengenalnya?”
Dominic mengangguk perlahan.
“Daniel adalah sahabatku. Dia orang yang selama ini membantuku menyelidiki kematian Richard.”
Clara langsung terkejut.
“Tidak mungkin!”
“Ada apa?”
Clara menggenggam tangan Isabella dengan kuat.
“Daniel tidak mungkin menjadi anak kelima. Karena aku sendiri yang melihat bayi itu meninggal dua puluh tahun lalu.”
Dominic membeku.
“Kalau begitu, siapa Daniel sebenarnya?”
Clara menggeleng.
“Aku tidak tahu. Tetapi ada satu hal yang pasti. Anak kelima memiliki tanda lahir berbentuk bulan sabit di belakang telinga kirinya.”
Dominic perlahan mengingat sesuatu.
Wajahnya berubah pucat.
“Daniel memiliki tanda itu.”
Di gedung tua, Helena berdiri di hadapan Adrian.
“Sekarang semua sudah berkumpul sesuai rencana,” katanya.
Adrian tersenyum.
“Bagaimana dengan Alexander?”
“Dia sudah tahu bahwa aku kembali.”
“Apakah dia akan datang?”
Helena mengangguk.
“Dia pasti datang. Karena masih ada satu rahasia yang belum dia ketahui.”
Adrian mengerutkan kening.
“Apa itu?”
Helena mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.
“Anak kelima bukan Daniel.”
Adrian terkejut.
“Lalu siapa?”
Helena tersenyum dingin.
“Daniel hanyalah umpan. Anak kelima yang sebenarnya adalah seseorang yang selama ini berada di tengah-tengah mereka.”
Adrian tertawa.
“Kau masih suka bermain teka-teki.”
Helena menatap Victoria.
“Tidak lama lagi semuanya akan jelas.”
Victoria yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka tiba-tiba berteriak.
“Kalian semua monster!”
Helena mendekatinya.
“Tidak, Victoria. Kami hanya sedang menyelesaikan sesuatu yang dimulai dua puluh tahun lalu.”
Tiba-tiba ponsel Adrian berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Adrian membacanya, lalu wajahnya berubah pucat.
Pesan itu hanya berisi beberapa kata.
ALEXANDER SUDAH TIBA. DIA TAHU IDENTITAS ANAK KELIMA.
Adrian menoleh kepada Helena.
“Kita harus pergi sekarang!”
Namun Helena justru tersenyum.
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
Helena menatap pintu masuk gedung.
“Karena orang yang kita tunggu sudah datang.”
Pintu perlahan terbuka.
Seorang pria melangkah masuk.
Dominic.
Namun kali ini ia tidak datang sendirian.
Di belakangnya berdiri Isabella, Clara, dan seorang pria tua yang selama ini mereka yakini sebagai Alexander Laurent.
Dominic mengarahkan pistol ke arah Helena.
“Lepaskan Victoria!”
Helena tertawa.
“Kau terlambat, Dominic.”
“Jangan paksa aku!”
Helena kemudian menunjuk seseorang yang berdiri di belakang Dominic.
“Kalau begitu, tanyakan kepada orang yang berada di sampingmu.”
Dominic menoleh.
Isabella terlihat kebingungan.
Clara mendadak pucat.
Helena tersenyum lebar.
“Karena anak kelima yang sebenarnya bukan Daniel.”
Ia berhenti sejenak.
Kemudian menunjuk pria tua yang berdiri di belakang mereka.
“Anak kelima adalah Alexander Laurent sendiri.”
Semua orang membeku.
Namun pria tua itu justru tertawa keras.
“Helena, kau masih belum mengerti.”
Ia membuka jasnya dan memperlihatkan sebuah tanda lahir berbentuk bulan sabit di belakang telinga kirinya.
“Alexander Laurent yang kalian kenal sudah lama meninggal.”
Ia menatap Dominic.
“Dan aku adalah orang yang selama ini mengendalikan semuanya.”
Dominic mengangkat pistolnya.
“Siapa kau sebenarnya?”
Pria itu tersenyum.
“Namaku Daniel.”
Bersambung...
jangan lupa mampir kakk..🤭