Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Jiwa
Malam harinya, Lucian tiba di rumah. Ketika ia masuk, suasana rumah terasa berbeda. Tak ada sosok istrinya yang biasanya terlihat di sudut ruangan atau berjalan dengan kepala tertunduk.
Lucian mengerutkan kening.
“Kemana dia?”
Adara yang sedang duduk di ruang tamu mengangkat wajahnya. Arsen juga menoleh, tetapi keduanya tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.
“Perempuan itu sudah kami usir,” jawab Adara dingin.
“Apa?”
“Kami mengusirnya,” ulang Adara.
“Dia sudah keterlaluan. Dia melukai Ranti. Dia mencoba membunuh pelayan di rumah ini.”
Lucian menatap ibunya dengan tidak percaya.
“Siapa yang mengatakan dia mencoba membunuh seseorang?”
“Mama sendiri yang melihatnya. Apa kau masih ingin membela perempuan itu setelah semua yang pernah dia lakukan?”
Lucian memang membenci Annabella. Ia menikahinya untuk balas dendam. Namun, keputusan mengusir Annabella bukanlah milik kedua orang tuanya.
“Kenapa kalian mengambil keputusan sendiri?!”
Adara terkejut mendengar suara tinggi putranya.
“Lucian, jangan bilang kau masih peduli kepadanya!”
“Aku tidak bertanya tentang perasaanku! Aku bertanya, ke mana kalian membawanya?”
“Kami tidak membawanya ke mana-mana. Kami hanya mengusirnya keluar dari rumah!”
Lucian mengepalkan tangan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan meninggalkan ruang keluarga. Ia segera menghubungi Faisal.
“Temui aku sekarang.”
Beberapa saat kemudian, Lucian menemukan asistennya di dekat ruang kerja.
“Faisal, apa kau tahu tentang pengusiran Annabella?”
“Saya tahu, Tuan. Nyonya Annabella memang diusir setelah terjadi keributan dengan Ranti. Namun, saya belum tahu ke mana dia pergi setelah meninggalkan rumah," jawab Faisal jujur.
Lucian menatapnya tajam.
“Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Saya kira Tuan sudah tahu kejadian itu.”
Lucian mengepalkan tangan semakin erat. Ia tidak menyukai jawaban tersebut, tetapi saat ini tidak ada gunanya menyalahkan Faisal.
“Kumpulkan tim IT. Periksa kamera pengawas di sekitar rumah dan cari tahu keberadaan Annabella. Aku ingin menemukannya secepat mungkin.”
“Baik, Tuan.”
Lucian dan Faisal keluar dari rumah. Namun, ketika mereka mau pergi, sebuah mobil tiba-tiba berhenti menghalangi jalan mereka.
Pintu mobil terbuka. Lucky turun sambil tertawa terbahak-bahak.
“Bagaimana, Kak? Kau pasti senang mendengar kabar perempuan itu sudah mendapat pelajaran yang pantas!”
Lucian menatap adiknya dengan dingin.
“Apa maksudmu?”
Lucky memasukkan kedua tangan ke saku celana, lalu tersenyum puas.
“Aku yang mengurusnya. Aku membawanya ke rumah sakit jiwa. Bukankah itu tempat yang paling cocok untuk bajingan sepertinya? Dia sudah tidak bisa ditolong lagi.”
Dalam sekejap, ekspresi Lucian berubah. Ia menerjang dan mencengkeram kerah baju Lucky, lalu menariknya mendekat.
“Apa katamu? Kau membawanya ke mana?”
Lucky kaget, tak menyangka saudaranya akan bereaksi sedemikian keras. Namun, ia tetap berusaha tersenyum mengejek.
“Rumah sakit jiwa. Kenapa? Kau keberatan?”
Lucian mendorong bahu adiknya dengan kasar.
“Siapa yang menyuruhmu ikut campur dalam urusanku?”
Lucky terhuyung satu langkah.
“Urusanmu? Annabella itu wanita jahat! Aku hanya membantu membalaskan dendam keluarga kita.”
“Itu urusanku!” bentak Lucian.
"Aku yang berhak menentukan bagaimana dia menebus kesalahannya. Jangan pernah mengambil keputusan seperti ini tanpa izinku!”
Lucky terdiam, lalu menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya.
“Sejak kapan kau mulai melindunginya?”
“Aku tidak melindunginya!” Lucian membalas dengan dingin.
“Aku hanya tidak membutuhkan campur tanganmu. Sekarang, pulanglah dan urus istrimu sendiri. Jangan ikut campur dalam masalahku lagi!”
Wajah Lucky memerah karena marah. Namun, ia tahu saudaranya itu bukan orang yang bisa dihadapi dengan emosi sesaat. Akhirnya, Lucky hanya mendengus kesal sebelum kembali ke mobilnya.
“Jangan sampai kau menyesali keputusanmu sendiri!” Lucky pergi dengan amarah yang masih membara.
Lucian mengabaikannya. Ia segera masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang, sementara Faisal berada di kursi depan sambil menghubungi seseorang.
“Cari tahu rumah sakit jiwa mana yang menerima pasien perempuan hari ini,” perintah Faisal melalui telepon. “Namanya Annabella Arumi. Periksa semua kemungkinan.”
Setelah menutup telepon, Faisal menengok ke belakang.
“Saya sedang mengusahakannya, Tuan.”
Lucian mengangguk singkat. Mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah Winston. Sepanjang perjalanan, Lucian terus menatap ponselnya. Entah mengapa, pikirannya terasa kacau. Ia berulang kali membayangkan Annabella berada di tempat asing tanpa seorang pun yang bisa membantunya.
Perempuan itu memang pernah melakukan kesalahan besar. Lucian sendiri tidak pernah melupakan luka yang ditinggalkannya. Namun, ia tidak pernah memerintahkan siapa pun untuk memasukkan Annabella ke rumah sakit jiwa.
Jangan-jangan sesuatu terjadi padanya?
Lucian menggeleng pelan berusaha menyingkirkan pikiran itu.
“Dia pasti baik-baik saja."
Namun, jemarinya justru semakin erat menggenggam ponsel. Lucian merasa gelisah karena tak mengetahui keberadaan istrinya yang ia anggap sebagai mainan.
Di tempat lain, Maya duduk di depan sebuah laptop. Jemari lentiknya bergerak cepat di atas papan ketik, sementara Yumna duduk di sampingnya dengan mata sembap.
Sejak menemukan Yumna, Maya terus berusaha mencari Annabella. Berbekal kemampuan meretas sistem komputer yang ia pelajari, akhirnya Maya menemukan petunjuk tempat Annabella itu dibawa.
Maya menatap layar beberapa saat, lalu mengembuskan napas lega.
“Ketemu.”
Yumna mengangkat kepala.
“Mama?”
Maya mengangguk sambil menutup laptopnya.
“Iya, Nak. Aku sudah tahu di mana ibumu berada.”
Wajah kecil Yumna seketika berseri. Ia buru-buru turun dari kursi dan memeluk lengan Maya.
“Kita jemput Mama cekalang, ya, Onty?”
Maya mengusap kepala anak itu.
“Tentu. Tapi kamu harus ikuti semua perkataanku. Jangan lari sembarangan dan jangan melepaskan tanganku, mengerti?”
Yumna mengangguk cepat.
“Iya. Yumna mau cama Mama.”
Maya memandang anak kecil itu dengan hati terenyuh. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Annabella setelah mereka berpisah, tapi ia tak akan membiarkan sahabatnya itu menghadapi semuanya sendirian.
Maya mengambil jaket, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu menggandeng tangan Yumna.
“Ayo, Nak. Kita selamatkan ibumu.”
Yumna bergegas mengikuti langkah Maya. Air mata kembali menggenang di matanya, tetapi kali ini ada harapan yang menyala di sana.
“Mama ... Yumna datang ....”
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???